LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 20. Sekar, Music And Book.



FROGNER, OSLO.


"I'm sorry , Johann Pachelbel, I have to do this (maafkan aku, Johann Pachelbel, aku harus melakukan ini)."


Sekar menarik sudut bibirnya. Memandangi tuts tuts piano di hadapannya.


"Pachelbel's Nightmare ... Dark Canon In D (mimpi buruk pachelbel ... canon d yang gelap)" gumamnya.


Pranggg.


Ia membanting jemarinya sembarang di atas tuts. Lalu memulai lagu dengan normal. Manis, lembut dan teratur. Namun merangkak ke tengah lagu, jemarinya mulai mengamuk. Mengacak dan memorakporandakan nada.


Ini adalah caranya meluapkan kekesalan. Setiap nada yang ia kacaukan menguapkan amarahnya ke udara.


Ia meraih sebilah pedang yang tertancap di tanah yang diselimuti salju. Senyumnya miring. Menatap tajam seorang pemuda berambut panjang dengan cat mayat di wajahnya, jatuh terlantang di hadapannya.


Ia membuka penutup kepala yang menyatu dengan jubah hitamnya. Mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mengarahkan ujungnya searah dengan dada pemuda itu.


"Aku akan menghabisimu!" Ia berujar dengan suara berat. Tawanya membahana.


Di belakangnya, dua gadis berpakaian tradisional Norwegia lengkap dengan cape (jubah)nya, tersenyum sinis.


"Habisi dia, Sekar!"


"Hujam jantungnya!"


Si pemuda menatap lekat mata Sekar dengan netra hazelnya yang indah. Senyumnya mengisyaratkan kedamaian. "Apa yang kau tunggu, Sekar?"


Pranggg.


Ia membanting jemarinya kembali di atas tuts mengakhiri lagu yang ia mainkan. Tarikan napasnya terdengar berat dan panjang.


Sekar membuka halaman demi halaman buku sheet piano yang ada di hadapannya.


Somewhere in time oleh John Barry. Ia mulai mengalunkan nada-nada lembut nan romantis dari soundtrack film tahun 80an bertema cinta dan mesin waktu itu.


.


.


"Mbok Mar, Sekar belum keluar kamar dari tadi, ya?"


Mama melongok dari pintu dapur sembari merapikan sanggulnya.


"Belum, Nyah," sahut Mbok Mar yang tengah merapikan meja makan.


"Belum sarapan juga tuh anak?" tanya Mama. Pagi tadi Sekar menolak untuk ikut sarapan bersama.


"Belum, Nyah," jawab mbok Mar. "Nyonya mau ke mana?"


"Ke acaranya temannya Bapak." Mama menoleh ke lantai atas begitu mendengar suara denting piano terdengar sayup-sayup dari kamar Sekar. "Anak itu, kalau udah sama pianonya, udah kaya punya dunia sendiri," gumamnya.


"Buruan, Ma ... udah telat ini!" Seruan Papa terdengar dari ruang tamu memanggilnya.


"Iya, iyaaa," sahut Mama. "Mbok Mar, jangan lupa suruh Sekar makan, ya."


"Nggih, Nyah."


Beberapa menit setelah Mama pergi, Mbok Mar menyiapkan satu piring nasi dan lauknya untuk diantar ke kamar Sekar.


Ia urung menaiki tangga ketika mendengar suara pintu depan diketuk seseorang. Wanita paruh baya itu masuk ke dapur untuk menaruh piring dan segera melangkah menuju ruang tamu untuk membuka pintu.


"Hallo, Mam (halo, bu)."


Seorang pemuda berambut panjang berdiri di hadapannya menyunggingkan senyum.


"Sekar?" Pemuda itu memberi isyarat pada Mbok Mar kalau ia sedang mencari Sekar.


"Aduh, piye ngomonge iki," kikik Mbok Mar yang tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan pemuda itu.


Akhirnya, dengan isyarat tangannya, ia mempersilahkan pemuda itu untuk menunggu di teras rumah.


Wanita itu menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Sekar pelan. "Non, ada yang nyariin."


Namun, tak ada jawaban apa pun dari Sekar. Hanya terdengar suara alunan musik klasik dari dalam sana.


Perlahan Mbok Mar membuka pintu dan mendapati Sekar tengah berbaring tengkurap sembari membaca buku.


"Non, ada yang nyariin!" seru Mbok Mar.


"Siapa?" tanya Sekar acuh tak acuh. Ia tak mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah dibacanya itu.


"Ituuu ... cowok ganteng yang pernah nganter pizza buat Non Sekar itu loh."


Sekar menutup bukunya. "Einar?"


"Mbok nggak tahu namanya."


Mbok Mar mendesis. "Nggak tahu caranya ngomong, Non. Mau ditemuin apa enggak ini? Atau disuruh pergi aja?"


"Tunggu," ujar Sekar sembari beranjak dari ranjangnya. Ia berjalan mondar-mandir sembari memijit-mijit tengkuknya. Ia bingung. Apa yang harus ia jawab jika Einar menanyakan tentang sikapnya kemarin malam.


"Piye, Non?" tanya Mbok Mar.


Tanpa menjawab Mbok Mar, Sekar melangkah keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan berdiri di ambang pintu depan, memandangi Einar yang tengah duduk di kursi teras dan belum menyadari kehadirannya.


"Ein!" panggilnya.


Einar menoleh padanya dan tersenyum gembira. "Finally (akhirnya)." Ia berucap lega. "I'm so worried about you (aku khawatir sekali padamu)."


"Aku minta maaf membiarkanmu pulang sendirian ... aku ..."


"It's okay (tidak apa-apa)!" potong Sekar cepat. Ia tidak mau mendengar alasan Einar tentang Anna. Atau memang ia tak ingin mendengar nama itu terucap dari bibir Einar.


"Semalam, kau terlihat sangat marah. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, Sekar ...."


"I'm okay!" Kembali Sekar memotong perkataan Einar cepat. "I was out of my mind ... a little (aku sedikit gila)," ujarnya sembari memutar-mutar jari telunjuknya di samping keningnya.


"Itu yang sedang aku pikirkan, Sekar. Kau terlihat aneh, sorry, aku tidak bermaksud mengatakan sesuatu yang buruk. Hanya saja, aku sering melihatmu bersikap aneh."


"I am a weirdo (aku memang aneh)," sahut Sekar. "Sekarang kau tahu seperti apa aku."


Einar terdiam sesaat. Ia memandangi wajah manis Sekar. Ekpresi gadis itu terlihat datar. Begitu berbeda dengan semalam, auranya terlihat gelap.


"Kau tidak ada acara hari ini? Aku ingin mengajakmu menemui seseorang," ujar Einar.


"Hmm ... siang ini aku berencana untuk menyelesaikan sebagian buku yang sedang aku baca. Dan nanti sore aku mau pergi ke suatu tempat," jawab Sekar. "Besok, mungkin," lanjutnya.


"Buku yang kau pinjam dari perpustakaan?"


Sekar menggeleng. "Buku yang sangat penting." Sekar menarik sudut bibirnya. Tersenyum miring.


"Kau ingin pergi ke suatu tempat? Tempat seperti apa?" tanya Einar. Entah kenapa ia merasa begitu penasaran.


Sekar mengerutkan dahinya. "Kenapa kau ingin tahu, Ein?"


"Emmm ... bukan apa-apa. Hanya saja, di Oslo banyak tempat-tempat aneh. Aku hanya tidak mau kau ... ah, sudahlah." Einar menghela napasnya. Mencoba membuang rasa cemas yang tiba-tiba menyerangnya. "Jadi, besok, ya, kau ikut denganku?"


"Deal!" Sekar tersenyum lebar. Ia bisa mendeteksi rasa cemas yang tersirat di wajah Einar.


"Helvete festival ... aku akan menonton Lord Abaddon," ujar Sekar masih dengan senyum lebarnya.


Einar mengangguk. "Hari rabu, di Tøyenparken, Helgesens Gate."


"Deal!" Sekar mengulang seruannya kembali. Wajahnya tampak ceria. Hal itu membuat Einar tak kuasa meloloskan senyumannya. Ia mengacak rambut Sekar gemas.


Yang Einar lihat saat ini, Sekar hanyalah gadis SMA yang manis dengan wajah mungil khas Asianya. Tak ada aura gelap yang menaunginya. Seperti yang ia lihat semalam atau sewaktu keluar dari toko bunga tempat Anna bekerja, beberapa waktu lalu.


.


.


Halaman 33. The Craft: A Witch's Book Of Shadow.


Witchcraft And Magick.


Jangan pernah takut dalam hutan yang tergelap. Kau harus yakin, dalam jiwamu, bahwa hal yang paling menakutkan di dalam hutan adalah dirimu sendiri.


Apa yang kita pikirkan, terjadilah.


Apa yang kita rasakan, tariklah.


Apa yang kita banyangkan, buatlah.


Make your own Book Of Shadow (buatlah buku bayanganmu sendiri).


Spells (mantra).


The world is in your hand (dunia berada dalam genggamanmu).


Sekar menutup buku di tangannya. diliriknya jam di layar ponselnya. Pukul 15.00. Ia beranjak dari pembaringan dan membuka lemari pakaiannya. Ia mengambil satu baju terusan berwarna hitam. Entah kenapa sekarang ia merasa nyaman mengenakan pakaian berwarna gelap. Ia tidak punya banyak di lemarinya. Mungkin sudah waktunya membeli baju-baju baru.


Setelah dirasa pakaian itu pas membalut tubuh mungilnya, ia memadukannya dengan boot hitam setinggi lutut. Lalu menyambar mantel dan tas selempangnya di sudut ruangan, kemudian melangkah keluar dari kamarnya.


Tujuannya hanya satu.


Lille Arcana.


***


***


***