
Satu minggu telah berlalu
Akhirnya menuruti semua perkataan Alan, dia siap bertanggung jawab terhadap Sherly dan anak yang berada di dalam kandungannya
Hari ini Dika akan menikahi Sherly,meskipun dengan ancaman setidaknya Dika mau bertanggung jawab.
Alan juga sudah mempertemukan Dara dengan Sherly, dan perempuan itu meminta maaf dan ampun terhadap Dara atas semua yang pernah dia lakukan dahulu kepadanya. darah hanya tersenyum tidak menjawab apapun, sebab dari lubuk hatinya yang paling dalam dia masih merasakan sakit akibat dari ulahnya Sherly dan juga Dika.
Tetapi jika berpikir lagi, Dara merasa terimakasih banyak terhadap Sherly akibat dari perbuatannya dia bisa bertemu dengan Alan, lelaki yang sangat menyayangi dan mencintainya.Jika saja tidak ada Sherly di kehidupan Dara dan juga Dika mungkin dia tidak akan bertemu dengan Alan.
Dara sedang duduk melamun di teras belakang, sambil mengawasi Farel yang sedang bermain di halaman.
Di saat dia sedang fokus ke arah Farel, tiba-tiba dikagetkan dengan suara yang muncul di belakang nya.
"Jangan bengong seperti itu, nanti ke sambet setan loh" kata sang Bibi dari arah belakang sambil membawa satu cangkir teh dan beberapa cemilan di atas nampan. Lalu menaruhnya di atas meja, dan dia duduk di salah satu kursi yang ada di teras tersebut.
"Bibi, bikin kaget saja sih" kata darah sambil menatap lekat ke arah wajah sang Bibi, yang terlihat mirip sekali dengan ibunya.
"Makanya jangan bengong terus, apa sih yang ada di pikiran kamu? bukankah sebentar lagi akan menikah dengan Alan, kamu nggak perlu khawatir dengan hal-hal yang belum tentu terjadi "kata sang Bibi menasehati keponakannya tersebut.
"Apakah aku harus terima kasih sama Sherly atau membencinya sebab dia sudah menghancurkan rumah tanggaku dengan Mas Dika "kata Dara.
"Kamu terima kasih kepada Sherly atas dasar apa?" tanya sang Bibi terhadap Dara sambil menatapnya dengan heran.
"Ya karena dia juga aku bisa dekat dengan Mas Alan,dan hampir menikah"jawab Dara sambil menatap lurus ke depan.
"Jika kamu marah sama Sherly, itu hal biasa sebab dia sudah mengganggu ketentraman kamu di waktu dulu.Tapi jika rasa marah dan benci kamu sama dia sampai ke bawah pada saat ini, sedangkan dia sudah meminta maaf sama kamu.Bibir rasa itu sudah sangat tidak baik,jangan pernah menyimpan dendam di dalam hati untuk seseorang.Sebab itu semua hanya akan menyakiti diri kamu sendiri, lebih baik kamu ikhlas dengan apa yang terjadi terhadap diri kamu di masa lalu, mulai saat ini kamu fokus dan masa kini dan masa depan kamu bersama Alan dan juga Farel.Bibi tidak mau kamu gagal lagi di dalam rumah tangga yang kedua kalinya"nasehat sang Bibi terhadap keponakannya itu, dengan nada bicara yang sangat lembut tetapi sudah mampu menembus ke hati Dara yang paling dalam.
"Ketika kamu bisa menerima semuanya dengan ikhlas, maka kebahagiaan dan rasa tenang itu akan menghampiri kamu"kata Bi Sani terhadap Dara.
" Iya Bi, aku sedang belajar ikhlas, tetapi ikhlas itu tidak semudah yang diucapkan "jawab Dara dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Jika kamu terus memikirkan orang-orang yang pernah menyakiti kamu di masa lalu, itu tidak baik buat kehidupan kamu yang akan datang "Bi Sani terus menasehati keponakannya tersebut,agar bisa ikhlas menerima kenyataan.Dan mengambil hikmah dari semua yang terjadi di masa lalu.
Entah kenapa Dara sulit sekali melupakan orang-orang yang pernah menyakitinya di masa lalu, dia merasa sangat marah benci terhadap orang itu.Bahkan terkadang tersirat di dalam hatinya ingin sekali membalas semua yang diperlakukan mereka terhadap dirinya, kalau saja sang Bibi dan sahabatnya tidak terus menasehatinya.
"Ya sudah jangan ngelamun terus, lebih baik kamu persiapkan apa yang kamu belum siapkan untuk keperluan kamu nanti di acara pernikahan kalian.Waktunya kan sudah mendesak, jangan buang waktumu dengan hal-hal yang tidak menguntungkan "kata Bi Sani sambil bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan meninggalkan darah yang masih berada di teras belakang.Sedangkan Farel masih saja asyik bermain mobil-mobilan di area taman tersebut, sekarang Dara membiarkan Farel bermain kotor-kotoran setelah pulang dari kampung, ternyata hal itu membuat Farel merasa sangat bahagia.Ketika dibebaskan bermain Apa yang membuat dirinya senang sekarang tidak ada batasan bagi Farel untuk bermain, hanya saja di bawah pengawasan orang dewasa.
Setelah cukup lama dan merenung apa yang dikatakan oleh sang Bibi, Dara pun sudah bisa berpikir lagi dengan baik.Tidak ada gunanya lagi bagi dia terus memikirkan apa yang terjadi di masa lalu, sebab itu semua hanya akan menyakiti dirinya sendiri.Dia bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah sang putra yang sedang bermain, dia mengajak anak itu untuk menyudahi permainannya dan mengajak untuk segera masuk ke dalam rumah.
Dara membawa Farel ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuh anak kecil itu.
setelah selesai membersihkan anak kecil itu, lalu dia mengajak Farel untuk segera melakukan tidur siang.Sebab anak itu selalu melakukan tidur siang atas perintah dari sang Ibu, Dara mengajak Farel untuk naik ke atas tempat tidur dan membacakan buku cerita agar sang putra tertidur dengan lelap.
Dengan perlahan Farel sudah menutup matanya, dan anak tersebut sudah masuk ke alam mimpi.Dara meletakkan buku cerita di atas nakas di samping tempat tidur sang putra, lalu dia perlahan turun dari tempat tidur sang anak untuk segera keluar dari kamar tersebut.
Dara berjalan perlahan untuk segera menuju pintu keluar, Lalu setelah berada di depan pintu tangannya bergerak memegang gagang pintu lalu memutarnya dengan perlahan, agar sang anak tidak mendengar suara yang mengakibatkan tidurnya.
Dara terus berjalan menuju ke ruang tengah, di mana dia akan segera mengerjakan sesuatu yang memang menurutnya itu harus dikerjakan.Baru saja dia akan melangkahkan kaki menuju ruang tengah, Meli sudah memanggil dirinya bahwa ada seseorang yang menunggunya di depan.
Lalu Dara berjalan perlahan menuju depan rumah, di saat dia sudah membuka pintu depan dan ternyata yang sudah menunggunya di depan.
"Kukira siapa, ternyata kamu! "sapa Dara terhadap orang yang sudah menunggunya di teras depan.