LARA

LARA
Sosok Penolong



"Senja!"


Suara lembut terus memanggil satu nama tanpa berhenti, sedangkan yang terpanggil masih setia dengan mimpi indahnya.


"Senja," panggil Lara.


"Ayo bangun! Nanti kamu telat."


Senja hanya menggumam tidak jelas, malahan ia semakin menaikkan selimutnya sampai menutupi seluruh badannya.


"Senja!" suara Lara kian meninggi melihat Senja tak kunjung bangun.


"Kamu mau Mama ngeliat kita berangkat sekolah?"


Senja tersentak. Ia membuang selimutnya asal lalu turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa.


"Maafin, Senja, Lara! Senja memang nakal," ucapnya sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Lara hanya menggeleng pelan melihat tingkah Senja. Ia yang sudah selesai menggunakan pakaian sekolahnya lantas berjalan mendekati nakas. Mengeluarkan beberapa bungkus roti untuk dia dan Senja. Tak lupa ia masukkan juga beberapa bungkus ke dalam tas Senja.


"Lara, ini jam berapa, sih?" tanya Senja yang berjalan menuju lemari.


"Jam 6.00 WIB."


Senja mengenakan pakaiannya cepat. Ia lalu menyambar tas yang sudah dari kemarin ia siapkan.


"Ini, makan ini!" Lara menyodorkan sebungkus roti kepada Senja.


"Lara juga udah masukin beberapa roti ke dalam tas kamu. Jaga-jaga kalau nanti kamu lapas di sekolah," ucapnya sambil memakai sepatu.


Senja langsung melahap rotinya. Ia lalu berjalan mendekati Lara, duduk di sampingnya sambil memakai sepatu.


"Lara! Gimana kita makan besok?" ucap Senja sambil terus memakai kaus kakinya.


Gerakan tangan Lara yang mengikat sepatu terhenti setelah mendengar ucapan Senja. Senja benar, bagaimana kehidupan mereka ke depannya.


"Kamu tenang aja, Lara bakalan cari kerja pulang sekolah nanti," ujarnya sambil menatap ke arah Senja.


"Senja juga mau kerja."


Senja balik menatap Lara. Menatap lurus mata sang kakak.


"Senja bakalan bantuin Lara kerja. Cari uang buat makan sama sekolah kita," tambahnya sambil berdiri.


Lara memegang sebelah tangan Senja yang hendak pergi. Ia mencengkramnya kuat membuat Senja berbalik menatap Lara.


"Kamu gak akan pernah kerja," ucap Lara tegas sambil berdiri.


"Kamu cukup sekolah, belajar, lulus, lalu sukses."


Senja menarik tangannya kasar. Membuat Lara terkejut melihat Senja berlaku sedemikian.


"Senja laki-laki, Lara. Senja gak mau buat Lara berjuang sendirian."


Lara tertegun. Ia memilih diam dari pada memberi tanggapan terhadap perkataan Senja. Ia tetap diam ketika Senja keluar dari kamar.


"Senja!" teriak Lara yang melihat Senja mulai menuruni tangga.


Senja hanya terus berjalan, tanpa menghiraukan panggilan kakanya.


"Ahhhh, ternyata Wirawan mau berangkat sekolah?"


Suara lembut yang berasal dari arah belakang, tepatnya kamar sang mama membuat Lara dan Senja menoleh kaget.


"Ma ... Mama!" lirih Senja.


Lara berdiri mematung. Perlahan ia mulai berjalan mundur siring mamanya yang mulai mendekat ke arahnya.


"Mau sekolah, eh?"


Menakutkan. Itu yang tergambar di hadapan Lara sekarang. Mamanya benar-benar menakutkan. Kantung di matanya benar-benar membuat ia seperti mayat hidup, belum lagi rambutnya benar-benar mengerihkan.


"Ma ... Mama mau ngapain?" tanya Lara gugup.


Ia benar-benar takut. Takut mamanya melakukan hal gila seperti kemarin. Takut mamanya menyakiti Senjanya.


"Senja, lari!"


Lara mulai gelisah. Ia mulai benar-benar takut melihat mamanya yang tak mau berhenti berjalan sedangkan ia sudah berada di tangga paling akhir.


"Enggak, Lara. Senja gak mau ninggalin kamu."


Suara Senja mulai terdengar parau. Ia sama takutnya dengan Lara, tapi ia tak setangguh Lara yang berani menghadapi mamanya.


"Lari aku bilang!" suara Lara mulai meninggi seiring mamanya yang mulai bertindak gila.


Mamanya mengambil vas yang masih tersisa di ruang tamu. Ia melempar ke arah Lara dan untungnya, Lara bisa menghindar.


"LARA!"


Suara jeritan Senja tidak diperdulikan mamanya. Ia malah mendekati Lara dan menarik rambutnya kuat.


"Senja, please lari," ucap Lara lirih.


Air matanya tak lagi bisa ia bendung. Ia benar-benar takut mamanya menyakiti Senja.


"Hiks ... Hiks, Lara." suara tangisan Senja pecah. Ia berjalan mundur lalu berbalik dengan tergesa-gesa.


Ia tak sanggup pergi meninggalkan Lara sendiri. Namun, ia juga takut. Ia tak bisa mendengar suara Lara memohon seperti itu padanya. Ia terus berlari sambil menangis.


Sedangkan Lara. Ia harus menahan rasa sakit di kepalanya.


"Wajah ini." Mamanya mengelus perlahan wajah Lara. Membiarkan jari telunjujnya menjelajah seluruh permukaan wajah Lara.


"Adalah wajah si brengsek itu."


Elusannya berubah menjadi cengkraman. Cengkraman keras bagian kedua pipi Lara.


"Ma, sakit," rintih Lara.


Mendengar suara rintihan Lara membuat mamanya semakin senang. Ia lalu melepas salah satu cemgkaram di pipi Lara. Menunduk, mengambil pecahan kaca vas yang tajam.


"Sakit, eh?" ujar Mama dengan kekehan.


Ia tertawa. Tertawa keras lalu berhenti, lalu tertawa lagi sekeras-kerasnya. Tak jarang Lara ikut tertarik saat mamanya yang akan kehilangan keseimbangan karena tertawa sangat keras.


"Kamu bilang sakit?"


Mama kembali mencengkram wajah Lara, sedangkan tangan satunya mengarahkan pecahan kaca ke wajah Lara.


"Maa ... Lara takuut," ucap Lara agak keras.


Ia benar-benar takut melihat mamanya seperti itu.


"Takut?" Mama mendongakkan wajah lara, mengarahkan kaca runcing tepat di pipi mulus Lara.


"Wirawan yang tampan, takut?" suara Mama berubah menjadi menyeramkan.


Ia kembali tertawa. Kali ini suaranya tawanya lebih terdengar menyedihkan, tak berselang lama berubah menjadi tangisan pilu.


"APA KAU BENAR-BENAR TAKUT, WIRAWAN?"


Crashhh!!


Teriakan Mama diiringi pecahan kaca tajam yang menggores sempurna di pipi kanan Lara. Membuat darah segar keluar dari sana dengan deras.


Praaang!


Pecahan kaca terjatuh dari tangan Mama seiring darah yang mulai menetes. Ia berjalan mundur, menutup mulutnya dengan tangan yang berlumuran darah dari pipi Lara. Matanya melotot sempurna dengan air mata yang terus menetes.


"Lara!" Desis Mama.


"Hiks ... Mama!"


Lara jatuh terduduk. Badannya bergetar hebat. Darah dari pipinya terus mengalir dengan deras. Rasa perih bercampur sakit membuat tangisan Lara bertambah kuat.


"Mama, sakit."


Lara mengangkat tangannya, mengarahkan ke arah sang mama. Ia ingin menggapai tangan sang mama, ia ingin mamanya mendekat ke arahnya sekarang. Memberikan pelukan atau pertolongan.


Mamanya hanya mematung dengan mata melotot sambil terus menutup mulutnya. Darah dari pipi Lara memenuhi mulutnya, bahkan sampai ke pipinya. Air matanya terus menetes dengan deras.


Ia lalu berlari ke atas, menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Berlari menuju kamarnya lalu masuk dengan suara dentingan suara pintu yang tertutup amat keras.


"Mama," rintih Lara


Lara menangis. Menangis terseduh-seduh di lantai dengan darah yang membasahi baju putihnya.


Luka di pipinya tak begitu menyakitkan di bandingkan luka di hatinya saat ini. Ia melihat luka di mata sang mama setelah melukainya barusan. Ia tahu, sang mama tidak benar-benar ingin menyakitinya. Ia hanya tidak baik-baik saja belakangan ini, makanya ia terlihat begitu mengerihkan.


----------------------------------------------------------


Senja terus berlari. Ia membiarkan orang disekitarnya menatapnya dengan pandangan heran. Ia tetap terus berlari kencang tanpa peduli teriakan orang ia tabrak. Hingga larinya benar-benar terhenti ketika badan kecilnya terpelanting ke belakang saat menabrak sosok tinggi besar di depannya.


"Hiks ... Lara," ucapnya sambil terus menangis.


Ia tak mau berdiri, beranjak dari jalanan yang kotor. Ia terus menangis sampai akhirnya uluran tangan membuatnya mendongak.


Wajah tampan dengan kemeja biru langit terpampang jelas di depannya.


" You okay?" tanya pria tersebut dengan senyuman yang terpatri di wajahnya.


Bukannya menjawab pertanyaannya, Senja malah menangis semakin kencang. Ia menekuk kedua lututnya lalu menempelkan kepalanya di sana. Ia menangis tersedu-sedu sambil terus menyebut nama Lara.


"Hey, saya bukan orang jahat, kok."


Suara pria itu kembali terdengar di telinga Senja. Namun, ia tetap terus menangis tanpa ingin mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah pria tersebut.


"Hey, hey hey. Oke, kalau kamu takut sama saya, saya akan pergi. Tapi, tolong jangan menangis lagi, oke?"


Pria tersebut berbalik, berjalan perlahan menjauhi Senja yang masih terus menerus menangis. Sampai akhirnya ia terhenti akibat suara parau dari belakangnya.


"Om! Tolongin, Senja," ucap Senja sambil terus menangis.


Pria tersebut berbalik. Menatap lurus mata Senja yang mulai terlihat membengkak. Ia bingung mendengar perkataan dari anak laki-laki di depannya.


"Maksud kamu?" tanyanya penasaraan.


"Tolongin Senja, Om."


Senja kembali mengulang perkataan yang sama. Suaranya tangisannya semakin bertambah keras ketika ia menyebut kata tolong.


Pria tersebut memijat pelan keningnya. Merasa pusing melihat anak di depannya yang tak mau berhenti menangis.


"Oke, saya akan menolongmu, tapi berhentilah menangis. Kamu membuat saya seolah-olah sudah menyakiti kamu," ucap pria tersebut sambil tersenyum kikuk. "Dan ikuti saya!"


Senja mengangguk. Ia mengelap air matanya kasar sambil berdiri mengikuti pria yang ia tabrak. Ia tidak merasa takut dengan pria itu, ia pikir pria tersebut adalah penolongnya.


Ia berpikir pria di depannya adalah orang yang tepat, ia orang yang baik. Itu yang Senja lihat dari cara pria itu berbicara dan berpakaian.


Ia terus berjalan mengikuti pria itu, menyebrangi jalan sampai akhirnya sampai di sebuah taman sepi.


Ia diajak duduk di salah satu bangku di bawah pohon mangga. Membuat sinar matahari pagi tidak langsung menerpa mereka berdua.


"Mau minum?" tawar pria tersebut saat Senja mendaratkan bokongnya di bangku


Senja menggeleng pelan. Ia hanya menatap kedua sepatunya tanpa berminat menatap wajah orang yang mengajanya berbicara.


"Tenang lah dulu! Saya tidak akan memaksamu untuk berbicara sekarang, tapi tolong jangan menangis lagi," ujar pria tersebut.


"Dan yah, nama saya Bhima. Kamu bisa panggil saya Bang Bhima, jangan panggil saya om!" tambahnya.


Senja mengangguk sambil menahan isakannya. Bhima hanya menatapnya iba. Ia iba melihat Senja yang menangis seperti itu, mengingatkannya pada sosok di masa lalunya.


"Aku menemukan sosok masa lalu pada dirimu, Senja," ucap Bhima lirih sambil terus memperhatikan Senja.


.


.


.


.


.


.


Hiaaaaaa, aku kembali lageehhhh


Whuuuttt, jangan lupa vomentnya gaiis!


Ketjup ketjup


Megabite