Last Night With You

Last Night With You
Bab 52



tentu saja hal itu membuat Rena penasaran. biar bagaimanapun Jordan juga sepupu baginya.


"Benarkah Alin? kau pernah dekat dengan Jordan? sepupuku?"


uhuuk.. uhhuuk...


ketika Rena yang bertanya Alin langsung terbatuk batuk. secara Rena menanyakannya tepat ketika Alin tengah meminum sisa tehnya untuk menjernihkan pikirannya agar bisa menjawab dengan tepat. tiba tiba tanpa aba aba apapun Rena ikut menanyakan hal itu juga padanya


tentu saja membuat Miya dan Aurel senang melihat keantusiasan dari Rena. mereka tertawa dalam diam. melihat Alin yang tidak tau harus menjawab seperti apa.


"iya.. Alin pernah dekat dengan jordan. 2 pria dari keluarga yang sama mencintai satu wanita. karena apa kalau bukan wanita itu adalah wanita baik baik?" ucap seseorang yang tiba tiba muncul di hadapan mereka


"Natalia" tentu saja hal itu membuat Alin terkejut dengan kehadiran Natalia sahabatnya yang tiba tiba


"Hai... aku dengar kamu sakit. makanya tunangan kamu menyuruhku menjenguk Mu" ucap Natalia yang langsung memberikan pelukan hangat untuk Alin.


"Benarkah?" tanya Alin membalas pelukan hangat tersebut


untungnya kau datang. batin Alin merasa tenang ketika mendapat seseorang yang mendukungnya


siapa wanita ini, mengacaukan saja. Aurel


dia lagi dia lagi.. Natalia kenapa kau selalu merusak rencana ku. Miya


kedua orang yang tengah jengkel tersebut tidak ada henti hentinya mengumpat di dalam hati mereka.


"Bagaimana bisa wanita baik baik bisa dekat dengan dua pria sekaligus? benar benar serakah" ejek aurel tak mau kalah


"masih mending menjadi rebutan 2 pria sekaligus, dari pada tidak sama sekali? bahkan di abaikan dan tidak di anggap oleh pria yang di kejarnya. bukankah itu sangat memalukan?" ucap Natalia santai dan masih dalam memeluk sahabatnya itu


"Kau.." Aurel menghentikan ucapannya ketika mengingat bahwa dirinya masih berada di Villa milik Alan. dia tidak mau memberi kesan jelek pada Rena tentang dirinya


Wanita sialan. lihat saja kau nanti. Aurel kali ini benar benar geram dengan perkataan Natalia yang pada dasarnya memang betul adanya


"Jadi bernarkah. Alin dulu menjadi rebutan keluarga jackson?" tanya Rena sekali lagi. mengabaikan ucapan Aurel yang sama sekali tidak ada penting pentingnya baginya. bukan rasa tidak suka yang terpancar di wajahnya. namun seperti rasa kagum pada alin. wah hebat. seperti itulah yang terbaca di wajahnya.


Natalia melepaskan pelukan Alin dan duduk menghampiri Rena yang tengah mencari jawaban dari mereka


"kak Rena ya? kenalin.. Natalia teman dekat dari Alin. tapi bukan seseorang yang pura pura dekat ya kak" Natalia mengulurkan tangannya dan mencibir seseorang yang tengah memperhatikan mereka


sialan. umpatnya


Rena membalas uluran tangan Natalia dan merasa ucapan Natalia tengah menyindir salah satu orang yang ada disana.


"jadi benar dulu Jordan dan Alan berebutan Alin?" tanya Rena sekali lagi


Rasanya dia tidak akan berhenti bertanya jika tidak mendapatkan jawaban yang tepat.


"iya kak. betul sekali. bagaimana tidak perempuan secantik dan sebaik Alin tidak menjadi rebutan para pria hebat" puji Natalia


"hebat sekali kamu Alin.." menepuk bahu Alin yang berada di sebelahnya


"kamu tau tidak? mereka berdua itu sangat penurut sama kakak. tidak menyangka akan mencintai wanita yang sama " gelak tawa terdengar dari mulut Rena.


"Jadi siapa yang kamu pilih?" tanya Rena meskipun jelas sekali Alin memilih tinggal bersama dengan Alan


"Awalnya Alin lebih memilih untuk tinggal bersama Jordan kak" Natalia yang menjawab


"Memang ada apa dengan Alan?" tanya Rena antusias.


"iya.. dia memang dingin dan keras. namun ketika dia sudah jatuh cinta. dia tidak akan pernah melepaskannya dengan mudah" ucap Rena seperti sedang mengingat sesuatu


"kak.." panggil Alin, Rena menoleh


"memang ada sesuatu di balik sikapnya yang seperti itu" tanya Alin penasaran melihat perubahan sikap Rena.


Rena hanya menarik nafas panjang dan menghembus kannya


"Nanti malam datang ke kamar kakak sendirian ya" pinta Rena kembali memberikan senyuman agar tak membuat Alin khawatir


"Baiklah"


dengan Rasa kecewa Alin menunggu hingga nanti malam ada apa di balik sikap Alan yabg begitu dingin dan Arogan tersebut. tidak hanya Alin, bahkan Miya dan Aurel yang ingin tau lebih dalam tentang Alan juga merasa kecewa karena tidak mendapat jawaban apapun.


Seharian penuh para wanita wanita itu berbincang bercanda sambin menonton siaran televisi dan terkadang muncul gelak tawa yang terdengar, meskipun terkadang ada sindir menyindir dalam pembicaraan mereka. yang membuat suasana Villa menjadi berbeda dengan biasanya. sampai beberapa pelayan tidak ada hentinya mengantarkan makanan yang bisa di suguhkan pada mereka


sampai hampir menjelang sore tidak ada satupun yang beranjak dari tempat duduknya, berbeda dengan Alin yang hampir berkali kali pergi ke kamar mandi.


sampai akhirnya Rena mengusulkan saran pada mereka.


"Bagaimana kalau kalian makan malam disini saja?" ucap Rena


"Beneran kak kita boleh makan malam disini?" tanya Aurel antusias tentu saja dengan yang lainnya


"Boleh" ucap miya


"Mungkin.. pelayan sudah menyiapkan makan malamnya, kita tunggu saja sampai Alan datang" ucapnya


"Aku disini"


Tiba Tiba seseorang yang menjadi topik utama dari pembicaraan mereka seharian ini muncul di hadapan mereka. bersama dengan sahabatnya Jimmy yang juga ikut di belakangnya. Jimmy mengedipkan salah satu matanya pada Natalia yang di balas senyuman olehnya


"Alan" gumam mereka serentak. dan berdiri secara bersamaan


"Kau sudah pulang" Rena


"Hai Alan" Rena yang mulai menunjuk kan sikap genitnya di hadapan Alan. Begitu pula dengan Miya, meskipun tidak ikut menyapa Alan, namun perubahan sikap yang menunjukkan nya seperti wanita cantik dan anggun tentu saja membuat Alin dan Natalia merasa Muak.


"Iya kak. urusan kantor selesai dengan cepat" ucap Alan dan meneruskan langkahnya menuju pada Alin. dan memilih mengabaikan dua orang yang juga membuatnya muak


"Kau... tidak ikut menyapaku?" Ucap Alan dan melingkarkan tangannya pada leher Alin. tentu saja hal itu membuat Alin malu. bagaimana tidak disana masih terdapat banyak Orang.


"ee.. sayang.. kamu sudah pulang?" tanya Alin gugup karena malu


Cup...


meluncurlah kecupan hangat di dahi Alin


"Terlambat" tambah Alan


"Alan.. kau nakal sekali" ucap Alin malu malu


Tentu saja hal itu membuat Aurel dan Miya Berkobar kobar melihat perlakuan Alan yang begitu lembut padanya.


sial.. kenapa yang mendapat perlakuan itu bukan aku. Aurel yang meremas jemari jemari tangannya


Sialan kau Alin. lihat saja, cepat atau lambat Alan akan menjadi milik ku. Miya yang juga ikut meremas jemari tangannya