Last Night With You

Last Night With You
Bab 42



Matahari sudah tertidur, berganti terangnya bulan yang tetap terjaga. Dua manusia yang menikmati bulatnya bulan yang di kelilingi kerlap kerlip bintang di taman villa. Hanyut dalam perasaan mereka masing masing.


Kurasa bukan hanya aku yang tidak sendiri. Batin Alin masih bersandar di bahu hangat milik Alan dan memandangi keindahan malam yang tenang.


Angin bertiup sepoi sepoi. Tidak ada suara apapun hanya hewan hewan malam yang tidak berhenti saling menyapa satu sama lain. Dinginnya malam tidak akan terasa bagi mereka yang sedang jatuh cinta. Tangan yang melingkar di bahunya mampu menghadang angin yang berebutan ingin memeluk tubuh mereka.


Tidak hanya badan yang hangat tetapi juga hati yang bagai terselimutkan kasih sayang.


"Alan" panggil Alin lirih


"Heemmm"


"Kita akan bermalam disini?" Karena sampai sangat petang tidak ada tanda tanda alan akan membawanya ke apartemennya.


"Iya... kamu tidak suka?" Masih tidak bergeming entah apa yang di perhatikan oleh Alan


"Tidak bukan begitu... kita akan tinggal di sini mulai dari sekarang?" Tanyanya Lagi.


"Iya.. kenapa?"


"Tidak apa apa Alan.. Hanya saja aku kan belum membereskan baju baju ku" masih nyaman di sandaran bahu alan dan hangatnya pelukan Alan.


"Kamu tidak perlu khawatir" mengecup kening Alin. "Semua sudah di persiapkan disini" lanjut Alin


"Benarkah?" Berbinar dan spontan mengangkat kepalanya yang tadi masih asyik bersandar


"Kamu mau lihat?" Alan tersenyum melihat anggukan Alin yang menggemaskan


Alan tak menjawab dia hanya menggerak kan jemarinya di bibir sexinya. Seakan mengatakan. Cium dulu aku. Begitulah yang terlihat dari gerakan alan.


"Sudah ah aku tidak tertarik lagi untuk melihatnya" jawab Alin sok cuek dan memalingkan wajahnya


"Kamu tidak mau?" Tanya Alan yang hanya di jawab dengan mengangguk kan Kepalanya.


Secepat kilat Alan meraih wajah Alin mendekat pada wajahnya. Tanpa persetujuan Alin, pria itu ******* habis bibirnya Sampai lupa untuk bernafas.


"Kamu mau mati? Kenapa tidak bernafas? Seperti ini pertama kalinya saja. Padahal kan tidak" goda Alan ketika Alin masih tersengal sengal mengatur nafasnya


Plaaak. Tangan alin yang mengudara cukup keras memukul lengan Alan


"Bagaimana aku bernafas. Kamu saja tiba tiba mencium ku" sedikit berteriak kesal. Alan malah terkekeh melihat wajah Alin yang kesal


"Sudah sudah. Ayo aku bawa kamu melihat kamar kita" Alan sudah meraih tangan Alin hendak menariknya ke dalam villa


"Tunggu!" Membuat Alan mengurungkan niatnya. "Kita akan sekamar lagi?" Tanya alin.


Bukankah nanti ada kakak ipar disini. Aku kan Malu. Lagian disini sepertinya tidak kekurangan kamar. Kenapa malah mengajak ku satu kamar. Berargumen sendiri di dalam hatinya


"Kenapa? Kamu tidak mau? Toh ini kan bukan pertama kalinya buat kita" Ucap Alan sudah bisa membaca apa yang di pikirkan Alin


Benar juga. Yaudah lah aku ikuti aja apa kata dia. Akhirnya Alin menyetujui ucapan Alan. Dan mulai ditariklah dia memasuki villa. Masuk kedalam villa dengan menggenggam erat tangan Alin. setelah ada di lantai dua Alan berhenti di depan salah satu kamar yang berderet disana. Kamar yang tidak jauh dari tangga.


"ini kamar kita" Alan membuka pintu tersebut. Terbentang lah kamar luas yang sangat indah. lebih luas dibandingkan kamar apartemen yang di miliki Alan. pikir Alin


"Bujumu sudah disiapkan di kamar itu" menunjuk sebuah pintu di sudut ruangan


Alin tersenyum lalu melangkah membuka pintu yang tadinya di tunjuk oleh Alan.


waaaaahh.. Mata Alin berbinar melihat ruangan seperti toko baju. yang tergantung banyak sekali model model baju wanita dan pria.


ternyata ini ruangan khusus baju. melihat lihat sekeliling. baju miliknya dan alan memang ada dalam satu kamar namun di tempat terpisah. ada banyak sekali baju di ruangan tersebut. Tidak hanya itu, sepatu, tas bahkan aksesoris juga tertata rapi di sana.


kapan dia mempersiapkan semua ini. Batin Alin yang kemudian disusul dengan terbukanya pintu ruangan.


"Kamu suka?" memeluk tubuh Alin dari belakang.


"sepertinya kau menyukai memeluk ku seperti ini" ucap Alin


Bug. pukulan sikut yang sangat tepat di perut Alan membuatnya merintih.


"kau.. kau kenapa memukul ku" tanya Alan yang sudah melepaskan pelukannya dan memegangi bekas pukulan Alin


"karena kau sangat tidak tau malu" ucap alin merasa kesal sekaligus malu dengan ucapan Alan.


Alin meraih baju tidur di dalam lemarinya dan meninggalkan Alan yang masih merasakan sakitnya ke dalam pintu yang juga berada di dalam ruangan tersebut.


Terdengar suara shower berbunyi. sepertinya Alin sedang mandi. memang benar, karena merasa kelelahan Alin memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum tidur. sedangkan Alan kembali ke tempat tidur menunggu Alin yang cukup lama di kamar mandi.


"Kau belum tidur?" Tanya alin ketika sudah keluar dari ruang baju dengan piyama tidur dan handuk di kepalanya.


"Belum" Alan meletak kan Hpnya di dekat tempat tidurnya.


"kemari! ku bantu keringkan rambutmu" ucapnya kembali. lalu menghidupkan Hair Dryer yang sudah di ambilnya di meja rias


Alin melangkah mendekati Alan dan duduk di depan meja rias yang sangat indah. dengan lembutnya Alan memainkan rambut dengan angin yang berhembus dari hair dryer yang di pegangnya. dengan memberikan pijatan lembut sebagai bonus untuk Alin.


"Nyaman sekali" gumam Alin yang memejamkan matanya merasakan kenyamanan di kepalanya. "sepertinya kamu sudah Ahli. sudah sering mengeringkan rambut kekasih mu ya?" asal tebak saja


"Tidak" jawabnya singkat


"Benar?" masih penasaran


"Aku sering mengeringkan rambut kakak ku dulu" akhirnya malas terus menerus meladeni Alin yang merasa penasaran. memilih untuk mengatakannya


Apa! jadi dia sering mengeringkan rambut kakak laki lakinya. wah lucu banget mereka. Batin Alin karena dia belum tau anak tertua dari keluarga jackson adalah perempuan. jadi dia berpikir kakaknya adalah seorang laki laki. jadi dia berpikir yang aneh aneh saat itu


lagi pula Alan tidak pernah memberi tahunya karena Alin juga tidak pernah menanyakannya jadi Alan merasa Alin sudah mengerti.


melihat Alin menahan tawa dari kaca. Alan mencubit keras pipi Alin.


"aaaawww... hentikan sakit" mendorong tangan Alan menjauh dari wajahnya


"apa yang sedang kamu tertawakan?" Tanya Alan dan meneruskan mengeringkan rambut Alin


"tidak ada" sangkalnya dan mencoba menebar senyumnya untuk meyakinkan Alan.


****


"Sudah" ucap Alan dan meletak kan Hair dryer setelah mematikannya


hooaaaamm..


"Kau mengantuk?" merasa kasian karena sangat terlihat alin sangat kecapean. Alin hanya menjawab dengan mengangguk kan kepalanya.


"Tidurlah.. besok bangun pagi pagi. kita akan menjemput kakak di bandara" mengusap kepala Alin seperti anak kecil.


"Baiklah" menyeret kakinya menuju tempat tidur. sementara alan masih sibuk dengan Hpnya. sepertinya sedang meneruskan pekerjaannya. sedangkan wanitanya yang tidak lama berbaring sudah tertidur pulas tanpa memakai selimut.


Bersambung....


♡♡♡ Hai Readers ♡♡♡


Author mengucap banyak banyak terimakasih. karena support dan dukungan kalian dengan memberikan komentar komentar positif. membuat Author jadi tambah semangat menulisnya...


walaupun agak lama Author berharap kalian bisa bersabar Ok 😉😉😉


Tapi kayaknya komentarnya mulai sepi...


yuk yuk komentar sekarang apa keinginan kalian nanti tentang Alan dan Alin? Mau Happy Ending Atau Sad Ending nih?


silahkan tetap komentar yang positif 😉 dan jangan lupa Like dan vote ya❤