Last Night With You

Last Night With You
Bab 12



Malam panjang itu berlalu, Alin bersiap kembali untuk pergi ke universitas. Alin dan Natalia berangkat seperti kemarin, dengan jalan kaki yang mereka anggap sebagai olahraga pagi


sambil berjalan mereka berbincang masalah yang pekerjaan


"kita harus segera cari tempat magang sambil cari kerja Lin" ucap Natalia


"iya Nat" jawab Alin yang terus memandang kakinya melangkah


"kamu sudah tanya Jordan nggak?"


"belum sih" ucap Alin


"Alin tinggal berapa hari lagi kita harus magang" paksa Natalia


"iya iya aku coba tanyakan ke dia"


tidak lama kemudian sebuah mobil yang searah dengan mereka berhenti di samping Alin dan Natalia


mereka menghentikan langkahnya dan menoleh pada kaca jendela mobil yang perlahan terbuka


"Alan" ucap Alin hampir tak terdengar


belum sempat Alan mengucapkan apa apa Alin sudah melangkah pergi


ketika melihat wajah Alan yang bahkan tak menoleh pada mereka Alin merasa muak dan langsung melangkah pergi dari tempatnya tadi. sedang Natalia mengikuti langkah Alin meskipun dia melihat Jimmy yang menyetir mobil itu


terdengar suara langkah kaki setengah berlari mengejar mereka, tangannya tertangkap oleh seseorang yang mengejar dari belakang


"nona Alin tunggu" itu bukan Alan yang mengejar tetapi Jimmy sahabat dari Alan


"izinkan kami mengantarmu" ucap Jimmy ketika Alin bahkan tak menoleh kearahnya


"tidak usah kami bisa jalan sendiri" ucap Alin


"sekali ini saja" ucap Jimmy sambil menoleh kearah Natalia, Natalia mengerti apa maksud Jimmy dan mulai untuk membujuk Alin ikut dengan dia


"Alin aku capek, lagian ini sudah sangat siang panas juga, gimana kalo sekali ini saja kita ikut mereka" pinta Natalia


Alin sebenarnya juga merasa tidak tega melihat sahabatnya sudah kelelahan dibawah terik matahari, meskipun itu masih tergolong pagi tapi karena berada di pinggir jalan sudah terasa sangat panas


"gimana?" tanya Natalia


"ya udah untuk kali aku ikut" ucap Alin yang kemudian mengikuti Jimmy menuju mobil


Jimmy membukakan pintu untuk Natali agar dia duduk di depan, yang artinya Alin akan duduk dengan Alan. Awalnya Alin ragu ragu untuk masuk tetapi setelah melihat semua sudah berada dalam mobil apalagi hari yang bertambah siang dak akhirnya masuk ke dalam mobil untuk mempercepat dirinya sampai ke universitas


suasana menjadi sangat canggung dan hening, di tambah dengan ekspresi Alan yang tak menggambarkan ekspresi apapun, wajah datar yang dingin seakan akan terlalu dinginnya mampu menusuk ke tulang tulang mereka.


tak ada yang memulai percakapan semua diam selama mobil itu melaju, Alin sama sekali tak melihat kearah Alan begitupun dengan Alan, mereka berdua sama sama membuang pandangan mereka keluar jendela.


jarak antara dia dan Alin sangat jauh seakan akan ada dinding penghalang yang menghalangi jarak antara mereka berdua


"Alan gimana sih? sudah aku kasih kesempatan untuk bicara sama Alin malah ga ngomong sama sekali" ucap Jimmy dalam hatinya


*beberapa saat sebelumnya*


mobil itu melaju menuju kantor, Alan yang bingung bagaimana cara mendapatkan Alin berfikir keras untuk mendapatkannya


"Alan kamu kenapa?" tanya Jimmy yang sedang mengendarai mobil ketika dia melihat Alan yang murung semenjak keluar dari villa


"Aku kurang apa ya Jim? Sampek Alin saja tidak mau memandang ku" ucapnya


"jadi kamu bener bener tertarik sama dia?" tanya jimmy


"aku tidak tau, aku selalu bingung dengan diriku, ketika melihat dia dekar dengan orang lain, rasanya aku sesak sampai emosi ku tak terkendali" penuturan Alan


"Alan yang biasanya dingin dan selalu berkuasa, saat dia sudah mulai tergerak hatinya oleh seorang wanita, ternyata dia mempunyai sisi lemah juga" ucapnya di dalam hati


"ah iya iya, aku mendengarkan"


Alan terus menceritakan kejadian semalam pada Jimmy, kejadian dimana Alin bahkan tidak mau menerima Alan, menceritakan Alin yang langsung pergi ketika meminta dia untuk tanda tangan kontrak dengannya dan juga menceritakan dimana dia melihat Jordan dengan mesranya mencium Alin bahkan Alin pun terlihat seperti menikmati ciuman tersebut.


"ya karena Jordan tau bagaimana memenangkan hati seorang wanita, tidak seperti kamu" ledek Jimmy


Jimmy tertawa sedangkan Alan memandang Jimmy yang terus menertawakannya.


"masih belum puas meledekku?" tanya Alan yang risih terus diledek oleh Jimmy


mobil terus melaju dan seketika itu Jimmy melihat Alin dan Natalia yang sedang jalan kaki


"bagaimana kalau aku kasih kamu kesempatan untuk deketin wanita cantik didepan sana" ucap Jimmy


"jangan ngaco" jawab Alan yang tidak tau wanita siapa yang dimaksud jimmy


"liat dulu siapa wanita yang di depan" ucap Jimmy yang sudah memelankan mobilnya


setelah itu Alan mangalih kan pandangannya ke depan dan langsung tertuju pada wanita yang terlihat sangat anggun yaitu Alin .


"gimana ide ku?" tanya Jimmy


dan Alan tidak menjawab pertanyaan Jimmy yang mengartikan bahwa dia setuju dan Jimmy pun langsung menghentikan mobilnya didekat Alin dan Natalia. mereka berhenti ketika melihat mobil itu berhenti didekat mereka. Jimmy membuka kaca jendelanya untuk Alan tapi Alan malah tidak menoleh dan bahkan tidak mengajak Alin masuk kedalam mobil yang membuat Jimmy yang harus tangan lagi dan Alin akhirnya setuju


*gerbang masuk universitas*


setelah perjalanan yang menegangkan akhirnya sampai juga di universitas, selama perjalanan tidak ada yang bicara sepatah katapun yang membuat suasana menjadi hening


Alin dan Natalia turun dari mobil ketika Jimmy menghentikan mobilnya


"makasih ya Jimmy" ucap mereka berdua bahkan mengabaikan keberadaan Alan


"iya sama sama" jawab Jimmy yang merasa akan ada bahaya setelah tidak ada mereka


setelah melihat mereka berdua masuk, mobil itupun mulai melaju. pandangan Alan pada Jimmy seakan akan ingin mencabik cabiknya


"Alan kamu gimana sih, aku sudah kasih kesempatan... kamu malah tidak bicara satu patah katapun" ucap Jimmy sedikit kesal pada Alan


sedangkan Alan terus memandangnya dengan tatapan tajam yang dingin ketika Jimmy meliriknya dari kaca mobil membuat dirinya menelan ludah


"siapa yang menyuruhmu memegang tangannya" ucap Alan


"hah?" jawab Jimmy yang bingung dengan apa yang Alan katakan


"siapa yang mengijinkan mu memegang tangannya?" ucap Alan sekali lagi dengan tegas


"ya ampun Alan marah gara gara aku memegang tangannya, dia benar benar sudah jatuh cinta" bisiknya didalam hati sambil cekikikan


"apa yang kamu tertawakan. fokus pada jalanmu" ucap Alan kesal


"ok ok serius" ucap Jimmy


"gini ya lan, ketika kamu mengejar seorang wanita, kamu benar benar tulus. kalau kamu cuma diem aja kayak tadi, setan pun tidak akan mengerti apa maksud kamu. hhha" ledek Jimmy. Alan hanya diam mendengarkan sang Playboy memberinya solusi


"dan juga, simpan ke angkuhan mu itu, wanita paling tidak suka dengan lelaki yang dingin sepertimu. tunjukkan sisi lembut mu, beri dia rasa nyaman kehangatan bahkan sikap dihargai oleh seseorang akan sangat penting baginya" ucap Jimmy Sangat serius


sedangkan Alan yang tidak pernah melakukan hal itu merasa apa yang dikatakan Jimmy ada benarnya hanya saja dia tidak terbiasa melakukan hal itu, karena selama ini dia tidak pernah mengejar bahkan dirinya lah yang selalu di kejar oleh banyaknya perempuan. jadi untuk pertama kalinya tidak akan mudah untuknya


Alan terus memikirkannya dengan serius apa yang akan di lakukannya pada Alin sehingga dia bisa menerimanya dan melupakan Jordan, kenangan kemarin malam masih sangat di ingat olehnya. emosinya masih belum reda. saat melihat Alin dia teringat penolakannya dan teringat kemesraan nya dengan Jordan


"sial" gumamnya


mobil itu terus melaju meninggalkan universitas untuk menuju kantornya