
"Kabar Baik?" Tanya Ayah terlihat bingung di wajahnya
Apa tuan alan benar benar akan melamar Alan di hadapan kami semua. Miya
Apa yang akan tuan alan lakukan. Ibu
Mau ngapain dia?. Alin mengalihkan pandangannya memandang Alan
"Iya.. Jujur kedatangan saya kemari sebenarnya untuk melamar Alin. Saya sudah memikirkannya" perjelas Alan pada Ayah Alin.
Deg. Ke tiga wanita yang berada di meja makan terperanjat. Tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Kedua wanita membeku masih memandang ke arah alin tak percaya.
Sial! Kenapa harus Alin.. aku benar benar tidak terima. Miya terus mengumpat di dalam hatinya.
Kenapa selalu anak ini yang beruntung. Ibu
Yang di pandang sudah bisa mengendalikan suasana. Perlahan detak jantungnya sudah kembali teratur.
Masih terbesit rasa ragu di raut wajah Alin. Meskipun tidak di ungkapkan, namun terlihat jelas di wajahnya.
"Apa tuan yakin dengan putri saya?" Akhirnya memutuskan untuk bertanya untuk mendapat jawaban dari semua keraguannya
"Ya.. tidak ada yang perlu lagi saya ragukan dengannya. Saya hanya butuh persetujuan dari tuan wijaya" Wajah Alin merona saat Alan menggenggam erat tangannya yang sudah berkeringat. Mengangkatnya di atas meja memperlihatkan pada semuanya bahwa Alan benar benar yakin dengan keputusannya.
Keraguan di wajah Ayah sudah terlihat mencair. Meskipun masih tidak percaya bahwa laki laki yang melamar putrinya adalah salah satu orang yang paling berpengaruh di negaranya.
"Kalau masalah itu sebenarnya saya serahkan semua keputusannya pada putri saya tuan. Tapi kalau melihat dari putri saya sepertinya tidak usah di tanya" Akhirnya suasana sudah tidak tegang menunggu jawaban dari Ayah. Alan tersenyum
mendengar jawaban dari calon ayah mertuanya sedangkan Alin masih tertunduk menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu. Rasa bahagia muncul dari tiga orang dari ke lima orang yang berada di meja makan.
Tapi tidak dengan dua orang yang lain. Miya dan ibunya. Dengan adanya dukungan dari Alan. Orang yang paling berkuasa di negaranya. Rencananya tidak akan berjalan lancar.
Alan mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku jas yang di pakainya. Sebuah kotak kecil yang cantik
Cincin?. Semua mata yang kembali terkejut setelah Alan membukanya. Memakaikannya pada jari manis Alin.
"Memang hanya Kamu yang paling cocok memakainya" ucapnya lirih memandang ke arah Alin dengan pandangan penuh kasih sayang.
"Terima kasih" jawab Alin yang sudah merona wajahnya.
"Tuan Alan.. sekali lagi terimakasih karena sudah mau menerima anak kami yang terkadang masih seperti anak kecil" ucap ayah Alin
"Ayah tidak usah sungkan. Sekarang anggap saya seperti anak anda sendiri. Biar bagaimanapun saya akan menjadi menantu anda" meskipun hanya beberpa kata sederhana. Namun membuat hati seorang ayah bergetar. Tidak adanya putra membuatnya merasakan kehadiran seorang putra dengan panggilan ayah dari Alan
"Dia pantas mendapat semua kebahagiaan di dunia ini" menyelipkan rambut Alin yang terurai ke belakang telinganya. Membuat Miya semakin berkobar karena rasa irinya.
"Sekali lagi terimakasih" ucap ayah alin. Yang merasa sangat bersyukur dengan kebahagiaan yang di berikan oleh Tuhan.
"Untuk masalah lainnya Ayah tidak perlu khawatir. Asisten saya yang akan mengurusnya" alan menghentikan ucapannya
"Tapi... Saya berencana untuk tidak mengadakan acara Tunangan"
Sekali lagi mengejutkan semua telinga yang sedang mendengarkannya.
Hhha kurasa tuan Alan memang tidak sungguh sungguh pada dia. Miya
"Saya akan langsung mengadakan resepsi pernikahan"
Apa!! Sial. Miya terus saja tidak terima dengan semua yang di dapat oleh Alin.
Fyuuuhh... Semua sudah bernafas lega dengan ucapan terakhir Alan. Terdengar tawa dari dua laki laki yang sedang duduk santai setelah ketegangan.
Mereka memilih bermalam di rumah Alin. Makan malam sudah selesai. Lamaran Alan juga sudah selesai
Alin kembali terlebih dahulu ke kamarnya. Alan masih berbincang bincang dengan calon Mertuanya. keduanya terlihat bahagia. sampai jam 10 Alan baru menyudahi obrolan yang penuh dengan gelak dan tawa.
Drrrttt. Alan meraih teleponnya dalam sakunya. melihat siapa nama yang tertulis di layar Hpnya.
Rena Jackson? kakak?
"kembali kesini?" entah apa yang mereka. berdua sedang bicarakan
"Lusa? bansara ibu kota? jam 8?" terlihat Alan manggut manggut
"Ok.. Aku dan Adek ipar mu akan menjemput mu tepat waktu"
"Ok.. aku tutup dulu teleponnya kak" Alan menutup teleponnya dan kembali melangkah ke dalam kamar Alin.
kesempatan. Orang yang menguping pembicaraan Alan sudah mendengar akan datangnya Nona Muda keluarga jackson ke dalam negeri.
kalau adiknya tidak bisa di rayu. mending rayu kakaknya supaya bisa menjodohkan Alan dengan ku. lagi lagi selalu ingin merebut apa yang sudah menjadi milik Alin. siapa? siapa lagi?
Miya yang sembunyi sembunyi mendengarkan semua pembicaraan Alan sudah mulai menyusun rencana bagaimana agar bisa pergi ke Bandara tanpa di curigai Alan maupun alin.
"Kamu belum tidur?" ketika melihat tv masih menyala di dalam kamar Alin
"ah belum" terperanjat karena tidak mendengar kapan Alan masuk
Alan melangkah mendekati Alin. duduk di sampingnya dan menyandarkan kepalanya pada bahu yang masih terduduk tegap di depan tv.
''kenapa?" bertanya karena Alan hanya diam saja. Terdengar alan menarik nafas dalam
"Alin"
"iya"
"Maaf aku tidak memberi mu upacara pertunangan kita" Masih terus menyandarkan kepalanya
"Alan.. membawaku kerumah dan melamar ku di depan Ayah ku. meminta persetujuannya. sudah sangat cukup bagiku. moment yang selalu di tunggu tunggu oleh setiap wanita. ketika
seorang ayah menyerahkan putrinya pada seseorang yang mencintai putrinya dengan tulus. Aku tidak keberatan kamu tidak memberi ku upacara pertunangan. Pernikahan sudah sangat membuatku bahagia"
penjelasan panjang lebar. mengungkapkan betapa bahagianya dirinya
"Apalagi... setelah cincin indah ini melingkar di jari ku" menyentuh dan memandang cincin yang melingkar manis di jarinya.
"Apalagi yang aku harapkan? selain cinta dan keberadaan mu. aku sudah tidak mengharapkan apa apa" ucapnya lagi
Alan yang mendengarkan setiap butir yang di ucapkan Alin. merasa terharu. Tangannya sudah melingkar pada tubuh cantik Alin.
"Terimakasih" ucapnya lirih
"Terimakasih sudah hadir dalam hidupku. mengubah warna di dalamnya. memberikan kehangatan dan rasa kasih sayang yang selama ini aku harapkan" masih mendekap tubuh Alin dengan erat
Alin membalas pelukan alan. mengelus lembut punggung yang masih memeluknya
"Aku bahagia sama kamu" ucap Alin
"Meskipun pertemuan awal yang begitu menyakitkan. tapi sudah tidak usah di bicarakan. yang terpenting hasilnya yang sekarang" lanjut Alin. Mereka masih larut dalam pelukan mereka
Alan menciumi bagian leher Alin. yang di ciuminya pasrah.
"Alin" mengangkat tubuh Alin ke atas tempat tidurnya
"kamu sudah menerima ku" menjatuhkan tubuh Alin dan membelai wajahnya dengan lembut
"Iya" masih bingung dengan sikapnya
"sekarang... maukah kamu menyerahkan sepenuhnya tubuh mu padaku?"
Alan sudah berada dalam pelukan Alin masih meneruskan aktifitasnya di bagian leher Alin.
Bersambung.....
Apa ya jawaban Alin? pasti penasaran ya?
hihihi author juga penasaran. kita tunggu update selanjutnya ya. tetap setia menunggu ya semua 😘