Last Night With You

Last Night With You
Bab 38



Matahari semakin beranjak. meninggi membuat udara semakin hangat dengan sinarnya di pagi hari. meskipun akhir pekan, tidak banyak orang yang hanya menghabiskan waktu dirumah. terlihat jalanan masih begitu ramai. berjalan untuk bersenang senang di akhir pekan. yang bisa di buat untuk bersantai setelah satu minggu penuh menghabiskan tenaga untuk melakukan aktifitas masing.


Beda dengan dua insan yang sedang menikmati akhir pekan yang hanya berdiam di dalam apartemen. Alin tengah menyibuk kan diri dalam dapur. menyiapkan sarapan pagi untuk dia dan Alan. dengan rambut terikat yang cukup tinggi.


memakai celemek di tubuhnya terlihat seperti ibu rumah tangga yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Alin fokus mengiris bawang sampai dia tidak merasa ada langkah kaki yang mendekat padanya


"Alan!" Terkejut setelah mendapati dirinya sudah di peluk dari belakang oleh Alan.


"kau yang seperti ini. sangat cocok di bilang istri yang baik" ejeknya sambil mencium bahu pada tubuh yang sedang di peluknya


"apa? siapa yang istri mu?" jawab alin yang masih fokus pada yang di irisnya


"Kamu" spontan menjawab dengan cepat pertanyaan alin. sekali lagi alan mencium Alin. tapi tidak lagi di bahunya. beberapa kali Alan mencium pipi Alin. membuat alin tidak fokus pada apa yang di kerjakannya


"sudah sudah. kamu duduk dulu. tunggu aku selesai masak! ok" perintahnya dan sudah melepaskan tangan alan yang dari tadi tak mau lepas memeluk alin


Alin menariknya kedepan televisi dan menyalakannya agar supaya Alan bisa duduk tenang dengan menonton tv dan menunggunya sampai selesai masak. Alan hanya menuruti perkataan wanitanya. sesekali dia melirik ke arah Alin yang tengah fokus.


wajah yang biasa tak berekspresi dan dingin. entah sejak kapan wajah itu sekarang sering kali mengukir senyum di wajahnya. Alan berpaling kembali pada tv yang masih menyala di depannya.


Terus menunggu sampai akhirnya Alin melepaskan celemek yang di pakainya. ditarohnya kembali ketempatnya semula. Alin menghampiri Alan yang tengah duduk bersandar menikmati siaran tv waktu.


"Hei" menepuk bahunya dan duduk di sampingnya. Alin bersandar pada bahu yang saat itu tubuhnya juga bersandar pada sofa yang di dudukinya.


"sudah selesai?" tanya alan yang tangannya sudah melingkar pada bahu alin. menepuk punggung bahu nya dengan lembut


"hemmm"


Alin masih terus bersandar. meluapkan penatnya di bahu alan. Alan membiarkan alin yang tengah lelah dalam pangkuannya. mengusap lembut wanita yang dalam hatinya memiliki posisi penting bagi alan.


"kamu tunggu aku disini. aku mandi dulu, abis itu kita sarapan" setelah melepaskan semua rasa lelahnya akhirnya alin berdiri dan tersenyum padanya bahkan mengedipkan satu matanya untuk menggoda alan.


"gadis nakal" gerutu alan ketika alin sudah pergi ke kamar. wajahnya merona dan Alan kembali tersenyum melihat tingkah Alin yang sangat menggoda.


****


Pagi sudah beranjak menjadi siang yang cukup hangat. setelah selesai makan, Alin dan Alan hanya bersantai di apartemen. tak ada rencana apapun di akhir pekan ini.


"Bosan" Alin bergumam karena selain tiduran hanya menonton tv dan membiarkan Alan terus menggodanya dengan memainkan rambut Alin yang halus.


"Alan!"


"Hemmm" masih terus fokus pada tv yang di tontonnya tetapi tangannya masih aktif memainkan rambut Alin.


"bawa aku kerumah ayah.. sudah lama semenjak pesta itu.. aku belum pernah main kerumah" memelas memasang muka kasihan di depannya


"kamu rindu ayah mu?" spontan menjawab melihat ekspresi Alin


Alin antusias mengangguk kan kepalanya dengan sangat bersemangat


"baik lah. kamu pergi bersiap siap.. aku bawa kamu menemuinya sekarang" Alan mengusap dengan lembut kepala Alin. memasang senyuman bahagia melihat mata alin berbinar karena bahagia.


"terimakasih Alan. kamu memang yang paling baik" ucapnya masih Alan dengan erat.


"ya. kamu sudah menyadarinya. tidak ada pria baik selain aku padamu" ucapnya bangga dan membalas pelukan dari Alin


"iya iya.. kamu memang yang terbaik" ucap alin semakin memuji alan yang terus semakin bangga


"cepat siap siap sebelum aku berubah pikiran untuk melalukan sesuatu yang lebih menyenangkan" mengubah raut wajahnya dengan memasang senyuman menggoda pada Alin


Alin spontan melepaskan pelukannya dan berdiri memberi sedikit jarak di antaranya. berjaga jaga alan akan melakukan apa yang dia ucapkan


"hhhhe aku pergi bersiap dulu" lari terbirit birit menuju kamar.


fyyuuh.. ucapan alan tak bisa di anggap remeh. setelah berada di dalam kamar dan memastikan mengunci pintu kamarnya


Hanya butuh beberapa menit untuk bersiap siap. Alan sudah menunggu Alin dalam mobil di parkiran. hanya dengan memakai baju santai yang sederhana. Alin mampu menggoda


mata alan dengan penampilannya. rambut yang terurai semua di bahu kanannya. make up yang natural dengan baju dress yang membentuk lekukan pinggangnya.


sangat cantik. begitu gumam alan.


"Maaf membuat mu menunggu lama" ucap alin dan masuk ke dalam mobil


"heemmm" Alan memalingkan wajahnya. tidak ingin Alin melihat wajahnya yang merah merona.


Dalam perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan. suasana hening namun tak mencekam. lebih santai karena tak ada yang mengeluarkan aura dingin disana. suasana tergambar melalui perasaan masing masing. selain bahagia di wajah mereka tak menunjukkan ekspresi lain di sana.


Mobil terus menyusuri jalanan yang sudah cukup panas. jarak antara apartemen dan kediaman keluarga wijaya cukup membutuhkan beberapa waktu. tapi karena tak ada kemacetan. perjalanan mereka cukup lancar. sampai akhirnya mobil mewah itu berhenti tepat di depan rumah yang elegan.


Alan membukakan pintu untuk Alin.


"terimakasih" tersenyum tulus dan meraih uluran tangan alan yang hendak menggandengnnya.


tak seberapa lama melangkah meninggalkan mobil. sepertinya penghuni rumah itu menyadari ada yang datang berkunjung. apalagi pengunjung dengan mobil mewah. untuk mereka dengan mata keranjangnya secepat kilat sudah berdiri di depan pintu melihat siapa yang datang.


Miya, saat melihat Alan yang keluar dari mobil. sangat terlihat di raut wajahnya, matanya berbinar penuh kebahagiaan. berniat menggunakan kesempatan itu untuk dekat dengannya. berubah setelah alan membukakan pintu dan menggandeng seorang wanita keluar dari mobil itu


Cih. kenapa harus dia yang datang bersama tuan alan. umpatnya didalam hantinya. guratan kecewa sangat terlihat jelas di wajahnya.


"siapa yang datang Miya" teriak seorang wanita yang melangkahkan kakinya menuju pintu.


"selamat siang ibu" sapa alin membungkuk kan kepalanya memberi hormat. meskipun sebenarnya dia tak mau melakukannya biar bagaimana pun dia adalah istri ayahnya saat ini


pura pura berbakti pada ibu karena ada tuan alan. hebat sekali kamu ya. pandangan tak suka dari Miya tak bisa di tutupinya. Alan menyadari raut muka di wajah Miya


Alan melepaskan gandengan tangannya. melingkarkan pada tubuh alin. membungkukkan kepalanya yang membuat tiga orang lainnya terkejut.


"selamat siang nyonya wijaya. saya dan tunangan saya datang untuk berkunjung" ucapnya dan memberi senyum pada ibu dan anak di depannya. Miya semakin memandang alin dengan sangat tajam. rasa tak sukanya semakin bertambah. sedangkan yang di pandang dengan sangat tenang memasang wajah tersenyum yang sangat cantik.