Last Night With You

Last Night With You
Bab 28



Selama perjalanan Alin tak mengeluarkan satu patah katapun. dia masih sangat malu dengan apa yang terjadi pagi ini pada mereka. suasana menjadi sangat canggung. alan juga diam saja bahkan sering tersenyum sendirian. supir yang melihat tingkah mereka saat itu merasa sangat aneh.


"Alan.. kamu kapan mau membawaku menemui ayahku?" tanya alin membuka pembicaraan terlebih dahulu


"nanti malam. di perusahaan ayah mu mengadakan pesta untuk merayakan kerja sama antar perusahaan" jelas alan. rencana yang sejak lama dia persiapkan dengan jimmy, akhirnya terlaksana. dia berencana ingin mengumumkan hubungannya dengan Alin di pesta tersebut


"beneran?" tanya alin bahagia


" iya bener.. sekarang pergi ke kantor dulu dan akan aku tunjuk kan bagaimana kamu bekerja" ucapnya


"siap" ucapnya


mobil terus melaju menuju perusahaan paling besar di kota ini. mobil itu berhenti di parkiran. Alin dan alan keluar bersamaan dari mobil itu. saat alin memandang kembali perusahaan besar di depan matanya, dia merasa takjub. bangunan yang menjulang tinggi dan begitu mewah pikirnya. saat alan mengajak alin masuk, Alin merasa sedikit ragu ragu


"Alan.." panggil alin mendekat padanya


"ada apa?" tanyanya


"boleh kah aku tidak masuk dengan mu?" tanya alin


"kenapa?" tanya alan yang begitu singkat


"aku tidak mau menarik perhatian banyak orang lagi" ucapnya terus terang


"begitu tidak inginkah kamu agar semua orang tau hubungan kita?" tanya alan sedikit kesal


"bukan begitu alan.."


"sudahlah jangan membuat ku kesal pagi pagi begini " potongnya dan menarik tangan alin masuk ke dalam perusahaan


"presdir sudah kembali " bisik bisik seseorang disana


"lama tidak melihat presdir. ternyata semakin tampan ya" balas yang satunya


"tapi siapa wanita itu? presdir bahkan sampai menggandeng tangannya" ucapnya sekali lagi


"benar benar cocok dengan presedir" balasnya lagi


sudah berapa kali alin berada suasana seperti itu. bahkan bukan untuk yang pertama kalinya, tapi alin masih tidak terbiasa dengan suasana ini. Alan selalu menjadi pusat perhatian setiap orang, bahkan orang disampingnya bagaikan butiran debu yang tak terlihat


"kenapa kamu selalu menjadi pusat perhatian... membuatku tidak nyaman jika di dekat mu" ucap alin


"karena aku hebat dan tampan... mata mana yang tidak mau memandangku" ucapnya yang masih memasang wajah dingin dan arogan


"Pede banget kamu ya" ledek alin


"Apa kamu tidak merasa bahwa aku tampan?"tanya alan


"biasa saja" jawab alin singkat dan masuk ke dalam lift bersamanya. sepertinya lift itu lift pribadi untuk presdir perusahaan, tapi alin juga di izinkan masuk ke dalam lift tersebut.


Saat lift berhenti dan terbuka. Alin mengikuti langkah alan dan masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan "Ruang CEO" tepat di depan pintu


Alan masuk kedalam dan diikuti oleh alin. ruangan yang cukup besar dan elegan pikirnya


"kenapa kamu membawaku kesini?" tanya alin


"dimana ruang kerjaku?" lanjutnya


Alan mengangkat Alisnya dan terus memandang alin. sedangkan dia menunggu jawaban dari pertanyaannya


"hei kenapa kamu diam saja? aku disini tidak hanya untuk di buat pajangan kan?" tanyanya sedikit kesal pada alan


"wanita bodoh.. apa kamu tidak melihat meja disebelah kanan mu?" ucap alan


"meja sebelah kanan?"gumamnya dan melihat alan mengangguk kan kepalanya. Alin pun menoleh ke arah kanan dirinya, ternyata benar ada sepasang meja dan kursi tempat bekerja disana


"tunggu.. kamu bukan bermaksud menempatkan ku di dalam ruangan mu kan?" tanya alin merasa ada yang tidak beres disana


"kenapa?" tanya alan


"siapa bilang kamu kesini mau main main?" balas alan


"maksud kamu?" tanya alin penasaran


"disini kamu bekerja sebagai asisten pribadi CEO, jadi ruangan mu ada disini" jelas alan


"bukannya jimmy juga sekretarismu kenapa dia tidak disini" bantah alin. dia tidak mau setiap saat harus melihat wajah dingin dan datar milik alan


"semenjak kamu magang disini. aku sudah menaikkan jabatan jimmy menjadi manajer, jadi dia tidak perlu ada disini" ucap alan yang mulai menyibuk kan diri dengan beberapa kertas di mejanya


"kamu pasti alesan kan?" tanya alin. masih tidak percaya dengan ucapan alan


"itu benar alin.. berkat kamu, aku bisa naik jabatan dan tidak perlu terus berada disamping dia" potong suara lelaki yang memasuki ruangan tersebut


"jimmy?" gumam alin yang melihat jimmy masuk dengan senyum di wajahnya


"jadi benar yang dia katakan" tanya alin


"ya.. dia presedirnya, jadi.. apa yang dia katakan adalah benar" ucap jimmy


"iya juga.. kenapa aku lupa kalau dia adalah bosnya" batin alin dan menghembuskan nafasnya


Alan berdiri dan mendekati jimmy dan Alin..


"bagaimana ruangan mu?" tanya alan


"lumayan.. yang bikin betah.. karena ada sahabat alin disana " ucap jimmy melebarkan senyuman di bibirnya.


"jadi natalia satu ruangan dengan mu?" tanya alin penasaran dan jimmy menjawabnya dengan mengangguk kan kepalanya


"sekarang dia dimana?" tanya alin sekali lagi


"dia di ruangannya sedang sibuk dengan pekerjaan barunya" jawab jimmy


"aku mau bertemu dengan dia" ucapnya dan hendak pergi untuk menemui natalia. tetapi belum sempat dia melangkah alan sudah menangkap tangannya dan menghentikan niatnya


"kamu kesini untuk kerja.. bukan reuni dengan temanmu " cegah alan begitu ketus


"haiis dasar kepala es... kenapa sangat dingin begitu " batinnya


"kamu ga suka dengan ruangan ini?" tanya alan


"bagaimana aku tidak suka. ini ruangan CEO tentunya pasti lebih bagus dari pada punya yang lain" balas Alin


"terus?" tanya alan semakin penasaran


"hanya tidak menyangka aja bisa satu ruangan dengan kamu" jawab alin dengan memandang kemana mana demi agar pandangannya tak bertemu dengan pandangan alan


"kamu tidak suka satu ruangan dengan?" tanya alan dan memegang dengan erat lengan alin


"tidak alan tidak.. bukan begitu, tapi itu ummm"


Alan tak membiarkannya melanjutkan pembicaraan alin. dia secara langsung mencium bibir alin dengan cepat. jimmy yang masih di dalam ruangan itu merasa tak di anggap oleh mereka berdua


"kalian... WOI disini masih ada aku" teriak jimmy dan mereka tetap tak menghiraukan dirinya


"haiis ya sudah lah, kalian lanjutkan saja.. aku tidak ganggu kalian lagi" ucap jimmy dan keluar dari ruangan alan


untuk pertama kalinya, Alin merasa tak keberatan dengan ciuman yang di berikan Alan. justru dia malah mengikuti gerakan bibir yang dimainkan oleh alan. tanpa dia sadari matanya terpejam, seakan akan dia juga menikmati ciuman yang di berikan Alan


setelah beberapa lama Alan melepaskan ciuman itu dan berbisik pada telinga alin


"kamu terlalu banyak tapi.. tidak usah membantah dan ikuti semua perkataan ku" ucapnya dan alin masih tak mengatakan apa pun


"bibir mu membuatku sangat ketagihan. manis" goda alan membuat wajah alin kembali memerah


"itu.. itu pak.. apa pekerjaan saya?"