Last Night With You

Last Night With You
Bab 49



Praaankk


beberapa barang yang berbahan kaca pecah berhambur di seluruh kamar.


"Miya kamu kenapa?" Tanya ibunya ketika khawatir ketika mendengar keributan di dalam kamar anaknya


"Mama" Miya berhambur ke dalam pelukan ibunya


"Kamu kenapa?" mulai mengusap punggung putrinya


"Mama aku mau Alan" tiba tiba melepaskan pelukannya yang mengejutkan ibunya. dengan berapi api Miya terus mengatakan menginginkan sosok Alan


"Aku mau Alan menjadi milik ku ma" ucapnya sekali lagi setengah berteriak


"kenapa Alin begitu beruntung" menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar. "Dia mempunyai segalanya yang tak pernah aku punya. bahkan dia selalu menjadi yang pertama dalam segala Hal"


Prannkk


sekali lagi membanting salah satu barang di kamarnya. memang benar. di sekolah maupun ketika kuliah dalam segala hal seperti pelajaran, kesenian dan keterampilan atau yang lainnya. Alin selalu menjadi yang terbaik.


"kenapa dia mendapatkan semua yang aku inginkan" teriaknya lagi yang sangat terlihat jelas dimatanya yang penuh dengan rasa iri.


"Dulu Reno.. sekarang? Alan pundia dapatkan" teriaknya


Memang benar. ketika sudah menjadi bagian dari keluarga Wijaya Alin, Reno dan Miya juga berteman. mereka berteman sangat dekat layaknya saudara. perhatian Reno tak pernah lepas pada mereka berdua. namun rasa perhatian itu Reno selalu memprioritaskannya pada Alin saat itu. saat itu Miya mulai menyukai Reno yang menjadi impian para gadis saat itu maupun sekaran tampan, tajir dan selalu perhatian padanya.


namun ketika melihat kedekatan Alin dan Reno melebihi kedekatannya dengan Reno membuat Miya yang memang sedari awal tak menyukai Alin membuatnya semakin tidak menyukai bahkan membencinya sampai ketulang tulang. dahulu maupun sekarang tak ada kesempatan untuk masuk kedalam hatinya.


hingga Akhirnya Miya menyerah dan mencoba menerima pria lain di hatinya sampai ketika Miya bertemu dengan Alan. sedari awal memang sudah menyukai pria yang hanya bisa dia lihat di televisi maupun koran dan majalah yang menunjuk kan ketampanan dan kesuksesannya. hingga malam itu, malam pesta yang Alan buat untuk menyambut Alin tanpa pengetahuan yang lain. sejak saat itulah Miya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri dan mulai mengagumi dan menyukainya bahkan bisa melepas reno yang semenjak dia Remaja sudah menempati hatinya.


"Miya tenanglah" ucap ibunya mencoba menenangkan putrinya yang masih penuh dengan amarahnya


"Aku tidak bisa tenang ma" menghempaskan tangan mamanya


"Aku tidak bisa tenang melihat Alin terus berada di dekat Alan"


"dan aku hanya bisa memandangnya dari jauh" nada suaranya melemah. terdengar rasa kecewa di dalamnya


"Apalagi sebentar lagi mereka akan melakukan resepsi pernikahan" suaranya kembali meninggi


Praaankk


Lagi dan lagi. membuat ibunya yang sedari tadi hanya diam mendengarkan mulai terkejut dengan perubahan sikap Miya.


"Miya tenang sayang" bujuk mamanya


"Ma.. Mama harus membantu ku" menghampiri tubuh mamanya


"Apa yang bisa mama bantu?" Tanyanya


"Mama harus membujuk papa agar mau membatalkan pertunangan mereka" dengan wajah memohon


"itu tidak bisa Miya. papa mu tidak akan menyetujui nya" melepaskan tangan yang tadi di pegang putrinya


"kenapa ma? kenapa tidak bisa?" ucapnya kembali berteriak padanya


"kamu tau sendiri. tuan Alan adalah rekan bisnis yang selalu membantu papa mu. dia tidak akan mau mengambil resiko dan kau tau sendiri mereka saling mencintai dan membuat papa mu menyetujui lamaran Alan" jelasnya panjang lebar


"Lalu aku haru bagaimana ma?" ucapnya yang kemudian terduduk di lantai. "Aku harus diam saja dan melihat pernikahan mereka berlangsung?" teriak Miya


"tidak. aku tidak akan membiarkannya. aku akan melalukan apapun dan merebut Alan dari Alin" tekadnya yang membuat mamanya khawatir namun tak bisa menghentikan putrinya.


Malam semakin larut beranjak. Derai hujan masih terdengar deras di luar kamar. Setelah merasa demam Alin menurun Alan berbaring di sampingnya memeluknya dari belakang dan sesekali mencium kepala gadis itu.


"kamu tau kenapa.. aku terus melarang mu bermain hujan?" Tanya Alan yang hanya di balas dengan menggelengkan kepalanya


"àku takut akan terjadi hal seperti ini" ucapnya tenang. Alin masih diam menunggu kelanjutan dari Alan


"aku tidak mau kamu sakit. Apa kamu ingat janji ku pada Ayah mu?" Tanyanya sekali lagi yang juga hanya di balas dengan menggelengkan kepalanya


"aku berjanji pada Ayah mu.. akan selalu menjaga mu" ucapnya dan kembali terdiam. Marah namun tak tega melihat keadaan Alin. dan memilih untuk memendamnya untuk kali ini saja


"Apa kamu marah?" Tanya Alin yang tengah menunggu namun tak ada lanjutan dari Alan


"Tidak" ucapnya menghela nafas kasar


"Benarkah?" membalik kan badannya menghadap pada Alan. saat memandang wajahnya Alin melihat ketenangan disana. wajah pria yang di cintanya seakan mampu menghilangkan rasa sakitnya. sedangkan Alan hanya menatap lekat wanita yang terlihat pucat dalam dekapannya. wajah yang biasa memberinya kekuatan dan mampu menarik bibirnya untuk tersenyum. wanita kuat itu kini terlihat sangat lemah.


"Kamu kenapa?" Tanya alin sekali lagi karena melihat Alan hanya diam saja


"Tidak" jawabnya saat tersadar dari lamunannya


"terus kenapa melamun?"


"eemm aku hanya sedang berfikir"


"Berfikir Apa?"


"Berfikir bagaimana cara menghukum mu" goda Alan


"Menghukum ku?" Tanya Alin mengernyit kan dahinya. dan Alan mengangguk kan kepalanya


"kenapa?" Tanyanya sekali lagi


"karena kamu sudah berani membantah ku" ucap Alan serius


"Tapi kan.." belum sempat menyelesaikanperkataannya alan sudah memotongnya


"Dan kamu tau akibat kamu tidak mendengar kan ku?" Alin mematung


"kamu sekarang langsung sakit. dan kamu tau? itu membuatku marah" ucapnya dingin


"Aku kan sudah minta maaf Alan" ucap Alin memasang wajah melas


"Tidak. aku tetap harus menghukum mu karena sudah berani tak mendengar perkataan ku " jawab alan tegas tak bisa di bantah


"lalu aku harus bagaimana agar kamu mau memaafkan mu" tanya Alin


"untuk sekarang tidak ada. tunggu kamu sembuh baru aku akan menghukum mu"


Alin hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah. karena semua ini memang terjadi karena ulahnya.


"sekarang tidurlah. tak usah memikirkannya " Alan menarik Alin ke dalam pelukannya. menghangatkan tubuh Alin yang kedinginan.


"Kamu tenang saja. aku tak akan lupa dengan hukuman mu" bisik Alan membuyarkan khayalan alin yang tadinya berkhayal bahwa Alan akan lupa dengan hukumannya ketika dia sembuh nanti.


Alin memilih menenggelam kan wajahnya pada dada bidang milik Alan. aroma meskulin dalam tubuhnya sangat nyaman batin Alin.


Alan terus memeluknya dan sesekali mencium kepala wanita dalam pelukannya. yang perlahan mereka berdua memilih memejamkan matanya dan tertidur pulas karena seharian memang sangat sibuk dan membuat lelah keduanya. Malam semakin beranjak membawa sepasang manusia yang saling mencintai itu terlelap dalam mimpi mereka masing masing.