
"Alan kenapa kamu berdiri saja" ucap Rena yang kedua tangannya tengah sibuk membongkar isi koper yang berisi oleh oleh darinya
"sini bantu kakak dan Adik ipar bongkar ol3h oleh ini..." meneruskan aktivitasnya. "nanti tidak kebagian oleh olehnya jangan salahkan kakak loh ya" tertawa kecil meskipun dia sendiri tau kalau adik nya tidak akan tertarik dengan hal begituan.. tapi jika menyangkut tentang alin berbeda lagi ceritanya...
"Baiklah" Alan mengalah ketika melihat Alin begitu bersemangat dengan hadiah hadiah yang di bawa kakaknya.
Alan melangkah dan duduk mendekat pada mereka. memilih duduk di samping Alin
"Kamu menyukainya?" Tanya Alan.
"hemm... suka" tersenyum menjawab pada Alan
"kakak. terimakasih sudah membuat Alin ku senang" Alan juga tersenyum pada kakaknya
"cih aku tak mengharapkan pujianmu... asalkan adik iparku senang kamu bisa mengambil apapun yang kamu mau" beralih dari Alan terhadap alin dan menebar senyuman yang sangat tulus padanya.
"Alin.. kamu pilih apa saja yang kamu suka.. sisanya akan aku berikan pada pelayan yang ada disini" menawarkan beberapa barang pada Alin. "kamu juga bisa pilihkan hadiah pada bocah itu" ucapnya melirik seseorang disamping Alin
"Hemm"
dua sepasang wanita itu sibuk dengan hadiah hadiahnya. yang satu merekomendasikan pada pemilih dan yang satunya antusias mendengarkan rekomendasi dari sang pemberi. Alan terlihat senang melihat mereka yang begitu akrab.
Aku memang tidak salah memilih wanita. batinnya tersenyum hangat melihat mereka
"Oiya Alin.. rencananya kalian mau menikah kapan?" tiba tiba pertanyaan telak itu Membuat Alin terbelalak dan menghentikan kegiatan di tangannya
"ah.. soal itu.." melirik Alan meminta bantuan padanya.
"kakak kita sebenarnya sudah merencanakannya"
Apa? kapan kita merencanakannya. Alan jangan aneh aneh deh. batin Alin
"oh ya... kapan?" girang mendengar bahwa mereka sudah merencanakan pernikahan mereka.
"rencananya sih setelah dia lulus kuliah" ucap Alan merangkul pinggang Alin dan tersenyum manis padanya. Alin Juga tersenyum padanya namun banyak keheranan terlihat pada wajahnya
kapan kamu merencanakan semua itu. setelah kuliah? bukankah akan seperti pepatah yang mengatakan tutup buku buka terop. aaggh Alaaan
Alin yang semakin tak mengerti membayangkan dirinya setelah hari kelulusannya
"bagus dong" meraih tangan Alin. "memang seharusnya kalian melakukan pernikahan setelah pendidikan mu selesai" penuh kasih sayang seperti kasih sayang seorang kakak yang sebenarnya.
Alin membalas senyuman itu juga dengan penuh kasih sayang.
"sudah sudah.. kakak baru saja sampai lebih baik istirahat dulu. sekarang aku dan Alin akan kembali dulu ke perusahaan" berdiri meraih tangan Alin. "besok aku akan izinkan cuti untuknya untuk menemani kakak" ucapnya
"Baiklah.. hati hati " dan Alin pun berpamitan pada Rena.
****
"Alan..." ragu ragu menyapa
"hemm" mengalihkan pandangannya pada Alin
"kenapa kamu mengatakan telah merencanakan pernikahan setelah kelulusan ku?" pertanyaan yang terus melayang layang di dalam benaknya
"apakah kamu keberatan?" balik bertanya
"bukan... bukan seperti itu maksudku" terbata bata menjawab
"terus kenapa alin? Apalagi yang kita tunggu? kita sudah tunangan loh" meraih tubuh Alin dan di pelukannya dalam pangkuannya
"Apa kamu... belum siap?"
"ah bukan seperti itu.." wajahnya memerah dan tersipu
"sudah jangan pikirkan itu lagi. kelulusan mu masih kurang lebih setengah tahun" mengecup kening Alin
"sekarang kamu fokus pada magang mu.. ok" masih tetap memeluk tubuh mungilnya
perjalanan masih terus berlanjut. matahari masih tidak terlalu tinggi beranjak. jam tangan Alin masih menunjukkan jam 09.25 masih ada waktu mengikuti rapat yang harus di hadiri alan. perjalanan sangat damai, Alan menyandarkan kepala alin pada dirinya. membelai lembut kepala dengan rambut ikal yang sangat indah dengan wangi yang khas miliknya. beberapa kali Alan menciumi rambut wangi Alin yang sangat nyaman baginya.
"kau... memakai shampo apa?" tiba tiba ingin tau shampo apa yang di pakainya
"shampo?" bingung dengan pertanyaan yang di lontarkannya
"Iya... kamu memakai shampo apa?" mengulangi pertanyaannya lagi
"oh itu.. aku memakai shampo yang di kamar mandi. kenapa?" balik bertanya pada Alan
"benarkah? tapi sepertinya meskipun aku memakai shampo yang sama dengan mu. wanginya berbeda" memegang kepalanya dan mencium tangannya
"tidak ada wangi apapun"
"hahahahahah" Alin terbahak mendengar penuturan Alan. bagaimana bisa lelaki ini seperti anak kecil. tidak berhenti tertawa
"kenapa?" Tanya Alan bingung
"bodoh jika seperti itu bagaimana kamu bisa mencium wanginya" masih terus menahan tawa mengingat tingkah Alan
"apa katamu? bodoh?" wajah Alan tiba tiba suram
uupps sepertinya aku salah bicara deh. pikirnya dan berhenti tertawa
"ah ti tidak ada hhe" terlihat gugup dan menghindari pandangan Alan.
"begini... jika kamu mau tau wanginya.. kamu harus mencium rambut mu. seperti ini" meraih kepala Alan dengan kedua tangannya. mencium rambut alan dengan lembut.
" bilang saja kalau mau mencium ku" tiba tiba Alan tersenyum menggoda Alin. Alin terbelalak
"tidak usah pakai alasan mau tau wangi rambutku" Alin melepaskan tangannya dari wajah alan.
"Kamu.. kamu sengaja kan?" tanya Alin dengan wajah yang sudah tersipu
"Tidak... kamu saja yang ingin mencium ku " gantian Alan menertawakan Alin yang bingung mau menjawab apa
"si.. siapa yang mau mencium kamu" Alin sudah emosi karena di kerjain olehnya dan mengalihkan pandangannya keluar jendela
"sayang.. aku tidak keberatan kok. kalau kamu mau mencium ku" merangkul bahu Alin
Tiba tiba mobil berhenti di depan perusahaan paling besar di negara ini. berhenti di tempat parkir khusus untuk presedir.
"ah sudah sampai" Alin menyerbu keluar terlebih dahulu meninggalkan Alan yang masih tersenyum puas
****
Rapat masih berlanjut. selain Alan dan para petinggi petinggi perusahaan. Alin juga mengikuti meeting siang itu. disampingnya jimmy membantunya mengerjakan pekerjaan miliknya. kali ini Alan memintanya mencatat bagian bagian penting dari isi meeting tersebut. yang mana akan sangat berguna untuk kelulusannya untuk akhir magang nantinya.
isi dari setiap meeting itu berguna untuk pengalaman Alin. apalagi di dalam perusahaan terbesar di dalam negeri bahkan banyak sekali cabang di dalam maupun di luar negeri. akan sangat berguna untuk pengalamannya yang dapat di serap di dalam perusahaan tersebut
hampir dua jam meeting tersebut berlangsung. Alin menjalankan dengan sangat serius. sampai akhirnya Alan menghentikan meeting tersebut tepat pada jam waktu makan siang. para petinggi mulai bubar dari ruangan hanya tersisa dirinya san dua orang pria yaitu jimmy dan Alan.
"Jimmy.. Natalia di ruangan mu?" Tanya Alin
"Iya.. dia disana" ucapnya antusias ketika membicarakan natalia
"aku akan kesana menemuinya. boleh?" meminta persetujuan pemilik ruangan tanpa melihat ada sepasang mata yang sedang memandang tidak senang dengan kedekatan mereka
"kenapa tidak.. kita bisa kesana bareng" ajak jimmy bersemangat. tanpa disadari semangatnya mungkin akan berdampak buruk baginya
"kalau begitu ayo kita kesana" Alin sudah membereskan peralatan peralatan meetingnya dan berdiri bahkan sudah melangkah untuk pergi ke ruangan jimmy yang kemudian di susul olehnya
sial! dia mengabaikan aku. Alan yang sudah geram melihat Alin bahkan tidak berbicara padanya
bergegas Alan mengejar Alin dan menangkap tangan Alin.
"Alan" tanya Alin ketika berbalik mendapati alan yang memegang tangannya dengan wajah yang sangat sulit di jelaskan