
Sekar terbelalak senang melihat satu porsi ice cream dengan topping roti gulung renyah dan buah cherry yang baru saja Einar sodorkan padanya.
"Hmm ... so good (enak sekali)," ujarnya sembari mengecap rasa manis yang lumer di mulutnya.
"The best ice cream in Oslo (es krim terbaik di Oslo)," sahut Einar. Ia memperhatikan gerak-gerik Sekar yang sedang melahap ice creamnya dengan hikmat.
"Sekar ...."
"Hmm?"
"Kau memang tidak punya teman, ya?"
"I don't need them, I have my piano (aku tidak butuh mereka, aku berteman dengan pianoku)."
Einar terbahak. Gadis itu menjawabnya tanpa beban. Sibuk dengan ice creamnya dan tidak menoleh padanya sama sekali.
"Pernah punya pacar?"
"Never, didn't have time for boyfriend (tidak pernah, dulu tidak punya waktu untuk pacaran)."
"Pernah menyukai seseorang?"
Sekar menghentikan suapan ice cream ke mulutnya. Lalu meletakkan sendok ke atas mangkuk.
"Why do you wanna know (kenapa kau ingin tahu)?"
Einar mencebik sembari mengedikkan bahunya. "Kau jarang bercerita tentang dirimu. Seperti, kenapa kau pindah ke sini, dan lain sebagainya."
"Keluargaku pindah ke sini. Ayahku Duta Besar Indonesia untuk Norway."
"Ah, I see (begitu)." Einar tersenyum. "Suatu kehormatan bisa berteman dengan anak seorang Duta Besar."
Sekar memutar bola matanya. "Biasa saja."
"Ein ... aku baru ingat sesuatu!" seru Sekar ketika ia tiba-tiba mengingat mimpinya semalam. Ia bahkan telah menemukan teori untuk mengartikan mimpinya itu. Ia menghubungkannya dengan cerita Einar tentang alasan ia membakar gereja.
"What?"
"Berhati-hatilah dengan Gereja Kathedral Oslo."
Alis Einar mengerut. Tentu saja ia terkejut mendengar ucapan Sekar. "What do you mean by that (apa maksudnya)?"
"Pohon oak yang pernah kau tunjukkan padaku beberapa waktu lalu. Jaga baik-baik. Di sana pusat energi baik berada."
Einar terperangah. Ia tak percaya ucapan-ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Sekar.
"Kau sedang baik-baik saja, kan, Sekar?" tanya Einar sembari memegang dahi Sekar. Gadis itu langsung menepisnya.
"Aku serius," gerutu Sekar. "Aku belum punya teori yang mendetail tentang hal itu. Tapi aku akan mengumpulkan informasi." Ia tertawa renyah. "Owh, aku suka sekali teori konspirasi."
Sekar menghabiskan sisa ice creamnya dan tanpa sengaja ia bersendawa. "Oops ... sorry," ujarnya sembari menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Membuat Einar tertawa menyaksikan tingkah lucunya.
"Kau tahu, Sekar, kau ini sangat menggemaskan," goda Einar.
"Yaikkk (menjijikkan)!" Sekar menjulurkan lidahnya jijik. Einar kembali terbahak seraya beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ke kasir.
.
.
"Where's Agnes (dimana Agnes)?" tanya Sekar.
"Dia menginap di rumah kakaknya di Nesoddtangen, satu jam dari Oslo," sahut Einar sembari masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Sekar masih berada di ruang tamu. Ia tersenyum-senyum memperhatikan foto kecil Einar yang tergantung di dinding. Seorang anak lelaki lucu dengan rambut cokelat dan mata hazel yang indah. Dengan senyum lebar di bibirnya yang membuat matanya menyipit.
Ia pun terbahak melihat salib terbalik di atas bingkai foto. Einar selalu membalik salibnya, sementara Agnes bertugas membenarkan posisinya. Karena terakhir kali Sekar datang, posisi salib masih seperti seharusnya. Sepertinya hal itu sudah menjadi rutinitas Ibu dan anak itu.
"Sekar, come here (ke sini)!" panggil Einar dari dalam kamarnya. Terdengar suara lengkingan gitar dari sana.
"Duduk di situ," titah Einar sembari menunjuk ranjangnya. Sekar yang masih berdiri di ambang pintu segera masuk dan duduk di hadapan Einar yang telah siap dengan gitar elektrik dan peralatannya.
"Coba tebak. Lagu siapa ini," kekehnya. Ia memainkan sebuah lagu dengan gerakan jemarinya yang begitu cepat berpindah-pindah dari satu senar ke senar lainnya. Menciptakan nada yang begitu epic dan tegas.
"Antonio Vivaldi, Storm!" tebak Sekar.
Einar menjentikkan jarinya. "Tepat! Kalau yang ini?" Ia kembali memainkan gitarnya. Menciptakan nada yang dinamis sembari mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum jenaka.
"George Bizet, Carmen!" tebak Sekar sembari tertawa. Ekspresi wajah Einar terlihat sangat lucu.
"Sergei Rachmaninoff, Prelude in C sharp minor!"
"Yang ini?"
"Pyoth Ilyich Tchaikovsky, Swan Lake ... tunggu, tunggu ... kenapa semuanya terdengar seperti metal?" tanya Sekar.
"Aneh, bukan?" kekeh Einar. "Musik klasik itu seperti genre metal sebelum ada electric. Atau memang awal mula ada metal terinspirasi dengan musik klasik." Einar mengedikkan bahunya.
"Memangnya siapa yang pertama kali menciptakan genre itu?"
"Awalnya di tahun 70an ketika berkembang rock blues dan psychedelic rock. Band penggagasnya ... emmm ... Black Sabbath, pernah dengar?"
"Sepertinya pernah," sahut Sekar sembari mengambil gitar akustik yang tergeletak di atas ranjang. Ia mulai mengalunkan nada-nada canon d walaupun masih sedikit patah-patah.
Einar menginjak pedal. Suara distorsinya berubah menjadi akustik. Ia mengiringi melodi Sekar dengan suara rhythm gitarnya. Dengan sabar mengikuti tempo bermain Sekar yang terkadang cepat dan terkadang melambat.
"Auch ... ujung jariku sakit," ujar Sekar sembari mengibas-ngibaskan telapak tangannya.
"Let me see (biar kulihat)." Einar meraih tangan Sekar dan memeriksa ujung jari gadis itu, tampak sedikit membengkak. "It's okay (tidak apa-apa), normal untuk orang yang baru pertama bersentuhan dengan senar gitar."
Sekar meringis menahan nyeri. Ia meletakkan gitar di sampingnya. Lalu mengusap-usapkan ujung jari ke badannya.
"Mau istirahat dulu?" tawar Einar. Disambut dengan anggukkan Sekar. "Okay ... tunggu sebentar, aku harus ke toilet." Einar menyandarkan gitar ke stand gitar dan melangkah keluar kamarnya.
Sekar mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar. Cukup rapi untuk kamar seorang pria. Hanya saja terkesan gelap oleh poster-poster yang didominasi warna hitam.
Matanya menangkap satu botol panjang dengan cairan berwarna putih yang ada di atas meja. Ia pun meraih botol yang isinya tinggal setengah itu dan membuka penutupnya.
Aroma alkohol bercampur jintan begitu kuat menusuk hidungnya. "Uuufh," gumamnya. Namun ia merasa penasaran dengan rasanya.
Ia meminum seteguk dan merasakan tenggorokannya seakan terbakar. Ia mengelus lehernya pelan.
"Hei, jangan minum itu, Sekar, kau belum cukup umur," ujar Einar yang kini telah berdiri di ambang pintu. Ia segera merebut botol dari tangan Sekar.
"Minuman apa itu?" tanya Sekar. Ia masih merasakan panas di tenggorokannya. Dan rasa pahit yang ditinggalkan di lidahnya.
"Akevitt ... minuman orang-orang Scandinavia. Kadar alkoholnya tinggi," jawab Einar sembari meletakkan botol di atas lemari pakaiannya, menjauhkannya dari jangkauan Sekar.
"Tidak enak sama sekali."
"Memang bukan untuk dikonsumsi anak-anak," kekeh Einar. "Duduk, Sekar. Biar kunyanyikan sebuah lagu untukmu."
"Dengan suara growl (menggeram)?" tanya Sekar curiga.
"Tidak. Lagu normal." Einar mengambil gitar akustik di samping Sekar. "Wicked game, by Chris Isaac."
The world was on fire (dunia ini terbakar)
and no one could save me but you (tak ada yang bisa menyelamatkanku selain dirimu).
It's strange what desire will make foolish people do (sungguh aneh apa yang bisa dilakukan oleh orang bodoh dengan sebuah hasrat).
I never dreamed that I'd meet somebody like you (aku tidak pernah bermimpi aku akan bertemu seseorang sepertimu).
And I never dreamed that I'd lose somebody like you (aku tidak pernah bermimpi aku akan kehilangan seseorang sepertimu).
Einar tertawa sejenak sembari menatap Sekar sekilas yang tengah melongo memandanginya. Mungkin gadis itu heran, seorang Einar bisa memainkan dan menyanyikan lagu seromantis itu.
No, I don't wanna fall in love (aku tidak ingin jatuh cinta).
This world is only gonna break your heart (dunia ini hanya akan menyakiti hatimu).
No, I don't wanna fall in love with you(aku tidak ingin jatuh cinta padamu).
Senyum Einar meredup. Masih memetik gitarnya, ia menatap Sekar yang juga tengah menatapnya.
I don't wanna fall in love with you (aku tidak ingin jatuh cinta padamu).
I don't wanna break her heart (aku tidak ingin menyakiti hatinya).
***
***
***