
One year later ....
"Sebaiknya kau sudahi saja, tidak ada gunanya. Sudah ada yang mengatur. Tidak ada yang bisa kau lakukan, Sekar."
Pria tua berjubah itu menatap Sekar dengan senyum miringnya. "Menyerah saja, Sekar."
"Aku bisa melepaskan semuanya, kecuali Einar!" sergah Sekar dengan tegas.
"Kita lihat saja nanti." Pria tua itu menyeringai.
Sekar mengepalkan kedua tangannya. Ia mencoba mengendalikan perasaannya yang begitu kacau. Ia menoleh ke arah Einar di sampingnya yang sedang menatapnya dengan heran sambil memutar tuning page gitarnya.
"Did you listen to what I say (apa kau mendengar apa yang kukatakan)?" tanya Einar.
"Apa?" Sekar balik bertanya.
"Konser minggu depan, ada satu lagu featuring Lord Abaddon, kau setuju atau tidak?"
"Yeah, sure ... why not (ya, tentu ... kenapa tidak)?"
Einar tersenyum melihat Sekar yang sepertinya tidak terlalu fokus dengan rehearsal hari ini. Akhir-akhir ini gadis itu sering melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ia tidak ingin mendesak Sekar untuk menjelaskan padanya. Ia akan menunggu saja kapan gadis itu bercerita.
Delapan belas tahun umurnya sekarang. Secara fisik, Sekar sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Cantik, tentu saja. Secara pikiran, ia bertambah jenius. Secara sikap, ia sudah jarang merengek atau pun merajuk. Hanya saja, jiwa feministnya terkadang meluap-luap sehingga ia tidak terlalu bisa memosisikan dirinya sebagai seorang istri. Tapi, Einar tidak mempermasalahkan itu. Ia bukan seseorang yang menganut sistem patriakal. Seperti nenek moyangnya orang skandinavia yang menjunjung tinggi peran perempuan dalam komunitas.
***
LILLE ARKANA, OSLO.
Toko barang antik milik Liana dan Cassandra sudah dibangun kembali beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya, setelah kerusuhan yang terjadi di sana, dua gadis itu tinggal di basecamp milik Lord Abaddon. Folke yang masih mempunyai perasaan terhadap Liana bersedia membantu memperbaiki toko. Hal itu membuat hubungan mereka membaik. Sementara Cassandra, sepertinya gadis itu punya hubungan khusus dengan Edvard, basis Lord Abaddon yang paling selengean dibanding dengan personel lain.
Sekar bahagia melihat semua itu. Semua berjalan lancar seperti yang ia pikirkan. Hari-harinya penuh dengan kegembiraan, kasih sayang dan juga aktivitas-aktivitas yang menyenangkan. Sepertinya tidak akan ada badai yang menerpa. Ia merasa semuanya normal, dan ia pun merasa dirinya, normal.
Hingga pada hari ini ketika ia menemui Liana dan Cassandra, hatinya menjadi was-was kembali.
"Pemilihan umum di negara ini akan dimulai sebentar lagi," ujar Liana. Ia membuka kain penutup bola kristal besar yang ada di atas meja, lalu menatap Sekar dan Cassandra secara bergantian. "Baca dengan mata hati kalian, apa yang terjadi di sana," titahnya seraya menyentuh bola kristal bening yang kosong di dalamnya.
"Aku tidak bisa," sahut Cassandra. "Aku sulit berkonsentrasi akhir-akhir ini," lanjutnya tersipu.
Liana menghela napasnya kesal. "Sudah aku bilang jatuh cinta membuatmu lemah," sindirnya.
Bibir Cassandra mencebik. "Kau sendiri, dengan Folke, bagaimana?"
"Aku membentengi diriku untuk tidak jatuh cinta lagi, walaupun hubungan kami membaik," sergah Liana. "Jatuh cinta itu hal yang sepele. Ada hal yang lebih besar dan perlu untuk diwaspadai."
"Sekar dan Einar, mereka juga dimabuk cinta," protes Cassandra.
"Pintu gerbang yang menghubungkan mereka sudah terbuka sejak lama. Takdir mereka sama. Semesta merestui. Dan jangan lupa kalau Sekar adalah pendeta wanita Dewi Jörd," terang Liana.
"Yang bekerja adalah jiwamu, bola kristal ini hanya perantara," jawab Liana.
Sekar mengangguk tanda mengerti. Ia menatap bola kristal itu. Tidak ada apa-apa di dalamnya. Tidak ada percikan-percikan api seperti yang terdapat di dalam film-film fantasi. Tentu saja, ini adalah dunia nyata. Dan jika ada sihir-sihir yang dipraktekkan, ada penjelasan dan bahannya. Semua ada hukum fisikanya.
Kecuali satu hal, kekuatan dalam pikiran yang bisa menciptakan segalanya tanpa batas. Bahkan menciptakan sebuah dunia, walaupun sedikit absurd.
"Aku melihat kekacauan lagi." Sekar memandang ke arah Liana. "Seperti efek domino, reaksi berantai."
Liana mengangguk-angguk seraya mengelus ujung rambutnya sendiri. "Jangan ciptakan kekacauan itu, Sekar," ucap Liana. "Atau kau akan kehilangan segalanya."
Sekar mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Liana barusan. "Ini tidak ada hubungannya denganku. Ini tentang pemilu Norwegia yang akan berlangsung sebentar lagi," ujarnya.
"Aku tahu, Sekar ...."
Sekar menelan ludahnya dengan susah payah. Hatinya mulai dirundung kegelisahan. Bayangan dirinya duduk sendiri di kamar yang tertutup rapat melintas begitu saja.
"Aku harus pulang," kata Sekar sembari menarik tangannya dengan cepat dari atas permukaan bola kristal.
Ia keluar dari toko barang antik milik dua temannya itu dengan perasaan kacau. Otaknya berpikir keras mencerna ucapan Liana.
Sekar berdiri di pinggir jalan seraya merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel. "Ein, jemput aku di Lille Arkana." Sekar berbicara dengan Einar di telpon.
Setelah Einar mengiyakan, dua puluh menit kemudian Sekar sudah berada di dalam mobil bersama si mata hazel itu. Ia meminta Einar untuk tidak langsung pulang. Ia ingin berkendara keliling Oslo tanpa tujuan. Menghapal semua sudut kota itu dan menyimpannya dalam ingatannya. Karena Sekar tiba-tiba merasa takut, suatu saat ia akan melupakan kota ini. Kota di mana ia bertemu dengan Einar.
"Gelisah sekali," celetuk Einar seraya menoleh Sekar sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke jalan.
"Aku sedang menghapal setiap sudut kota ini," jawab Sekar.
"Kenapa memangnya?" tanya Einar sambil terkekeh.
"Untuk mencari keberadaanmu," jawab Sekar.
Einar mengerutkan keningnya. "Aku tidak mengerti, Sekar."
Sekar terkikik. "Aku juga tidak mengerti."
Einar mengelus kepala Sekar lembut. "Mau cerita sesuatu padaku?" tanyanya.
Sekar menggeleng. Lalu memeluk Einar yang sedang menyetir, dari sampingnya. Ia mendusalkan kepala di pundaknya. Tidak ada yang perlu diceritakan. Ia hanya ingin bersama dengan pria yang kini telah menjadi suaminya itu.
"Aku sedang menyetir, Sekar. Kalau kau mau, kita pulang saja. Peluk aku sepuasmu di rumah," kekeh Einar.
Bibir Sekar mencebik. "Okay," ujarnya setuju. Senyum di bibirnya terus tersungging hingga mereka sampai di apartemen mereka yang merangkap studio pribadi Budbringer di Grønland.
***