Last Night With You

Last Night With You
Bab 17



tiba tiba alin sudah berada di depan rumahnya... dia melihat banyak sekali orang disana


"ada apa disini .. kenapa ramai sekali?" gumamnya


dia terus melangkah untuk mengetahui apa yang terjadi disana. seketika itu dia melihat ada sebuah bendera yang melambangkan ada seseorang yang meninggal


"siapa yang meninggal?" ucapnya dan bergegas pergi kedalam rumahnya


seketika melihat apa yang terjadi di dalam, kakinya merasa lemas dan tak sanggup untuk berdiri, air matanya terus berjatuhan.


"ayah" suaranya bergetar


dia melihat ayahnya sudah berbaring tak berdaya, semua keluarganya menangis di dekatnya. dan ketika itu keluarganya berdiri menghampiri alin yang sudah tak bisa berbuat apa apa


"ini semua karena kamu" ucap kakak tirinya


"dasar anak tidak tau malu, kamu mengorbankan ayahku sendiri hanya untuk masa depan kamu" teriak ibu tirinya


"tidak" bantahnya. suaranya hampir tak terdengar, semua orang yang ada di sana memojokkan dia karena kematian ayahnya


seketika itu juga alin melihat sosok seorang wanita yang selama ini dia selalu rindu rindukan


"ibu" ucapnya ketika melihat ibunya berjalan mendekatinya, raut wajahnya seakan akan sangat membenci alin. melihat ibunya sudah seperti itu dia langsung menggeleng kan kepalanya. seakan akan dia mengerti apa maksud dari ekspresi wajah tersebut


"ibu benar benar kecewa sama kamu alin" ucap ibunya bahkan tak merangkul anaknya yang sudah tak berdaya itu


"tidak ibu" ucap alin merasa semakin sesak karena sikap ibunya yang sangat dingin padanya. air matanya terus mengalir


"jangan panggil aku ibu lagi, mulai sekarang kamu bukan anak ku lagi" ucapnya yang langsung meninggal kan dia yang seorang diri


"tidak" teriaknya dan langsung membuka matanya


"Alin kamu kenapa?" tanya natalia yang sudah sedari tadi mencoba untuk membangunkan alin


"ternyata hanya mimpi" gumamnya


ketika dia mulai menyadari dirinya berada di tempat yang sangat asing untuknya dan bangkit untuk duduk


"Nat aku ada dimana?" tanya nya


"kita ada villa alan" ucapnya


"di villa alan? kok bisa " ucapnya sedikit bingung


"kamu tidak ingat semalam?" tanya natalia


"semalam?" ucap alin dan mulai mengingat ingat kejadian semalam


setelah beberapa saat dia kembali mengingat semua kejadian semalam, dia mengingat bagaimana alan membawanya pergi dari segerombolan preman


"dia yang membawaku kesini?" tanya nya


"bukan hanya membawa mu kemari, demi kamu dia bahkan sampai terluka parah, demi kamu juga dia tetap rela menggendong mu walau keadaan lukanya belum di obati" ucap natalia membuat alin terkejut dengan penuturannya


"semalaman dia menjaga mu disini. meskipun dokter bilang dia harus istirahat agar lukanya tidak terbuka, dia tetap bersikeras untuk menjaga mu semalaman " lanjut natalia


mendengar semuanya alin merasa sangat bersalah pada alan.


"kenapa dia mau melakukan itu untukku?" tanya alin


"Alin.. kamu masih berani nanya seperti itu padaku?" ucap natalia yang tak habis pikir dengan sahabatnya


"dia itu benar benar peduli sama kamu alin. semua yang dia lakukan.. yang kamu maksud menyiksa mu.. itu supaya kamu hanya ada disisinya. dia tidak tau bagaimana cara mengungkapkan nya sama kamu, makanya dia melakukan dengan cara yang sampai tidak kamu sukai. jangan bilang kamu tidak memahami situasi ini alin" ucap natalia panjang lebar, tetapi alin mendengarkan nya dengan sangat baik


"Alin (sambil memegang pundak sahabatnya) sebenarnya dia orang baik. hanya saja ada sesuatu hal yang membuat dia seperti itu, aku rasa ketika kamu memberikan kesempatan pada dia untuk berubah, aku yakin kamu bisa merubahnya " lanjut natalia


Alin hanya menunduk kan kepalanya, mendengarkan semua nasehat yang diberinya


"sekarang dia di mana?" tanya alin


"lukanya terbuka lagi" ucap natalia


"kenapa?" tanya alin mulai khawatir padanya


"sebelum kamu bangun, kamu berteriak sambil menangis, dia juga sudah mencoba untuk membangunkan kamu, tapi kamu tidak meresponnya, makanya dia berlari ke kamarku di bawah sehingga membuat lukanya terbuka lagi" ucap natalia dengan menghela nafas


"dokter sudah memeriksanya, mestinya dia istirahat sekarang di kamarnya, demi kamu dia tidak istirahat semalaman " ucap natalia


"aku harus menjenguknya " ucap natalia dan bergegas pergi ke kamar alan


di luar alin melihat kamar alan ada di sebelah kamarnya. dia membuka pintu kamar alan. secara perlahan melangkah masuk kesana, disana ada jimmy sedang menemani alan.


"kesini alin, jangan berdiri disitu" ucap jimmy


Alin pun melangkah untuk menghampiri mereka. wajah yang masih berantakan itu tetap terlihat sangat cantik


"aku keluar dulu " ucap jimmy ketika alin sudah sampai di dekat alan


Alan hanya mengangguk kan kepalanya, kemudian jimmy pergi untuk memberi kesempatan pada mereka berdua


untuk sesaat tidak ada yang memulai terlebih dahulu percakapan di antara mereka, Alin hanya memandang alan yang terlihat sangag pucat. setelah itu alin memberanikan diri duduk di dekatnya


"kamu tidak apa apa?" tanya alin


"ya... aku baik baik saja" ucap alan


suasana kembali hening.......


"aku minta maaf, gara gara aku.... kamu jadi seperti ini" ucapnya


Alan tersenyum melihat sikap alin yang begitu lembut padanya, tidak seperti biasanya ketika selalu melawan terhadapnya


"luka mu sudah baik baik saja?" tanya alin


Alan hanya mengangguk dan tersenyum


" eemm itu.. yang kemaren masih berlaku?" tanya alin ragu ragu


"kenapa? kamu sudah memikirkannya?" tanya alan


"iya... aku sudah memikirkannya, asalkan kamu mau membantu ayahku dan membawaku pergi menemuinya, aku akan lakuin apapun untuk itu" jawab alin. yang membuat alan senang dengan keputusannya


dia mengukir senyum di bibirnya melihat alin dengan malu mengatakannya


"aku juga akan merawat mu sampai kamu benar benar sembuh" ucapnya


"ok kalau gitu, kamu harus segera tanda tangan kontraknya. setelah aku sembuh kamu datang bersamaku ke kantor. dan magang disana" ucap alan


"iya juga ya... aku kan masih bingung nyari tempat magang" ucap alin di dalam hatinya


"emm ok" ucap alin


"bisa tidak... natalia juga ikut magang di sana?" tanya alin


"boleh" jawab alan


"kamu belum makan kan?" tanya alin dan alan mengangguk


"aku bawain makanan buat kamu" ucap alin dan melangkah pergi dari kamar alan


saat melihat alin sudah pergi, senyum yang dari tadi dia tahan, sekarang sudah terukir lebar di bibirnya


"tidak sia sia lukaku" ucapnya


Alan kembali membaringkan tubuhnya yang dari tadi hanya duduk bersandar


disisi lain, alin sudah membulatkan tekadnya, dia tidak mau karena dirinya membuat keluarganya menjadi kacau. mimpi yang tadi dia alami terlihat sangat nyata. dia tidak mau terjadi apa apa pada ayahnya, dia rela berkorban untuk ayahnya itu


Alin bergegas membersihkan badannya, lalu keluar ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk alan


saat di dapur, kepala pelayan dan natalia terlihat sudah selesai menyiapkan makanan


"nyonya, tolong antarkan makanan buat tuan" ucap bibi mai ketika melihat alin datang menghampiri mereka


"iya alin. kamu saja yang mengantarkan makanan buat dia" ucap natalia


"iya nat" ucap alin dan membawa makanan yang sudah mereka siapkan