Last Night With You

Last Night With You
Bab 39



"Tunangan?" Batin ketiga wanita yang sedang berdiri saat itu. Rasa penasaran bermunculan di wajah mereka. Terlihat Miya dan ibu saat itu saling memandang tak percaya kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Alin. Melihat lekat wajah yang sedang berdiri di sisi tuan Alan. Dan yang di lihat tersenyum dengan tenang .


Rasa was was di hati mereka hilang setelah melihat bahkan jari di tangan gadis tersebut tak melingkar satu pun cincin lambang pertunangan


Sepertinya masih ada kesempatan. Begitu lah pikir kedua wanita tersebut


Melihat arah pandangan mereka. Alan tersadar apa yang sedang mereka pikirkan. Begitupun dengan alin. Berganti alin yang terlihat was was. Menangkap raut wajah Alin yang Berubah. Alan angkat bicara


"Boleh kah kita masuk?" tanya Alan yang mulai mencairkan suasana canggung di sana. Ibu tiri Alin yang masih diam membeku terperanjat ketika Alan membuka suara.


"Oh e silahkan" ucap ibu tiri Alin mempersilahkan. Alin menggandeng tangan alan dengan erat ketika masuk ke dalam rumah. Alin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan mendapati ayahnya yang baru saja turun dari tangga


"Ayah" panggil Alin. Tuan wijaya yang baru menyadari kedatangan putrinya segera menghampirinya.


"Kenapa tidak bilang dulu ke ayah?" Tanya tuan wijaya


"Tidak apa apa. Alin hanya ingin bertemu ayah." Manja dan terus memeluk erat Ayahnya.


Ayah melirik orang di balik tubuh putrinya.


"Tuan alan" ucap ayah dan melepaskan pelukan alin.


Menghampiri alan yang sedang berdiri menebar senyum tulus pada ayah.


"Apa tuan datang bersama putri saya?" Tanya Ayah ketika sudah berada di depan alan


"Ya tuan wijaya. Putri anda meminta saya untuk menemaninya menemui mu" ucap saya masih dengan senyumannya


Mata dari tuan wijaya hampir tak percaya bahwa laki laki di hadapannya ini sedang tersenyum padanya. Presdir yang terkenal dengan wajah datar dinginnya kini datang kerumahnya dan yang lebih tak terduga dia menebarkan senyumannya padanya.


"Kenapa kau bisa merepotkan tuan alan?" Beralih pada putrinya


"Maaf kan putri saya. Jika merepotkan tuan" ucap ayah yang membungkuk kan tubuhnya


"Jangan sungkan tuan wijaya. Biar bagaimana pun sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga" ucapan yang membuat tuan wijaya dan yang lainnya masih terbelalak mendengarnya


"Ehem ayah. Kita akan makan malam disini. Berhubung masih siang kita akan istirahat dulu di kamar alin" mencairkan suasana yang masih canggung


"Eeh iya iya. Bawa tuan alan ke kamar mu" yang tersadar dengan lamunan nya


Seisi rumah sibuk mempersiapkan makan malam spesial untuk nona muda mereka. Di tambah lagi ada orang berpengaruh yang juga datang bertamu di rumah mereka


Alan tengah sibuk memperhatikan setiap sudut seisi ruangan kamar milik alin. Banyak sekali foto foto yang menempel di dinding dinding kamar. Alan melihat foto foto alin mulai dari dia balita sampai akhirnya beranjak dewasa. Foto foto tersebut tersusun rapi sesuai pertumbuhan alin.


Lucu sekali. Gumam alan sembari menyentuh foto alin yang masih usia anak anak.


Ada beberapa foto yang di ambil dengan ibunya. Mereka berdua terlihat mirip. Cantik persis seperti alin saat ini.


Putri mu sangat cantik ibu. Batin alan


Alan beralih pada Alin yang masih sibuk dengan tempat tidurnya. Bersih bersih siapa tau alan mau beristirahat disana.


Alan menghampiri tubuh Alin. Memeluknya dari belakang. Menyandarkan dagunya pada bahunya. Alin menghentikan kegiatan di tangannya. Alin membelai lembut tangan yang memeluknya


"Kenapa?" Tanya alin


Alan tak menjawab terus memeluk tubuh Alin yang nyaman. menciumi leher Alin. dengan Heran alin menoleh ke arah wajah yang terus menciumnya. Alan mengalihkan ciumannya di bibir merah delima milik Alin. ciumannya semakin dalam. spontan Alin membalik kan badannya. menyeimbangi tubuh Alan.


Selesai sudah urusan mereka. ketika semua sudah berbaring di tempat tidur Alin bangkit


"Mau kemana?" tangan di cegah untuk pergi


"Mau kebawah sebentat ya" ucap Alin


Alan melepaskan tangan Alin. membiarkannya pergi meninggalkan dirinya di dalam kamar sendirian .


"Bibi ngapain?"


"eeh nona sudah pulang. Kenapa tidak ngabari bibi?" Tanyanya yang langsung mendekap tubuh Alin untuk melepaskan rindunya


"Alin cuma mampir makan malam kok bi" menepuk nepuk punggung wanita dalam pelukannya


"yaudah bibi siapkan makan malam dulu kalau begitu" ucap pipi. terlihat bahagia di wajahnya. mengusap kepala Alin dengan lembut yang sudah Alin sangat rindukan


"iya bi" menjawab dan mengangguk kan kepalanya kuat.


Bibi berlalu namun ada langkah kaki yang mendekat membuat alin tak beranjak dari tempatnya.


"hei tunangan tuan Alan" terdengar mengejek dalam sapaannya. Alin tak menggubris masih tetap mendengarkan ucapan yang akan di lanjutkan oleh kakak tirinya ini


"Ckckck... tunangan yang menyedihkan" Alin masih tak menjawab. masih mendengarkan dengan tenang


"Cih.. tunangan? bahkan cincin pun tidak dia kasih" tumbuh senyum mengejek di ujung bibirnya


"ku rasa tuan alan hanya mempermainkan mu" ucapnya lagi


"memang sih. tuan alan tidak akan memilih wanita seperti kamu"


Haiissh tidak ada lelah lelahnya mengganggu ku. Batin Alin


"sudah selesai? kalau begitu aku permisi" menunduk kan kepala dan berlalu begitu saja dari hadapan wanita berbisa bagi Alin. dia sama sekali tidak terusik dengan semua perkataan Miya. malah dengan tenang nya mendengarkan semua perkataannya. Karena semua perkataan Miya ada benarnya. biar bagaimanapun Alan memang masih tak memberikannya cincin pertunangan. Meskipun dirinya sudah mengakuinya menjadi tunangannya.


"sialan" umpat Miya melihat sikap acuh tak acuh dari Alin.


*****


Makam malam telah siap. Alan dan Alin yang sedari tadi beristirahat di dalam kamar turun setelah pelayan rumah memanggil mereka berdua. sepanjang menuruni tangga Alan menggenggam erat tangan Alin menuju ke meja makan. sudah seperti rumah sendiri dia bersikap dalam keluarga itu.


di meja makan Ayah ibu dan Miya sudah berada di tempatnya masing masing. pandangan ibu dan Miya sangat terlihat tidak suka dengan pemandangan Alan menggandeng tangan Alin. Sedangkan Ayah terlihat senang ada yang membuat anaknya bahagia.


Alan menarik kan kursi dan menduduk kannya. Makan malam berjalan cukup lancar meskipun membuat sesak untuk beberapa orang.


"Tuan wijaya.." alan membuka suara ketika para pelayan sudah mem bersihkan meja makan


Ayah hanya memandangnya. menunggu yang akan di ucapkan oleh tamu yang di bawa putrinya


"maksud kedatangan saya kesini hanya untuk memberikan kabar baik bagi keluarga anda"


Deg. hati Ketiga wanita disana berdegup.


tidak mungkin tuan akan akan benar benar melamar Alin dihadapan kami semua kan?. Miya


berita baik? untuk kita? Apa?. Ibu


Apa yang di rencanakan Alan. Alin


meja makan semakin tegang. yang satu bingung akan apa yang di ucapkan alan. dan yang satu takut akan pikirannya sendiri


Bersambung......


♡♡♡ Pengumuman ♡♡♡


Hai teman teman....


Terimakasih sekali buat kalian yang sampai saat ini masih setia membaca novel saya😘


oiya jangan lupa baca juga novel author yang baru rilis. judulnya CEO OF MY HUSBAND.


mohon dukungannya yah temen temen. bantu like komen vote dan rate juga ya Novel Last Night with you dan CEO Of My Husband .


Sekali lagi terimakasih kalian... lvlvlv ❤❤❤❤