Last Night With You

Last Night With You
Bab 33



malam malam berlalu.. Alin yang setiap malam harus satu kamar bahkan satu tempat tidur dengan alan. tidurnya tidak pernah damai. hampir setiap malam dia terjaga. tapi harus tetap fit karena paginya dia masih harus pergi bekerja


sudah satu minggu setelah pesta malam itu. Alin masih tak ada waktu untuk menemui ayahnya. menjadi asisten dari seorang CEO ternama banyak sekali pekerjaan yang menantinya. entah itu menemaninya rapat, menemaninya melihat proyek atau pameran dan bahkan menemui klien klien penting. Alan selalu mengajaknya, mengajarkan banyak sekali pekerjaan pekerjaan kantor. bisnis bisnis yang dapat menguntungkan atau tidak bagi perusahaan. memang benar terkadang praktek lebih berguna dari pada teori. namun tak dapat di benarkan sepenuhnya. terkadang tampa teori praktek tak dapat berjalan dengan lancar. banyak sekali pengajaran yang di ajarkan oleh alan, otaknya sudah mulai terasah disana. hingga saat ini tidak ada hal yang dapat menganggu pekerjaannya ataupun hubungannya dengan alan. hingga sampai saat ini.. hubungan bahkan pekerjaannya kembali di uji....


"Alin..pergi bersiap untuk menemani ku menemui klien penting sekarang"


"ku tunggu kamu di bawah" lanjutnya


"iya pak" jawabnya dan membereskan berkas berkas yang baru saja dia kerjakan dan juga berkas yang akan di bawanya untuk bertemu klien.


setelah membereskan semuanya alin kembali memeriksa berkasnya sudah benar atau tidak. dia tak mau membuat alan dalam masalah karena kelalaiannya


"maaf lama" ucapnya ketika masuk ke dalam mobil


"heeemm" jawab alan yang masih fokus pada laptop yang di bawanya. sementara jimmy yang juga ikut dalam pertemuan itu melambai pada alin.


"jimmy.. kamu juga ikut" sapa alin ketika menyadari keberadaan nya sementara mobil sudah mulai melaju menuju tempat tujuan


"iya" jawab jimmy


"sebenarnya klien seperti apa yang mau kita temui. sampai mereka berdua yang pergi menemuinya. bahkan alan seharian sibuk dengan laptopnya" batin alin ketika melihat ke arah alan yang tetap saja sibuk


"kita mau bertemu klien yang mana.. sampai kamu fokus seharian" ucap alin melihat ke arah alan yang terus menerus fokus


Alan tersenyum mendengar alin ternyata memperhatikan dirinya. dia menutup dan menaruh laptopnya. Alan menoleh ke arahnya


"kamu memperhatikan ku Alin?" goda alan


"bukan seperti itu... kau terlihat sangat sibuk seharian.. aku jadi penasaran klien mana yang membuat mu sampai sesibuk ini" ucap alin mengalihkan pandangan nya ketika alan menatapnya


"ehem.. ku harap kalian masih mengingat bahwa ada Aku disini" ucap jimmy memperingatkan


"aku tak mengijinkan mu penasaran pada orang lain" ucap Alan


" klien yang akan kita temui sekarang tidak jauh beda dariku. pebisnis muda yang tampan. meskipun tak seberhasil perusahaan ku. tapi di usianya yang muda mampu membuat perusahaannya yang hampir jatuh untuk bangkit kembali hanya dalam waktu yang singkat" jelas jimmy


"kenapa cerita ini terdengar familiar" batin alin melamun


"kenapa?" tanya alan ketika alin hanya diam saja.


"ah tidak... oiya siapa yang kamu maksud itu?" tanya alin penasaran


"nanti kamu tau" ucap alan dan mobil pun terus melaju menuju tempat yang sudah di janjikan


setelah beberapa menit mobil itu berhenti di sebuah restoran yang dulunya sering alin kunjungi dengan seseorang ketika masa masa sekolahnya. Alin terdiam ketika turun dari mobil.


"kenapa?" tanya alan


"ayo masuk" ajak alan padanya. Alin hanya menghembuskan nafasnya dan mengikuti langkah alan dan jimmy yang mulai masuk ke dalam restoran


" maaf sudah membuat anda menunggu" sapa jimmy pada dua orang pria yang sudah menunggu kedatangan mereka. Alin tak dapat melihat dengan jelas wajah pria yang satunya. pria itu membelakangi dirinya yang masih menunggu dipersilahkan untuk duduk oleh sang klien ....pria yang sangat familiar.... pikir nya


"iya tidak apa apa... mari silahkan duduk" ucap seseorang yang membalas sapaan dari jimmy. terlihat dia seperti asistennya, mereka bertiga duduk. ketika alin medapatkan tempat duduk dimana dirinya berhadapan dengan pria yang membuat dirinya merasa sangat familiar. mata mereka bertemu satu sama lain


keduanya terbelalak melihat pemandangan di masing masing mata mereka.


"Alin" sapa pria itu


"kau... Reno"


Reno: pria tampan dan mapan... putra tunggal dari keluarga sanjaya... teman yang tumbuh bersama sewaktu kecil membuat alin menyukainya... mereka saling menyukai tapi karena rasa malu tak ada satupun dari mereka pernah mengungkap kan apa yang ada di hati mereka masing masing. sampai akhirnya keluarga sanjaya hampir jatuh bangkrut beberapa tahun yang lalu. membuat keluarganya pindah ke luar negeri untuk memperbaiki bisnis mereka. dan semenjak saat itulah alin tak pernah lagi mendengar kabar darinya.


" kalian saling kenal?" tanya jimmy ketika melihat ekspresi keduanya dan Alin hanya mengangguk dan terus memandangnya


"ya... kita saling kenal.. kita dulu sangat dekat" jelas reno yang juga terus memandang pada sosok alin di hadapannya


"saling kenal? dekat? bukannya presedir reno baru kembali dari luar negeri bagaimana bisa dekat dengan alin?" tanya jimmy ikut penasaran


"kami pernah tumbuh bersama" ucap reno singkat dan terus memandang alin yang saat itu alin juga masih memandang ke arahnya. seakan akan dia masih tidak percaya. pria yang dulu di tunggu tunggu kabarnya dan sekarang dia sendiri muncul di hadapannya


Alan yang terus memperhatiakan mereka


tak menyukai cara reno memandang alin dengan penuh harapan dan kerinduan di matanya. Alan tidak tau apa hubungan antara mereka yang dia tau saat itu dia tidak lagi berminat untuk melakukan bisnis disana


"ok kita bicarakan nanti.. sekarang kita bahas dulu masalah kerja sama kita" ucap jimmy mencoba mencairkan suasana yang mulai tegang karena ekspresi alan yang sangat dingin saat itu.


mereka akhirnya mulai membicarakan bisnis di antara mereka. tak ada satupun di antara mereka yang fokus pada kerja samanya. hanya jimmy dan asisten presedir reno yang saat itu fokus pada tujuan mereka. sedang kan alin dan reno yang terus menerus mencuri pandang satu sama lain membuat alan semakin membenci keadaan itu. Alan tak senang ketika melihat alin juga sekali kali melirik ke arah reno


"sial" batin alan dengan mengepalkan tangannya dengan erat


selang beberapa jam alan menghentikan pertemuan mereka dan jimmy meminta untuk mendiskusikannya lain waktu. Alan segera pamit untuk pergi


"Alin tunggu" ucap reno meraih tangan alin


"reno?" gumam alin


"nanti malam kamu ada waktu?" tanyanya


"nanti malam? kenapa?" tanya alin penasaran


"tidak ada apa apa.. aku ingin mengajak mu makan malam.. kita sudah lama tidak bertemu. tidak kah kamu ingin mengobrol denganku walau itu hanya sesaat " ucapnya