
Perlahan Alindia membuka mata, tanpa ia sadari dia sudah berada diatas kasur yang sangat empuk, disebuah ruangan gelap, dan ruangan yang tak ia kenali. dia tak melihat siapapun hanya samar samar seperti merasa dirinya berada dihotel, ia merasa tak nyaman, pusing dan sekujur tubuhnya kepanasan
Ia tak bisa bangun dari kasur empuk yang ia tiduri, perlahan Alindia membuka kancing dress yang dia pakai untuk meringankan rasa panas yang ia rasakan, tetapi itu malah semakin membuat badannya semakin merasa tak nyaman.
"Siapapun tolong aku"
Dia tak dapat mengontrol dirinya
Diruangan itu tak ada orang selain dia.
"Kepada siapa aku harus minta tolong? Aku ada dimana?" gumamnya, keringatnya lun sudah membasahi seluruh tubuhnya
Dia tak mendengar apapun didalam ruangan itu, bahkan dia tak melihat tanda-tanda siapa pemilik ruangan tersebut, dia hanya mendengar suara detak jam dinding yang ada disudut ruangan tersebut. Dia mencari suara jam dinding yang berbunyi dan melihat bahwa sekarang sudah tengah malam.
Braaak
Pintu ruangan itu terbuka, dan seorang lelaki tinggi dan tubuh yang ideal melangkah mendekatinya. Alindia tak dapat melihat dengan jelas wajah pria yang berdiri di dekat ranjang itu
"Wanita tak diundang dari mana yang berani naik ke ranjang ku?"
Suara yang enak di dengar pikir alin, tapi ini bukan saatnya memikirkan hal tersebut
"Tolong aku, aku kepanasan"
Tubuh Alin yang tak bisa menahan rasa panas ditubuhnya terus meronta memohon pertolongan, pria itu hanya diam melihat Alin yang terus meronta kepanasan
"Aku mohon tolong aku"
Rambut berantakan yang tergerai dengan dress di atas lutut yang sudah terbuka sebagin kancing di dadanya membuat mata mana saja yang melihat akan tergoda seperti pria itu seketika melihat alindia yang berbaring menjulurkan tangannya meminta tolong merasakan harsat yang tak bisa ia tahan. sehingga membuatnya langsung naik ke atas ranjang dan membuka jas yang dipakainya, Tanpa Alin sadari pria itu sudah berada di atas tubunya
"Sayang, ini kamu sendiri yang meminta" suaranya lembut menggoda pikir alin
Alin memeluk tubuh pria yang sudah tak memakai baju di atas tubuhnya itu dan merasa tubuh pria ini lumayan sejuk sehingga Alin berpikir tak ingin melepasnya
akhirnya hal itu pun terjadi. malam kelam dan untuk pertama kalinya bagi Alin
malam yang panjang itu di laluinya. sampai akhirnya keduanya telah lelah.
"Wanita cantik, ternyata dia masih perawan" gumamnya
Seketika Pria tersebut berbaring didekat tubuh Alin dan memeluknya sampai ia terlelap.
Pria itu ternyata Alan CEO dari Entertainment group yang terkenal dingin dan kejam, bahkan tak ada seorang pun yang berani menyinggung sang CEO tersebut
dengan umurnya yang masih muda, 25 tahun sudah mencapai orang paling kaya di internasional dalam mengembangkan perusahaan nya dalam waktu yang sangatlah singkat di kota T dan sekarang sedang mengadakan pembukaan cabang baru di kota S yang kebetulan dia menginap di sebuah hotel dimana Alin di jebak saat ini
Alan adalah pria dingin yang tampan dan masuk kategori suami yang di idam-idamkan oleh para wanita di seluruh dunia, tapi entah ini takdir buruk atau baik sampai Alin wanita cantik dari keluarga yang tak terlalu terpandang sampai harus berurusan dengan pria disampingnya
setelah bangun Alin merasa sakit disekujur tubuh nya, dia bangun perlahan dan dia merasa pinggang nya juga sakit
"ada apa denganku?"
Alin merasa heran dengan dirinya dan mengingat ingat kejadian semalam dimana dia sudah dijebak oleh kakak tirinya,
awalnya Alin di ajak ke sebuah restoran ternama di kota S oleh kakak tirinya, ia meminum minuman yang di pesannya lalu tak ingat lagi setelahnya, alindia terus mencoba untuk mengingat ingat lagi sampai akhirnya
aaaaaaahhh
"ini dimana?" ucapnya dalam hati sambil merasa ketakutan melihat dirinya yang sudah berantakan dan tak sadar dia juga melihat darah diatas kasur yang di tidurnya barusan
"apa yang terjadi?"
alindia memegang kepalanya dan menunduk untuk mengingat lebih jelas kejadian semalam
"pria itu?"
dia sadar bahwa semalam dia tidur dengan seorang pria yang tak ia kenal, Alin tak melihatnya dengan jelas wajah pria tersebut. saat Alin terbangun tadi dia tak melihat keberadaan pria misterius semalam diranjangnya
"kemana lelaki itu pergi?"
Alin bingung sampai ketakutan, Dia stres apa yang harus ia katakan pada ayahnya jika dia tau kelakuan Alin semalam
Alin bergegas pergi dari tempat asing itu tetapi dia sadar jika ayahnya melihat Alin pulang dengan keadaan seperti ini malah akan membuat ayahnya semakin marah
"disini pasti ada kamar mandi, aku numpang mandi aja dulu"
Alin berjalan mencari kamar mandi yang akhirnya ketemu
"semoga pria itu sudah pergi dari sini" gumam Alin sambil menikmati air yang jatuh kebadannya
setelah selesai dia se cepatnya ingin pergi dari tempat itu
tok tok tok
ada seseorang yang lagi mengetok pintu
"apa jangan-jangan pria semalam"
perlahan Alin membuka pintu dan ternyata itu resepsionis hotel yang lagi ngenterin barang
"saya mau nganterin titipan dari seorang pria yang semalam menginap di kamar nona"
sambil menjulurkan sebuah baju dan sepucuk surat kepadaku tanpa aku bertanya lagi resepsionis itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun
Alin membuka surat yang ditulis oleh pria itu
"Maaf aku tak bisa menemanimu sampai kau bangun, aku harus pergi, tapi percayalah kita secepatnya akan bertemu kembali, ini baju dan cek dengan uang 5M sebagai kompensasi untuk waktu kita semalam"
"Priaaaa brengsek" hujatnya
Alin melempar baju dan cek yang diberikan pria yang tidur dengannya ke atas kasur
Alin menghela nafas panjang, bingung sedih dan merasa jijik dengan dirinya sendiri yang sudah tak suci lagi
"Aku tak Sudi bertemu denganmu lagi, dan semoga kita tak akan pernah bertemu lagi"
Alin merasa harga diri nya sudah hilang, bahkan dia tidur dengan seorang lelaki yang tak dia dikenal dan tak dicintainya, masa depannya sudah hancur
pikirannya kacau, tanpa berpikir panjang Alin mengambil baju yang diberi pria itu dan mengenakannya
Alin melihat tas yang dibawanya semalam masih utuh, hpnya pun masih ada hanya saja baterai sudah habis hingga dia tak bisa ngabarin siapapun. Alin bergegas memasukkan cek yang di beri pria itu ke dalam tasnya, dia berfikir siapa tau masih membutuhkan cek tersebut.
Alin pergi meninggalkan hotel itu dengan penuh kebencian dan emosi bahkan air matanya yang menetes tanpa ia sadari sudah membasahi pipinya, Alin terus melangkah tanpa tujuan mau pulang pun dia sudah tak punya muka untuk menghadapi kenyataan