
"bagaimana bisa alan bermain main dengan kata pernikahan " gumam alin
kemudia mendengar suara langkah kaki mendekat dengannya.
"Miya" batinnya ketika mengarah pada suara langkah kaki di belakang tubuh nya
Alin mencoba tak menghiraukan keberadaan Miya. yang membuat dirinya semakin muak ketika melihat wajah seorang perempuan yang begitu tak tau malu itu menghampirinya
"lihat saudari ku yang sangat hebat ini sekarang. sudah hampir menjadi nyonya jackson" cibirnya dan alin pun tetap tak menghiraukan perkataannya
"cih masih belum menjadi nyonya jackson saja sudah belagu" lanjutnya
"kalau kamu cuma mau mengatakan hal hal yang tak berguna. jangan buang buang waktuku yang begitu berharga dengan wanita rendahan seperti mu" ucap Alin yang terlihat tetap tenang menghadapi nya yang terus memandang bintang dilangit
"KAU" bentaknya...
"haiissh... kalau kamu tidak mau pergi.. silahkan saja disini, aku pergi dulu" ucap alin hendak melangkah pergi dari tempatnya berada
"aku belum selesai bicara" ucap Miya dan menangkap tangan Alin. menggenggam tangan kirinya dengan sangat kuat, Alin penasaran apa lagi yang mau di ucapkan oleh wanita yang terus mengganggunya itu
secara paksa alin melepaskan tangannya
"katakan" ucap alin setelah melepaskan genggaman Miya
"dengar ya Alin... Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi nyonya di keluarga jackson.. karena kamu sama sekali tidak pantas" ucapnya dengan sangat ketus pada alin
"heh.. tidak pantas? lalu siapa yang pantas? kamu?" cibir Alin
"memangnya kenapa? aku jauh lebih pantas dengan tuan alan di banding kamu"
"tsk... (memandang ke bawah dan keatas secara berulang kali dengan memegang dagunya seolah alin sedang berpikir dan menggelengkan kepalanya ) sejak kapan dirumah jadi kekurangan kaca.. bahkan kakak tersayangku tidak berkaca dulu sebelum berbicara " ucap alin begitu sinis
"kamu pikir alan bakalan mau dengan wanita seperti mu" lanjut Alin dan melangkah pergi darinya
"kamu pikir kamu wanita baik baik. dan kamu pikir... seorang lelaki akan mau dengan perempuan yang sudah di tiduri pria lain sebelumnya?" teriak Miya yang mampu menghentikan langkah alin
"kamu bukan lagi wanita suci.. melainkan sama persis dengan seorang pela*ur.. kamu lihat saja apa yang akan terjadi. ketika tuan alan tau kamu sudah tidur dengan pria lain... heh apa yang akan dia pikirkan tentang mu. aku jadi ingin melihat seperti apa reaksinya " ucap Miya yang terus menghina alin
"wahh di pikir pikir kakak cukup perhatian padaku... sampai hal hal yang bahkan tidak seorang pun yang tau... kau malah lebih mengetahuinya dari pada diriku sendiri" jawab alin masih tak membalik kan badannya
"yaaa siapa suruh aku melihatmu menggoda seorang pria dan masuk ke dalam hotel. lantas menurut mu apa yang akan di lakukan seorang wanita dan pria yang masuk secara bersamaan ke dalam hotel?" lanjut Miya
Alin terdiam tak menjawab lantas di dalam hatinya bergumam pada dirinya sendiri
"jika bukan karena dirimu.. aku tidak akan berada di situasi seperti ini sekarang" batin alin
"kenapa diam? betul kan apa yang aku katakan? sampai kamu tidak tau harus berbicara apa?" tanya Miya
"Miya... aku tidak ada urusan apa pun dengan mu. sekalipun yang kamu katakan benar dan ingin mengatakan yang sebenarnya pada alan. silahkan aku tak melarang mu.... entah bagaimana hasilnya kamu akan tau" ucap Alin dan beranjak pergi meninggal kan Miya yang terus menatap alin dengan penuh rasa kebenciannya
sangat larut. pesta akhirnya selesai semua tamu hampir bubar dari tempat pesta.
"ayah... Alin pamit dulu ya... kalau ada waktu alin pasti jenguk ayah" pamit alin pada ayahnya
"kamu tinggal di mana? tidak mau bermalam dulu di rumah?" tanya ayahnya
"saat ini masih tidak bisa ayah... besok alin harus kembali magang.. tapi alin janji ketika ada kesempatan alin akan bermalam dirumah" ucapnya
"baiklah" ucap ayahnya mengalah. putrinya sudah dewasa, dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri... di tambah ada perlindungan seseorang yang sangat peduli padanya... ayahnya sudah tidak begitu khawatir. setelah sesaat saling berpelukan melepas rindu di dalam hati mereka masing masing. akhirnya alin pun pergi menuju mobil yang sudah menunggu dirinya di luar gedung.
"sudah selesai?" tanya alan ketika alin masuk ke dalam mobil
"iya" jawabnya dan duduk di sampingnya
mobil akhirnya melaju meninggalkan tempat pesta itu berada. Alin duduk dengan perasaan lesu, masih terdengar jelas di telinganya saat alan mengatakan akan menikahinya. perasaannya pada alan masih tak cukup dalam untuk sebuah pernikahan.
"Alan...." sapa alin
"ya"
"eemm kenapa kamu bisa bermain main dengan kata pernikahan... kamu masih ingat kan? hubungan kita hanyalah sebatas diatas kertas saja?" ucap alin mengingatkan alan bahwa hubungannya hanyalah sebatas kontrak saja
sedangkan Alan tidak senang ketika alin terus mengingatkan dirinya tentang hubungan kontraknya. alan tak menjawab, diam bahkan mengabaikan alin sepanjang perjalanan. Alin merasa dia telah membuatnya marah. sehingga membuat suasana saat itu menjadi sangat canggung.
"Alan..." panggil alin hati hati dan mencoba melihat wajahnya saat itu. ya terlihat sangat jelas alan sedang tidak baik baik saja
"Alan kamu kena.... uumm"
lagi lagi alan mencium bibirnya yang dari tadi melontarkan banyak pertanyaan pada dirinya. Alin yang tak bisa diam.. hanya dengan cara seperti itu yang mampu menghentikan dirinya.
"mau diam apa masih mau bertanya?" ucap alan setelah beberapa saat akhirnya ciuman itu berakhir. Alin tak menjawab dia tak sadar apa yang telah dia lakukan sebelumnya
"mau tanya lagi? ataaau.... mau ku cium lagi?" tanya alan dengan wajah alin yang hanya berjarak beberapa cm saja. Alin tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya
"gadis baik..." goda alan
"satu lagi... aku tak mau kamu terus mengingatkan ku tentang hubungan kontrak di antara kita. biar bagaimana pun aku lah yang lebih paham pada kontrak itu" ucap alan
"tapi alan.."
"tapi? (tiba tiba wajah alan kembali mendekat) kurasa ciuman yang barusan belum cukup" bisik alan sekali lagi spontan alin menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya. perlakuan alan membuat wajah alin memerah, wajah yang masih sangat dekat dengan wajahnya.
"sangat tampan" pikir alin ketika wajah yang masih berjarak dekat dengan wajahnya mengukir senyuman di hadapannya. perlahan alan memegang wajahnya dan mengecup keningnya dengan sangat lembut. mengartikan sebuah kelembutan didalamnya, penuh kasih sayang. tapi tetap saja alin masih tak mengerti dengan semua yang alan lakukan padanya.
"jadilah gadis baik yang penurut. dengarkan semua peekataanku dan jangan banyak tanya. jika aku merasa kamu perlu mengetahuinya.. tanpa kamu bertanya, pasti akan aku beri tahu dengan begitu aku akan memperlakukan mu dengan sangat baik" bisiknya setelah selesai mencium keningnya