
"Lan"
tiba tiba Jimmy masuk tanpa permisi ke ruangan Alan. saat itu sudah siang, Alan saat itu yang sangat sibuk memikirkan pekerjaan kantornya, merasa jengkel pada jimmy
"kurasa kamu sudah lupa apa yang aku ajarkan" ucap Alan pada Jimmy
"ini penting lan, aku sudah tau dimana cewek yang kamu cari"
"katakan di negara mana dia berada" tiba tiba perasaan yang tadinya kacau sudah kembali normal
"menurut informasi yang aku dapat, dia melanjutkan studinya di negara C" Jimmy menjelaskan dengan detail informasi yang didapatnya
"ternyata dia disana😊, akan ku beri kau pelajaran karena sudah berani kabur dariku" ucapnya di dalam hati
"Cepat pesankan tiket kesana secepatnya, kebetulan 3 hari lagi ada acara amal di kantor cabang di kota C" senyuman nya terukir di wajah yang terkenal dingin itu
"buseeet, aku ga salah lihat? 😱(sambil menggosok gosok matanya)wajah yang selalu datar, sekarang dia tersenyum?" ucap jimmy didalam hati, heran dengan yang dilihatnya, Alan yang terkenal dingin dan selalu menunjukkan wajahnya yang datar hanya mendapat informasi tentang seorang wanita bisa membuatnya tersenyum, jelas menunjukkan Alan tertarik pada wanita tersebut.
"kamu sudah boleh pergi dari sini. dan secepatnya pesankan tiket ke negara C" ucap Alan terdengar sangat kejam pada Jimmy
"habis manis sepah dibuang. dasar kejam" Jimmy mendumel sendirian dengan perlahan
"kamu bilang apa Jimmy? mau pindah ke negara H? oh dengan senang hati"
"hhhha Alan kamu salah denger"
"yaudah buruan pergi jangan ganggu aku kerja" perintah Alan membuat Jimmy terkejut dan langsung pamit pergi dari ruangan yang penuh suasana dingin itu
~~
pendaftaran sudah selesai, segala administrasi juga sudah dilunasi, pelajaran akan dimulai Minggu depan.
Sebelum memulai kelasnya Alin dan Natalia tidak tau harus melakukan apa, saat itu dia dan Natalia berada di restoran didekat universitas, Alin mendaftar di Universitas Negeri Shanghai, dengan kepintarannya dia dengan mudahnya lulus masuk di universitas tersebut.
"Kurasa kita memang berjodoh"
suara yang sangat familiar, pria yang sangat tampan dan elegan muncul dihadapan mereka, pria pahlawan yang menolong mereka semalam
"Jordan" serentak mereka menyebut nama nya secara bersamaan
"Kalian sedang apa disini?" tanya jordan
"kami baru selesai mendaftar di universitas" Jawab Natalia
"kalian baru saja kuliah?"
Natalia tidak menjawab, dia tau bahwa Jordan ingin Alin yang menjawab nya, tapi entah apa yang terjadi pada Alin, dia tak menjawab sepatah katapun, memandang nya saja Alin tak mau
" sebenarnya nggak kita sudah semester 4, cuma dosen kami dikota S mengintruksikan untuk pindah ke sini supaya bisa menambah wawasan kita semakin luas" akhirnya Natalia yang menjawab, Jordan hanya mengangguk
"Oiya Jordan, lukamu gimana?" tanya Natalia
"Lukaku sudah membaik, itu berkat Alin yang mengobati" Jordan mencoba untuk mencarikan suasananya yang dingin dengan Alin, tapi Alin hanya membalasnya dengan senyuman setelah itu dia mengalihkan pandangan nya lagi
"Ada apa dengan Alin" pikir Natalia dan Jordan bersamaan
"aku ke toilet bentar ya" Natalia segera mencari alasan dan pergi dari mereka, memberi kesempatan pada mereka untuk bicara berdua
Jordan mendekat
"Alin, kamu kenapa?" tanyanya, dia merasa tidak enak dengan sikapnya yang dingin padanya
dengan tersenyum Alin menjawab
"aku tidak apa-apa"
"kamu yakin?"
Alin menjawab pertanyaan Jordan dengan mengangguk dan tersenyum, setelah itu suasana kembali hening. Jordan merasa ada yang disembunyikan darinya sama Alin
"kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya pada Alin" ucap Jordan di hatinya
setelah beberapa menit akhirnya Natalia kembali, dan melihat suasana yang dingin itu
"Apa iya dari tadi mereka tidak bicara satu sama lain?" tanyanya pada diri sendiri dengan memukul dahinya sendiri secara perlahan
melihat pandangan Jordan yang begitu hangat terhadap Alin, Natalia merasa Jordan mempunyai perasaan khusus pada sahabatnya. tapi entah kenapa Alin bahkan tidak mau memandang Jordan, "ada apa sebenarnya dengan Alin" ucapnya sekali lagi
sedangkan Jordan merasa bingung dengan sikapnya yang saat ini, dia tak seperti tadi malam, wanita yang mengobatinya dengan hangat semalam, dalam semalam juga dia berubah dingin padanya "Aku tak mengerti jalan pikirnya" pikir Jordan didalam hatinya
"aku pamit dulu ya, ada urusan yang harus aku kerjakan" pamit Jordan
"iya hati hati" jawab Natalia, dan Jordan meninggalkan mereka berdua, Alin hanya memandang Jordan yang melangkah pergi dari mereka, entah kenapa Alin merasa menyesal dengan sikapnya yang sangat dingin pada Jordan,
"kita pulang juga yuk Lin " ajak Natalia pada Alin yang sedang melamun
"eee iya Nat, ayok*
merekapun juga beranjak pergi dari restoran itu menaiki taksi dan pulang kerumah mereka
selama perjalanan pulang, didalam taksi itu Alin hanya melamun, tak mengatakan sepatah katapun, bahkan saat Natalia bertanya, dia bahkan tak menjawab satu pertanyaan pun darinya . sahabat yang dulunya sangat ceria, dalam keadaan yang burukpun dia mampu menutupinya,
"sekarang masalah apa yang bisa membuatnya menjadi seperti ini?" tanya Natalia pada dirinya sendiri
membuat Natalia semakin yakin bahwa ada yang disembunyikan oleh sahabatnya itu
"apa ini berhubungan dengan keputusannya yang cepat cepat ingin pergi kesini?" pikir Natalia
"aku harus bertanya pada Alin saat sudah sampai dirumah" pikirnya sekali lagi
beberapa saat kemudian mereka sudah sampai dirumah, setelah membayar ongkos taxi, mereka berdua langsung masuk kedalam rumah.
"Lin ada yang mau aku omongin sama kamu"
"Mau ngomong apa Nat?"
"Sini duduk dulu" sambil menariknya ke tempat duduk dan mulai membicarakannya
"kamu sebenarnya punya masalah apa?" tanpa basa basi Natalia bertanya langsung pada intinya
"Aku tidak apa apa Nat" Alin tak berani mengatakannya, dia takut Natalia tak mau lagi berteman dengan seseorang yang kotor, pikir Alin.
"aku masih sahabatmu kan?"
Alin mengangguk
"terus kenapa kamu tidak mau berbagi kesedihan dan masalahmu padaku?"
"ternyata aku salah, Natalia bukan orang seperti itu" ucap Alin di dalam hatinya
tak terasa air mata Alin mengalir di pipinya
"Alin kamu kenapa?" tanya Natalia pada Alin sambil memegang tangan sahabatnya dan meyakinkan nya untuk bercerita padanya
akhirnya Alin menceritakan semuanya pada Natalia, kejadian yang merenggut semuanya dari dirinya. Natalia mulai memahami apa yang dimaksud Alin dan sikapnya yang sangat dingin tadi pada Jordan akhirnya dia juga tau bahwa karena masalah malam itu dia menjadi sangat berubah. Alin menangis dalam pelukan Natalia
"sudah Alin, kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan" bujuk Natalia yang tidak tega melihat sahabatnya
"Aku tak pantas mengaguminya Natalia"
Natalia mulai mengerti, jadi sejak tadi malam dia sudah mulai menyukai Jordan, wanita yang selama ini menutup hatinya untuk seorang pria, hanya bertemu sekali sudah dapat memikat hati si Alin, betapa beruntungnya pria itu, tapi ketika Alin sudah mulai membuka hati justru dia berada dalam keadaan yang sangat terpuruk
"ga ada yang namanya ga pantas Alin, kalau dia juga sayang sama kamu, dia ga akan mempermasalahkan masa lalu kamu" Natalia mencoba membujuk Alin, dengan memgelus rambutnya, wanita ceria yang selalu tegar kini, terlihat sangat rapuh di hadapan sahabatnya
"Aku ga tau apa perasaanku padanya Nat, perasaan ini tidak seharusnya ada, kita masih baru pertama kali bertemu"
"kalau sudah sayang, tidak peduli baru kenal atau nggak, Lin perasaan itu tidak bisa di bohongi, kamu jalani aja dulu, kamu ceritakan pelan pelan sama dia"
"apa boleh seperti itu?" tanya Alin ragu ragu
"Kenapa nggak? kamu harus memberi kesempatan pada diri kamu sendiri Alin"
"kalau dia tidak mau menerima aku?"
"kamu jangan menyerah sebelum perang Lin, kamu ga boleh pesimis, kalau kamu sudah mencoba tapi dia ga mau, berarti itu takdir" Kata kata sederhana Namun sangat dalam artinya
"Kamu mengerti kan Lin?"
"iya Nat, makasih ya. kamu memang sahabat terbaikku" Alin memeluk Natalia lebih kencang lagi
"sudah ah, sakit tauk. kamu meluknya terlalu kencang"
"iya maaf"
"sudahlah.... kamu ga usah sedih lagi, kamu ga sendiri Lin. kamu masih punya aku. kalau ada masalah jangan di Pendem sendiri"
"iya Nat aku mengerti"
"Yasudah kamu istirahat dulu sana" ucap Natalia
"iya... aku ke kamar dulu ya" Alin beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya untuk istirahat
"ternyata beberapa hari ini Alin mengalami hal hal yang sangat sulit" ucap Natalia ketika melihat Alin pergi ke kamarnya