Last Night With You

Last Night With You
Bab 10



selama di perjalanan Alin khawatir akan di bawa kemana dia dengan pria asing ini


"dia ga bakalan jual aku kan?" tanyanya pada diri nya sendiri


ketika memikirkan hal itu Alin memandang wajah pria disampingnya, sesaat Alin terkagum dengan aura diwajahnya, wajah yang seakan akan memancarkan kekuasaan, wajah dingin yang datar, bulu mata yang panjang dan pandangannya yang sangat tajam serta kekuasan yang ia miliki dengan umurnya yang tidak jauh beda dengan Jordan, membuat dirinya sangat sempurna yang seakan akan dia tidak ada tandingannya di dunia ini


cukup lama Alin memandang wajah Alan


"belum puas melihat dan mengagumi ku?" tanya Alan penuh dengan kepercayaan diri


Alin langsung memalingkan wajahnya dan semakin menurunkan topi yang di pakainya bahkan tak menjawab pertanyaan Alan.


"Dasar tebal muka" gumamnya


melihat Alin yang salah tingkah Alan tersenyum dan terus fokus pada jalan


sudah beberapa saat di perjalanan akhirnya mobil mewah itu berhenti di sebuah Villa besar, Villa yang jauh dari kota


"kurasa ini Villa pribadi" pikir Alin


Alan keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Alin


"kamu mau tetap disini?" tanya Alan dan akhirnya Alinpun menurut untukkeluar


"kamu ngapain bawa aku kesini?" tanya Alin penasaran


"ayo masuk" Alan tak menghiraukan pertanyaan yang di lontarkan Alin. dia langsung menariknya ke dalam villa. Alin sedikit nurut padanya karena dia pikir tidak mungkin pria yang sangat berwibawa sepertinya akan melakukan hal hal konyol.


ketika mereka berdua masuk, didalam villa banyak sekali pelayan yang menyambut Alan dengan membungkuk kan tubuh mereka, seakan akan pria yang menarik dirinya kedalam adalah raja didalam villa itu


"selamat datang tuan muda" ucap mereka semua


"siapkan makan malam untuk nyonya" ucap Alan yang membuat Alin terkejut


"haaah? nyonya muda?" tanya Alin pada Alan


"siapa yang nyonya mudamu? lepaskan... aku mau pulang" Alin yang tadinya masih nurut sekarang dia mulai memberontak dan terus memukul tangan Alan yang akhirnya tangannya terlepas dari genggaman Alan


Alin mencoba untuk lari dan keluar dari villa itu tetapi belum sempat maju satu langkah pun tanganya sudah tertangkap oleh Alan yang langsung menggendongnya


"hei turun kan aku" teriak Alin


"menurut lah atau aku tidak akan jamin untuk tidak apa-apa kan kamu" bisik Alan dengan lembut dan tersenyum pada Alin


Alin pun diam, senyumannya menunjukkan kan bahaya pikirannya


"cepat siapkan makan malam untuk nyonya" perintah Alan sekali lagi yang melihat pelayan di villanya bengong melihat mereka


"eeh... ba baik tuan"


Alan membawa Alin ke lantai atas di villa itu dan membuka satu ruangan yang sangat luas


"ini kamarnya?" pikirnya didalam hati


ruangan yang sangat elegan cocok dengan sifatnya yang dingin


"kenapa dia membawa ku kesini?" bisiknya


Alan terus melangkah masuk kedalam kamarnya dan meletakkan tubuh Alin pada tempat tidurnya


"kamu mau ngapain?" tanya Alin


Alan tak menjawabnya, dia malah membuka topi yang menghadang pandangan nya pada Alin. yang pada akhirnya wajah cantik itu sepenuhnya terlihat olehnya


Alan pergi ke atas tubuh Alin yang masih terlentang di ranjang


"heeeei kamu mau ngapain?" teriak Alin yang terus mendorong tubuh Alan


Alan menangkap kedua tangannya yang dan menariknya ke atas kepala Alin


"dia pria yang baru ku temui tadi malam tapi kenapa pria ini dia berani melakukan hal semacam ini" pikir Alin dan berusaha melepaskan diri


Alan membelai wajah yang penuh emosi di bawah tubuhnya dan kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Alin


"Aku mau kamu menjauhi Jordan" ucap Alan yang benar benar membuat Alin tak habis pikir kenapa pria ini malah mau dia menjauhi orang yang dikaguminya


"kenapa aku harus menjauhi jordan" bantah Alin


"karena kamu adalah milikku" dengan penuh percaya diri dan senyuman nya yang mampu memikat seseorang mengatakan bahwa Alin adalah miliknya


"kamu itu pria berkuasa dan tampan banyak wanita yang ingin menjadi milikmu kecuali aku.... lepaskan" genggaman tangan Alan sangat kuat pada Alin yang membuatnya tak bisa berbuat apa apa


"kamu akan segera bersedia menjadi milikku" ucap Alan


"kenapa harus aku, kita hanya sekali bertemu tapi kamu dengan percaya diri mengatakan bahwa aku adalah milikmu"


"sekali bertemu? aku ga salah denger? seingatku kita pernah bertemu sebelumnya, bahkan.... (semakin mendekatkan mulutnya ke telinga Alin dan nerbicara secara lembut ) kita pernah bercinta sebelumnya" ucapan Alan membuat Alin merasa dirinya tersambar petir


"jaga ucapan mu, sekalipun aku tak pernah bertemu denganmu bagaimana akan bercinta denganmu" ucap Alin yang semakin emosi pada Alan


"kamu benar benar melupakan ku?"


"bukan melupakan mu, aku memang tidak kenal sama sekali padamu" teriak Alin


"eemmm bagaimana dengan Hotel Lentera kamar 811 lantai 4?"


Alin tercengang mendengar perkataan Alan, malam yang merebut segalanya dari hidupnya, dan malam itu juga yang membuat dirinya hampir setiap malam selalu terbangun karena teringat akan hal itu dan malam itu juga yang membuat dirinya harus pergi dari sisi ayahnya, bagaimana setelah dia berusaha keras untuk melupakannya, berusaha memberi kesempatan pada dirinya sendiri. justru orang yang tidur dengannya malam itu muncul di hadapannya


memang malam itu Alin tak melihat seperti apa wajah pria yang tidur dengannya, namun hari ini sudah jelas. pria itu adalah paman dari orang yang di sukainya


tak terasa air matanya mengalir


"ja..di maksud kamu" Alin bahkan tak sanggup melanjutkan pembicaraannya, dia terisak dalam genggaman orang yang sama waktu itu


"ya waktu itu adalah aku"


entah apa yang akan dipikirkan Jordan ketika dia tau, wanita yang sekarang dekat dengannya adalah wanita yang sudah tidur dengan pamannya sendiri


"kamu pasti tau kan, apa yang akan Jordan rasakan ketika dia tau, wanita yang di idam-idamkan sudah tidur dengan pria lain, bahkan pria itu adalah pamannya sendiri"


Alin tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan Alan, air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang putih


"apa yang kamu inginkan?" jawab Alin


"jadilah wanitaku dan tinggal bersama ku" pinta Alan


"permintaan yang konyol ( jawab Alin ) Lepaskan aku" dengan sekuat tenaga Alin mencoba untuk melepaskan genggaman Alan yang akhirnya Alan bangkit dan pergi ke meja di samping tempat tidurnya dan mengambil beberapa kertas. Alin bangkit dari tidurnya dan duduk meratapi betapa sialnya nasib dia


Alan menyodorkan kertas kertas yang diambilnya pada Alin


"tanda tangan, dan jadilah kekasihku yang nurut, akan aku berikan kamu segalanya yang kamu mau"


Alin memandang rendah pada Alan dan mengambil kertas kertas itu


"kamu mau aku menjadi kekasihmu?" ucap Alin menyeka air matanya yang terus mengalir dan bangkit dari duduknya


"JANGAN HARAP" ucapnya sambil melempar kertas kertas itu pada wajah seorang pria yang ada didepannya dan Alin melangkah untuk pergi dari tempat itu


setelah kurang beberapa langkah dari ok tau kamar Alin berhenti dan berkata


"ingat, malam itu hanya sebuah kecelakaan dan aku harap setelah ini kamu jangan pernah mengganggu hidupku lagi.... (berhenti beberapa saat dan menarik nafas dalam-dalam) dan untuk uang itu, akan aku kembalikan padamu" ucap Alin


" ok.... kita liat saja, aku akan membuat mu datang sendiri menemui ku.... secepatnya"


Alin tak menghiraukan apa yang Alan ucapkan dan dia pergi meninggalkan villa yang megah itu.