
tak lama setelah polisi polisi itu datang, terlihat mereka, Jimmy dan Alan keluar dari dalam bar itu, terlihat tangan kanan Alan terus memegang lengan kirinya, disana terlihat darah membasahi tangan dan bajunya. wajah Jimmy khawatir akan Alan, lukanya cukup dalam.
saat Natalia menyadari Alan terluka dia langsung keluar meninggalkan Alin di dalam mobil.
"Alan kamu kenapa?" tanya Natalia merasa khawatir
"Nanti aku ceritakan, sekarang kita pulang dulu ke villa Alan" ucap Jimmy, dan menyuruh Natalia masuk kembali ke dalam mobil
Natalia menurut masuk kembali menemani Alin, terlihat Jimmy sedang menelepon seseorang, setelah selesai mereka berdua juga masuk ke dalam mobil, karena Alan terluka cukup parah, Jimmy yang menggantinya menyetir mobil
mobil itu melaju dengan, melihat luka Alan yang cukup dalam, Jimmy pun mempercepat mobilnya, selama perjalanan tak ada yang berbicara satu patah katapun, suasana menjadi tegang, wajah suram, dingin dan penuh akan emosi itu masih sangat jelas di wajah Alan. sesekali Natalia melihat kearah kaca mobil, dia melihat Alan sesekali melirik kearah Alin.
"Alan benar benar peduli pada Alin" bisik Natalia di hatinya
"kamu seharusnya merasa beruntung Alin, meskipun dia yang pernah menodai kamu, tapi dia begitu peduli padamu" lanjutnya
perjalanan itu terus melaju, tanpa ada suara apapun, hening dan damai meskipun suasananya sangat mencekam
Setelah sampai di villa yang sangat megah itu, Natalia merasa sangat terkejut
"ternyata ada villa seperti istana di kejahuan kota" bisik Natalia
Alan membukakan pintu mobilnya untuk Alin yang sudah tidak sadarkan diri
"Alan, biar aku saja yang membawa Alin ke dalam" ucap Jimmy ketika melihat Alan hendak menggendong Alin di pangkuannya
"tidak usah" jawabnya dengan dingin dan langsung membawa Alin masuk kedalam villa yang di ikuti Jimmy dan Natalia
setelah masuk ada dokter dan cukup banyak pelayan yang sudah menunggu, mereka semua menghampiri Alan
"Tuan anda tidak apa apa?" tanya kepala pelayan pada Alan
"aku tidak apa apa bibi Mai" jawab Alan
"biarkan dokter memeriksa anda terlebih dahulu" ucap wanita paruh baya itu terlihat sangat khawatir melihat tuannya yang terluka parah masih menggendong seseorang dalam pangkuannya
"nanti saja... oiya bibi Mai, siapkan kamar satu kamar untuk teman Jimmy, siapkan makan malam dan buatkan sup untuk menghilangkan mabuk" ucap Alan langsung naik tangga menuju kamarnya
"baik tuan"
kemudian Alan menghentikan langkahnya
"oiya suruh beberapa pelayanmu untuk menyiapkan baju untuk nyonya dan tolong mandikan nyonya di kamar ku"
"baik tuan" jawab bibi Mai dan langsung pergi dari ruangan itu, mengerjakan perintah dari tuannya
"dan dokter Zu, ikut aku ke atas" perintah Alan yang kemudian melangkah pergi diikuti dokter itu
"nyonya?" tanya Natalia pada Jimmy yang merasa terkejut dengan setiap perkataan yang di lontarkan Alan
"ya begitulah, dia sangat peduli pada Alin, hanya saja dia tidak tau mau berbuat apa, sehingga Alin benar benar mau menerimanya" jawab Jimmy
"dasar Alin bodoh, awas saja kalau sudah sadar akan aku hajar dia habis habisan... bisa bisanya pria sebaik Alan dia tidak mau menerimanya" ucap Natalia yang kesal dengan sahabat satu satunya itu
"Alin hanya melihat ketika Alan berbuat seenaknya pada dia, jadi biar bagaimanapun dia masih belum mengerti sisi baik dari Alan, meskipun perilakunya dingin dan kejam, Alan mempunyai alasannya sendiri kenapa dia berbuat seperti itu" ucap Jimmy
"tenang saja, selama ada aku, aku akan membantu Alin supaya dia sadar ada seseorang yang benar benar peduli padanya" ucap Natalia tersenyum pada Jimmy yang kemudian Jimmy membalas senyuman yang manis itu
"kita ke atas yuk.. lihat bagaimana keadaan Alan dan Alin sekarang" ajak Jimmy
"iya" jawab Natalia dan mengikuti langkah Jimmy.
Natalia masih saja terlihat terkejut dengan villa yang sangat mewah itu, di atas pun ruangan itu sangat luas dan indah.
"kenapa Nat?" tanya Jimmy yang seperti mendengar Natalia berbicara
"aah e tidak tidak" ucap Natalia
ketika sampai pada kamar Alan, terlihat seorang dokter sedang mengobati lukanya, mereka masuk ke dalam dan melihat Alin tidak ada di dalam kamar itu
"bagaimana keadaan Alan dok" tanya Jimmy ketika melihat dokter sudah selesai membalut lukanya dengan perban
"lukanya cukup parah, dan tuan Alan banyak kehilangan darah, jadi saya anjurkan untuk istirahat beberapa hari sampai lukanya benar benar sembuh" kata dokter
"oiya untuk sementara jangan melakukan hal hal yang bisa membuat luka tuan terbuka" ucap dokter sekali lagi
"iya dokter" kata Jimmy
"saya pergi dulu tuan, saya sudah menyiapkan obat untuk anda, dan ingat untuk meminumnya" ucap dokter yang kemudian Alan mengangguk dengan perintah yang dikatakan dokter
"aku antar dokter keluar dulu" ucap Jimmy
dokter dan Jimmy melangkah keluar sedangkan Natalia masih ada didalam kamar Alan.
"kamu tidak apa apa kan?" tanya Natalia memberanikan diri untuk bertanya
"aku tidak apa apa" jawab Alan
"oiya... Alin dimana?" merasa bingung karena dari tadi tidak melihat keberadaan Alin
"dia sedang di mandikan oleh pelayan di kamar sebelah" ucap Alan
"kamu istirahat saja dulu, tidak usah khawatirkan Alin" lanjut Alan
"eemm ok, kalau gitu aku keluar dulu" ucap Natalia yang kemudian Alan mengangguk dan Natalia keluar dari kamarnya
Alan bangkit dari duduknya dan pergi keluar menuju kamar Alin, ketika masuk dan melihat Alin sudah tertidur, Alan merasa sangat lega. dia yang masih marah merasa khawatir ketika Alin seperti tadi lagi. Alan berjalan mendekat pada ranjang yang sudah terbaring wanita yang membuat perasaan nya selalu kacau ketika memikirkan wanita itu
Alan duduk di dekatnya, membelai wajah lembut yang tenang di hadapannya. tanpa dia sadari wajah yang dari tadi selalu memasang wajah dingin dan penuh emosi, sekarang tersenyum. melihat wajah yang sangat damai di depannya, dia merasa lega dan tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi pada wanita itu
"kenapa kamu selalu membuatku khawatir" gumam Alan
"kenapa aku harus begitu peduli padamu" lanjutnya yang terus membelai wajah Alin
Alan menarik selimut di tubuh Alin, kemudian beranjak keluar dari kamar Alin menemui Jimmy yang sedang berada di balkon
"kenapa kamu tadi diam saja melihat Alin di kelilingi preman itu" tanya Alan
"******, yang harus di hadapi, tetap akan di hadapi" ucapnya di dalam hati dengan mengerutkan keningnya
"eeehh aku sudah berusaha menghentikan dia Lan, hanya saja dia mengancam ku akan melakukan hal nekat jika terus memaksanya sampai akhirnya preman preman itu datang" jelas Jimmy
sebenarnya Alan sudah tidak mempermasalahkan kejadian itu tadi, biar bagaimanapun preman itu juga sudah di bawa polisi. tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi olehnya
"oiya buat entertainment group bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Kusuma" ucap Alan pada Jimmy setelah dia menghidupkan batang rokoknya
"Alan beberapa hari yang lalu kamu sendiri yang membuat perusahaan itu hampir bangkrut dengan membeli beberapa saham milik mereka, dan sekarang? kamu mau membantunya?" tanya Jimmy yang sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir dari Alan
" lakukan saja sesuai perintah ku, dan kirim dokter terbaik untuk mengobati ayah Alin, dan aku mau dia sembuh dalam waktu singkat ini" ucapnya
"setelah berhasil bekerja sama dengan mereka, buat pesta yang akan di adakan di perusahaan mereka" lanjutnya
"baik lan" jawab Jimmy