
hari mulai gelap, Alin terus menyusuri jalanan di pinggir kota. Air matanya terus mengalir tanpa henti membuat matanya bengkak dan wajah putih itu menjadi merah
sudah hampir 2 jam Alin jalan kaki, pada akhirnya dia sudah tidak kuat lagi untuk terus melanjutkan langkahnya dan memutuskan untuk duduk di kursi pinggir jalan. dia benar benar merasa terpuruk. meratapi nasibnya yang selalu berfikir tuhan tak adil padanya karena dia sudah merebut segalanya dari dirinya
"kenapa harus aku" gumamnya
Alin terus terisak, air matanya tak henti hentinya mengalir di pipinya, cukup lama Alin berdiam di kursi itu sampai akhirnya ada sebuah mobil yang berhenti di depannya, dia melihat seorang pria turun dari mobil itu
"Alin, kamu ngapain disini sendirian" suara pria yang terdengar sangat akrab, ketika Alin mengangkat wajahnya dia mengenali wajah pria tersebut
"Jordan" ucap Alin yang hampir tak terdengar suaranya
"kamu kenapa?" ucap Jordan yang langsung duduk melihat keadaan Alin membuat dirinya khawatir
Alin tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala dengan air matanya yang terus mengalir, dia tak tau apa yang harus ia ucapkan pada Jordan.
Jordan langsung memeluk Alin dengan lembut, untuk sesaat memberi kehangatan pada dirinya, memberi rasa tenang seakan akan dia terlindungi didalam pelukan itu, Alin mengikuti pelukan dari Jordan
"biarkan hanya sesaat, hanya sebentar saja aku memelukmu Jordan" ucap Alin didalam hatinya yang membuat dirinya lebih tenang dari sebelumnya
"Kalau ada apa apa kamu cerita ke aku" ucap Jordan yang lembut, tangannya membelai rambut panjang yang sedang berada di pelukannya. wajah yang biasanya memberikan kesan indah pada Jordan yang memberikan semangat ketika memandang nya. melihat Alin yang saat ini seperti duri yang menusuk dirinya. membuat dirinya sakit ketika melihat bunga itu layu
Alan melepaskan pelukannya dan menyeka air mata yang mengalir dipipi Alin.
"kamu cantik, tapi jelek kalau lagi nangis" Jordan menghibur Alin, dengan tingkah Jordan, Alin mulai tersenyum walau terlihat sangat di paksa
"ayolah jangan nangis, sumpah kamu kayak anak kecil yang tidak di kasih permen" ledeknya
Alin memukul Jordan
"aku bukan anak kecil" bantahnya
"ya jangan nangis" bujuk Jordan
"iya iya aku ga nangis😊😊" dengan menebarkan senyuman lebar pada pria di depannya
"sekarang kamu cerita ke aku"
"apa?" pura pura tak mengerti
"kamu kenapa, malam malam nangis sendirian disini" tanya Jordan serius
"eee.. aku.. aku habis jalan jalan, terus teringat ayah dirumah" mencoba untuk meyakinkan Jordan
"serius?" tanyanya
"dua rius malah✌️😁" godanya yang membuat Jordan menarik hidung Alin
Alin sudah mulai membaik sejak Jordan datang, perasaan yang di bawanya terhadap Alin, mampu mengubah suasana hatinya
"seandainya malam itu tidak pernah terjadi" pikir Alin ketika melihat tingkah Jordan yang terus menghiburnya
melihat Alin sudah terlihat tidak apa apa, Jordan menjadi lega membuat tangannya perlahan memegang tangan Alin, wanita yang didepannya dengan segala keindahannya membuat dia tak ingin melepaskan nya.
pandang mereka bertemu satu sama lain mengartikan segala kelembutan, hingga secara perlahan wajah Jordan mendekat pada Alin, sampai nafas yang dalam dan gelisah dapat ia rasakan, Jordan perlahan mencium bibir, menciumnya dengan sangat lembut, seakan akan tak ingin menyakiti wanita di hadapannya. Jordan benar benar memberikan kehangatan pada Alin. Alin mengikuti ciuman yang diberikan Jordan, mengikuti setiap gerakan bibir Jordan yang lembut... ciuman itu terjadi cukup lama dan Alin merasakan tangan Jordan melingkar di tubunya. seandainya waktu bisa berhenti saat dia berada disisi Jordan, melambatkan waktu supaya bisa terus berada di dekatnya lama lama
*tempat lain*
tepat setelah Jordan baru mencium Alin, Alan yang bergegas mencar Alin tiba di mana ciuman itu berlangsung, dia semakin marah melihat suasana di pandangan matanya. Matanya memerah di penuhi kebencian, benci pada dua manusia di pandangan nya..
wajah yang penuh emosi seakan akan mampu menghancurkan segalanya
"kembali ke villa" ucap Alan gemetar
"iya tuan" jawab supirnya
Mobil Alan melewati dua manusia yang sedang bercinta itu
apa apaan ini, demi dia aku keburu mengejar dan mencarinya... tapi apa? haaiissh dia malah berciuman dengan keponakan ku" gumam Alan
Semenjak Alin keluar dari villa, Alan sangat marah dan dia hanya melihat Alin yang pergi menjauh dari villa dari jendela kamarnya diatas sampai akhirnya tubuh Alin menghilang dari pandangannya
sekitar 30 menit dia hanya berdiam dan pada akhirnya memutuskan untuk mencari Alin, namun karena malam yang sangat gelap dan banyak berlawanan arah yang dituju Alan baru menemukan Alin di tepi jalan saat itu yang sudah berada diciuman pria lain
"wanita itu milikku .. dan aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhnya" ucap Alan yang sedang mengepalkan tangannya
*dipinggir jalan*
setelah selesai mereka berdua saling menatap dengan penuh kasih
"mungkin bahagia ini hanya sementara" pikir Alin
Alin hanya mengangguk dan Jordan menuntunnya kedalam mobil
selama di perjalanan Alin terus memandang Jordan
"kenapa aku tidak bertemu kamu sebelumnya.. kenapa pria malam itu bukan kamu.. kenapa harus paman kamu sendiri" bisik Alin didalam hatinya
"aku harus bagaimana setelah ini Jordan? , haruskan aku menjauhi mu.. jika tidak, apa yang akan kamu pikirkan tengtangku setelah kamu tau.. aku pernah tidur dengan pamanmu" bisiknya sekali lagi
Alin terus memandang wajah yang sejuk itu, wajah yang memberinya kehangatan dan kedamaian
"aku tampan ya" ucap Jordan tersenyum ketika menyadari Alin terus memandangnya
"PD banget kamu ya" ucap Alin menyangkal
dan Jordan semakin tersenyum melihat Alin
*Villa Alan Jackson*
ketika sudah sampai di villanya Alan langsung masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya
"hallo Jimmy... aku mau kamu cari kelemahan dari Alin"
"ya secepatnya" ucap Alan dan langsung mematikan ponselnya
"kenapa aku jadi sangat terobsesi dengan dia" ucap Alan ketika sudah membaringkan tubuhnya
"cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku" ucap Alan ketika mengambil foto Alin dari bawah bantalnya dan mulai memejamkan matanya dengan memegang foto Alin membawanya tidur ke dalam dunia mimpinya.
saat itu sudah jam 10 malam, Natalia dirumah sedikit khawatir pada Alin. meskipun sebelumnya Jimmy sudah bilang Alin akan baik baik saja dengan Alan, tapi yang namanya sahabat dan merupakan satu satunya keluarganya di negara ini, dia tetap saja khawatir apalagi Alin tidak memberinya kabar.
beberapa saat kemudian Natalia mendengar mobil berhenti di depan rumahnya
"itu pasti Alin" ucapnya dan bergegas membuka pintu
dia pikir Alin akan di antar oleh Alan atasan Jimmy, tapi tidak di sangka dia pulang dengan Jordan
"loh? kenapa bisa begini" ucap Natalia yang bingung melihatnya. Natalia langsung nyamperin Alin
"Alin... kok kamu pulangnya bareng Jordan?" tanya Natalia yang bingung dari tadi
"tadi Alin lagi jalan sendiri terus ga sengaja ketemu aku di jalan, makanya sekalian tak anter pulang" jelas Jordan yang melihat Natalia tetap merasa bingung meskipun sudah di jelaskan
"aku pamit dulu ya.. udah malem" ucap Jordan
"terimakasih Jordan" jawab Alin
Jordan hanya mengangguk dan pergi dari rumah itu
Alin langsung masuk setelah Jordan pergi, dia merasa sangat lesu dengan kejadian hari ini
"Alin kamu kenapa, kok pulang bareng Jordan? bukannya kamu pergi dengan Alan?" tanya Natalia ketika Alin duduk di sofa
"aku tidak tau lagi Nat harus bagaimana" ucap Alin yang awalnya merasa tenang dan aman saat bersama Jordan, setelah dia pergi Alin mengingat kembali semua kejadian buruk yang dia alami. air mata yang tadinya berhenti mengalir, kini sudah tidak bisa di bendung lagi
lagi lagi dia hanya bisa memeluk sahabatnya dan menceritakan semua yang terjadi, tentang dia sudah bertemu dengan orang yang pernah tidur dengannya malam ituz tentang siapa pria itu dan apa hubungannya dengan Jordan. semua di jelaskan dengan sangat jelas oleh Alin.
ketika mendengar penuturan dari Alin, awalnya Natalia juga terkejut
"kenapa semuanya jadi sangat kebetulan seperti ini Alin?" tanya Natalia yang sedang mengelus rambut Alin yang sudah berantakan
Alin hanya menangis dan menggelengkan kepalanya
"hari ini entah apa yang terjadi pada anak ini" bisik Natalia di dalam hatinya
"aku harus bertanya pada Jimmy" ucapnya sekali lagi
Natalia merasa tidak terga pada sahabatnya, Alin adalah orang baik kenapa harus mendapat kesialan seperti ini pikirannya
"sudah sudah jangan nangis lagi, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.. kamu ikutin saja alur nya, lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. jangan sedih lagi ok" bujuk Natalia
"kamu sekarang mandi terus istirahat, kamu jangan sampai kalah hanya karena masalah ini, kamu kuat aku yakin kamu bisa menghadapi ini" ucapannya begitu lembut Alin mendengarkan nasihat sahabatnya
"kamu masih ada aku.. aku akan selalu ada buat kamu,,, jangan sedih lagi. kamu segera istirahat.. besok masih harus ke kampus"
Alin melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya yang mengalir dan tersenyum pada Natalia
"terimakasih Natalia" ucapnya kemudian pergi ke kamarnya