
saat mobilnya berhenti tepat di depan cafe . alan langsung turun dengan membanting pintu mobilnya. dengan rambut yang berantakan masih mampu menarik perhatian dari semua pandangan. wajah datar suramnya di bawah redupnya sinar rembulan. ketampanan alami memancarkan daya tarik tersendiri bagi mereka yang memandang
saat mulai memasuki cafe tersebut alan khawatir tentang apa yang di lakukan jordan dan alin di cafe yang penuh dengan suasana romantis seperti ini. Alan terus mencari dimana mereka berada. begitu ramai di tempat itu tapi tak satu pun dari mereka terlihat keberadaan alin di pandangan matanya
"sial... dimana mereka" gumamnya saat tidak menemukan keberadaan mereka
ketika sesaat dia mengalihkan pandangan nya ke arah dimana tempat khusus untuk seorang pasangan dia terbelalak ketika mendapati pemandangan yang membuat kemarahannya memuncak
lagi dan lagi dia menyaksikan pemandangan dimana wanita yang di inginkan nya berada di pelukan pria lain. terlihat alin sedang berada di pelukan jordan yang membuat matanya memerah ketika terus memandang mereka
hingga sampai akhirnya setelah pelukan yang terjadi tepat di depan matanya selesai jordan dan alin saling memandang dengan penuh perasaan. sampai akhirnya sampai ke tahap dimana jordan mulai mendekat pada wajah alin dan dengan lembut dia mencium bibir merah delima milik alin.
seketika alan langsung mengalihkan lagi pandangannya ke tempat lain dengan penuh emosi dan kebencian ketika melihat alin mengikuti gerakan bibir dari jordan
tanpa berpikir panjang dia pergi dari tempat itu. tempat itu hanya memberikan kemarahan yang mendalam padanya. dengan kecepatan tinggi entah kemana dia akan membawa dirinya yang penuh akan rasa kemarahannya
disisi lain... alin yang tengah menikmati keindahan sesaat itu masih hanyut dalam ciuman yang membuat dirinya hampir tak terkendali, setelah sadar dia secepat mungkin melepaskan ciuman dibibirnya dan bergegas meninggalkan jordan di tempat itu
"Alin tunggu.." teriaknya memanggil alin yang mulai pergi menjauh darinya tetapi alin tak menghiraukan panggilan itu dan terus berlari meninggalkan jordan sendiri
setelah merasa jauh dari tempat dimana dia pergi tadi. alin merasa jordan tidak akan menemukannya di posisinya yang sekarang. di sebuah jembatan taman yang terbentang air danau di bawahnya. Alin merasa tenang disana, dapat mencurahkan segala keresahan hati dan kegundahan yang selama ini di pendamnya sendiri.
saat itu dia tengah berdiri di atas jembatan danau di taman itu. memandangi cincin yang tengah melingkar di jarinya dan mengingat kembali momen momen indah beberapa jam yang lalu. meskipun terlihat sangat tegar sebenarnya dia adalah wanita yang sangat rapuh, yang tak sanggup memikul sendiri semua beban di pundaknya. air matanya mengalir di pipi putihnya, wajah nya memerah. perasaan yang bercampur aduk didalam hatinya. entah harus merasa bahagia atau bersedih
"Aku harus bagaimana jordan? (sambil memegang cincin di jarinya) aku sudah lama menantikan pengakuan hatimu padaku.. dan hari ini semua penantian itu terbalaskan, tapi apa arti semua ini .. jika kita bahkan tak bisa bersama" ucap alin yang hampir tak terdengar suaranya
di bawah sinar rembulan yang membentuk sebuah bayangan di tengah tengah air danau yang tenang seakan akan menemani kesedihannya saat itu
entah sudah berapa lama dia berdiri di atas jembatan itu. malam semakin larut dan perlahan rembulan yang tadinya bersinar terang.. kini mulai tertutup awan dan secara perlahan hilang lah sinar redup yang tadi menemaninya
tubuhnya sudah lelah... alin memutuskan untuk pulang.. cukup lama menunggu taxi di sekitar taman itu.. yang akhirnya masih sempat mendapatkannya
selama di perjalanan pikiran alin masih tetap pada momen momen indah yang di berikan jordan... mungkin hal itu adalah pertama dan yang terakhir kalinya, mengingat dia sudah menandatangani kontrak dengan seorang pria yang sudah merusak dan menyiksanya selama ini.. kebahagiaan seperti apa lagi yang dia impikan. alin bahkan berpikir, penderitaannya mungkin akan lebih parah dari sebelumnya...
setelah sampai didepan rumahnya. alin sadar ada sebuah mobil yang parkir tepat di depan rumahnya..
"mobil siapa malam malam parkir disini?" pikirnya yang menghentikan langkah kakinya ketika melihat sebuah mobil parkir di depan rumahnya
tapi alin tak menghiraukan hal itu.. dan melangkah masuk ke dalam rumah. terlihat Natalia sedang mondar mandir dengan khawatir menunggu kedatangan alin. setelah melihat kedatangan alin Natalia langsung menghampiri alin dengan tergesa gesa
"Alin... akhirnya kamu datang juga" ucapnya
"kamu kemana saja.. sebaiknya kamu cepat jelaskan sendiri pada alan" ucap natalia terlihat sangat khawatir
"Alan?" ucap alin bingung dengan rasa khawatir temannya
"kamu lihat disana. (sambil menunjuk ke ruang tamu.. yang di ikuti pandangan alin) Alan sudah sedari tadi nungguin kamu dengan penuh amarah, sepertinya dia sudah tau kamu keluar dengan jordan " jelas natalia
"Apa?" ucap alin terkejut dengan penuturannya. dia melihat keadaan alan yang sedang berbaring di sofa, wajahnya terlihat sangat kusut... entah apa yang baru saja terjadi padanya. di atas meja alin melihat banyak sekali botol alkohol
"kenapa dia Nat?" tanya alin
"aku ga tau kenapa.. beberapa jam yang lalu dia membawa banyak sekali botol alkohol dan memaksaku mengatakan ada apa sebenarnya antara kamu dan jordan" ucap natalia
"aku tidak tau harus menjawab apa.. sampai akhirnya dia terus meminum semua alkohol yang di bawanya" lanjut natalia
"Alin...aku khawatir.. dia masih belum sembuh.. lukanya masih basah.. aku harap kamu bisa menjaga dia dengan baik.. dia benar benar peduli sama kamu alin.. meskipun dia aku tau cara dia mengungkapkan nya ke kamu itu salah " ucap natalia sekali lagi
Alin merenungi semua nasihat dari natalia. benar.. gara gara dirinya Alan sampai terluka sangat parah. bagaimana bisa dia membuat kesalahan lagi bahkan sebelum lukanya sembuh. alin khawatir lukanya terbuka lagi... secara perlahan dia melangkahkan kakinya mendekat pada alan
Alin terus mendekat pada tubuh yang sudah tercium sangat pekat bau alkoholnya. Alin berdiri tepat di sebelah sofa. memandangi Alan yang masih terus memegang botol alkohol. saat alin hendak membangunkan dia. Alan secara perlahan membuka matanya. seakan akan dia menyadari kedatangan alin
Matanya memerah ketika melihat alin berapa tepat di depannya. kesadaran yang tadinya hilang karena alkohol yang diminumnya, kini dia kembali sadar dan mengingat semua kejadian yang membuat dirinya hilang kendali
tanpa berpikir panjang alan membanting dengan sekuat tenaga botol yang sedang di pegangnya membuat natalia dan alin yang berada di dalam ruangan itu terkejut.
"Alan lukamu masih belum dembuh" ucap alin yang saat itu tengah khawatir. Alin merasa maklum dengan sikap alan yang seperti itu. Alin berpikir itu efek dari alkohol yang di minumnya.
padahal yang sebenarnya adalah alan masih dalam keadaan sadar ketika dia mengingat kembali kejadian tentang alin dan jordan
dengan wajah datar dan dingin yang terlihat sangat jelas kebencian dan kemarahan di wajahnya. Alan terus memandangi Alin, melihat alan dengan pandangannya yang sangat mengerikan , Alin takut pria di depannya benar benar marah padanya.
tanpa berpikir panjang Alan bergegas berdiri dengan meraih tangan alin dan membawanya pergi dari sana
"Alan.. kamu mau membawaku kemana?" tanya alin ketika mengikuti langkah alan yang terus menarik dirinya
Alan membawa alin ke dalam mobil. mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi
disisi lain. natalia yang hanya menyaksikan kejadian itu tidak bisa berbuat apa apa.
"maaf kan aku alin. aku tidak bisa berbuat apa apa.. aku harap kamu akan baik baik saja" ucapnya ketika melihat mobil alan yang melaju sangat cepat