
"aaaaach... Alan kamu mau ngapain?" lagi lagi Alin berteriak saat alan masuk ke dalam selimut dan memeluknya
Alin terus memberontak ingin melepaskan pelukan dari alan. tapi alan semakin mengencangkan pelukannya dan tak membiarkan alin lolos
"diam.. jangan bergerak.. atau aku akan ikut bergerak" ancam alan dengan senyum sinisnya
"Ok ok.. aku diam" ucap alin dan tak berani untuk bergerak sedikitpun
Alan tersenyum melihat alin bagaikan patung yang tak bergerak. sebenarnya alan hanya mengambil kesempatan itu untuk berlama lama memeluk alin
"hei.. sebenarnya kamu mau ngapain sih... cepat lepaskan aku" ucap alin mulai kembali memberontak
"Diam.. biarkan aku memeluk mu sebentar saja " ucapnya dan alin kembali terdiam
Alan terus memeluknya di dalam selimut pagi itu.
"dia kenapa hari ini?" batin alin dan terus diam tak bergerak sampai akhirnya
kriiiinnngg kriiinngg...
suara telepon alan berdering
"itu itu telepon mu berbunyi" ucap alin dan mendorong alan dari tubuhnya
"siapa pagi pagi begini yang berani menelepon?" gumamnya
ketika melihat layar di teleponnya ternyata jimmy yang pagi pagi sudah menghubungi nya
"hallo.. ada apa jim?" sapa alan begitu kesal
"Ada apa ada apa.. kamu lupa ya, hari ini kita bakalan balik. aku dan natalia udah mau berangkat. pokoknya kami tunggu kamu disana"
tut....
setelah menyampaikan panjang lebar jimmy langsung memutuskan panggilan itu. tidak memberikan kesempatan untuk alan berbicara
"berani sekali jimmy" ucapnya
"kenapa?" tanya alin
"ooooh tidak... kamu masih ingin pulang kan? Cepat siap siap setelah itu kita pergi ke bandara" ucap alan
"Siap laksanakan " balas alin dan langsung lari ke kamar mandi
Alan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya yang masih seperti anak kecil. dia pun beranjak ke kamarnya untuk siap siap dalam perjalanannya hari ini.
setelah selesai siap siap. Alin dan alan memasukkan persiapan mereka ke dalam bagasi mobil dan supir mengantar mereka ke bandara. sangat terlihat jelas. Alin begitu bahagia saat itu.
ketika sampai di bandara. mereka mendapati jimmy dan natalia dengan kopernya masing masing
"kalian lama banget sih... aku sudah lama yang nungguin " ucap jimmy. padahal mereka berdua juga baru sampai di bandara hanya saja lebih dulu mereka berdua dari pada alan dan alin
"macet" alasan alan
"ya sudah. ayo segera cek in... sebentar lagi pesawat akan lepas landas " lanjut alan dan menggenggam tangan alin dan menarik tangannya. sedangkan jimmy dan natalia berjalan saling sejajar layaknya seorang pasangan
beberap menit setelah cek in akhirnya pesawat itu lepas landas semua penumpang yang hendak pergi ke kota s sudah duduk di tempatnya masing masing. selama perjalanan tidak lama setelah pesawat lepas landas. Alin tertidur dan tidak sengaja tertidur di pundak Alan
"dasar kebo" gumam alan dan dia tersenyum
beberapa jam kemudian
"alin... Alin bangun.. kita sudah sampai "
Alan membangunkan alin dengan pelan agar tak membuatnya pusing ketika dia terbangun
Alin menggeliat dan perlahan membuka matanya.
"sudah sampai kah?" ucapnya ketika mendapati banyak penumpang sudah berhamburan keluar pesawat
"sudah berapa lama aku tertidur?" tanya alin
"baru beberapa menit pesawat lepas landas.. kamu sudah tertidur" jawab alan
"eemmm"
mereka berdua masih belum beranjak dari duduk mereka. menunggu penumpang yang lain selesai turun semua dari sana
"oiya.. tadi kamu mimpi makan apaan?" tanya alan ketika mendekat pada alin
"emang kenapa?" tanya alin penasaran
"air liur kamu basahin pundak aku hihihi" bisik alan tepat di telinga alin. dan alin melirik ke arah bahunya
"aaaah KAMU..." wajah alin memerah karena malu. dia segera beranjak dari duduknya
"Nat.. ayo turun duluan " ucap alin dan menarik tangan natalia ketika dia melihat natalia juga masih ada disana
"eh kenapa dengan alin?" tanya jimmy ketika mendekat pada alan
Alan hanya menjawabnya dengan mengangkat bahunya dan tersenyum ketika mengingat wajah alin yang memerah karena malu
"yaudah ayo keluar" ucap alan dan melangkah keluar dari pesawat
"Apa yang terjadi dengan mereka?" gumam jimmy dan mengikuti langkah alan keluar dari pesawat
ketika mendapatkan barang mereka masing masing mereka berkumpul diluar bandara. Natalia ikut jimmy yang sudah di jemput oleh supirnya dan yang akan mengantarnya kerumah natalia.
mereka berpisah di bandara menuju tempat masing masing. sesuai perjanjian, Alin harus tinggal di apartemen milik alan dan tinggal bersama dengannya.
mobil itu berhenti di depan apartemen yang paling mewah di kota S. Alin mengikuti alan masuk ke dalam apartemen itu, mereka berdua di sambut oleh resepsionis disana dan membawakan barang yang di bawa oleh alin
ketika masuk dalam lift angka disana berhenti telat di angka 10 yang artinya mereka berada di lantai sepuluh. sedangkan angka angka di dalam ada sebanyak 38. di lantai sepuluh sudah sangat tinggi apalagi lantai paling atas pikir alin
Alin terus mengikuti langkah alan yang akhirnya berhenti di depan kamar bertuliskan angka 103 10. resepsionis yang sedari tadi mengikuti mereka juga sudah pergi dan mereka masuk ke dalam apartemen tersebut
"disini hanya ada satu tempat tidur. jadi kita akan berbagi tempat tidur " ucap alan yang mengantar alin ke kamar mereka
"apa?" ucap alin setengah berteriak mendengar penjelasan dari alan
"kenapa?" tanya alan
"apartemen ini sepertinya cukup besar. pasti ada dua atau tiga kamar kan?" tanya alin
"ya kamu benar. tapi kunci kamar ke dua dan ketiga aku lupa narohnya di mana hanya ada kamar utama yang selalu ku bawa" ucap alan dan membuka pintu kamarnya
"haiiss kurasa dia sengaja" gumamnya dan ikut masuk ke dalam kamar itu
"sebelah sini tempat pakaian ku dan sebelah sini tempat untuk mu" ucap alan dan alin mengangguk kan kepalanya
"kamu cepat beres beres barang barang kamu. aku masih harus keluar, nanti jam 7 malam akan aku jemput kamu untuk pergi" ucap alan
"MAU kemana?" tanya alin
"perjamuan sesama rekan perusahaan. untuk gaunnya biar sekertaris ku yang mengantarnya kesini" balas alan dan alin mengangguk kan kepalanya yang artinya dia mengerti
Alin mengusap kepala alin seperti anak kecil
"aku keluar dulu. kamu diam disini dan beres beres barang mu. ingat nanti malam aku jemput kamu" ucapnya dan alin membalasnya dengan tersenyum
Alan mengecil keningnya seperti layaknya seorang suami yang mencium istrinya ketika dia mau berangkat bekerja. penuh dengan kelembutan sehingga hembusan nafasnya yang hangat dapat alin rasakan di keningnya
"kamu baik baik disini" ucapnya dan melangkah keluar dari kamar itu
"hati hati " ucap alin keburu. ketika mendengar ucapan itu, alan sempat menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke arah alin dan tersenyum ketika. mendapat balasan dari alin kemudian dia melanjutkan langkahnya pergi dari apartemen itu