Last Night With You

Last Night With You
Bab 22



hari sudah pagi, sinar mentari mulai masuk ke dalam kamar yang sangat luas itu. Alan membuka matanya. Melihat ke samping dirinya dan mendapati wanita semalam sudah tidak ada di dekatnya


"kemana wanita itu pergi?" batinnya dan segera bangun dari tempat tidurnya


disisi lain alin yang semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak, masih sangat pagi sekali dia bangun dari tempat tidurnya. membantu bibi mai mempersiapkan sarapan pagi untuk semua yang ada di dalam villa tersebut


"Aku bawakan makanan dulu ke atas untuk alan" ucap Alin


"iya nona" jawab bibi mai


Alin pun membawa makanannya untuk alan. melangkah pergi dari dapur menuju kamar alan. biar bagaimana pun, alan pernah menolongnya


tok tok tok


"Aku masuk" ucap alin ketika sudah sampai di depan kamar alan


"sarapan dulu" ucap alin ketika melihat alan sepertinya baru saja selesai ganti baju dan melangkah menghampirinya


tepat pada waktu itu ketika ia melihat alin yang sedang mendekat padanya dengan membawa makanan di tangannya. dia baru saja menyadari akan satu hal. dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. raut wajah yang tadinya terukir senyuman melihat wanita yang mulai ia sukai begitu memperhatikannya seketika itu berubah kembali menjadi kebencian. raut wajahnya kembali menggambarkan akan kemarahan yang tak terbayangkan. wajah dingin itu terpasang lagi di mukanya


"kenapa ekspresinya berubah lagi?" batin alin ketika sampai di hadapan pria itu


"sarapan dulu ya" ucap alin padanya


"wanita ini. apa yang sebenarnya dia pikir kan" batin alan ketika melihat wajah alin yang seolah olah merasa dirinya tak bersalah


Melihat alinyang begitu tenang nya memakai cincin di jarinya membuat alan semakin muak dan tiba tiba.........


PRAAAAANNNGGG.......


makanan yang di bawa alin di banting sekuat tenaga oleh alan. dia sangat benci keadaan itu.


sedangkan Alin tak tau dimana lagi letak kesalahan nya sehingga membuat pria di depannya kembali tak terkontrol. Alin kaget setengah mati dengan perbuatan Alan


"kamu..... kenapa?" tanya alin gugup. takut dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh alan


"apa maksudnya ini?" tanya alan


"kamu bilang tidak akan menerimanya" lanjutnya dan meraih dengan kasar tangan alin yang di jari manisnya melingkar cincin yang sangat indah


"lalu.. apa ini maksudnya?" tanyanya kembali


"gawat.... aku lupa melepasnya" batin alin yang sudah tidak tau harus menjawab bagaimana lagi. dengan susah payah dia membujuknya semalam. kini pria ini sekali lagi sangat marah padanya


"kenapa tidak menjawab (bentaknya) masih bingung mau cari alasan apa lagi?" membuat alin terkejut terkejut sekali lagi


"Aku... aku... aku bisa jelasin sama kamu" ucap alin begitu gugup dan takut melihat kemarahan alan


"mau jelasin apa lagi? cincin di tangan mu sudah cukup jelas dan nyata dari pada kebohongan yang selalu kau ucapkan" ucap alan dan langsung menghempas dengan keras tangan alin yang membuat dirinya terjatuh ke lantai


"aaawwwh"


sepertinya tangan sebelah kiri alin terkilir dengan hempasan yang begitu keras pada dirinya


"aku bisa jelasin sama kamu alan" ucap alin membela dirinya


Alan memandang rendah diri alin, melangkah mendekati tubuh yang tergeletak itu di lantai dan dia duduk jongkok meraih dagu wanita di depannya yang kemudian mengangkatnya dan mendekatkan pada wajahnya


setelah mendengarkan perkataan alan. tak satu patah katapun di ucapkan oleh alin. seakan akan air matanya lah yang mewakili dirinya, betapa memilukan nasibnya saat ini


"ada satu hal lagi... kamu sudah menjadi kekasih ku. suatu penghinaan bagiku, ketika melihat kamu memakai cincin dari pria lain" ucapnya dan bangkit dengan menarik tangan alin keluar dari kamarnya


"kamu mau membawaku kemana? Alan lepaskan aku. kamu menyakiti ku" ucap alin ketika alan mencengkeram tangannya begitu kuat dan terus menarik dirinya


"sakit? kamu masih tidak bisa merasakan sakit seperti sakit yang aku rasakan" ucap alan yang tanpa belas kasihan terus menarik tangan alin


Alan membawa alin ke kamar sebelahnya dan melempar dirinya masuk kedalam kamar tersebut. sekali lagi tubuh alin tergeletak di lantai dengan lemparan keras


"kamu renungi kesalahan mu disini. jangan pernah berpikir untuk kabur dari sini. jika kami berani untuk kabur... kamu liat saja apa yang aku lakukan dengan perusahaan ayah mu" ucap alan. begitu tegas dan serius. aura yang terpancar dalam dirinya saat ini bagaikan malaikat kematian yang begitu mengerikan. Alin terkejut dengan perkataan alan yang sedang mengancam dirinya melalui perusahaan milik ayahnya


"aku mohon jangan lakukan apa pun pada perusahaan ayahku " ucap alin yang terus menetes kan air matanya


"itu tergantung sikap mu. asal kamu tau, aku paling benci dengan wanita yang tak patuh.... jika kamu tidak mau terjadi apa apa pada perusahaan ayah mu, itu semua tergantung dari sikapmu" ucap alan dan membalik kan badannya yang hendak meninggal kan alin ditempat itu


"oiya (menghentikan langkahnya) kalau nanti ketika aku mengeluarkan mu dari sini masih melihat cincin itu melingkar di jari mu. Hemm... aku tidak akan segan lagi melakukan hal yang akan membuat mu menyesal nantinya" ucap alan


"baik baik lah disini " sekali lagi dan melangkah keluar dari kamar itu


ketika alan menutup pintu. terdengar suara pintu yang di kunci dari luar...


"dia benar benar mengurung ku" ucap alin dengan tubuh yang bergetar dan air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya


kata kata yang begitu menyakitkan bagi dirinya terus terngiang sangat jelas di telinganya


"kenapa harus aku?" ucap alin yang masih tak bangkit dari duduknya di lantai.


*malam hari*


Malam yang begitu tenang. tapi perasaan masih kacau balau. Alan sudah seharian berada di ruang bacanya, terus mengingat kejadian kemarin malam yang membuat dirinya tak bisa memulihkan emosinya


brak.....


"wanita sialan" ucapnya setelah memukul kan tangannya di meja


"apa yang dia lakukan sekarang?" pikirnya yang masih tak bisa berfikir jernih. Alan terus memikirkan Alin. merenung memikirkan semua hal tentangnya


" gawat tuan " seketika bibi mai langsung menerobos masuk ke dalam ruang baca milik alan. entah hal apa yang terjadi sehingga membuat bibi mai yang tak pernah berani menerobos begitu saja sampai membuatnya berani melakukan itu


Alan mengernyitkan dahinya


"ada apa bibi mai?"


"nona... nona .. nona alin... dia.." ucap bibi mai begitu tergesa gesa sampai begitu gugup mengucapkannya


ketika bibi mai menyebutkan nama alin dia langsung berdiri dan bergegas mendekati bibi mai


"kenapa dengan nona?" tanya alan panik dengan ucapan bibi mai yang belum selesai itu


"itu tuan... nona pingsan di bak mandi "


Alan langsung lari... bergegas menuju kamar alin ketika mendengar penjelasan bibi mai


"jangan sampai terjadi apa apa padamu" batin alan