
brak...
suara membanting pintu yang begitu keras. alan tergesa gesa masuk dan menuju kamar mandi. ketika sampai dia mendapati alin sudah tergeletak tak berdaya berendam di bak mandi
"Alin" ucap Alan yang terlihat sangat panik begitu melihat keadaan Alin yang begitu pucat bagaikan seorang mayat. entah sudah berapa lama dia berendam di dalam air itu. bahkan jari jari tangan dan kakinya banyak kerutan yang di sebabkan oleh air
"panggil dokter secepatnya " ucap alan dan langsung mengangkat tubuh alin
"bibi mai. bantu dia ganti baju.. cepat" ucap alan begitu panik dengan keadaan alin. Alan menaruh tubuh alin di sofa di dalam kamar itu. dia pun keluar diganti bibi mai yang membantu alin mengganti bajunya
setelah selesai... dokter pun masuk memeriksa kondisi alin. entah sudah berapa lama alan mondar mandir didepan pintu kamar alin. dokter yang di tunggu sudah hampir setengah jam di dalam kamarnya tapi tak kunjung keluar juga
"kenapa dokter ini lama sekali " gumam alan
setelah beberapa menit dokter keluar dari kamar itu. dan alan langsung menghampirinya
"bagaimana dok?" tanya alan
"dia tidak makan seharian dan berendam berjam jam. itu membuat dirinya demam... tapi dia sudah sadar. sebaiknya disuruh istirahat saja" ucap dokter itu
"baik dok terimakasih"
"jangan lupa obat yang saya berikan. dan sekarang saya ijin pamit" ucap dokter itu dan pergi dari hadapan alan yang di ikuti oleh bibi mai
tanpa berpikir panjang lagi. Alan pergi menemui alin yang terlihat sangat pucat.
"bagaimana keadaan kamu?" tanya alan yang sudah berada di samping tempat tidurnya
namun alin tak menggubris pertanyaan itu, selain dirinya masih lemah. dia juga masih tidak mau bicara dengan alan
Alan mencoba bersabar. biar bagaimana pun dialah yang membuat dia menjadi seperti ini. dan dia juga merasa alin masih marah dengan kata kata yang ia lontarkan padanya tadi pagi
"kamu... makan dulu ya... abis itu minum obat " ucap alan dan mengambil makanan yang sudah di antarkan oleh bibi mai
Alan yang sedari tadi berdiri dia mendekati alin dan duduk di sampingnya. ketika dia hendak menyuapi alin. Alin berpaling darinya
"kenapa? kamu tidak suka sama makanannya? kalau gitu biar aku suruh bibi mai untuk menggantinya" ucap alan dan hendak bangkit untuk menemui bibi mai
"tidak usah. aku ngantuk mau tidur " ucap alin yang terdengar dingin yang kemudian menarik selimutnya dan membelakangi diri alan
Alan tak bisa menjawab apa apa. dia terdiam beku berdiri disampingnya
"apa dia masih marah?" ucapnya di dalam hati
"Apa kata kata ku terlalu kasar padanya?" lanjut alan
"apa yang harus aku lakukan?"
Alan yang merasa sangat menyesal dengan perbuatannya tadi pagi. dia ingin sekali meminta maaf. tapi karena gengsinya dia menjadi ragu ragu mengatakannya
ketika dia berpikir cincin yang di kenakan alin dia merasa bukan sepenuhnya kesalahan dirinya. Alan menghela nafas
"yaudah kamu istirahat yang baik" ucap alan. dia mengelus kepala alin seperti anak kecil dan pergi dari kamar itu
tuuuut....
"hallo jimmy?"
Natalia khawatir dengan keadaan alin yang di bawa oleh alan dengan keadaannya yang sangat marah
"ada apa natalia?" tanya suara di balik telepon itu
"dia sama alan?" tanya jimmy
"iya jimmy. tadi malam alan membawa alin dari sini dengan keadaannyayang sangat marah. makanya aku khawatir" ucap natalia yang terdengar sangat jelas kekhawatirannya
"ok baik. sekarang aku pergi ke villa nya alan dulu. kamu diam dirumah jangan kemana mana.. ok?" ucap jimmy membuat wajah natalia memerah dengan perhatian yang di tunjukkan jimmy
"hallo nat... apa kamu masih disana?" tanya jimmy ketika tak mendengar lagi suara natalia
"aaa eeh... iya iya jimmy" balas natalia setelah tersadar dari lamunan nya
"ya udah aku tutup teleponnya dulu " ucap jimmy dan langsung memutuskan panggilannya
Natalia masih saja tidak tenang. meskipun jimmy sudah membantunya mencari tau keadaan alin. bagi dia alin bukan hanya sahabatnya saja. namun dia juga menganggap sebagai adiknya sendiri. dan hanya alin lah satu satunya orang terdekatnya di negara orang ini
sudah dua malam alin masih tak pulang kerumahnya bahkan tak memberi kabar apapun padanya. ini sudah sangat larut apa alin masih tak akan pulang? natalia sangat mengkhawatirkan nya dan terus menunggu kabar dari jimmy
*Villa Alan jackson*
"kenapa alin bisa seperti ini?" tanya jimmy ketika sampai di villa alan
"ceritanya panjang.. kamu kenapa malam malam kesini?" tanya alan penasaran
"aku kesini karena natalia khawatir dengan keadaan alin makanya aku bergegas pergi kesini " jelas jimmy
"bilang sama natalia kalau alin tidak apa apa. jangan membuat dia khawatir" ucap alan
"iya alan " jawab jimmy dan beranjak pergi untuk menghubungi natalia
jimmy mencoba menghubungi nataliadan panggilannya tersambung
"hallo natalia"
"bagaimana jimmy?" tanya natalia masih saja terdengar sangat khawatir
"kamu jangan khawatir. dia baik baik saja sekarang" ucap jimmy
"syukurlah... apa dia akan pulang sekarang?" tanya natalia
"dia sudah tertidur. jadi untuk malam ini dia masih tidak bisa pulang " ucap jimmy yang masih terus membohongi natalia
"maafkan aku natalia" gumamnya di dalam hatinya
"ooooh ok... kalau begitu aku tutup dulu" ucapnya dan panggilan itu terputus
jimmy menghela nafasnya dalam dalam. akhirnya dia bisa membuat natalia percaya. meskipun biasanya dia tidak akan merasa bersalah karena berbohong dengan keadaan seseorang. entah apa yang terjadi padanya sehingga dia merasa bersalah karena telah membohongi natalia
"mungkin aku hanya terlalu peduli padanya " ucapnya dan pergi menemui alan
ketika jimmy menuju tempat dimana awalnya dia dengan alan. saat dia kembali jimmy tak melihat lagi keberadaan alan
"dimana alan? bukannya dia tadi disini " ucapnya bingung ketika melihat sekeliling balkon itu sudah tidak ada orang lagi selain dirinya
Saat melewati kamar alin. pintu yang sedikit terbuka itu terlihat dari luar alan menemani alin di sampingnya yang sudah tertidur pulas. terlihat oleh mata jimmy. pandangan hangat yang terlihat saat itu. pandangan begitu penuh dengan kekhawatiran dan pandangan yang sangat jelas bahwa dia sangat peduli. jimmy mengamatinya dari luar kamar. masih melihat pandangan yang sangat langka. sahabat yang terkenal kejam dan dingin ternyata dia juga mempunyai sisi lembut dan kehangatan
"memang benar. ketika sudah mulai jatuh cinta. hati yang bagaikan es batu, dingin dan keras .. suatu hari ketika terkena sedikit dinar yang dapat menghangatkan.. es sekeras apapun itu pada akhirnya akan meleleh. begitupun hati seorang manusia. hatinya akan luluh dan penuh kehangatan ketika sudah menemukan cahaya di dalam hatinya" ucap jimmy di dalam hatinya
jimmy tersenyum bahagia...akhirnya sahabatnya dari kecil itu sudah bisa luluh oleh seorang wanita.