
FROGNER, OSLO.
Sejak adu argumen yang cukup sengit dengan Papa dan juga Mama di malam Einar meminta izin, Sekar lebih memilih diam dan selalu menghindar jika kedua orang tuanya itu hendak membicarakan hubungannya dengan Einar. Bahkan ketika Mama sekedar mengingatkannya untuk makan atau membangunkannya pagi hari untuk berangkat sekolah, ia hanya menjawab seadanya.
Ia muak. Muak selalu diperlakukan seperti anak kecil. Dan Papa yang selama ini ia anggap lebih bisa diajak bicara, sejak perkataannya pada Einar malam itu, ia merasa begitu kecewa. Ternyata beliau sama saja seperti Mama.
Malam ini Sekar hanya ingin berkutat dengan pianonya. Menyelesaikan kerangka lagu berjudul Forsaken yang ditulisnya. Lagu bernuansa Norsk yang begitu kental. Yang akan menjadi lagu pertama proyek duonya dengan Einar.
"Boleh masuk, Se?"
Sekar menghentikan permaian pianonya. Ia menoleh ke arah pintu kamar dan mendapati Mama berdiri di sana. Ia hanya diam saja tanpa menyahut wanita paruh baya itu.
"Sampai kapan mau mogok bicara sama Mama juga sama Papa?"
Mama kini telah duduk di tepi ranjang. "Apa pantes memperlakukan Mama sama Papa begini, Se?"
Sekar masih terdiam. Ia menghela napas panjang. "Jangan campuri urusan hatiku, Ma. Aku udah dewasa dan aku tahu yang kulakukan."
"Mama sama Papa cuma pingin yang terbaik buat kamu."
"Udah, Ma. Nggak usah dibahas lagi," sergah Sekar seraya bangkit dari duduknya dan naik ke atas ranjang. "Aku mau tidur." Ia menarik selimut tebalnya dan menutupi badan hingga ke wajahnya.
Terdengar helaan napas berat Mama. Wanita itu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Ia menautkan alisnya ketika melihat sebuah altar yang berada di antara piano dan meja rias.
"Se, ini apa?" tanya Mama seraya memeriksa benda-benda aneh yang ada di atas altar. Patung iblis wanita, batu-batu kecil warna warni, lukisan angkasa dan dua lilin besar yang tidak menyala. Hatinya berdebar kencang. Ia memikirkan sesuatu yang buruk.
"Sejak kapan kamu nyimpen benda-benda kaya gini?"
Sekar menyibakkan selimutnya. "Mau dilarang juga?" tanyanya.
"Jelasin dulu ini apa?"
"Dekorasi."
"Mama nggak bodoh, ya, Se. Ini semacam ritual atau gimana? Kamu ngikut sekte-sekte aneh, Se?"
Sekar mendecak. "Ma, kenapa sih Mama negatif terus pikirannya?"
"Pasti Einar yang ngajarin kamu, kan?" tuduh Mama. Wajahnya terlihat tegang.
Sekar beranjak dari ranjangnya dan melangkah mendekati Mama. "Aku belajar sendiri. Nggak ada hubungannya dengan Einar."
"Dibela aja terus itu si Einar. Memang dia itu pengaruh buruk buat kamu. Nggak ada bagus-bagusnya dia itu."
Sekar mengepalkan kedua telapak tangannya. "Mama udah kenal Einar? Mama udah tahu karakternya? Udah tahu Einar kaya apa?"
"Nggak perlu. Mama udah bisa lihat."
Hati Sekar terasa mendidih mendengar ucapan Mama. Aura di wajahnya menggelap. Napasnya memburu.
"Mama ...." Sekar berucap lirih. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak membentak Mama. Walau bagaimana pun, wanita di hadapannya ini adalah wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya. "Bisa keluar dari kamarku?" pintanya.
"Sekar ...."
"Please!"
Mama menggeleng seraya menatap puteri semata wayangnya itu dengan tatapan tidak percaya. "Tunggu aja sampai Papa tahu ini," ancamnya seraya melangkah keluar dari kamar.
Sepeninggal Mama, Sekar berusaha meredam emosinya dengan mengatur napasnya. Untung saja ia masih tersadar. Hampir saja energi gelap membutakan pikirannya.
Sekar duduk di depan pianonya. Ia menangkup wajah dan meremasnya beberapa kali. Setelah itu ia menyentuh tuts-tuts piano dan mengalunkan lagu dari Bach, The well-tempered clavier yang lembut demi mendinginkan suasana hatinya.
***
Mama menghela napas berkali-kali. Ia memandang Papa di sampingnya yang tengah duduk menyandarkan punggung di headboard ranjang sembari membaca buku.
"Kenapa, Ma? Gelisah banget." Papa menutup buku dan melepas kaca matanya lalu menaruhnya di atas nakas.
"Sekar, Pa."
"Masih mogok ngomong?"
"Lebih parah dari itu."
Kening Papa mengerenyit. "Apa lagi?"
"Mama lihat altar berisi benda-benda aneh di kamarnya."
"Maksud Mama?"
"Sekar pasti ikut-ikutan si Einar itu, gabung sama sekte-sekte aneh."
"Mungkin cuma dekorasi, Ma. Sekar kan emang anaknya gitu, seleranya aneh," kekeh Papa. "Inget, kan, dulu anak-anak seumuran dia masih suka baca komik dan majalah, Sekar bacaannya udah konspirasi politik."
Mama mendecak. "Tapi ini ngeri, Pa. Masa dekorasi milihnya patung iblis sih?"
"Hmmm." Papa menarik napasnya dengan berat.
"Ya paling nggak Papa bicara sama Sekar lah, kalau Mama yang bicara sama dia, nggak bakal jadi."
"Sekar ini tipe anak yang ngeyel, tapi dia selalu punya argumen yang kuat untuk mendukung kengeyelannya itu." Papa terbahak.
"Terus gimana ini, Pa. Mama capek banget ngadepin Sekar. Sejak pindah ke sini kok jadi semakin aneh-aneh aja anak itu."
"Maksud Papa?"
"Masudnya nggak usah terlalu kasih larangan begini begitu."
Mama memicingkan mata memandang penuh selidik pada suaminya itu. "Papa mau kasih izin Sekar pacaran sama cowok berandalan itu, ya?"
"Ya enggak lah, Ma."
"Terus?"
"Nih, denger, ya, Ma ... anak semakin dilarang akan semakin nekat."
"Tapi masa iya kita biarin Sekar pacaran sama si Einar itu?" sungut Mama. "Mama nggak rela, sungguh!"
"Bukan ngebiarin. Lebih tepatnya mengawasi." Papa menepuk-nepuk punggung tangan Mama lembut. "Siapa tahu cuma cinta monyet."
Mama menarik napas panjang. "Rasanya pingin tak jauhin aja Sekar dari sini, Pa. Biar nggak usah deket-deket lagi sama si Einar itu."
Papa terkekeh. "Masa kita mau memfitnah Einar biar Sekar benci sama dia, terus nyuruh orang ngancem dia, atau mukulin dia ... kaya di cerita-cerita sinetron sih, Ma."
Mama memanyunkan bibirnya. "Kalau memang terpaksa."
"Kita ini orang berpendidikan, Ma. Kita pakai strategi jitu biar Sekar bisa ngerti nilai-nilai yang kita terapkan, tanpa merasa terkekang, yang berisiko bikin dia membangkang."
"Strategi layang-layang. Biarkan dia terbang bebas. Tapi jangan pernah lepasin talinya," lanjut Papa.
Mama terdiam. Ia tetap saja belum rela puteri semata wayangnya itu bergaul dengan Einar yang punya latar belakang begitu buruk. Siapa yang rela anak gadisnya pacaran dengan pemuda yang pernah membakar tempat ibadah dan menjadi pengikut sekte sesat?
"Pusing Mama," ujarnya seraya masuk ke dalam selimut. "Kita jodohin aja Sekar sama Adam, Pa."
Papa terbahak mendengar perkataan isterinya itu. "Sudah bukan zamannya Siti Nurbaya, Ma," sahutnya seraya mematikan lampu di atas nakas.
***
LILLE ARKANA, OSLO.
Liana menghela napas berkali-kali. Wajahnya terlihat suram. Sesekali memandang bergantian pada Cassandra dan Sekar yang duduk di hadapannya.
"Bukankah belum jelas siapa dalang di balik tragedi Øya? Kenapa mereka mengincar orang-orang Luciferian Witchcraft?" tanya Sekar. Ia pun terlihat cemas.
"Media yang memblow-up berita itu. Kau tahu sendiri masyarakat sangat mudah termakan isu yang beredar," sahut Cassandra.
"Beberapa hari ini banyak tempat peribadatan Lucifer diteror sekelompok orang-orang tak dikenal." Liana beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu kaca toko yang telah terhalang folding gate. Hari ini ia menutup toko untuk menghindari teror yang mungkin saja akan terjadi pada mereka. Gadis itu memastikan semuanya telah terkunci.
"Aku yakin sebentar lagi giliran kita."
Bumm.
Prang.
Baru saja Liana menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara seperti benda keras yang menghantam folding gate disusul oleh bunyi botol pecah di luar sana.
Ketiga gadis itu terkesiap dan saling pandang. Mereka merapatkan badan dan menatap ke arah pintu.
"Kom ut, dere Hekser (keluar kalian para penyihir)!"
"Kom ut (keluar)!"
"Brenne (bakar)!"
Suara teriakan orang-orang di luar toko membuat ketiga gadis itu terperangah. Mereka saling menggenggam tangan ketika folding gate terlihat didorong-dorong dari luar. Sementara teriakan orang-orang yang penuh amarah bersaut-sautan di luar sana.
"Aku akan menelpon Einar." Sekar meraih tasnya yang ada di atas meja kasir dan mengambil ponselnya.
"Asap, asap!" Cassandra berseru ketika meliat kepulan asap masuk melalui celah di bawah folding gate dan masuk melewati celah-celah yang ada di pintu kaca.
Sementara teriakan-teriakan penuh amarah masih terdengar di luar. Sepertinya orang-orang itu berusaha untuk menjebol folding gate.
"Breng sek!" maki Liana. Dengan geram ia melangkah menuju salah satu rak yang ada di dalam ruangan itu dan mengambil tiga batang kayu sepanjang setengah meter dan membagikan dua di antaranya pada Cassandra dan Sekar.
"Sandra ... siapkan botol-botol ramuan dan peralatan perang. Kita hadapi baji ngan-baji ngan ini!"
Cassandra mengangguk. Ia bergegas mengambil beberapa botol di dalam rak di belakang meja kasir dan memasukkannya ke dalam tas kain. Lalu membuka rak di bawah meja dan mengambil beberapa serbuk belerang, arang dan kalium nitrat yang terbungkus kain, lalu meraih korek api.
Sekar berdiri di samping Liana yang telah siap dengan kayunya. Cassandra yang telah selesai menyiapkan semua yang diperintahkan Liana, menyusul berdiri di samping Sekar. Ketiga gadis itu menunggu detik-detik orang-orang di luar sana berhasil menjebol pintu.
Dan ketika folding gate berhasil ditembus, orang-orang itu memukuli pintu kaca dengan tongkat-tongkat baseball yang mereka bawa.
Sementara api mulai menjalar merambati kayu-kayu yang mengelilingi pintu kaca.
"Hekser (penyihir)!"
"Brenne (bakar)!"
***
***
***