
"huuu sudah tau sakit masih di omelin" gumamnya kesal
"ya sudah tidak di omelin lagi.. istirahat dulu, sebentar lagi supnya datang"
Alan menarikkan selimut sampai leher Alin. tubuhnya sudah terbungkus dengan selimut. membuatnya sedikit lebih hangat. tidak berapa lama Alan berbalik menuju pintu
"mau kemana?"
"aku panggil dokter dulu untuk kamu" tanpa basa basi lagi Alan keluar dari kamar.
Alin memejamkan matanya. rasa lelah dan dingin membuatnya tak sanggup membuka matanya. badannya sangat tidak enak. ingin tidur tapi kepalanya pusing. membuat dirinya kesulitan untuk terlelap apalagi dengan kondisi perutnya yang kosong.
setelah cukup lama Alan belum kembali namun perutnya sudah bernyanyi.
"Lapar sekali" gumamnya
Alin mencoba untuk berdiri untuk mencari makanan di dapur. namun belum sempat melangkah satu langkah tubuhnya sudah terjatuh ke lantai.
Alin meringis kesakitan. saat itu bertepatan dengan terbukanya pintu kamar
"Alin" teriak seseorang yang langsung berlari ke arahnya
"Alan.. kak Rena" ucapnya masih menahan sakit
"kamu mau kemana? kenapa bisa sampai jatuh seperti itu?" Tanya Alan panik ketika Alin sudah berada di atas kasurnya.
"aku tidak apa apa kok... hanya saja... aku lapar" gumamnya pelan di bagian terakhir
"Kamu lapar Alin?" Tanya Rena yang mendengar percakapan mereka. Alin hanya mengangguk kan kepalanya
"tunggu sebentar kakak siapkan makanan buat kamu" ucapnya lembut
"Maaf merepotkan mu kakak ipar"
"tidak perlu sungkan.. kita kan keluarga" ucapnya dan beranjak pergi ke dapur. setelah Rena pergi pelayan yang diminta Alan menyiapkan sup untuknya datang dengan nampan yang berisi Sup satu mangkuk.
"Ambilkan kompres untuknya"
"Baik tuan"
pelayan itu meninggalkan mereka berdua setelah menyerahkan mangkuknya pada Alan dan di suapkan nya sup tersebut pada Alin.
tidak selang berapa lama dokter pribadi dari keluarga jackson yang merupakan saudara dan juga termasuk sahabat kepercayaan Alan tiba dan masuk kedalam kamar tersebut.
"jadi yang sakit bukan kamu?" Tanya dokter reza yang tiba tiba mengagetkan mereka berdua
"bukan. tapi tunangan ku" jawabnya singkat yang sedang meyuapkan suapan terakhir pada Alin
Reza Lee adalah kepala rumah sakit milik keluarganya yang merupakan kerabat dekat dengan keluarga Jackson. persaudaraan antara keluarga jackson dan keluarga Lee sangat dekat. sehingga ketika Alan masih kecil sering bertemu dengannya dan menjadi teman baiknya bahkan sampai sekarang. untuk jimmy, dia juga sudah mengikuti Alan dari kecil bahkan lebih dulu Jimmy bersama Alan di bandingkan dengan Reza. saat pertama kalinya Reza mengunjungi keluarga jackson. saat itu juga Alan dan jimmy termasuk sahabat kecilnya. dan menjadi bagian dari mereka
Reza tidak kalah tampannya dengan Alan dan Jimmy meskipun si kaisar di atas segalanya. namun ketika ketiga pria tampan ini bersama. mampu menarik perhatian para gadis. seolah olah ketiga pria ini pemilik seluruh Alam. pria lainnya hanya ngontrak di hadapan mereka.
"jangan diam saja. cepat periksa tunangan ku"
Reza yang tadinya terkejut bahwa temannya yang sedingin es batu ini ternyata sudah punya tunangan. saat di kagetkan oleh Alan. reza menghampiri Alin. Alan berdiri di sampingnya, bersiaga takut takut si dokter reza akan mengambil kesempatan pada tunangannya.
"jangan coba coba mengambil keuntungan darinya " Ancam Alan
Reza tak menghiraukan Alan. karena dia sudah tau sifatnya memang dingin tetapi ketika berhubungan dengan orang yang penting baginya. dia akan selalu berhati hati dan menjaganya. seperti persahabatan mereka contohnya yang Akan rela apapun di lakukannya hanya demi sahabatnya
"sudah sana minggir. aku mau periksa kakak ipar. kamu jangan mengganggu" usir Reza
"jangan panggil dia kakak ipar" ucapnya kesal dan menyingkir memberikan tempat untuk reza memeriksa Alin
Reza menyentuh dahi Alin cukup lama. beralih dari satu sisi ke sisi lain
"jangan lama lama memegang nya " ucapnya dingin.
setelah memeriksa suhu tubuhnya. Reza mengeluarkan stetoskop Alat kedokterannya untuk mendengarkan detak jantung Alin. dan beralih pada kerah baju alin. belum sempat membuka satu kancing Alan sudah menggertaknya.
"Hei.. mau apa tangan mu?" menepis tangan Reza dari dada tunangannya. "mau mengambil keuntungan darinya?" menarik kerah dokter Reza sudah bersiap untuk memukul pria di hadapannya. wajahnya penuh kemarahan.
"Alan lepaskan dokter Reza " mencoba melepaskan tangan Alan yang menggenggam erat kerah baju dokter Reza
"kamu tidak lihat. dia mau melecehkan mu" ucapnya sedikit berteriak.
ya ampun alan.. jangan malu maluin deh. Batin Alin menepuk dahinya
"Akh yang mulia raja.." melepaskan Cengkeraman tangan alan dari bajunya. "aku itu mau memeriksa kakak ipar bukan mau melecehkannya" jelas Reza jengkel.
"Minggir" ucapnya. "merepotkan saja" gumam Reza jengkel dan memperbaiki kerah bajunya
"tunggu.. kenapa harus membuka kerah bajunya?" Tanya Alan tidak senang
"kamu lihat saja jangan banyak tanya yang mulia" mulai mengabaikan Alan yang mulai banyak bicara
"Maafkan dia ya dokter" ucap Alin ketika sudah selesai memeriksanya
"yaa... aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang berubah ubah " ucapnya tersenyum pada Alin
"Hei.. kamu sudah lupa.. aku melarang mu bicara dengan pria manapun" sedikit berteriak pada Alin. "dan kamu" menunjuk pada dokter Reza
"jangan tersenyum padanya" lanjutnya membentak pada Reza
"sudah sudah.. aku sudah mau pulang. ini obat di minum sesuai intruksi di resep tersebut" ucapnya dan menyerahkan resep pada Alan
"kamu serahkan saja sama pelayan di depan" ucap Alan
"haissh.. baiklah"
beralih pada Alin. "aku pamit dulu kakak ipar" melambaikan tangan dan tersenyum padanya. Alan mendorong Reza keluar dari kamarnya karena terus tersenyum pada Alin
"aku tidak mengantar ke bawah" ucapnya setelah berada di luar kamar
"huu baiklah. aku pamit" ucapnya dan berlalu dari hadapan Alan.
sebelum kembali masuk ke dalam kamar. Rena sudah sampai dengan roda pembawa makanan.
"dia sudah tidur?"
"belum. baru selesai di periksa Reza"
"Iya tadi ketemu dengannya di bawah"
mereka berdua masuk bersama mendapatkan Alin tengah mengelus elus perutnya dengan mata terpejam dan wahab cemberut menahan lapar. sepertinya tidak sadar dengan kedatangan mereka berdua
"sepertinya kamu sangat lapar ya?" goda Alan
Alin terperanjat mendapatkan Rena dan Alan cekikikan melihat tingkah Alin.
"ah kakak.." Alin tersenyum malu pada mereka
"kamu sangat lapar ya?" Tanya Rena mendekat dan duduk di sebelah Alin.
Alin hanya mengangguk pelan pada Rena.
"kakak suapin ya"
senyuman rena sangat tulus. dia merasakan kasih sayang seorang kaka yang sebenarnya dari dia.
"kakak juga sudah membawakan makanan untuk kamu Alan. makan gih mumpung masih hangat" ucap Rena dan mulai menyuapi Alin yang dengan lahap memakan makanan yang di suapi Rena.