Last Night With You

Last Night With You
Bab 35



"sial... dia bahkan tidak mengejar ku.. tidak mencoba menanyakan aku kenapa... dasar wanita yang tidak peka" ucap alan dan berbaring di tempat tidurnya dia tetap saja merasa sangat kesal


semalaman alan menunggu kedatangan alin sampai sangat larut. Alan mengira, Alin sedang menikmati makan malamnya dengan kekasih masa kecilnya itu. Alan yang saat itu sudah sangat lembut padanya bahkan alan sudah hampir melupakan masalah alin dengan jordan, belum sempat semua kenangan itu terhapus dalam benaknya.. sekarang muncul saingannya yang lebih berat. teman masa kecil bahkan sudah sangat dekat dengan keluarganya tidak hanya itu.. meskipun di dalam negeri perusahaannya sudah hampir setara dengan perusahaan entertainment grup .. alan khawatir, Alin akan lebih memilih meminta bantuan reno dari pada menetap bersamanya.


"aaaaghh"


di balik rasa campur aduknya di dalam hatinya alan terus memandangi jam dinding. waktu terus berputar tapi tak sedetik pun alin menghubunginya bahkan sampai sangat larut alin masih tak kunjung pulang.


disisi lain natalia tak membiarkan alin pergi. Alin hanya terus menemani natalia yang sedari tadi terus meminum alkohol. sampai natalia mabuk akhirnya alin menghubungi jimmy untuk mengantarnya pulang. sedangkan alin bergegas pulang ke apartemen setelah jimmy datang menjemput natalia


"sudah sangat malam .. apa dia sudah tidur sekarang" gumam alin ketika sudah mendapatkan taxi yang sudah mulai melaju mengantarkannya.


mobil terus melaju menyusuri jalanan kota yang sudah hampir sepi. malam yang begitu dingin. Alin merasa resah, alan bahkan tak meneleponnya sekalipun dia tidak pulang sampai sangat larut.


Alin melangkah masuk ke dalam apartemennya yang gelap. saat itu semua lampunya mati


"apa alan sudah tidur" gumam alin dan melangkah memuju sofa untuk merebahkan dirinya yang penat... belum sempat dia duduk lampu sudah kembali menyala.. yang hampir mengagetkan dirinya, Alan duduk di atas sofa yang hendak ia duduki


"kamu belum tidur?" tanya alin ketika melihat alan. Alan terus menatapnya, tatapannya masih tetap sama. dingin tak berekspresi


Alan terus memandang dan tak menjawab pertanyaan alin


"Alan... kamu kenapa?" tanya alin sekali lagi... tapi tetap saja tak ada jawaban darinya


"ya udah kita bicarakan nanti saja.. aku mau pergi mandi terlebih dahulu" ucap Alin berniat untuk pergi membersihkan dirinya


"datang dari mana kamu?" tanya alan dengan nada yang membuat alin merasa alan sedang marah


"habis ke luar" ucap alin berhati hati


"keluar makan malam?" tanya alan sangat singkat


"bagaimana dia tau aku pergi makan malam dengan natalia?" batin alin


"sudah lah yang penting menjawabnya saja dulu " lanjut alin


"i.. iya" jawab alin


"dia bahkan tidak mencoba menyangkal bahwa dirinya benar benar pergi makan malam dengan si Reno itu" batin alan yang membuat alan memandang rendah kembali diri alin


"hebat sekali kamu" ucap alan dan berdiri mendekat pada alin.


Alin terbelalak mendengar perkataan alan. seperti ada sesuatu yang mencekik tenggorokannya. matanya sudah mulai perih seperti ada debu masuk ke dalamnya


"a... apa maksud kamu?" ucap alin bahkan sudah hampir tak terdengar


"masih mau mengelak.. aku tidak tau seperti apa kamu sebenarnya selama ini.. aku kira kamu sangat polos dan suci.. ternyata aku salah.. wanita yang begitu mudah di goda hanya dengan ajakan makan malam biasa... bahkan sampai berani pulang sampai larut seperti ini.. ternyata benar, tidak bisa melihat buku hanya dari sampulnya saja.. sekarang aku bisa membenarkan peribahasa itu


seharusnya kamu tau posisimu sekarang.. bukan malah pergi menggoda sahabat kecil mu itu " lanjut alan


"ternyata... didalam hati mu, aku adalah wanita yang seperti itu.. wanita penggoda?" batin alin semakin tidak percaya dengan semua yang di dengarnya barusan


perasaan mencekik itu memuncak bahkan air matanya tak terasa sudah mengalir. Alin tidak tau di bagian mana dirinya melukai alan sampai membuatnya terus menghina dirinya


"mau menggoda siapa lagi air mata palsumu itu... wajah polosmu tidak lagi bisa menipu ku... kamu begitu suka menggoda seorang laki laki bukan? kenapa tidak menggoda ku saja (membelai wajah alin yang terus mengalir air mata di pipinya) dari pada membuang buang waktu mencari target mu diluar... aku lebih bisa melayani mu..


PLAK.....


"cukup" ucap alin dengan tamparan yang sangat keras di wajah alan.. tubuhnya yang bergetar karena emosinya yang meledak. dia tidak menyangka lagi lagi lelaki di hadapannya ini dengan begitu mudahnya menghina alin berulang kali


"ternyata aku salah menilai mu... semua yang di katakan jimmy ternyata bohong.. perubahan pandangan ku ternyata benar benar salah.. sudah cukup.. aku memang wanita simpanan mu.. tapi aku tidak begitu rendahan seperti yang kamu pikirkan.." teriak alin yang terus meneteskan air matanya yang tidak ada hentinya.


Alan mencoba mendekat. dia merasa iba pada alin


"ada apa sebenarnya? apa terjadi kesalah pahaman disini" batin alan ketika melihat alin yang terus menangis... dia mencoba melangkah untuk menenangkan dirinya tangannya hendak meraih tubùh alin yang bergetar


"jangan sentuh aku.." teriak alin


"Aku yang hanya wanita murahan ini tidak pantas di sentuh oleh mu yang begitu mulia..."lanjut alin penuh dengan kebencian


setelah semuanya yang alan ucapkan karena emosinya, dia mulai menyesal.. dia tidak berniat untuk menghina wanita di hadapannya. Alan hanya merasa marah saat mengingat wanitanya berani keluar makan malam bahkan dengan kekasih masa kecilnya.. dia berniat untuk melampiaskan kemarahannya tapi bukan berarti dia berniat untuk menyakitinya.. tapi apa yang telah dia perbuat bahkan wanita di hadapannya sudah tidak mau lagi di sentuh olehnya.. setiap kali alan mendekat hendak menenangkan dirinya. Alin menghindari uluran tangannya. seakan akan dirinya seorang menjijikan yang tak pantas di sentuh oleh alan


"Alin..."


"cukup.. aku juga punya harga diri.. aku memang wanita simpanan mu yang rendah.. kamu boleh melakukan apapun padaku.. tapi kamu tidak pantas menghina kehormatan ku" ucap alin yang masih tersedu dalam tangisnya


"Alin.. aku.."


"tidak tuan.. ini memang salah saya.. saya hampir berpikir mendapat perlakuan khusus dari mu.. sampai saya lupa dengan status saya (menyeka air matanya) kalau begitu saya tidak akan menganggu anda lagi" ucap alin dan melangkah pergi meninggalkan alan yang masih terus memandangi Alin keluar dari apartemennya


"tuan?" gumam alin.. dirinya sendiri lah yang membuat jarak di antaranya. wanita manapun pasti akan melakukan hal yang sama ketika lelakinya bahkan tak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi.. kesalah pahaman lebih menyakitkan dari pada hanya putus cinta.. karena kesalah pahaman mampu membuat seseorang berubah yang akan lebih menyakitkan lagi