
Apa yang di maksud Alan? Menginginkan tubuhku?. Wajahnya merona karena menahan malu. Alan dapat menangkap pertanyaan pertanyaan pada raut wajah Alin.
"Aku menginginkan mu" ucapnya lirih di telinga Alin. sekali lagi yang masih membuat Alin semakin tersipu.
Alan masih menunggu jawaban dari Alin. Tapi tidak menghentikan bibirnya yang terus menghujani Alin dengan ciuman di lehernya
"Alan.." Alin menggeliat geli karena alan tak menghentikan aktifitasnya.
"Sudah cukup! Dengarkan aku" Akhirnya berhasil menjauhkan kepala Alan dengan tangannya
"Dengarkan aku" sudah bangkit dan duduk di tengah tengah kasur menghadap pada alan. Dengan antusias Alan menghadap hendak mendengarkan apa yang akan Alin Ucapkan
"Aku akan menyerahkan tubuhku" sudah terlihat jelas betapa bahagianya Alan saat itu. Namun kembali cemberut setelah Alin melanjutkan ucapannya. " Tapi setelah ikrar janji pernikahan kita ucapkan" ucap alin penuh arti.
Meskipun terbesit rasa kecewa pada dirinya namun berubah dengan rasa gembira.
"Maaf kan Aku Alan. Kamu taukan seberapa penting arti pernikahan untuk ku" berhambur memeluk tubuh Alan.
"Aku tak akan memberikannya sekarang. Tapi percayalah. Akan aku berikan lebih setelah pernikahan" ucapnya dengan tegas.
Alan tersenyum dan menahan hasratnya yang sudah lama dia pendam. Semenjak kejadian malam itu. Alan ingin sekali memulainya kembali dengan gadis yang mendekapnya saat ini.
"Ku harapan kau akan mengingat kata kata mu setelah kita menikah nanti" bisiknya pada telinga Alin.
Alan menjatuhkan tubuhnya yang masih mendekap Alin pada tempat tidurnya. Membuat alin mau tidak mau juga ikut terbaring di sana. Alan masih memeluk alin dengan erat.
"Diam lah. Sebelum aku berubah pikiran" ucapnya karena Alin terus menggeliat karena ingin bangun untuk duduk.
Untuk beberapa saat mereka terdiam menikmati malam yang indah. Alin hampir terlelap karena terlalu lama tidak ada yang membuka suara. Berada di dalam pelukan alan sangat nyaman baginya.
"Oiya Alin..." akhirnya setelah sekian lama Alan lah yang membuka suara
"Hemmm" yang masih setengah sadar
"Kakak ku akan pulang ke ibu kota. Dia memintaku dan kamu pergi menjemputnya" ucap alan menunggu respon dari Alin
Alin yang masih mengantuk akhirnya sepenuhnya sadar.
"Apa! Dimana?"
"Di bandara jam 8 pagi" mencium bahu Alin yang memunggunginya. "Kamu mau kan?"
"Iya aku mau"
hening kembali tercipta. Dua pasang manusia itu sudah sama sama terlelap. Tidak ada yang terjadi malam itu. Hanya mimpi mimpi yang berkeliaran dalam tidur mereka.
****
Pagi selanjutnya. disambut cerah oleh satu keluarga Wijaya. Setelah sarapan pagi Alan dan Alin berpamitan pada orang tua Alin. kembali bekerja seperti biasanya. mengikuti meeting sesuai yang di jadwalkan. menemui klien, dan melihat lihat kontruksi dari perusahaan.
tidak ada santai hari itu. semuanya sibuk seperti hari hari sebelumnya. berbeda dengan presedirnya. Setelah selesai semua urusan kantor. Alan mengajak Alin ke sebuah villa megah yang khusus untuk kawasan pervillaan. Berada jauh dari jalan kota.
"kita mau ngapain?" Tanya alin yang sudah berdiri di luar mobil.
"Tidak ada. Hanya mau melihat sejauh mana Villa ini di bersihkan untuk kedatangan kakak ku" ucap Alan
"ini.. villa keluarga mu" terkagum melihat villa semegah di hadapannya.
"Ayo masuk" meraih tangan alin dan menggenggamnya.
"ah iya" mengikuti langkah Alan yang menuntun tangannya.
Pintu sudah terbuka dan seperti biasa ada beberapa pelayan uang menyambut. Alan terus menuntunnya masuk ke dalam villa. terlihat di dalamnya banyak pelayan yang sedang lalu lalang membersihkan dan membereskan villa yang akan di tinggali.
Alin takjub dengan yang di lihat nya.
Bahkan villa ini lebih besar dari rumahku. Batin Alin yang matanya terlihat bersinar melihat kerlap kerlip barang barang mahal memenuhi ruangan tersebut
"Kamu suka?" Tanya Alan tiba tiba
"Villanya bagus" hanya itu yang di jawabnya ketika Alan menghentikan langkahnya dan memandang lekat wajahnya
"kalau kamu suka. aku akan memberikan Villa yang jauh lebih bagus sebagai hadiah pernikahan kita nanti" menyentuh lembut pipi Alin. ya seperti biasa Alin terlihat berbinar kembali setelah Alan mengatakannya
"Benarkah?" jawab Alin
Pasti seru. bisa hidup berdua dengan orang kita cintai. dirumah yang cukup besar dan ekonomi sudah sangat cukup. adalah hal yang di ingin ingin kan oleh wanita. bisik Alin di hatinya. Alan hanya mengangguk kan kepalanya.
"tidak usah Alan. serumah sama kamu dengan berstatus istri sudah jauh lebih cukup buatku" Alin meraih tangan yang masih menempel di pipinya mencium telapak tangan Alan dengan lembut
"Baik lah.. secepatnya akan aku kabulkan" kata kata sederhana namun begitu meyakinkan.
"Aku tunggu" ucap Alin lirih. Mereka kembali menyusuri setiap sudut villa. dan ternyata tidak hanya di ruang utama saja yang begitu menakjubkan tapi di ruangan lain tidak jauh beda dengan yang di depan.
"selama kakak tinggal disini. kita akan ikut tinggal disini" ucap Alan ketika mereka berada di tempat kolam renang di bagian tengah dari villa. "kamu mau?" entah sejak kapan Alan sudah tidak mengambil keputusan sepihak. pasti meminta persetujuan dari Alin. kata lainnya tidak lagi seenaknya.
Apa! jadi aku akan ada tinggal di antara dua pria di villa besar ini. meskipun banyak pelayan kan beda lagi ceritanya. berpikir keras
ah bodo! yang penting ada alan. mulai mengukir senyumnya. Alin tidak tau bahwa kakak dari Alan adakah perempuan. Alin tidak bertanya malah membenarkan pikirannya sendiri.
"yaaa... asalkan ada kamu. mau dimanapun aku mau" senyum menggoda tercipta di bibir merah delima milik Alin
"waaah sudah pandai ngegombal ternyata" mencubit pipi Alin.
"kan kamu yang ngajarin" mengedipkan sebelah matanya. Alan masih unyel unyel pipi putih halus milik Alin. seru juga ternyata. gumam alan. sepertinya sekarang di menemukan permainan baru. cukup lama Alan bermain main dengan pipi Alin. sampai yang di permainkan merasa lelah di pipinya.
"Alan sudah ih" menjauhkan tangan bandel alan dari pipinya.
"Alan.." tangan alan beralih melingkarkannya di pinggang Alin
"Hemmm" pria itu sudah membenamkan wajahnya di bahu Alin.
"ga ada"
"Auuuu sakit" Alan mencubit keras lengan wanita yang di peluknya. "kenapa mencubit ku?" masih mengusap usap lengan bekas cubitannya
"itu hukuman buat kamu karena telah mempermainkan ku" gumam gumam Alan tapi terdengar jelas di telinga Alin.
Tawa Alin terlepas di udara. terbahak bahak mendengar ucapan Alan. dan Alan kembali mencubitnya dengan lebih keras.
"ok ok tuan alan. sudah sudah" menyentuh perutnya yang sakit dan nafasnya terengah.
mereka tenang untuk sesaat. memandang air jernih yang berada dalam kolam di hadapannya yang juga tenang seperti mereka. Alan masih memeluk tubuh Alin dari belakang. dan Alin mengusap lembut punggung tangan yang sedang memeluknya