
Lara menggenggam tangan Senja erat. Ingatan satu tahun yang lalu terus berputar-putar di kepalanya. Masa lalu yang membuat keluarganya hancur berantakan. Masa lalu pahit yang ia ketahui saat pergi ke taman bermain bersama kedua orang tuanya. Pertemuan dengan oranh yang bahkan Lara sendiri tidak mempercayainya.
Semenjak pertemuan itu, ia benar-benar menjauh dari ayahnya. Keluarganya hancur dengan orang tuanya yang terus-terusan bertengkar. Ibunya yang selalu hilang kendali saat melihat Lara dan melampiaskan amarah terhadapnya.
Ia menutup matanya geram. Tidak cukup melihat keluarganya hancur berantakan, kini wanita itu datang kembali dengan wajah semangat tanpa merasa bersalah.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Lara jengah. "Pergilah! Kami sedang tidak menerima tamu."
Wanita dengan polesan tebal tersebut hanya tertawa menanggapi pertanyaan Lara. "Ternyata begini cara wirawan mendidik anaknya. Sangat disayangkan," ucapnya sambil berdecak meremehkan.
"Tolong jangan bawa-bawa nama keluarga saya!" seru Lara lantang sambil menunjuk wajah wanita tersebut.
"Momi, pleaeee."
Rengekan gadis yang Lara perkirakan ummurnya setahun di atas Senja membuatnya menoleh jengah. Bukan hanya ibunya saja, anaknya pun sukses membuat emosi lara naik ke ubun-ubun.
"Tolong keluar dari sini!" pinta lara dingin dengan penuh penekanan.
"Apakah kau tidak ingat? Di depanmu juga berdiri darah daging wirawan dan rumah ini peninggalan wirawan. Kami juga berhak atas rumah ini."
Lara menggeram marah mendengar jawaban dari wanita tersebut. Ia lantas melepas pegangan senja lalu berjalan cepat menuju dapur. Ia membuka seluruh laci lemari, lalu mengambil barang ia cari dan kembali cepat ke depan.
"Lara!" teriak senja panik saat melihat ia kembali membawa sesuatu di tangannya.
"Mundur, Senja!"
Lara lalu mengacungkan sesuatu yang ia pegang ke arah ibu dan anak di depannya. "Kau ingin hak, eh? Mari, kita lihat siapa yang paling mempunyai hak."
Mereka mundur perlahan dengan wajah panik. Si anak ditarik ibunya untuk berlindung dibelakangnya. "Kau takkan bisa melakukan ini kepada kami. Percayalah, kau akan menyesal," ucap Sheila--wanita yang sekarang berdiri ketakutan di depan lara.
"Tidak. Aku tidak akan pernah menyesal setelah melakukan ini kepada kalian berdua. Parasit yang sudah membuat keluargaku hancur berantakan."
Lara terus mengacungkan pisau yang ia pegang. Tangannya bergetar hebat, namun emosinya kali ini tidak lagi bisa ia tahan.
"Lara, Senja mohoh jangan!" pinta Senja sambil memeluk Lara dari belakang.
"Kamu buat Senja takut. Turunin pisau yang kamu pegang."
Lara merasakan badan Senja bergetar pelan di belakangnya. Senjanya takut. Yah, Senjanya takut melihat Lara seperti itu.
Perlahan ia menurunkan pisau yang ada pada genggamannya, lalu membuang asal pisau dan menarik Senja ke dalam pelukannya. "Maafin Lara, Senja. Maaf," ujarnya lirih sambil mengelus lembut kepalanya Senja.
"Kami mempunyai hak di sini."
Lara kembali menatap wanita dengan polesan bedak tersebut yang kini nampak angkuh, padahal tidak kurang dari 5 menit barusan wajahnya tampak terlihat ketakutan.
"Ini, lihat ini!" Sheila mencampakkan selembar surat ke hadapan Senja dan Lara.
Lara tetap bergeming, berbanding terbalik dengan Senja yang menjongkok lalu memungut kertas tersebut dan membacanya.
"Sebelum wirawan pergi, ia menulis wasiat ini. Ia tidak akan menelantarkan kami," ucap Sheila sambil tersenyum tipis.
"Bagaimana mungkin seseorang yang sekarat bisa menulis wasiat?" tanya Lara dingin sambil melonggarkan pelukannya terhadap Senja. Ia lalu duduk di atas sofa sambil menyilangkan kakinya.
"Mama, ayo kita pergi aja dari sini."
"Mama sedang perjuangin apa yang menjadi hak kita, Dara," bentak Sheila kesal terhadap anaknya.
Dara hanya tertunduk sedih. Dari awal hatinya memang tidak menyetujui tindakan sang mama.
"Drama yang menyedihkan."
Lara kembali bersuara dengan tepukan tangan heboh. "Mungkin kalau kalian berdua melamar menjadi aktris, akan langsung diterima tanpa seleksi."
Lara terkiki girang. Senja yang berada di depannya kaget dengan mulut yang terbunga.
"Lara," lirihnya.
"ini bukan Laranya, Senja," batin Senja yang mulai berteriak khawatir.
"Bagaimana mungkin kau tidak bersedih mendengar kabar bahwa ayahmu meninggal?"
Lara melirik sekilas ke arah Senja, lalu menyilangkan tangannya pongah. "Penghianat seperti dia tidak pantas untuk ditangisi. Bahkan bumi pun enggan menerimanya," ucap Lara dengar wajah datar.
"LARA."
Suara Senja membuat Lara tersentak kaget. Ini pertama kali ia dibentak oleh Senja dan itu semua dilakukannya di depan dua wanita yang amat ia benci.
"Dia papa kita, Lara." Senja menunduk lemas. "Mereka tetap orang tua kita."
Lara mendesah. Kali ini ia mengaku kalah, kalah dengan hatinya yang selalu bertindak benar. Ia lalu memeluk Senja erat. "Maafin Lara, Senja. Maaf."
"Ck, ternyata drama kalian lebih memuakkan."
Lara melirik sinis kepada Sheila. Ia semakin membeci muka dengan bedak tebal tersebut. Ingin rasanya ia mengusir kedua mahkluk tersebut dari rumahnya.
"Biarkan mereka tinggal di sini. Itu wasiat terakhir papa, kita harus mengerjakannya," lirih Senja sambil berdiri meninggalkan ruang tamu.
Berjalan dengan kepala menunduk menahan sesak. Sama seperti Lara, yang mendongakkan kepalanya, menempelkan di sofa dengan mata tertutup.
"Ma, apa yang harus Lara lakuin?" batin Lara pilu. "Lara rindu mama."
Perlahan ia membuka matanya, lalu berdiri dengan tangan mengepal. "Kamar kalian ada di dekat dapur. Jangan harap mendapatkan kamar lain di rumah ini. Ingat! Kalian berdua hanya menumpang, bukan pemilik," ujar Lara sambil meninggalkan ruang tamu.
"Ahhh, iya satu lagi." Lara brhenti di tangga ke dua, lalu menoleh dengan wajah datar. " Jangan pernah dekati kamar pertama setelah tangga. Jangan berpikir kalian bisa seenaknya tinggal di sini, hari ini saya mengizinkan kalian tinggal di sini, tapi tidak tahu esok." Ia berbalik, melanjutkan jalannya yang sempat terhenti berusan
"Cih, aku tidak percaya dia darah daging wirawan."
Lara tidak peduli dengan sindiran pedas yang keluar dari mulut wanita berpoles tebal tersebut. Ia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang dan berhenti di depan kamar dengan Pintu berwarna coklat tua. Ia memandang pilu ke arah pintu itu. Pintu dengan banyak kenangan manis sebelum bencana itu datang.
"Lara kangen mama." Ia memandang pilu ke arah kamar itu. Ia berdiri lama di sana lalu bergerak pelan menuju kamar dengan cat biru. Kamar yang saat ini ia dan Senja tempati. Kamar yang memberika kehangatan setelah bencana datang.
Semuanya terlalu mengerihkan. Ia dan Senja bahkan tidak menyangka bahwa bencana itu benar-benar menerpa keluarganya. Semuanya membuat ia ingin menyerah, namun Senja tidak bisa ia tinggalkan. Senjanya. Senjanya Lara.