
Alan sang CEO yang sudah dalam perjalanan menuju kantor pusat sedang membicarakan wanita yang sudah di tidurinya selamam
"Jim, aku mau kamu mencari tau wanita yang ada dikamar ku semalam"
Perintah Alan pada Jimmy sekretaris nya sekaligus sahabat terpercayanya
"buat apa Alan , buang buang waktuku saja"
Jimmy yang sudah mengenal lama Alan, dia yang tak pernah menganggap serius para wanita dan mengira saat ini dia sedang bercanda
"oh, kamu sudah tidak mau mendengar perintahku bukan, ok besok kamu ga usah ke kantor pusat, pergi ke kantor cabang di negara H saja"
"ayolah aku ga mungkin betah disana, aku tidak bisa jauh dari kamu Alan, kamu sudah tau itu" merengek seperti anak kecil yang tak mau dikirim ke sekolah
"makanya kamu dengarkan aku cepat cari tau semua tentang wanita itu, kalau dalam seminggu kamu masih tidak bisa menemukan informasi tentang wanita itu, bersiaplah ke negara H" tatapan ganas Alan , membuat Jimmy menelan ludah
"Kamu bukan karena tertarik sama gadis semalam itu kan LAN?"
"Kamu cukup cari tau semua tentang dia, jangan banyak tanya"
lagi lagi dengan pandangan sinisnya membuat Jimmy tak bisa berkutik
"Ok ok"
Jimmy yang tak mau membuat sang CEO itu marah hanya bisa menyanggupi semua yang di perintahnya
Seketika didalam mobil pribadi yang sangat mewah itu hening kembali, Alan sedang memikirkan wajah perempuan yang sangat membuatnya tertarik, sebenernya masih banyak wanita disekitar Alan, tapi tak pernah membuatnya merasa tertarik seperti saat ini
bahkan dari sekian banyaknya wanita di sampingnya tak ada satupun yang pernah ia tiduri sebelumnya
"wajah seksi dan manis"
pikirnya dalam hati yang membuat bibir sang CEO dingin itu mengukir senyuman yang sangat manis, Jimmy yang sudah bertahun-tahun bersamanya sudah lama tak pernah melihat sahabatnya itu tersenyum seperti sekarang, membuat Jimmy merasa ada yang beda pada diri Alan.
Sedangkan Alin yang sudah sekian lama berjalan tanpa arah, tanpa ia sadari dia sudah berada di pinggir taman di dekat rumahnya, Alin yang tak tahu lagi harus bagaimana di sepanjang jalan air matanya terus mengalir, akhirnya dia duduk di kursi taman. Ia tak henti memandang cek di tangannya, ia memandangi cek yang bertuliskan 5 M di kertas itu, ia merasa harga dirinya seharga 5 M dalam satu malam. Alin tak henti hentinya menangis, dia merasa bersalah, bahkan ia merasa sudah tak punya muka untuk bertemu ayahnya, tapi dia harus tetap pulang dan harus menghadapi kenyataan yang begitu pahitnya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk pulang
Dirumah Alin, merisa sang kakak tirinya sedang menerima telepon dari seseorang yang sudah punya janji dengannya untuk menjebak Alin
"Apa? Wanita yang ku kirim ke kamar mu ga ada disana?"
Dengan nadanya yang terkejut tetapi hanya bicara berbisik, ia takut semua keluarganya mendengar rencana nya yg sudah menjebak Alin
"Dia ga ada dikamar semalam"
Suara pria yang entah siapa yang sedang bicara dengan merisa merasa ditipu olehnya
"Aku sudah mengirimnya ke kamarmu semalam ( dengan nada emosi sambil menahan suaranya) aku tak mungkin salah, dia sudah masuk dalam kamar 811 di lantai 4"
"Kamarku 811 di lantai 5, kamu sudah membohongi ku, aku tak akan memberikan uang sepeserpun padamu"
Tut Tut Tut
"Aaaaaaah tidur dengan siapa wanita ****** itu semalam"
Merisa merasa rugi, dia sia sia sudah menjebak Alin yang pada akhirnya salah masuk kamar. Pas waktu itu juga Alin baru masuk ke dalam rumah
"Dari mana saja kamu?"
Sapanya penasaran dengan apa yang sudah terjadi semalam pada Alin, tetapi Alin tak menggubris pertanyaan kakaknya yang sudah sangat kejam padanya, Alin hanya melewati merisa yang sangat marah padanya dan naik menuju kamarnya
"Hei aku bertanya padamu, kemana kamu semalam?"
Tetap saja Alin tak menjawab pertanyaan nya sampai akhirnya Alin menghilang dari pandangan merisa.
Merisa merasa sangat kesal
"Dengan siapa dia tidur semalam, apa jangan-jangan dia menelepon temannya dan meminta untuk menjemputnya"
Dia mondar mandir memikirkan Alin yang entah apa yang sudah terjadi padanya semalam
"Aaaah sudahlah semoga saja dia tidur dengan orang lain"
Merisa juga tak mau memikirkan itu lagi, masih banyak cara untuk menjebak Alin supaya dia usir dan menghilangkan satu satunya musuh yang bisa merebut warisan dari ayahnya, ketamakan merisa dan ibunya, membuatnya menghalalkan segala cara agar bisa menyingkirkan saingannya dan membuat dia menjadi satu-satunya yang akan mewarisi harta ayahnya
Dikamar, Alin merebahkan tubuhnya ia merasa lelah dengan apa yg terjadi padanya
Setelah beberapa saat berbaring, Ia berjalan pada cermin dan berhadapan dengan bayangannya. Dia melihat wajah letihnya, perlahan membuka baju bagian atas dress yang di pakainya dan melihat sekujur tubuhnya banyak ****** yang ditinggalkan oleh pria semalam
"menjijikkan" pikir Alin
Alin kembali mengingat kejadian itu, kemudian mengambil cek yang ia dapatkan, Alin berpikir ingin memanfaatkan uang itu untuk keluar negeri, melanjutkan studinya disana dan ingin menghindari pria misterius itu berharap semoga tak pernah bertemu lagi dengannya, meskipun Alin sendiri tak tahu seperti apa wajah pria yang menidurinya semalam
"aku hanya bisa memanfaatkan keadaan ku sekarang untuk kabur dari negara ini"
gumamnya dalam hati, dia tak mau larut akan kesedihannya, dia juga ingin hidup normal dan melupakan apa yang sudah terjadi semalam, dia percaya akan ada akhir indah dari setiap pengalaman yang pahit.
Alin yang tadinya bersedih saat ini memantapkan hati nya untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri dan berencana untuk segera memberitahukan kepada ayahnya.
saat makan malam Alin mencari kesempatan untuk mengajukan permintaan kepada sang ayah di depan semua keluarga nya
"ayah, Alin ingin mengatakan sesuatu pada ayah"
secara perlahan Alin menjelaskan keinginannya dan meyakinkan ayahnya untuk menyetujui permintaan Alin
"kurasa anakku sudah dewasa" ucap ayah Alin di dalam hatinya
"ayah akan menyetujui semua keinginan kamu, selagi itu terbaik menurut kamu"
dengan tersenyum ayahnya mengatakan dengan lemah lembut, Alin merasa sudah lama ayahnya tak bersikap seperti itu
"kamu mau tinggal sama siapa disana?"
"kebetulan teman dekatku juga mau ke negara C untuk melanjutkan pendidikan yang satu jurusan denganku"
untungnya Alin kepikiran pada Natalia sahabat yang paling dekat dengannya, dan kebetulan awalnya yang mengajak Alin ke negara C adalah Natalia, tetapi awalnya Alin juga masih tidak kepikiran untuk ikut dengannya, dan sekarang karna keadaannya sudah sangat mendesak Alin juga harus mengambil keputusan ini.
"baiklah kalau kamu sudah ada temannya"
disisi lain merisa dan ibunya merasa senang, tanpa mereka turun tangan Alin sudah menyingkir sendiri dari kehidupan mereka, dan mereka merasa sudah hilang satu satunya penghalang untuk mendapatkan harta warisan dari ayah Alin, dengan senyuman sinis yang mereka berikan pada Alin , itu sudah membuat Alin paham dengan senyuman yang tak nyaman itu
"oiya ayah, Alin berencana untuk berangkat besok"
"kenapa begitu mendadak, ayah masih belum menyiapkan apapun untuk bekalmu disana nanti" sedingin apa pun seorang ayah, dia pasti peduli dan mengkhawatirkan putrinya, apalagi putrinya akan berada sangat jauh dari jangkauan nya, itu membuat ayah Alin sangat khawatir padanya, meskipun Alin sudah tumbuh dewasa, tapi bagi seorang ayah, putrinya tetap lah gadis kecil yang harus ia lindungi
"ayah tidak perlu khawatir, Alin sudah mempersiapkan semuanya, Alin harus segera berangkat, akhir dari pendaftaran sudah semakin dekat" Alin terus mencoba untuk membuat ayahnya yakin dan mengijinkan secepatnya ia pergi
"sudahlah sayang, biarkan Alin pergi , dia pergi juga buat belajar bukan, kita sebagai orang tua harus mendukung keputusannya"
berlagak seolah olah ibu tirinya itu sangat peduli pada Alin , dan itu membuat Alin merasa semakin muak
"baiklah, setiap bulan ayah akan kirimkan uang ke rekening mu, untuk kebutuhan mu disana"
"tidak usah ayah, Alin sudah punya tabungan Alin sendiri, untuk kedepannya Alin bisa bekerja disana"
"ayah memang tidak bisa membujukmu"
akhirnya ayahnya menyerah, Alin tersenyum ternyata ayahnya tak berubah sedikitpun, dia tak bisa membantah keinginan putrinya.
ini pertama kalinya ia membohongi ayahnya, Alin tak tau lagi harus berpura-pura dihadapan seseorang yang sangat ia sayangi itu, dia lah keluarga satu satunya saat ini yang ia miliki, entah apa yang akan terjadi jika ayahnya itu tau kejadian yang membuatnya sangat terpuruk
"maafkan aku ayah" ucapnya dalam hati sambil menahan air matanya agar tidak jatuh
sedih rasanya jika ia harus meninggalkan ayahnya tapi dia tidak mempunyai pilihan lain, selain pergi dari negara ini, di negara yang memberinya kenangan yang sangat pahit
mungkin orang lain akan berpikir bahwa Alin menghindar dari masalah, tapi itu benar dia tidak cukup mempunyai keberanian menghadapinya dan memutuskan untuk pergi. setelah ini tidak tau lagi kapan ia akan kembali, tetapi dia selalu berharap ayahnya akan tetap baik2 saja
makan malam sudah selesai, Alin membereskan koper dan perlengkapan yang akan dibawanya, dia lupa memberi kabar pada Natalia bahwa dia setuju ikut bersama dengannya, akhirnya dia berencana untuk menelponnya ketika sudah selesai beres beres
beberapa menit setelahnya Alin langsung menghubungi temannya, ia tak ingin menunda nunda lagi dan tak mau tinggal lebih lama di tempat yang penuh dengan kenangan buruk baginya
"hallo lin, ada apa?"
"Natalia, kamu masih mau ngajak aku ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan kan?"
"tentu saja, kamu sudah memutuskan?"
"ya, aku mau, dan aku berencana untuk berangkat besok, kamu ga keberatan kan?"
"Lin kamu baik baik saja bukan?"
Natalia merasa Alin sedang ada masalah, kenapa tiba tiba dia memutuskan sangat cepat untuk pergi ke luar negeri, "ini tak seperti biasanya" pikir Natalia
"aku baik baik saja, bukannya kamu bilang bahwa akhir bulan ini hari terakhir pendaftaran"
"iya juga sih"
"dan kamu ga ingin melewatkan kesempatan itu kan?"
"ok ok aku mengerti, tapi aku masih belum menyiapkan apapun, bahkan tiket pun belum aku beli" ini terlalu mendesak bagi Natalia yang belum menyiapkan apapun perlengkapan nya
"aku sudah menyiapkannya untukmu, kamu tinggal beresin keperluan yang harus kamu bawa, dan juga aku sudah menemukan tempat yang akan kita tinggali nanti disana"
Alin sudah menyiapkan segalanya, itu memperlihatkan bahwa Alin memang sudah ingin secepatnya pergi, itu membuat Natalia semakin merasa ada yang ga beres dengan sahabatnya, tapi Natalia memutuskan untuk tidak menanyainya sekarang, ia pikir bukan waktu yang tepat, saat ini yang harus ia lakukan adalah menyiapkan apa yang harus ia bawa untuk perjalanan besok
"yasudah lin, aku siap siap dulu, oiya jadwal penerbangan nya jam berapa?"
"jam 8 pagi, supaya secepatnya kita sampai disana masih bisa beres beres rumah"
"iya aku ngerti, kamu bisa menutup telepon nya, aku mau siap siap dulu"
"iya, sampai disini dulu ya Lia"
Tut Tut
"kenapa Alin tiba tiba membuat keputusan ini dengan cepat"
Natalia merasa khawatir dengan Alin, dia tau bahwa Alin sangat tidak mau meninggalkan ayahnya jauh dari sisinya dengan keputusan nya yang seperti Natalia langsung tau dia tidak sedang dalam keadaan yang baik
"yasudah aku tanyakan nanti di kota C saja"