
Donzdorf, kota kecil yang indah di Jerman itu adalah saksi awal karir Budbringer, duo Einar dan Sekar. Dan juga, sebagai saksi keduanya mengikat hati serta mempersatukan raga.
Kini, mereka telah kembali Ke Oslo. Sebagai musisi duo yang siap mengguncang dunia musik cadas, dan juga sebagai sepasang kekasih yang telah mengikrarkan hubungan di hadapan semesta.
Sebentar lagi, Sekar akan disibukkan dengan segala aktifitas yang berhubungan dengan musik. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk homeschooling saja, atas izin Papa, dan tentu setelah melewati perdebatan yang alot dengan Mama.
Ia belum berani memberitahu tentang hubungannya dengan Einar yang sudah melangkah ke jenjang yang lebih jauh pada kedua orang tuanya itu. Pikirnya, ia akan menunggu hingga umurnya delapan belas tahun. Ya, tahun depan. Dan untuk saat ini, biarlah mereka menganggap ia dan Einar hanya sepasang kekasih biasa.
"Gimana perkembangan albumnya, Se?" tanya Papa suatu hari.
"Bagus ... Papa siap, ya, punya anak selebritis," gurau Sekar.
"Hmm ... sombong," sahut Papa seraya mengacak rambut Sekar.
Sekar hanya meringis. Mama yang datang bergabung langsung mencebik. "Kayaknya making lengket ini, sama si Einar itu."
Sekar dan Papa saling melempar pandang dan terkekeh. "Udahlah, Ma ... kayaknya nggak ada jalan lain selain merestui hubungan mereka."
"Nggak segampang itu, ya, Pa ... enak aja," sungut Mama.
Sekar mengangkat tangannya. Ia tidak ingin mendebat Mama. Namun, setidaknya Sekar lega karena Mama tidak lagi sengotot dulu melarang hubungannya dengan Einar.
Biar waktu yang akan meluluhkan hati Mama. Tidak, bukan waktu. Ia lah yang akan meluluhkan hati Mama. Ini adalah dunianya, semua ada dalam genggamannya.
Tapi pada suatu malam, ketika Sekar terbangun dari tidurnya dan hendak mengambil air minum di dapur untuk membasahi tengorokannya yang terasa kering, ia mendengar tangisan Mama.
Suara tangisan yang mirip dengan yang ia dengar dalam mimpinya. Lalu suara Papa yang sedang menenangkan Mama. Sekar melongok dari atas tangga ke ruang tengah. Kedua orang tuanya sedang duduk berdua di sana. Papa mengelus punggung Mama yang terguncang karena tangis.
Ada apa, ya?
Baru pertama kalinya ia melihat Mama menangis seperti ini. Ia merasa ada masalah serius yang sedang orang tuanya hadapi. Tapi, apa? Apakah berkaitan dengannya dan Einar.
Perasaan Sekar mengatakan ada sesuatu hal lain yang terjadi. Hanya saja ia belum bisa menebak apa itu.
***
"Kau bilang apa pada orang tuamu untuk bisa keluar rumah seharian seperti ini?" tanya Einar pada Sekar yang sedang berbaring di atas ranjangnya.
Sekar meringis. "Urusan musik," jawabnya.
Einar terbahak. "Nakal, ya."
"Biar saja, itu satu-satunya jalan untuk bisa menghabiskan waktu deganmu."
"Baiklah." Einar melompat ke atas ranjang dan berbaring di samping Sekar. Gadis itu pun segera menghambur ke pelukannya.
"Ein, bagaimana kalau ... kita mengulang apa yang kita lakukan di Donzdorf?" goda Sekar seraya menelusuri dada Einar dengan jemarinya. Dan semakin lama semakin merayap turun.
"Sudah mahir rupanya," ujar Einar seraya menangkap pergelangan tangan Sekar.
"Tidak sesulit mempelajari The Hammerklaviernya Beethoven," kekeh Sekar.
"Ah ya, aku lupa, kau ini jenius. Hal seperti ini bisa kau pelajari dalam beberapa detik saja," ujar Einar seraya memosisikan badannya di atas Sekar. "Ada dua pilihan, Sekar ... mau diperlakukan dengan lembut, atau diperlakukan dengan sangat lembut?"
"Pilihan macam apa itu?" cebik Sekar.
"Pilihan yang kubuat untuk melayani gadis menggemaskan ini," jawab Einar seraya mengecup bibir tipis Sekar.
"Biar aku pikirkan dulu."
"Lima detik dari sekarang."
"Tunggu, Ein!" Sekar menahan dada Einar. "Kapan Agnes pulang?" tanyanya.
"Dia akan menginap di rumah kakaknya sampai besok." Einar menyingkirkan tangan Sekar dari dadanya. "Jadi?" Ia mengerling pada kekasihnya itu.
"Lembut ...."
Senyum Einar tersungging di bibirnya. "As you wish, My Lady," ucapnya.
Sekar memejamkan matanya. Menikmati apa pun yang dilakukan Einar padanya. Terbang ke Valhalla, bergandengan tangan di padang rumput surgawi, memeluk pohon oak milk Dewi Jörd, terbang bersama peri-peri hutan dalam lautan kabut, dan kembali lagi ke ranjang mereka dengan napas yang tersengal.
Indah. Segalanya begitu indah.
Sekar membuka matanya.
Ruangan itu lagi. Namun, kali ini sedikit berbeda. Pintu besi yang biasanya tertutup rapat kini terbuka. Sekar turun dari atas ranjang dan melangkah pelan ke arahnya.
Lorong panjang. Hanya itu yang Sekar lihat di balik pintu. Sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat.
"Hallo, Budbringer."
Suara itu berasal dari arah belakangnya. Sekar cepat-cepat membalikkan badan dan terkejut melihat pria tua berjubah hitam itu lagi. Yang ditemuinya di Nittedal, di perpustakaan gereja dan di halaman rumahnya.
"Kau lagi!" seru Sekar.
"Tempat apa ini?" tanya Sekar gusar.
Pria tua itu kembali tertawa lebar. Ia mengetuk-ngetuk keningnya sendiri dengan jari telunjuknya. Kemudian menunjuk pada Sekar, dan mengepalkan tangannya.
Sekar menjadi bingung dibuatnya. Apa maksud pria tua itu. "Tunggu!" serunya ketika melihat pria itu berjalan mundur dan masuk ke dalam ruangan di mana ia tadi berada.
Sekar menyusul pria itu masuk melalui pintu yang terbuka lebar. Silau. Entah cahaya Dari mana, Ia pun melindungi mata dengan lengannya.
Rupanya cahaya yang menyilaukan itu berasal dari blitz-blitz kamera para wartawan.
"Gaia, siapa yang menulis liriknya?"
Sekar mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Memastikan siapa yang sedang berbicara padanya ini.
"Sekar yang menulis liriknya."
Sekar menoleh ke arah sampingnya. Einar. Ia menggenggam erat tangan kekasihnya itu.
"Sekar, bisa kau jelaskan apa yang kau maksud dengan Gaia itu?"
Ini saat-saat yang Sekar tunggu. Ia seorang Bud bringer, ia akan menyampaikan pada semua orang. Satu persatu yang harus disampaikan.
"Akan aku bacakan liriknya," ucap Sekar.
How deep I can dive into your mind
As it's intricate and beautiful
Learn to learn, be like Darwin
Or discover the theory of everything
While the sheeps continue to follow
The ancient sheet of papers
On the other hands I see
Those pale skins are creating history
You're the fragrance of blossom flowers
You're the clay you're the worm
We're together and flowers bloom
O Mother, mistery lies within you
Moving dots in the water so clear
Evolved into species diversity
Although I'm too fool to see
You still spread the harmony
"She's dying (dia sekarat)," ucap Sekar.
"Dia?"
Sekar menoleh ke arah Einar. Pemuda itu menganggukan kepalanya. "Tell them, My Love (katakan pada mereka, Cintaku)."
"Orang Scandinavia harus pulang!" seru Sekar seraya menggebrak meja yang ada di hadapannya.
Seluruh ruangan menjadi riuh. Namun Sekar bergeming. Ia menarik sudut bibirnya dan menatap satu persatu wajah para wartawan yang menghadiri pers rilis album pertama duo Budbringer.
"Semua harus pulang pada Gaia, The Mother." Suara Sekar memecah keriuhan di dalam ruangan itu.
"Musuh ada di antara kita. Berlindung di balik buku-buku kuno."
"Jika kalian semua mengabaikan Gaia, maka dia akan mati, begitu juga kalian."
"Hidupkan kepercayaan leluhur masing-masing. Jangan sampai ada salah satu kaum yang mendominasi atas nama New World Order."
Semua yang ada di dalam ruangan itu terperangah mendengar perkataan-perkataan Sekar yang tidak dinyana-nyana.
Sudah jelas, Budbringer, duo yang sedang menapaki karir dalam industri musik metal ini punya potensi untuk menjadi Rebels (pemberontak).
***
Lirik Gaia ditulis oleh Lady Magnifica untuk materi album ke dua dari duo Gardenia yang akan dikerjakan tahun ini, yihaa ....