
di pusat kota yang penuh dengan suasana damai yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Alin dan Natalia terus menyusuri kota, mereka berdua bersenang senang, bermain di pasar malam, menikmati jajanan pinggir jalan dan berbelanja di pusat kota
"seru banget kota ini, tetap ramai walaupun sudah malam" ucap Natalia yang sedang duduk di kursi taman dengan menikmati permen kapas di tangannya
"eeemm iya" Alin juga memakan permen kapas, menurutnya permen itu mengingat kannya pada masa kecilnya, dimana masa masa itu masih ditemani oleh ibu kandungnya, masa dimana keluarga nya sangat harmonis dan bahagia sampai akhirnya kecelakaan itu datang ibunya meninggal dan dia hanya hidup dengan ayahnya yang kemudian ayahnya menikah lagi dengan seseorang yang sudah ber anak satu, yaitu ibu tirinya saat ini dan anak itu adalah Kakak tiri yang sudah menjebaknya
"aaaah sudah lah, aku tidak mau mengingat ingat lagi tentang masa lalu" pikirannya didalam hati kemudian melanjutkan menikmati permen kapas miliknya
Malam semakin larut, Alin dan Natalia sudah keliling kota semalaman, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, pusat kota tidak terlalu jauh dari rumahnya, mereka berdua pulang hanya jalan kaki karna tidak memakan banyak waktu perjalanan. Saat tiba di sebuah gang mereka baru merasa jalanan itu sudah sangat sepi, Alin melihat jam tangannya ternyata sudah jam 12 malam, jalanan yang tadinya masih ramai sekarang sudah tak ada satupun yang lewat. seketika Alin melihat ada segerombolan orang di depan, dan dia merasa perasaanya tidak enak, mereka terlihat bukan seperti orang baik, malah Alin merasa
"itu preman" bisiknya pada Natalia
"gimana lin, apa kita mau balik lagi?"
"ini sudah malam, kita harus pulang"
"kalau mereka gangguin kita gimana?"
"yasudah kita balik lagi saja"
Natalia mengangguk kemudian mereka berdua berbalik badan berharap mereka tak melihatnya
"hei gadis cantik"
tiba tiba ada seseorang yang menghalangi jalan mereka, sepertinya yang menghadang mereka adalah salah satu gerombolan preman tadi pikir Alin
"permisi kami mau pulang"
"jangan buru buru, sini temani abang main dulu"
muncul lagi dari belakang salah satu segerombolan preman itu. mereka memaksa Alin dan Natalia untuk ikut bersama dengan mereka
"lepaskan kami" mereka berdua terus memberontak
"aku sangat suka wanita yang memberontak, terlihat lebih manis" ucap salah satu dari mereka sambil memainkan rambut Alin
"Lepaskan mereka" tidak tau penyelamat dari mana yang datang, Alin dan Natalia merasa lega,cowok tampan diseberang sana berjalan menuju arah mereka.
"hei bocah dari mana yang berani menentang kami"
"kamu tidak perlu tau siapa aku, cepat lepaskan mereka, atau kalian akan menyesal"
"mau sok jadi pahlawan 2 gadis cantik ini rupanya, hajar dia" akhirnya mereka melepaskan Alin dan Natalia, mereka segera lari bersembunyi di tempat yang aman dengan melihat pria tampan penyelamat mereka melawan beberapa gerombolan preman itu, gerakan yang sangat cepat dalam sesaat dia yang sendiri bisa menjatuhkan mereka semua
"kepa*at" salah satu dari mereka berdiri dengan memegang pisau, Alin dan Natalia sangat khawatir, pisau sangat berbahaya
pria itu mencoba menghindar sampai akhirnya lengan pria itu tergores cukup dalam dengan pisau itu, tetapi pria itu terus melawan dengan keadaannya yang sudah penuh dengan darah, sampai akhirnya dia berhasil merebut pisau dari tangan preman tadi dan mencoba mengancam mereka semua, kemudian para preman itu lari ketakutan
"kamu tidak apa apa?" Alin dan Natalia lari menuju pria itu, mereka merasa khawatir karena mereka pria itu jadi terluka
"aku tidak apa-apa"jawabnya dengan lembut
Alin merobek lengan bajunya dan melilitkan pada luka pria itu
"lukamu cukup dalam, mari ikut kami kerumah, aku akan obati lukamu, sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan kami"
"baiklah"
pria itu mengikuti langkah mereka menuju rumah sederhana di pinggiran kota tersebut
"ayo masuk" Alin mempersilahkan pria itu masuk setelah membuka pintunya
pria itu duduk di ruang tamu
"Nat kamu tolong masakin buat dia dulu ya"
"Iya Lin"
Alin kembali keruang tamu membawa kotak P3K, mulai mengobati luka yang disebabkan olehnya, perlahan Alin membuka kain yang tadinya iya lilitkan, lukanya cukup dalam dan lebar. Alin mengolesi lukanya dengan obat merah dengan hati hati
"aau"
"sakit?" tanya Alin
"sedikit"
Alin mencoba lebih hati hati lagi, pria itu terus menatap Alin, menatap wajah yang sedang serius mengobati dirinya dengan penuh perasaan,
"wanita yang sangat cantik" ucapnya dalam hati
Alin kemudian melihat pria itu, dan saat itu pandangan mereka bertemu, saling menatap satu sama lain dengan cukup lama.
segera setelah memberi obat merah Alin mengoleskan salep agar cepat kering kemudian membalutkan pereban pada lukanya
"sudah selesai" ucapnya kemudian membereskan kotak P3K dan menaruh di tempat dimana dia mengambilnya tadi
Alin merasa salah tingkah dengan pandangan yang sesaat itu
"Nat sudah selesai?" tanya Alin
"sudah tuh"
"Aku panggil pria itu dulu ya"
"kamu makan dulu ya" ucap Alin padanya saat sudah sampai di ruang tamu
"tidak perlu repot-repot"
"tidak repot kok, Ayuk udah selesai dibuatin sama temenku"
"baiklah"
mereka berdua bangkit dari tempat duduknya, saat menuju ruang makan pria itu bertanya pada Alin
"oiya namamu siapa?"
"Namaku Alin, kamu?"
"Namaku Jordan"
"oiya ini Natalia temanku" ucap Alin ketika sampai di ruang makan,
"Nat dia namanya Jordan" Natalia membalasnya dengan senyuman
"ayo kamu makan dulu" ucap Alin dan mempersilahkan nya duduk
dia mulai makan masakan Natalia, dia sedikit malu malu karena tepat didepannya Alin dan Natalia duduk dengan melihat ke arah Jordan, suasana menjadi hening. akhirnya Alan memcah keheningan itu
"eemm kalian cuma tinggal berdua?" mereka tak ada yang menjawab mereka terus memandangi jordan, tingkah mereka membuat diri Jordan salah tingkah
"eeehem kalian cuma tinggal berdua?" tanyanya sekali lagi
"ee a anu, ee iya kita cuma tinggal berdua" mereka segera sadar dari lamunannya, dan merasa malu pada tingkahnya sendiri
"kami baru pindah ke sini tadi siang" lanjut Natalia
"kalian dari kota mana?"
"kami dari kota S, kami pindah untuk melanjutkan studi kami disini"
"ooo rencananya mau kuliah dimana?"
"di universitas dekat sini"
Jordan mengangguk menunjukkan bahwa dia mengerti, segera mungkin dia menghabiskan makanannya dan segera pamit untuk pulang
"sudah jam 1 pagi, aku harus pulang, terimakasih atas semuanya"
"iya sama-sama, terimakasih juga sudah menolong kami"
"iya, ini kartu namaku, kalau kalian butuh bantuan bisa hubungin aku" sambil menyodorkan kartu namanya pada Alin. Alin mengambilnya dan tersenyum padanya
diluar rumah Alin sudah ada mobil yang menunggu Jordan, entah kapan mobil itu ada disana tidak ada yang tau
"aku pamit" Jordan melambaikan tangannya saat dia sudah berada dalam mobil, Alin membalasnya dengan tersenyum
"ciieee kayaknya ada yang lagi kasmaran nih, hihihi"
"apaan sih kamu, udah ah Ayuk masuk"
Alin menuju kamarnya, membaringkan tubuhnya yang sudah lelah, perlahan mengingat kejadian malam ini, dimana dia bertemu seorang pria pahlawan tampan yang menyelamatkan sang putri.
pria tampan yang sempurna, tinggi dan tubuh yang ideal dengan sepasang mata biru di tambah rambut yang terlihat seperti berantakan tapi sangat cukup menarik perhatian yang memandangnya.
dia teringat pada pandangan saat dia mengobatinya diruang tamu, pandangan mata yang sangat tajam mampu menembus kelubuk hatinya, Alin tersenyum sendiri, hingga akhirnya dia mengingat kembali kejadian malam itu, kejadian sebelum dia pindah ke kota C, kejadian yang merebut segalanya dari dirinya
masa depannya, kebahagiaannya bahkan malam pertamanya yang dia jaga untuk hari dimana yang paling dinanti nantikan oleh semua wanita yaitu malam pertama sebuah pernikahan dengan orang yang disiapkannya untuk orang yang dicintainya hancur dalam sekejap. dia merasa tak pantas untuk mengagumi Jordan. "Jordan yang begitu sempurna" pikirannya
"aku sudah tidak sempurna lagi" ucapnya tidak terasa air mata itu mengalir di pipinya
cukup lama Alin menangis sampai akhirnya dia merasa sangat lelah, matanya pun sudah tidak kuat terbuka lagi, Alin terlelap, lagi dan lagi dia hanyut dalam mimpi yang tak sesuai dengan kehidupannya yang nyata