Last Night With You

Last Night With You
Bab 44



selama di perjalanan. Alan yang sedang mengemudi mendengarkan kakaknya yang duduk di samping pengemudi bercerita banyak tentang perjalanannya selama di luar negeri. tentunya menceritakan pada Alin karena kalau Alan sudah mengetahui semua kegiatan kakaknya di tiap harinya.


mereka tertawa ria mendengar cerita yang terkadang terdengar lucu. kecuali Miya yang terasa seperti orang asing ketika Rena hanya bertanya tentang Alin dan menyebut nyebut namanya. seolah tidak ada kehadirannya di sisi mereka.


sial! Kenapa aku merasa seperti orang asing. batinnya ketika melihat keakraban dia antara alin dengan Rena yang bahkan baru pertama kali bertemu. dan tak ada baginya kesempatan untuk ikut nimbrung di tengah tengah percakapan mereka.


"Oiya Alin..." menoleh kebelakang pada orang yang di panggilnya. Alin spontan mendongak kan kepalanya menghadap Rena


"aku dengar kamu... sudah tunangan sama Adik ku?" Tanyanya yang mendadak. membuat Alin tak sempat mempersiapkan dirinya dengan pertanyaan itu. wajahnya bersemu merah. malu malu Alin mengangguk kan kepalanya dengan mengenggam jemarinya yang sudah melingkar cincin yang sudah di berikan Alan. Alan yang tengah mengintip wajah malu malu alin di balik kaca mobil tersenyum melihat wajah merahnya.


"kamu memanggil dia Apa?"


"Alan.." gugup menjawab


"Alan?" mengangkat Alisnya dan terlihat sedang berfikir. ekspresinya menunjuk kan akan ketidak setujuannya pada panggilan Alin pada tunangannya.


"kamu memanggil ku apa?" sudah tak menghadap pada Alin


"ka kakak ipar" gugup Alin menjawab tidak tau ada apa dengan pertanyaan pertanyaan yang di berikannya pada dirinya


"lalu kenapa pada tunangan mu sendiri kamu masih memanggil namanya" menarik nafas panjang. "Alan juga.. kakak. tadi mendengar kamu juga memanggil nama Alin. Hei.. kalian ini sudah mau menikah lho. bukan pacaran lagi" merasa kesal sendiri


"dengar.. kakak tidak setuju kalian memanggil dengan panggilan nama kalian" ucapnya tegas. tidak ada yang menjawab omongan dari rena. Alin masih tertunduk memikirkan dia harus memanggil Alan siapa. sedangkan Alan sudah bisa menebak rencana kakaknya. wajahnya penuh dengan senyum kemenangan.


kakak... kamu memang yang paling mengerti aku. Alan


aku harus memanggilnya apa?. bukannya selama ini Alan sendiri tidak keberatan aku memanggilnya dengan namanya. tapi kenapa sekarang tidak menjawab sama sekali. Alin


sepertinya aku harus secepatnya membuat Rena tidak menyetujui hubungan mereka. Miya yang semakin kesal karena Rena malah membantu mereka berdua menjadi semakin dekat


"Hei bocah.. kenapa kamu diam saja. kamu tetap mau memanggil calon istri mu dengan namanya?" pukulan yang tak terlalu keras mengagetkan Alan yang tengah fokus pada kemudinya


"baik lah baik lah... kakak mau Alan memanggilnya apa?" Tanyanya yang terus fokus pada jalan yang masih di telusurinya


"kenapa kamu masih tanya sama aku bocah tengik. yang mau menikah sama kamu adik ipar bukan aku" lagi lagi Rena menimpuk adiknya karena kebodohannya


"ok ok yang mulia" menarik nafas panjang. mengalah berdebat dengan kakaknya yang tak mungkin bagi dirinya menolak perintahnya.


"Sayang... bagaimana kalau mulai dari sekarang aku akan memanggil mu sayang" nadanya dengan penuh goda yang di tujukan pada Alin. memasang senyum penuh bahagia.


sesuai rencana.. adik ku memang pintar. bergantilah senyum penuh kemenangan sudah berada di wajah Rena


Sayang? i.. ini kan terlalu intim. Wajah Alin bertambah merona. dia tidak terbiasa dengan panggilan seperti itu.


"Alin.."


"Alin.. kenapa kamu diam saja?" panggil Rena yang sudah membalik kan badannya ketika Alin tak menjawab panggilannya setelah beberapa kali dia panggil


"Ah iya kakak ipar" terkejut dan bangun dari lamunan nya


"kamu setuju kan dengan alan?" Tanya Rena.


Alin masih diam. dia malu untuk menjawab pertanyaan Rena. ketika hendak membuka mulutnya, mobil sudah berhenti di halaman villa yang sudah Alan siapkan untuk kakaknya.


"ah su.. sudah sampai.. kakak ayo kita masuk dulu" merasa terselamatkan Alin segera keluar dari mobil.


fiuuuh... selamat. Alin tersenyum lega


mereka berempat turun dari mobil. Miya yang melihat Villa megah di depan matanya melotot terkejut dengan keindahannya. Alan baru menyadari kehadiran Miya ketika mereka sudah keluar.


"Oh maaf. aku lupa kamu ikut dengan kami.. seharusnya tadi aku mengantar mu terlebih dahulu" ucap Alan yang entah kenapa memasang wajah dingin ketika berbicara. padanya. tidak dengan dua wanita yang saat ini tengah berada disisinya.


Sial.. dia bahkan melupakan kehadiran ku. amarahnya sudah memuncak namun dia tahan demi rencananya. memasang wajah penuh senyuman dan bersikap sangat manis.


"tidak apa apa tuan Alan. itu wajar ketika anda sedang dengan wanita wanita penting bagi mu" ucapnya menoleh ke arah alin dan tersenyum terpaksa padanya


" nanti akan aku suruh supir mengantar mu." berlalu masuk ke dalam villa meninggal tiga wanita yang masih berdiri memandangi punggung pria yang seketika berubah dingin itu.


"Adik.. kakak pamit dulu ya.. lain waktu kakak pasti mampir lagi" memeluk Alin dan tersenyum. menunjuk kan pada Rena bahwa dirinya sangat dekat dengan Alin.


kamu memang pantas menjadi aktor papan atas Miya. batin Alin membalas pelukan Miya penuh dengan tawa meskipun sedikit pun dia tak mau menyentuhnya


setelah pelukan akting itu berakhir. Rena dan Alin berlalu dari hadapannya.


kenapa harus kamu yang bisa menikmati semua kemewahan ini. kenapa juga harus kamu wanita yang di sayangi oleh tuan Alan. Aku.. seharusnya aku yang mendapatkan semuanya.


rasa bencinya sudah membuat akal sehatnya tidak stabil. dia bahkan akan menghalal kan segala cara demi mendapatkan semua yang di inginkannya.


wajar Miya selalu merasa iri pada Alin. sejak kecil memang ayahnya tidak terlalu memperhatikan dirinya bahkan juga pada Alin sendiri. namun kasih sayang Ayahnya selalu di tujukan pada Alin. banyak perbedaan perlakuan yang selalu di dapatkan dari ayahnya. Alin selaku anak kandungnya selalu mendapatkan perlakuan khusus dari wijaya. bahkan fasilitas fasilitas yang di dapat Miya tidak sebanding dengan yang di dapat oleh Alin


Apa hanya karena aku anak tiri.. kau memperlakukan aku berbeda dengannya. ketika melihat Alin yang selalu di sayang oleh ayahnya. waktu itu mereka masih sangat kecil. Alin yang polos tak melihat tatapan yang sangat penuh dengan iri itu di tujukan padanya. namun Miya.. sudah semenjak kecil menanam bibit bibit kebencian pada Alin hingga tumbuh menjadi sangat besar


seiring bertambahnya umur mereka .


"Apa yang seharusnya menjadi milik ku. cepat atau lambat... akan kembali padaku" tersenyum sinis dan masuk pada mobil yang sudah Alan siapkan untuknya.