Last Night With You

Last Night With You
Bab 14



setelah beberapa lama mereka jalan kaki, Natalia dan Jimmy sampai di taman kota yang memang tidak jauh dari universitas


"kamu mau ngomong apa ke aku?" tanya Jimmy yang akhirnya mengajak Natalia duduk


"eemm sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka berdua? kenapa Alin pernah tidur dengannya?" tanya Natalia to the point


"itu sebenarnya terjadi pada malam waktu itu....." Jimmy menceritakan kejadian dimana malam itu terjadi, malam yang tiba tiba ada seorang wanita berbaring di ranjang Alan, yang dipikirkannya dia adalah salah satu wanita yang rela melakukan apa saja demi tidur dengannya.


dia juga menceritakan bahwa biasanya sangat tidak peduli tentang wanita, dimatanya wanita wanita yang mendekatinya suka padanya hanya karena kekuasaannya, jadi dia pikir Alin juga sama dengan yang lainnya


Alan yang biasanya hanya untuk mengambil kesempatan dari wanita wanita yang mendekatinya tapi saat ini saat malam itu sejak bertemu dengan Alin, dia lebih sedikit menghargai dan memperhatikannya meskipun caranya sedikit salah di mata Alin


yang pada akhirnya Alan menyuruh Jimmy untuk menemukan keberadaan Alin dan Jimmy merasa.. Alan benar benar peduli padanya


"jadi begitu" ucap Natalia dan mengangguk kan kepalanya


"asal kamu tau, meskipun Alan orang yang sangat berkuasa... tapi Alin bukanlah orang yang seperti itu, Alin lebih menyukai seseorang yang bisa menghargainya sebagai seorang wanita, seseorang yang tak akan pernah menyakiti hatinya dan mampu membahagiakan dirinya meskipun itu hanya dalam hal yang sederhana" ucap Natalia menjelaskan


"dia bukan seseorang yang gila akan harta dan kekuasaan, baginya itu tidak cukup untuk tetap bahagia di dunia ini. biar bagaimanapun dia lebih membutuhkan orang orang yang benar benar menyayanginya" lanjut Natalia


Jimmy mencoba memahami semua yang dikatakan olehnya


"oiya untuk hari ini, kenapa tiba tiba kalian ada di universitas?" tanya Natalia


"kalau ini.... tadi di perusahaan, Alan mendapat kabar dari Jordan yang sedang pergi keluar kota, bahwa hari ini waktunya untuk memberikan donasi pada universitas ini.. awalnya Alan tidak mau datang sendiri, tapi ketika ingat kalau Alin juga kuliah disini. dia langsung bergegas mengajak ku pergi" jawab Jimmy


"kelihatannya dia sangat tertarik pada Alin"


"yaaa begitulah... tapi dia tidak tau cara mendekati wanita... tidak seperti aku kan Natalia" tanya Jimmy yang sangat menggoda


"eeeh kenapa panggilannya sangat mesra" ucap Natalia di dalam hatinya tanpa dia sadari pipinya memerah, Natalia bengong melihat Jimmy yang begitu mempesona


"di lihat baik baik... sangat jelas di begitu tampan" bisiknya didalam hatinya


"belum puas terpesona padaku?" tanya Jimmy dengan wajahnya yang sudah sangat dekat dengan Natalia. ketika dia sadar betapa dekatnya wajah dia dan Jimmy Natalia langsung memalingkan wajahnya


"si.. si siapa yang terpesona padamu" ucapnya terbata bata. saat melihat ekspresi Natalia yang sangat gugup membuat Jimmy cekikikan


*didalam mobil*


diperjalanan Alin mencoba untuk tenang dan tidak memberontak agar dia di lepaskan, mungkin Alan tidak akan terus menyakitinya jika dia menurut pikirnya


"kamu mau membawaku kemana?" tanya Alin dengan nada yang sangat cuek


"tempat yang sama dengan kemarin" jawab Alan yang masih fokus pada jalan


"kenapa setiap hari harus bertemu denganmu?" ucapnya dengan nada yang sangat tidak nyaman


" mungkin kamu memang di takdirkan dengan ku" jawabnya singkat


Alin mengabaikan jawaban Alan, dia sudah tidak tau mau bagaimana menghadapi manusia sialan ini baginya, Alin masih tetap saja curiga pada Alan bahwa dia yang bersekongkol dengan kakak tirinya untuk menjebak dia, hingga sampai saat ini dia masih sangat membencinya


setelah beberapa lama di perjalanan Alin kembali lagi di villa yang sangat megah itu


"tempat ini lagi" gumamnya ketika mobil berhenti


"mau ngapain kamu membawa aku kesini lagi? aku mau pulang jadi tolong ijinkan aku pergi"


"nanti setelah selesai kamu boleh pergi, jadi sekarang menurut lah atau kamu tidak akan bisa bayangin apa yang akan aku lakukan padamu" ucap Alan


seperti biasa Alan membukakan pintu mobilnya untuk Alin tapi dia masih saja tidak peduli dengan apapun yang di lakukan olehnya


"ayo masuk" ajaknya dengan sangat lembut


Alin mengikutinya dari belakang


"ada apa dengan orang ini, kenapa beda dari sebelumnya" pikir Alin


"tidak tau apa yang akan di lakukan orang ini lagi" lanjutnya hingga akhirnya sampai di kamar yang sama dengan kemarin


Alan menutup pintunya dan tanpa Alin sadari dia sudah mengunci pintu tersebut. melihat Alin yang berdiri bingung tidak tau harus ngapain Alan langsung mengatakan maksudnya membawa dia kemari


"ada yang ingin aku sampaikan sama kamu" ucapnya agak ragu


"mau menyampaikan apa, cepat katakan aku tidak banyak waktu hanya untuk bicara sama kamu" ucap Alin lagi lagi ketus padanya


"dan jawabanku tetap sama dengan kemarin aku tidak mau menjadi wanita mu, dan juga aku tidak butuh pertanggung jawaban mu" jawab Alin


"kamu akan segera bersedia menjadi milikku" ucapan Alan mengandung bahwa dia sudah melakukan sesuatu untuk mendapatkan wanita di depannya


"apa yang akan kamu lakukan?" tanya Alin khawatir


"ku dengar ayah kamu seorang pengusaha di negara S" mendengar nya mengungkit ayahnya Alin langsung tercengang


"lelaki ini sangat berkuasa di perekonomian internasional, dan aku rasa dia mampu untuk menjatuhkan usaha ayah yang tidak terlalu besar itu" pikirnya mulai panik


"apa yang akan kamu lakukan?" tanya Alin


"kamu pasti tau apa yang akan aku lakukan jika kamu tidak menurut padaku" jawab Alan dengan sangat santai


"kamu jangan menakutiku dengan membawa ayahku" semakin lama Alin semakin merasa tidak tenang, dia khawatir usaha yang dilakukan oleh ayahnya dengan keras selama ini, harus jatuh begitu saja hanya dengan satu masalah dalam dirinya


"aku tidak menakutiku, kamu bisa menghubungi ayahmu saat ini" ucap Alan


"iya... aku sudah lama tidak mengabarinya" ucapnya di dalam hati


Alin langsung meraih ponselnya untuk menelfon telepon rumahnya, panggilannya tersambung tapi cukup lama tidak ada juga yang mengangkat panggilannya


Tut Tut....


"halo" suara perempuan yang sangat di kenal oleh Alin


"kakak ini aku Alin, ayah dimana.. aku ingin bicara padanya" tanya Alin to the point


"heeeh kamu masih ingat juga ternyata sama ayah" ucap suara dari kejauhan


"aku tidak ada waktu untuk bicara dengan mu, cepat berikan telepon nya pada ayah" perintah Alin


"ayah sakit.. ini semua gara gara kamu, perusahaan sekarang hampir bangkrut karena saham tiba tiba menurun, dan ayah masih tidak mengijinkan kami untuk menghubungi mu, jadinya dia sekarang terjatuh sakit" ucap kakaknya yang terdengar tidak seperti berbohong padanya


"apa?" air matanya mengalir dia mematikan ponselnya. hanya di tinggal beberapa hari saja, keluarga satu satunya yang dia miliki sudah terjatuh sakit, Alin merasa bersalah. dia merasa semua masalah kantor dan ayahnya disebabkan olehnya.


Alin memandang Alan dengan pandangan yang menunjukkan dia sangat membenci lelaki uang hanya bisa mengandalkan kekuasaan nya untuk mengendalikan seseorang


"aku sangat benci sama kamu Alan" ucapnya dengan tubuhnya yang bergetar menahan emosinya pada Alan


melihat keadaannya Alan merasa tergugah, tapi dia tidak memiliki pilihan lain, hanya dengan cara itu dia bisa mendapatkan Alin, dia tidak ingin menyianyiakan usaha Jimmy yang sudah begadang selama beberapa hari ini hanya untuk saat ini


"bagaimana? kamu sudah memutuskan?" tanyanya dengan membalikan tubuhnya menghadap kearah lain, sebenarnya dia tidak tega dengan keadaan Alin, tapi karena gengsinya yang terlalu tinggi membuat dirinya tak bisa memikirkan cara lain


"kenapa harus aku?" ucapnya


"karena aku hanya mau kamu menjadi milikku" dengan jawaban yang sama


" malam itu jika kamu tidak bersekongkol dengan kakak ku dan menjebak ku, bahkan sampai saat ini kamu masih menyiksa ku. sebenarnya apa yang kamu mau? kakak ku tidak membayar mu lebih? maka aku akan membayar berapapun yang kamu mau asalkan kamu melepaskan ku dan keluarga ku " teriak Alin yang sudah tak bisa mengontrol emosinya dan melontarkan semua yang menganggu pikirannya selama beberapa hari ini. ternyata Alin berpikir bahwa Alan lah pria yang sudah bersekongkol dengan kakaknya malam itu


"apa?" jawab Alan dan langsung membalikkan badannya menghadap Alin, dia merasa bingung dengan semua perkataannya


"maksud kamu ... aku bersekongkol dengan kakakmu dan menjebak mu?" tanya Alan bingung dengan situasi saat itu


"kenapa? kamu sekarang tidak mau mengakui nya? dengan apa yang telah kamu perbuat selama ini bukankah sangat jelas, kamu yang telah bersekongkol dengan kakakku" ucap Alin


"apa sebenarnya yang terjadi, apa sebenarnya malam itu wanita ini di jebak oleh kakaknya dan malah salah memasuki kamar?" tanya Alan pada dirinya sendiri


"kamu boleh berpikir seperti itu, aku bisa menyelamatkan perusahaan ayahmu asalkan kamu (berjalan mendekat kearah Alin) bersedia menjadi milikku" ucap Alan yang sudah sangat dekat dengan Alin


"aku benci kamu" ucap Alin yang sudah tidak berbicara dengan benar, air matanya terus saja membasahi pipinya, dia khawatir dengan keadaan ayahnya


"aku tidak butuh jawaban itu... aku tau kamu khawatir dengan keadaan ayahmu, aku bisa membantu mu untuk pergi menemuinya"


Alin terdiam mendengar perkataan Alan


"dan aku tau kamu tidak bisa pergi dari negara ini, karna kamu baru pindah sekolah disini, tidak mungkin kan kamu tiba tiba pergi untuk menemui ayahmu dalam masa masa pertama sekolahmu disini" tanya Alan semakin memojokkan Alin, dia masih tetap saja mendengarkan perkataan Alan


"aku bisa membantu mu, menyelamatkan perusahaan ayahmu dan menemuinya tanpa khawatir menganggu sekolah mu"


tawaran yang menggiurkan, tapi apakah harus Alin menurut dan menjadi wanita miliknya?