Last Night With You

Last Night With You
Bab 7



jam dinding menunjukkan jam 17.30, tetapi diluar sudah terdengar sangat sunyi dan senyap tak terdengar suara motor ataupun mobil yang melintas, Yang terdengar hanya suara jam dinding dan rintikan hujan diluar sana


Ya, diluar sedang hujan deras, Alin merasa itu lah alasannya sehingga membuat jalanan di dekat tempatnya tinggal tak seperti biasanya, cuaca dingin itu mampu mengurung sebagian orang untuk tetap berada di dalam rumah, termasuk dirinya.


dia yang sedang berdiri didekat jendela, memegang secangkir kopi mochaccino kesukaannya untuk menghangatkan tubuhnya disuasana yang sangat dingin malam ini. koas oblong dan celana pendek nya membuat angin yang berhembus mampu menerobos ke dalam tubuhnya


dia sedang memikirkan Jordan, pria sempurna yang di idam-idamkan oleh banyak wanita. dia cukup sadar diri, dengan keadaannya yang sudah di nodai orang lain, apakah pantas mencintainya? pikir Alin


dia melamun di dalam kamarnya, sampai sampai Natalia mengetok pintu kamarnya pun dia tidak sadar


brak brak brak


suara pintu yang terdengar bukan seperti orang sedang mengetok pintu, seolah olah seseorang yang mengetok pintu hendak menculik orang dibalik pintu tersebut


"Lin? kamu didalam kan?" suara pintu semakin lantang terdengar


"woy Lin? kamu ngapain didalam? kamu baik baik saja kan?"


akhirnya Alin sadar ada orang yang memanggilnya di luar


"iya iya aku datang"


Alin bergegas menuju pintu dan membukanya, melihat wajah Natalia yang terlihat seperti habis di tumpahin air panas, sangat merah


"tau caranya buka pintu juga akhirnya kamu?" wajahnya yang penuh dengan emosi dan khawatir sangat jelas terlihat di wajahnya


"ada apa Nat?"


"ayo makan malam, kamu ngapain apa aja sih, kok aku panggil panggil dari tadi kamu ga menjawab" tanyanya panjang lebar


"aku ga ngapa-ngapain, cuma lagi liatin hujan"


"haih, seperti tidak ada kerjaan saja, yasudah yuk cepat makan malam"


"iya iya ayo"


akhirnya mereka menuju meja makan untuk makan malam


disisi lain Alan yang sudah berada di negara C, menginap di hotel yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Alin, entah itu hanya kebetulan atau memang sudah takdir yang mengubah segalanya sejak malam itu, Disisi lain Alin yang memikirkan Jordan sepupu dari sang CEO Alan, mungkin memang takdir itu juga tidak bisa lepas dari mereka berdua, bahkan Alan juga sedang memikirkan sosok Alin, dia ingin secepatnya menemukan wanita malam itu.


"dimana dia sekarang?" Alan melanjutkan meminum wine yang sedari tadi sudah dia pegang di tangannya


"Malam ini hujan sangat deras" ucap Natalia pada Alin


"iya" jawab Alin yang masih menikmati makanan didepannya


saat itu hujan memang sangat deras, mereka tidak mengerti apakah setiap musim hujan selalu terjadi hujan deras seperti ini


setelah selesai makan, Alin yang saat itu sudah merebahkan badannya, memikirkan besok dia yang akan pergi dengan Jordan ke sebuah pesta sebagai pasangannya,


"Jordan lelaki tampan dan mapan, tentu saja banyak seseorang yang antri padanya tapi kenapa dia milih aku?" pikirannya sendirian


Alin heran dan disisi lain dia juga bahagia, bisa mendapatkan kesempatan untuk lebih dekat dengannya. Alin Sangat mengagumi Jordan, tidak henti hentinya dia menceritakan betapa istimewanya pria itu pada dirinya sendiri. Dimata Alin Jordan sangat dewasa penuh perhatian, susah menemukan pria seperti nya di jaman yang sudah seperti sekarang ini.


"kenapa otakku penuh dengan Jordan, aku kesini untuk belajar, bukan untuk memikirkan hal yang tak seharusnya aku pikirkan" Alin bingung dengan perasaannya sendiri, ini pertama kalinya dia merasa bingung hanya karena seorang lelaki


"kenapa aku gugup sekali" tanyanya didalam hati, Alin tak pernah ikut acara kantor apalagi menjadi pasangan seseorang, ini juga pertama kalinya bagi dia


" ya sudahlah lebih baik aku tidur" tidak terasa wajahnya mengukir senyum disaat dia sedang memikirkan wajah tampan Jordan


"selamat malam Jordan"


memejamkan kedua matanya dan akhirnya mulai terlelap disebuah mimpi baru tentang pria idamannya


siang yang sangat cerah. langit dan matahari sangat bersahabat, memberikan kehangatan yang tak akan membakar, tapi cukup membuat seseorang yang ada di bawahnya seperti sedang berjemur di pantai. saat itu Alin sudah berada di dalam mobil Jordan yang mewah menuju tempat fashion termewah di kota itu


"Selamat datang tuan dan nona" sapa resepsionis disana


"rias dia dan carikan baju yang cocok untuk nya" perintah Jordan


"Baik"


Jordan yang sudah siap, menunggu Alin di ruang tunggu. melihat lihat majalah dengan sabar menunggu Alin yang masih di rias. entah akan seperti apa dia setelah dirias dengan mengenakan gaun 👗


dua jam kemudian


dua resepsionis yang membawa Alin kembali, dan melapor pada Jordan


"apakah sudah selesai?" tanya Jordan


"ya tuan"


"suruh dia kesini"


"baik"


setelah beberapa saat, Alin melangkah keluar dari dalam sebuah ruangan. seketika Jordan melihat Alin keluar dari ruang tersebut, Jordan sempat tercengang melihat perubahan dari diri Alin yang semakin sangat anggun. Jordan terus memandangi Alin dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah. dan dia sempat berpikir apakah dia Alin yang biasanya hanya memakai riasan yang tak terlalu mencolok setelah dirias sedikit dia menjadi semakin anggun dan cantik



"eeeh iya Alin?" jawab Jordan gelagapan melihat betapa cantiknya wanita di depannya


"apa ada yang salah denganku?" tanya Alin penasaran karena Jordan memandanginya terus menerus


"aah tidak (sambil jalan mendekat, dan berbisik) hanya saja kamu menjadi semakin cantik" ucapnya membuat pipi Alin merona


"yuk berangkat!" sambil menekuk kan lengannya, mengisyaratkan supaya Alin menggandeng tangan Jordan


Alin hanya bengong memandangi jordan


"Alin ayo, kita sudah hampir terlambat" sambil menggoyangkan lengannya yang sudah siap menggandeng Alin


"aah iya" Alin ragu ragu menggerakkan tangannya ke lengan Jordan. kemudian memberanikan diri menggandengnya


akhirnya mereka pergi menuju tempat pesta yang akan di hadirinya


saat itu sudah menunjuk kan jam 18.00 mereka baru sampai di tempat tujuan, pada waktu itu tempat pesta tersebut sudah rame dengan orang pejabat tinggi. Alin merasa gugup ketika turun dari mobil Jordan.


"kamu gugup?" tanya Jordan


"sedikit😁"


"kami terus gandeng tangan aku aja. ikuti kemana aku pergi! ok!"


"heemp ok"


mereka melangkah menuju jgedung yang sangat megah di depan mereka, tempat itu terlihat sangat jauh dari tempat parkir.


disisi lain Alan yang merupakan Presedir pertama di acara amal tersebut sudah sedari tadi berada didalam gedung, menemani para pejabat dan karyawan karyawan nya yang hadir malam ini


ditengah kesibukan Alan, terlihat Jimmy sedang berlari kecil ke arahnya


"Ada apa Jim?" tanya Alan penasaran ketika Jimmy sudah ada didekatnya


Jimmy mendekatkan wajahnya ke telinga Alan dan membisikkan


"wanita itu ada disini" ucapnya dengan sedikit ngos ngosan


"dimana dia sekarang?"


"dia baru saja sampai, dan baru saja kemari, tetapi..."


belum selesai dia mengatakan semua orang yang berada di ruangan itu ramai ketika melihat ke pintu masuk melihat Presedir keduanya menggandeng wanita yang sangat cantik


"siapa wanita yang di gandeng Presedir"


"dia cantik sekali"


"cocok dengan Presedir"


"ya mereka kelihatan sangat serasi" bisik para karyawan dari perusahaan yang di pegang oleh Jordan


Alan mengepalkan tangannya seketika Alan melihat Alin yang menggandeng tangan Jordan. Alan merasa marah melihat wanita yang dicarinya tersenyum berada di dekat pria lain. Jordan menuju Alan yang merupakan bosnya sekaligus pamannya


"Hai Alan" sapa Jordan pada Alan, dia tidak memanggilnya paman karena umur Alan tidak jauh beda dari umurnya


"lama tidak ketemu, sepertinya kamu sudah mempunyai pacar" jawab ketus dari Alan


"masih belom Alan, tapi sebentar lagi" ucapnya yang membuat Alan semakin jengkel melihat Jordan dan melihat wajah Alin yang memerah ketika Jordan mengucapkan kalimat tadi


"Oiya Alin, ini pamanku. merupakan Presedir pertama dari perusahaan ini" ucap Jordan


"kupikir Jordan satu satunya pria hebat yang tampan dan mapan, ternyata masih ada yang lebih dari dia. lihat saja pamannya benar benar tampan" seketika Alin terpana ketika melihat Alan


"kurasa wanita ini mengingat ku" pikir Alan


"Alin" sapa Jordan


" ah iya. hai, Alin" mereka menjabat tangan dan Alan mulai curiga


"apa? jangan jangan wanita ini lupa terhadapku?" ucapnya di dalam hati


"apakah kita pernah bertemu?" tanya Alan pada Alin untuk mengetes apa yang dipikirkannya


"kurasa tidak" jawab Alin dengan sangat hati hati


"kupikir salah orang" lanjut Alan


"wanita ini ternyata benar benar lupa terhadapku, lihat saja bagaimana aku membuatmu ingat terhadap ku" ucapnya yang memandang sinis ke arah Alin


tingkah Alan saat itu sangat membuat Alin tidak nyaman sehingga dia tidak berani memandangnya


"kamu cari tempat duduk dulu ya, aku masih ada beberapa hal dengan mereka" ucap Jordan pada Alin , yang kemudian Alin melangkah ke tempat duduk yang tak jauh dari tempat Jordan