LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 59. Di Luar Kuasamu, Sekar.



By the day I sleep, at night I weep


O Death, come near me!


Be the one for me, be the one who stays.


My rivers are frozen, and mischosen,


and the shadows around me sickens my heart.


Memandangi lautan manusia di hadapannya ini sungguh memabukkan untuk Sekar. Apalagi menyaksikan mereka semua terhanyut dalam lirik dan aransemen yang ia buat. Sebuah lagu yang ia ciptakan dalam kesendirian, kini banyak orang yang melantunkannya. Sungguh rasa yang luar biasa.


Matanya beradu pandang dengan pria tua berjubah hitam yang berada di antara ribuan penonton. Pria itu menggeleng seraya menyeringai ke arahnya. Gerakan bibirnya mengucapkan kata tanpa suara ,"Hentikan!"


"Sia-sia, percumah!"


Sekar menggeleng. "Pergi ...," desisnya.


"God natt (Selamat malam), Oslo!" seru Einar yang mengakhiri konser malam itu. Ia meraih tangan Sekar yang berdiri mematung di belakang keyboardnya dengan mata tajam menatap ke arah kerumunan penonton, dan menuntunnya ke turun belakang panggung.


"Awesome, as always (luar biasa, seperti biasa)," puji Einar seraya memeluk Sekar dengan erat.


Sekar mengeratkan pelukannya pada Einar seakan-akan ini adalah terakhir kalinya ia memeluk pria kesayangannya itu.


"Kau tidak akan pergi, bukan?" rengek Sekar sembari mendusalkan kepala di dada kokoh Einar. Ia tidak peduli beberapa orang kru yang lalu lalang melewatinya, tersenyum melihat tingkah manjanya pada sang suami.


Einar tergelak. Sekar yang suka merengek akhirnya muncul kembali. "Kenapa aku harus pergi?" tanyanya.


"Tidak tahu. Aku hanya ingin menanyakannya saja," cebik Sekar.


"Tidak ada alasan untuk pergi, kecuali ... ada hal-hal di luar nalar yang mengharuskan aku pergi," ucap Einar seraya mengelus punggung Sekar lembut.


Ya. Sekar tahu itu. Hal-hal di luar nalar. Entah apa pun itu, adalah sesuatu yang ada di luar kuasanya. Ini rumit. Dan ini membuat Sekar mau tidak mau, siap tidak siap, harus menerima kenyataan itu.


Satu tahun lebih Sekar mendedikasikan dirinya sebagai seorang Budbringer, pembawa pesan untuk orang-orang yang masih mau membuka diri mereka atas kekuatan alam semesta, atas nilai-nilai agama leluhur yang based on the nature, melalui lagu-lagu yang diciptakannya, kegiatan-kegiatan yang kental akan budaya Nordic.


Sungguh mengherankan, bukan? Seorang gadis yang berasal dari negera tropik nun jauh di belahan bumi yang lain, jatuh cinta dengan dinginnya wilayah utara, dengan semua mitologi dan filosofinya.


Hal itu membuat banyak orang-orang Scandinavia kagum pada Sekar. Tidak seorang pun menyangka, kalau pengetahuan dan juga caranya mendeskripsikan musik yang begitu kental dengan sentuhan Nordic, berasal dari seorang gadis yang lahir dan tumbuh dari budaya yang sungguh jauh berbeda. Seakan-akan, jiwanya dahulu pernah tinggal dalam raga seorang Skandinavian.


***


Huru hara pemilu Norwegia dimulai. Isyu-isyu mulai disebarkan. Partai buruh mulai beraksi kembali demi meraih lebih dari separuh total kursi di parlemen. Partai besar itu sudah memulai misinya jauh sebelum pemilu. Nama Anders Behring Breivik, si pembantai kamp pengungsi Pulau Utoya kembali ditarik ke permukaan dan dikait-kaitkan dengan para pengikut agama leluhur Skandinavia dan juga Luciferian Pagan.


Mereka mencari simpati dari rakyat Norwegia yang sebagian besar mengecam aksi Breivik pada tahun 2011 silam itu. Begitu gencarnya partai buruh menghembuskan isyu sehingga rakyat mulai terpengaruh dan mengucilkan semua orang yang berkaitan dengan sekte-sekte berbasis Pagan di luar Christianity atau agama-agama besar lain yang ada di negara itu.


Dan hari itu, kerusuhan terjadi di Nittedal, tempat yang dijadikan pusat ritual Paganisme, diserang oleh orang-orang tidak dikenal. Sudah pasti, hanya sebagai oknum yang diiming-imingi imbalan menggiurkan, tanpa tahu duduk permasalahannya, tanpa tahu apa yang mereka lakukan.


Sementara Sekar, pagi itu terbangun tanpa mendapati Einar di sampingnya. Semalam pemuda itu berpamitan untuk pergi ke basecamp Lord Abaddon di Nittedal. Karena mengantuk, Sekar memutuskan untuk tidur saja di apartemen mereka.


Sekar, pergi ke Nittedal sekarang.


Pesan dari Liana membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Wajah dan telinganya memanas seketika. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun perasaannya mengatakan kalau sesuatu telah terjadi di sana.


Tanpa pikir panjang dan memedulikan pakaian yang sedang dikenakannya, Sekar meluncur dengan mobilnya membelah jalanan Oslo menuju Nittedal. Pondok di tepi padang rumput yang merupakan Basecamp Lord Abaddon menjadi tujuan utamanya. Namun ia tidak menemukan siapa pun di sana.


"Siapa pun kau, jangan ke sana!"


"Apa yang terjadi?" tanya Sekar kepada pria itu dengan dada bergemuruh. Pikirannya tertuju pada satu orang, Einar.


"Jangan ke sana!" seru pria itu kembali seraya menjauhi Sekar, berlari sejauh-jauhnya dari tempat itu.


Sekar memandangi kepergian pria itu untuk beberapa saat. Kemudian ia segera berlari kembali masuk ke pemukiman penduduk.


Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Orang-orang berlarian ke sana kemari, berteriak dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing, entah dari apa. Matanya menangkap ada kepulan asap dari kejauhan. Dari arah kuil.


"Einar," desis Sekar.


Kaki Sekar berlarian menelusuri jalanan aspal yang ditutupi salju tipis. Ia tidak menyadari sejak tadi ia tidak memakai alas kaki. Namun, ia tidak merasakan rasa perih di telapak kakinya ketika kulitnya bersentuhan dengan jalanan beton yang keras. Yang ia inginkan adalah menemukan keberadaan Einar.


Matanya terbelalak ketika melihat kobaran api menyelubungi kuil. Ricuh. Orang-orang mulai berdatangan dari segala arah, memegang senjata tajam merangsek masuk ke dalam kuil tanpa memedulikan api yang menyala-nyala.


Napas Sekar terengah, dan lututnya terasa lemas. Pemandangan di hadapannya ini sungguh mengerikan. Lebih mengerikan dari pengeboman yang terjadi di Øya setahun silam di konser Lord Abaddon.


Ini lebih mirip pembantaian, atau perang, mungkin. Sekar seperti terbawa oleh mesin waktu memasuki masa abad pertengahan yang penuh dengan pertempuran berdarah. Apakah ini yang sering ia lihat dalam mimpi-mimpinya.


Lalu di mana sang Ksatria? Di mana Einar?


"Hentikan, Sekar!"


Suara bisikan itu, berada tepat di samping telinganya. Ia menoleh. Pria tua berjubah hitam itu berdiri beberapa senti di belakangnya.


"Kenapa aku? Apa yang aku lakukan?" tanya Sekar dengan mata nanar mencari-cari sosok Einar dari arah kericuhan di hadapannya.


"Hentikan saja, Sekar. Sebelum semuanya terlambat."


"Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?" bentaknya seraya mendorong tubuh pria itu dengan keras hingga terjengkang. Namun pria itu hanya terkekeh tanpa merasa marah sedikit pun.


"Sekar ...."


Sekar segera membalikkan badannya ketika mendengar suara Einar memanggilnya. "Ein!" pekiknya.


"Jangan mendekat!" seru Einar ketika Sekar hendak menghambur ke arahnya.


"Ke-napa?"


"Aku harus menyelesaikan apa yang sudah kau lakukan, Sekar."


"A-pa yang sudah aku lakukan?" Tenggorokan Sekar tercekat.


Dengan napas terengah Einar menatap Sekar dengan mata sendu. Darah mengalir dari kening dan juga lengannya.


"Lihat wajahku baik-baik, Sekar. Jangan sampai kau melupakanku," ucap Einar. "Sekar ... temui aku di toko musik 4sound Kongens Gate, Oslo. Tanggal 2 november." Einar pelan melangkah mundur menjauhi Sekar.


Einar!


Lidah Sekar seketika kelu. Ia hanya bisa memanggil-manggil nama Einar dalam hati. Bahkan untuk melangkah pun kakinya seakan menempel dengan tanah. Ia tidak dapat bergerak sama sekali.


"Aku mencintaimu, Sekar ... aku tunggu kedatanganmu, jangan pernah lupa padaku!"


***