
"Sayang...tunggu!" Panggil Alan terhadap Dara,dengan tampilan yang sudah acak-acakan.
Seketika Dara menghentikan langkah nya, lalu menoleh ke arah sumber suara.
Ternyata yang datang adalah orang yang dia tunggu-tunggu, "Mas Alan"kata Dara .
"Dengerin dulu semua penjelasan dari ku,baru setelah itu kamu boleh pergi"kata Alan dengan nada bicara penuh permohonan.
"Aku sudah tahu semuanya, Tony sudah menceritakan dari dulu bahwa kamu sudah menikah. Tetapi aku berusaha untuk menolaknya bahwa kamu sudah memiliki istri,tetapi saat aku melihat kamu bersama wanita lain ternyata sesakit ini. "ucap Dara sambil menatap lekat wajah Alan..
"Kita sudah berencana untuk bercerai, aku menikahinya karena terpaksa bukan karena apa-apa. Semua itu kulakukan demi menutupi aib keluarga, Mama dan papa tidak ingin nama baiknya tercoreng, memaksaku untuk menikahi Novia "kata Alan sambil mendekat ke arah Dara.
"1 tahun bukan waktu yang sedikit aku menunggu kamu untuk jujur,tentang pernikahan kamu dengan Novia.Tetapi selama itu juga kamu tidak pernah ada niat sedikitpun untuk jujur, mungkin kalau aku tidak melihat kamu bersamanya kamu tidak akan pernah mau jujur tentang status pernikahan kamu dengan Novia"kata Dara dengan raut wajah yang dipenuhi rasa kecewa terhadap Alan.
"Iya aku minta maaf aku salah, aku tidak jujur dari awal terhadap kamu karena aku takut kehilanganmu untuk yang kedua kalinya "kata Alan dengan raut wajah yang sedih.
"Tapi bukan begitu caranya mas... justru dengan sikap kamu yang tidak jujur dari awal, sudah membuat aku kecewa sama kamu"kata Dara, dia mengeluarkan semua yang ada di dalam isi hatinya.
"Aku mohon tolong maafin"kata Alan dengan raut wajah penuh permohonan.
"Mungkin saat ini aku butuh waktu sendiri, dan merenung tentang semua yang terjadi terhadap diriku."kata Dara sambil menatap ke arah lain, dia berusaha menahan tangisnya sebetulnya dia juga merasa sakit atas perpisahan ini. Tetapi tidak ada pilihan lain selain dia pergi jauh dari kehidupan Alan.
"Tapi aku nggak mau jauh dari kamu, bagaimana bisa hari-hariku tanpa kamu "kata Alan dengan raut wajah yang diselimuti kesedihan.
"Jika memang kita jodoh pasti semesta punya cara untuk mempertemukan kita kembali, di kehidupan yang selanjutnya. maafin aku jika selama ini sudah banyak mengecewakan kamu"kata Dara sambil melangkahkan kakinya kembali lalu masuk ke dalam kereta yang sebentar lagi akan berangkat.
"Kamu boleh pergi jauh meninggalkan aku, tapi satu hal yang perlu kamu tahu bahwa aku adalah laki-laki yang sangat mencintai dan menyayangi kamu.Di setiap hembusan nafasku hanya ada tentang kamu."ucap Alan sambil menatap nanar kepergian Dara.
Dara sudah berada di dalam kreta, sedangkan Alan masih berdiri menatap kepergian Dara yang sudah tidak terlihat lagi. Alan merasa sedih saat separuh jiwa pergi meninggalkan dirinya, Alan tidak tahu lagi setelah ini dirinya masih bisa bertahan atau tidak. kehilangan Dara untuk yang kedua kalinya, dengan langkah dipenuhi rasa kecewa dan penyesalan.
Alan pergi keluar dari stasiun untuk segera menuju tempat parkir, setelah beberapa saat Alan sudah berada di tempat parkir. Dia langsung membuka pintu kendaraannya lalu duduk setelah berada di dalam kendaraan Alan menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil.
Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong, sudah tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan Dara.
****
Di tempat lain
Dara sudah duduk di samping Meli dan juga Farel.
"Bu apakah baik-baik saja? "tanya Meli sambil menatap lekat wajah Dara, yang terlihat sedih.
"Ibu nggak bohong kan? "kata Melly sambil menatap wajah Dara.
"Iya aku nggak apa-apa kok jangan khawatir"jawab Dara sambil tersenyum.
Waktu bergulir begitu cepat, kereta yang membawa mereka sudah hampir sampai di tempat tujuan. Tetapi kereta itu tidak mengantarkan Dara untuk sampai di kampung halaman, dia harus menggunakan kendaraan umum lagi untuk sampai.
Kereta yang membawa mereka sudah sampai di stasiun bahwa tujuan mereka sudah sampai, setelah turun dari kereta.
Dara mengajak Meli dan juga Farel untuk keluar dari stasiun, mereka akan mencari kendaraan umum yang akan mengantarkan mereka ke rumah sang bibi.
Setelah berada di luar stasiun Dara dan juga Meli langsung naik ke kendaraan umum untuk segera sampai di tempat tujuan.
Setelah cukup lama di dalam perjalanan, akhirnya Dara dan juga Meli sudah sampai di rumah sang bibi.
Kedatangan Dara disambut hangat oleh sang bibi,sebab sudah beberapa lama darah tidak berkunjung.
"Bibi apa kabar? sudah lama sekali aku tidak datang ke tempat ini rasanya berubah, sekarang terlihat lebih rame ya "kata Dara sambil melihat ke sekeliling.
"Kamu sih selalu sibuk, jadi tidak ada waktu deh untuk mengunjungi Bibi ke kampung. sekarang Farel tambah ganteng ya"kata bibi sambil mendekat ke arah Farel lalu memeluk tubuh mungil keponakannya itu.
"Mamang ke mana,Bi?"tanya Dara terhadap sang bibi.
"Kalau jam segini mamangmu masih ada di ladang, pulang nanti jam empat sore"jawab sang bibi sambil tersenyum tipis. "ayolah kita masuk dulu ngobrolnya nanti kalau sudah di dalam "ajak bibi terhadap Dara dan juga Meli, dia memegang tangan Farel lalu diajak masuk ke dalam rumah.
Mereka semua berjalan menuju pintu masuk, setelah berada di dalam.Sang bibi mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Mel,barang-barangnya simpan di kamar dulu, kalau mau istirahat nggak apa-apa kamu langsung istirahat saja di sana!"sang bibi memberi perintah terhadap Meli, sambil menunjukkan kamar untuk ditempatinya.
"Iya, Bi... terima kasih banyak"jawab Meli sambil membawa barang-barangnya untuk segera dibawa masuk ke dalam kamar.
Meli berjalan perlahan untuk segera menuju kamar yang akan ditempatinya, sedangkan Dara dan sang bibi masih berada di sofa yang ada di ruang keluarga. Begitu juga dengan Farel dia masih duduk dengan santainya, sambil menikmati minuman yang sudah tersedia.
"Yakin kamu mau tinggal di sini, terus bagaimana dengan rumah kamu yang ada di kota"tanya sang bibi terhadap Dara.
"Nggak tahu juga,Bi,aku belum yakin.Soalnya kalau aku tinggal di sini terus nyari kerja di mana "jawab Dara sambil menatap lekat wajah sang bibi, di dalam hatinya yang paling dalam dia masih ada keraguan untuk menetap di kampung.
"jika kamu belum yakin nggak apa-apa, anggap saja kedatangan kamu ke sini hanya untuk berlibur menenangkan diri "jawab sang Bibi sambil menatap lekat wajah keponakannya itu dengan rasa cinta dan sayang, sudah lama sekali dia tidak bertatap muka langsung dengan Dara.