
keesokan harinya ketika matahari tengah malu malu menampakkan sinarnya. Alan sudah terlebih dahulu bangun dari tidurnya. dia melihat Alin yang masih terlelap di balik selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.
Alan memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. selang beberapa menit Alin mendengar gemericik air yang mengalir dari shower.
"Dia sudah bangun?" gumamnya yang masih setengah sadar mengumpulkan kesadarannya.
beberapa saat Alan sudah keluar dari dalam kamar mandi. dengan pakaian yang sudah rapi. dan wajah yang terlihat segar di pagi hari sangat cocok untuk sarapan mata pagi pagi dengan dingin yang menusuk ini. batin Alin
Alan melihat Alin yang sudah bersandar di bahu tempat tidurnya.
"kau sudah bangun?" Tanyanya
"Hemm.. apa kau akan ke kantor?" Tanya alin membuyarkan lamunannya
"Iya.. ada beberapa hal yang harus aku tangani" jawabnya ketika menghampiri Alin dan duduk di sampingnya.
"sana mandi. kakak sudah menunggu di bawah untuk sarapan" ucapnya membelai kepala Alin.
"Males.. dingin" tolaknya singkat
"kau bau. apa benar kamu tidak mau mandi" Goda Alan
"kau..." teriak alin. "siapa yang bau.. aku harum kok meskipun tidak mandi" imbuhnya dengan percaya diri
"wah sepertinya kau sudah sembuh..." senyum licik mengembang di bibirnya. "Apa aku harus menghukum mu sekarang?" Goda Alin yang sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Alin.
"ah tidak tidak. aku masih demam" ucapnya cepat memalingkan wajahnya karena malu.
"ya sudah cepat mandi. aku sudah menyiapkan Air hangat untuk mu" ucap Alan dan berlalu keluar kamar meninggalkan Alin yang masih mematung.
Alin bergegas masuk ke dalam kamar mandi. membersihkan dirinya yang lengket dengan keringat. Setelah hampir satu jam Alin baru selesai dengan bertapanya yang bergelut dengan dirinya sendiri.
karena sebelumnya Alan melarangnya untuk pergi ke kantor Alin sudah mengenakan pakaian santai yang cukup tebal yang mampu menghangatkan badannya. mereka bertiga sudah berkumpul di meja makan dan menikmati makanan mereka masing masing.
Setelah selesai sarapan Alan pamit pada kakaknya dan Alin untuk pergi ke kantor.
"Jangan lupa obatnya di minum" ucap Alan setelah mencium kening Alin dan berlalu meninggalkannya
kini di villa yang sangat besar itu hanya tertinggal mereka berdua dan para pelayannya yang sibuk pada pekerjaan mereka masing masing.
Alin dan Rena memilih bersantai di ruang tamu dengan menonton tv. meskipun sebenarnya kepalanya masih pening. Alin tetap memilih untuk menemani kakaknya yang baru dua hari di negaranya. suasana tak terlalu membosankan. karena di tengah tengah fokusnya saat menonton tv mereka sesekali mengobrol dan bercerita hingga beberapa kali terdengar tawa di antara mereka berdua. tidak lupa pula dengan beberapa makanan ringan dan minuman yang sudah di sajikan pelayan untuk melengkapi obrolan mereka
"permisi nona" ucapnya pada dua nona penting di villa itu
"ada apa?" Tanya Rena dan Alin yang menunggu jawaban penjaga tersebut
"di luar ada nona aurel yang ingin bertemu nona besar" ucapnya
"Aurel?" kata Rena seperti terlihat sedang berpikir
penjaga masih menunggu jawaban dari majikannya.
"Aurel?" gumam Alin dan melirik pada Rena yang secara bersamaan juga melirik ke arahnya.
Namanya seperti tidak asing. Aurel?. batin Alin
"Biarkan dia masuk" akhirnya Rena memilih untuk membiarkannya masuk. dan melihat siapa Orang yang bernama aurel tersebut. yang kemudian penjaga tersebut berlalu meninggalkan mereka berdua .
Saat di tengah rasa penasaran mereka. terdengar suara langkah kaki yang sepertinya sangat anggun dengan suara langkah yang terdengar.
"Kak Rena" Panggil pemilik langkah kaki tersebut. Alin dan Rena yang tadinya tengah melihat ke arah tv menolehkan pandangannya pada pemilik suara tersebut.
terlihat wajah Aurel yang sangat cantik dengan senyuman yang mengembang di wajahnya saat melihat ke arah Rena.
Namun senyumannya berubah masam ketika melihat ke arah pemilik wajah di samping Rena yang membuatnya sangat jengkel.
ngapain wanita sialan ini disini. batinnya tidak suka yang juga terbaca sangat jelas di wajahnya
Aurel?.. oooo iya. dia kan wanita di perjamuan bulan lalu. batin Alin saat menyadari wajah yang hanya berjarak beberapa meter itu darinya.
"Oh Aurel. ternyata kamu" Rena berdiri ketika mengingat siapa yang datang. siapa yang tidak kenal Aurel? model top yang sangat terkenal. pikir Rena. meskipun sebenarnya dia sendiri tidak terlalu suka dengan kehadirannya di tengah tengah asyiknya bersama Alin yang malah terganggu olehnya tapi mau bagaimana lagi? yang namanya tamu tetap harus di hormati. begitulah pikir Rena.
"Iya kak" Jawab Aurel dan berjalan menuju arah Rena dan melakukan cipika cipiki sebelum memeluknya.
**♡♡♡ Hai Reader ♡♡♡
maaf banget karena akhir akhir ini author lelet upnya. karena acara author sudah semakin dekat. author harus mempersiapkan segalanya. jadi bisa dibilang semakin sibuk. tapi author akan tetap up sesekali ketika ada waktu. meskipun tidak tiap hari tapi ya.
sebagai gantinya author akan berikan beberapa visual visual dari karakter tokoh.
tetap setia menunggu ya Reader. dan tetap like komen vote dan tambah favorite yaaa. biar tambah semangat upnya meskipun di tengah tengah kesibukan😊**