Last Night With You

Last Night With You
Bab 53



"kalian mau kemana?" tanya Rena ketika Alan menarik tangan Alin menuju tangga


"aku akan membawanya ke kamar. sudah cukup kakak bersamanya sepanjang hari. sekarang giliran ku" ucap Alan terus menaiki tangga bersama Alin


"Dasar pelit" umpat Rena membuat yang lain tertawa, tentu saja kecuali Aurel dan Miya yang justru merasa jengkel


"Sayang.." panggil Jimmy pada Natalia


"kita juga pergi yuk" ucapnya lagi


"kemana?"


"keliling Villa" tambah jimmy


"Baiklah"


Akhirnya tinggal lah Rena, Aurel dan Miya. mereka saling bertukar pandang. meratapi nasib yang kesepian tanpa pendamping


"haaiissh. ya sudah kakak ke kamar dulu" ucap Rena.


"biar pelayan meyiapkan kamar untuk kalian beristirahat sampai makan malam nanti" tambahnya lagi. dan berlalu meninggalkan Aurel dan Miya


Lengkap sudah kemarahan mereka. di perlakukan bagai orang asing oleh dua saudara jackson tersebut, yah meskipun mereka benar benar orang asing.


"Mari nona... saya antar kan kalian ke kamar yang sudah kami siapkan" ucap salah satu pelayan yang tiba tiba menghampiri mereka.


Aurel dan Miya pun ikut bersama pelayan tadi.


"Sial" teriak Aurel ketika sudah sampai pada kamar yang di siapkan oleh pelayan Villa.


"Alin... Alin... Alin... kenapa dia selalu merusak rencanaku" teriaknya lagi sambil membating tas mahal yang di bawanya. untungnya kamar itu kedap suara. jika tidak, mungkin orang orang yang berlalu lalang di Villa itu akan mendengar teriakannya yang menggema di seluruh ruangan tersebut


"Kita harus mencari cara untuk menyingkirkannya dari sisi Alan" ucap Miya yang tengah duduk di tempat tidur di kamar itu


"Tapi bagaimana caranya?" Aurel menghampiri Miya


"jika saja kita tau kelemahan Alan. akan sangat gampang memisahkan mereka" ucapnya penuh kelicikan


kelemahan?. Batin Aurel, seperti sedang mengingat sesuatu


"kurasa aku tau kelemahannya" ucapnya setelah mendapat jawaban dalam pikirannya. wajah penuh dengan senyuman liciknya terukir di wajah Aurel.


*****


"Sayang"


"Hemm" jawab Alin sekenanya


Alan merasa Alin tengah mengabaikannya. padahal Alin hanya membereskan baju yang baru di pakai olehnya dan meyiapkan pakaian yang akan di pakainnya malam ini


"kemari" ucap Alan yang tengah menunggu di atas ranjangnya


"Sebentar.. masih belum selesai" jawab Alin cepat


ck...


Alan sudah tidak sabar


"Saayaang" panggilnya lagi dengan agak di tekan


"Ada Apa?" Alin melingkarkan tangannya di leher lelakinya itu


"Kau mengabaikan ku semenjak aku pulang" jawab Alan merajuk


"kapan?"


"mana berani aku mengabaikan mu ha" lanjut Alin


"dari aku pulang kantor, kamu bahkan tidak menyapaku" ucapnya


"mungkin kalau aku tidak menarik mu kesini.. kau akan terus mendiamkan ku" lanjutnya


"di sana banyak orang. Ada kak Rena juga di sana" mencoba memberi pengertian padanya


"Lalu kenapa?"


"aku... aku malu" jawab Alin sembarangan


"malu?" Alin mengangguk


"sebegitu malunya kah kamu mempunyai tunangan seperti ku"


gawat sepertinya Alasanku membuat dia marah


"bukan seperti itu.." Alin mencoba membujuk Alan yang tengah merajuk


muah.. muah.. muah..


"sudah sudah... mandi dulu habis itu bersiap untuk makan malam. ok!" pinta Alin


Hati Alan luluh seketika mendapat banjir kecupan hangat di wajahnya


Saat Alin mau melepaskan tangannya. Alan menariknya dan memeluknya dengan mesra. ada perasaan nyaman setiap kali dia memeluk tubuh Alin. perasaan Damai dan hangat. perasaan yang tidak ia dapatkan dari orang lain. ia dapatkan semenjak malam itu. malam yang membawa takdir mereka.


"Alan..." gumamnya


"biarkan aku memeluk mu. ok!" pintanya dengan lembut.


Alin diam menerima pelukan hangat dari lekakinya tersebut. cukup lama, hampir satu jam mereka berdiam dengan pelukan yang tak kunjung berakhir oleh Alan. Alin merasa pegal karenanya. saat menyadari perubahan di tubuh Alin. Alan melepaskan pelukannya, lelahnya terasa hilang begitu saja.


Cup....


Satu buah kecupan meluncur ketika berdiri dari duduknya.


"Mau ikut mandi denganku?" goda Alan.


Alin tidak menjawab. dan langsung saja wajah nya memerah karena malu.


"Mau tidak?" godanya sekali lagi


"Alan.." teriak Alin kesal


"dasar tidak tahu malu" ucap Alin sekali lagi dan memalingkan wajahnya agar tidak ketahuan oleh Alan


Alan tertawa gemas melihat reaksi Alin yang begitu malu karena godaannya. tanpa mengatakan Apapun Alan berlalu ke kamar mandi. meninggalkan Alin yang masih memerah wajahnya karena Malu.