
"kamu mau kemana?" Tanya Alan dingin dan terus memegang tangan Alin dengan kuat
"ah Alan. aku mau bertemu Natalia. ini sudah waktu istirahat bukan?" Tanya alin dengan tenang.
"kamu mau bertemu Natalia dengan orang ini?" masih dengan ekspresi tidak senang
"kenapa?"
"kenapa? kamu mau ninggalin aku?" makin tidak senang dan kesal
ninggalin kamu? siapa juga yang mau ninggalin kamu. batin Alin
"Alan.. kamu kenapa? sakit?" menyentuh dahinya untuk mengetahui suhu tubuhnya
"sepertinya tidak" gumamnya
"kenapa kamu mengira aku sakit?" Tanyanya tidak senang
"iya... karena sikap kamu aneh"
"pokoknya kau tidak boleh pergi dengan dia " perintahnya tegas
ada apalagi dengannya. batin jimmy
"Alan... aku hanya mau bertemu dengan Natalia" mencoba menjelaskan
"kamu bisa memanggilnya ke ruangan ku kan" sudah emosi karena Alin terus membantahnya
"Iya bisa.. cuma aku merasa tidak enak. jika secara pribadi memanggilnya menemuiku. secara kan aku sahabatnya" mencoba memberi pengertian pada bocah posesif di depannya
"sudah Alin.. tidak apa apa. nanti aku suruh dia ke ruangan mu" ucap jimmy menengahi pembicaraan mereka dengan memegang bahu Alin mencoba menenangkan Alin yang sudah tidak mengerti kenapa Alan melarangnya bertemu dengan Natalia
"hemmm Baiklah" ucap Alin pasrah dan tersenyum pada jimmy yang juga tersenyum padanya
Plak. spontan tangan yang tadinya menyentuh bahu Alin di usir dengan cara kasar oleh Alan yang terus memandang tajam ke arah tangan jimmy yang menyentuh sembarangan. tatapan tajam itu bagaikan pisau yang mampu menyayat nyayat tangan yang menyentuh wanita miliknya
"siapa yang kamu sentuh?" menaik kan intonasinya pada jimmy. "dan juga kamu.. lebih memilih mendengarkannya di bandingkan mendengar kan aku?" semakin kesal saja sepertinya si Alan.
kedua insan manusia yang di marahinya bingung kenapa dengan pria di hadapan mereka. lama kelamaan Jimmy mengerti. ternyata Alan cemburu padanya.
"ok ok. aku tidak akan menyentuhnya" ucap jimmy mundur selangkah
"bukan cuma jangan menyentuhnya. tapi juga jangan memandang ataupun bicara padanya kalau bukan hal yang penting" perintah Alan. "Mengerti?" bentak alan sedikit menekan suaranya karena melihat Jimmy hanya mangap tak menjawab perintahnya
"me mengerti"
kenapa dengan kaisar hari ini. Jimmy bahkan takut ketika melihat Alan marah. apalagi sekarang dia sedang di marahi olehnya
"ya sudah aku pergi dulu"
karena tidak ingin terus menerus berada di situasi orang lagi cemburu. Jimmy memilih meninggalkan mereka berdua di ruangan rapat.
"Alan.. kamu kenapa sih?" Alin yang masih tidak mengerti dengan sikap Alan yang kemudian merasa jengkel sendiri
"kenapa? aku tidak mau kamu di sentuh orang lain. kamu masih tidak mengerti kenapa?"
entah itu Alan ataupun Alin keduanya tidak ada yang mau mengalah. dua duanya memperdebatkan yang menurut mereka benar. cara bertengkar mereka sangat ke kanak kanakan.
"Alan dia hanya menyentuhku. kenapa kamu marah"
"Hanya?" memalingkan wajahnya. "Heh aku bahkan tidak suka ketika orang lain melihat mu. Apalagi menyentuhmu" sedikit berteriak tapi tak menghadap pada wajah Alin
eemm kayaknya aku mengerti. batin Alin yang mulai cekikikan menahan tawa
karena Alin hanya menertawainya Alan meninggalkan Alin yang masih cekikikan di dalam ruangan rapat sendirian
"kayaknya dia benar benar marah" gumamnya dan mengejar Alan yang dengan tergesa gesa masuk ke dalam ruangannya.
*****
"selamat" gumam jimmy ketika masuk ke dalam ruangannya dengan mengelus elus dadanya
"kenapa?" Tanya Natalia heran dengan tingkahnya yang seperti habis dikejar kejar setan
"itu si Alan.. lagi marah" duduk di meja kerjanya
"emang kenapa?"
"kayaknya sih cemburu" menghela nafasnya mengingat kebodohannya karena memegang wanita yang sangat di perhatikannya
"Cemburu kenapa?"
"itu.. Alin ingin menemui mu disini. karena aku juga mau balik kesini aku mengajaknya bareng"
"Lalu?" masih tidak mengerti dimana letak kecemburuan Alan
"Alin mau.. ketika sudah mau kesini. Alan marah marah pada Alin dan juga padaku"
"loh.. memangnya apa yang membuatnya marah.. Alin kan hanya mau bertemu dengan ku"
"sebenarnya... ketika Alan marah marah. aku mencoba menenangkan Alin yang sepertinya juga sudah jengkel" menghentikan ucapannya.
"kemudian .... aku tidak sengaja memegannya untuk menenangkan Alin" lanjutnya ketika diam sesaat
Natalia manggut manggut mengerti dengan situasi yang di ceritakan Jimmy padanya
"mulai sekarang kayaknya kamu harus hati hati deh" mulai menakut nakuti jimmy
"kenapa?" mengankat wajahnya pada natalia yang sudah berdiri di depan mejanya
"sekarang dia memarahi mu.. kayaknya untuk seterusnya kamu harus menjaga jarak dengan Alin.. jika tidak ingin Alan marah lagi" menganalisa sendiri
"hemmm sepertinya seperti itu" ucap jimmy
"Apa kamu takut pada Alan?"
cukup lama jimmy menjawab pertanyaan Natalia
"apa yang harus aku takutkan dengannya. dia memang keras tapi tidak akan menyakiti orang orang yang dekat dengannya" ucapnya tenang menyandarkan badannya pada kursinya
Jimmy bukan lah pria yang lembek. tegas dan cekatan adalah sifatnya. dingin ketika diluar tetapi ketika dengan seseorang yang benar benar dekat dengannya. Jimmy sangat pantas untuk di jadikan teman bicara. apalagi untuk Alan sendiri jimmy sudah bagaikan saudara baginya. meskipun Alan memiliki Alin sebagai asistennya dan menaik kan jabatan Jimmy menjadi manajer. Jimmy tetap lah tangan kanan bagi Alan
Jimmy berdiri mendekati Natalia. memeluk wanita itu dalam dekapannya. Natalia membalas pelukannya dengan hangat.
"kenapa?" Tanya Natalia karena tak biasanya jimmy bersikap seperti itu padanya
"Aku lelah" membenamkan wajahnya dalam dalam pada bahu wanita cantik di pelukannya.
"Biarkan Aku memelukmu sebentar" pintanya
"Baiklah"
Natalia hanya mengusap usap punggung Jimmy dengan lembut
*****
Di dalam ruangan Alan duduk dengan kesal di kursinya. Alin yang mengejarnya baru saja sampai di ruangan tersebut dan mendapati Alan dengan ekspresi marah pada nya.
Alin memberanikan diri untuk mendekati padanya. dengan ragu memeluk lehernya dari belakang. setelah tak ada penolakan. jadi alin meneruskan aksinya
"Kamu masih marah?" Tanya alin namun tak ada jawaban.
Alin memajukan wajahnya di samping wajah Alan sehingga dia bisa melihat ekspresi suaminya yang masih masam. dan sama sekali tak menghiraukannya.
cup. mengecup pipinya ketika Alan masih saja tak bergeming. namun hatinya sudah sedikit luluh.
"sayang..." panggilnya dengan sangat mesra
deg deg.. jantung Alan berdegup kencang biar bagaimana pun itu pertama kalinya Alin memanggilnya dengan sangat mesra dan tanpa paksaan dari siapa pun
Alan memalingkan wajahnya menghadap pada Alin dengan masih tak berekspresi.
"jangan marah ya" bersikap manja padanya
Alan masih tak menanggapi ucapannya dia hanya memandang alin yang menyandarkan kepalanya pada dirinya. Alan sudah sedikit luluh dan menuntun Alin agar duduk dalam pangkuannya.
Alin menurut saja apa mau dari tunangannya. biar. bagaimanapun ketika Alan jackson marah. apapun bisa terjadi.
"aku tak suka melihat wanita ku di pandang pria lain. aku juga tidak suka melihat wanita ku dekat dengan pria lain apa lagi sampai di sentuhnya" memeluk Alin erat dalam dekapannya
"aku harap kamu mengerti aku. sama halnya dengan diriku.. yang tak akan pernah membiarkan wanita lain mendekati ku. apalagi sampai menyentuhku" ucapnya dalam pelukan tunangannya.