
Senja menatap nanar punggung kakaknya. Melihat bagaimana luka di sekujur tubuh kakaknya membuat dia iba, tapi tak mampu melakukan apapun untuk membuat sang kakak merasa baikan. Senja begitu menyedihkan. Seorang lelaki yang tak mampu melakukan apapun.
Ia mendesah pelan, menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur. Ia menatap lurus ke depan, mengingat percakapannya dengan Bhima yang membuat dirinya amat sakit. Bagaimana tidak, wajah Bhima yang amat bersemangat ingin menolongnya harus tertunduk lesu saat mendengar kata usiran. Harapannya untuk membuat keluarganya kembali utuh sirna, ditambah lagi keadaan Lara yang membuatnya bertambah sedih.
Senja menatap keluar, mengamati matahari yang perlahan-lahan hilang ditelan bumi. Ia menelan ludanya kelu, menatap kamarnya yang mulai kehilangan cahaya. Perutnya yang mulai memberontak ingin diisi membuat ia beranjak dari kasur menuju dapur.
"Ma, Senja rindu Mama yang dulu." ia berdiri, menatap pintu kamar sang mama. "Kapan kita bisa kumpul seperti dulu lagi."
Senja kembali melanjutkan langkahnya ke dapur. Menuntaskan perutnya yang mulai terasa nyeri menahan lapar. Bukan hanya perutnya, perut Lara dan Mamanya pasti merasakan hal yang sama.
Hening. Suasananya begitu hening sampai-sampai ia merasa bahwa rumahnya tak berpenghuni. Di bukanya kulkas, mengedarkan pandangan ke dalam isi kulkas untuk melihat apa saja yang bisa ia hidangkan.
"Tersisa telur," lirih Senja.
Di keluarkannya telur, lalu di letakkan di atas meja. Ia duduk dengan tangan yang menompang dagu, berpikir di apakannya telur yang tersisa hanya 5 butir tersebut.
"Telur orak arik?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia menggeleng pelan, telur orak arik bukan ide yang bagus untuk dijadikan lauh makan. Ia berjalan menyusuri dapur, membuka setiap lemari yang ia temukan.
"Mie instan," ucap Senja girang. Pasalnya ia menemukan beberapa bungkus mie instan yang berada di lemari atas kompor.
"Tanggal kadaluarsanya juga masih lama. Bersyukur kemarin kami pergi belanja."
Senja memasak sambil tersenyum, menghidupkan kompor dengan sesekali bersenandung.
"Lara pasti senang." Senja tersenyum melihat karyanya. Telur yang bersisa beberapa butir dan mie instan ia sulap menjadi makanan yang paling menggugah selera. Martabak mie. Ia membuat martabak mie spesial dengan taburan keju yang meleh serta saus cabai kesukaan Lara.
Ia menyiapkan 3 piring seperti biasa, menghiasnya dengan saus dengan pola senyuman. Ia membawa ketiga piring tersebut menggunakan nampan, lalu berhenti tepat di depan kamar sang mama.
Di letakkannya satu piring di depan kamar mamanya, diketuknya pelan pintu sang mama lalu buru-buru menyingkir dan bersembunyi agar mamanya tak melihat ia. Kebiasaan yang ia selalu lakukan di akhir-akhir ini.
"Kenapa Mama gak keluar?". Senja mengernyit heran. Tidak seperti biasanya, saat Senja melakukan itu sang mama akan langsung membuka pintu dan mengambil makanannya, tapi hari ini tidak.
"Ahh, mungkin Mama lagi tidur."
Senja melanjutkan langkahnya menuju kamar yang ia dan Lara tempati. Semenjak mama dan papanya sering bertengkar, ia meminta Lara untuk tidur bersamanya, menenangkannya, membacakan dongeng atau menyanyikan nyanyian sebelum tidur untuknya.
"Lara udah tidur?" tanya sambil masuk ke dalam kamar.
Lara hanya berdehem singkat tanpa membuka matanya, memberi tahu pada Senja bahwa ia belum terlelap.
"Lara makan dulu."
Lara tak menjawab, ia tetap berbaring tanpa ada niat untuk bangun.
"Lara, tolong dengerin Senja sekali ini aja," ucap Senja dengan nada memelas.
Lara beranjak dengan malas-malas an. Lalu duduk di depan Senja dengan wajah dingin.
"Ini, habisin cepat!" pinta Senja dengan nada memaksa.
Lara melotot horor memandang Senja. Bagaimana mungkin ia menyuguhi dirinya dengan sepiring nasi yang ukurannya bisa dibilang besar serta satu gelas besar susu yang masih hangat.
"Ini terlalu banyak, Senja." Lara menolak pelan sambil menggeser piringnya ke arah Senja.
"Banyak? Ini sedikit Lara. Senja kembali mendorong piring itu ke hadapan Lara. " Jadi, cepat habisin."
"Oke, tapi jangan paksa aku buat ngabisin susunya." Lara mengalah, ia memakan hasil karya Senja beberapa menit di dapur dengan lahap. Nyatanya dengan bahan sederhana saja cukup membuat lidah Lara dimanjakan. Umurnya yang masih terbilang muda tidak menutupi kemungkinan untuk membuat Senja lihai di dapur.
"Pelan-pelan, Lara. Tidak akan ada yang mengambil makananmu."
Senja terkikik geli melihat Lara. Sang kakak hanya memberikan pelototan tajam dengan pipi yang menggembung penuh nasi, membuat wajahnya semakin terlihat imut.
"Lukamu belum juga mengering," ucap Senja sambil membelai pelan luka di pipi Lara.
Lara menikmati belaiannya, itu dibuktikan oleh Lara yang memejamkan matanya menikmati sensasi perih dan tenang.
"Maafin Senja yang gak bisa jaga kamu, Lara."
Senja beranjak, meninggalkan Lara yang terpaku atas ucapannya barusan. Ia meninggalkan Lara dan berdiri di depan jendela yang hanya terbuka sedikit, menikmati angin yang menampar wajahnya pelan.
"Jangan meminta maaf, kumohon," ujar Lara lirih sambil memeluk Senja dari belakang.
Ia merasa gagal menjadi adik laki-laki. Melihat keluarganya hancur dan kakaknya sendiri menjadi sosok yang tidak di kenal akibat hancurnya keluarga tersebut.
"Aku gak bisa jagain kamu, mama, papa. Aku gak bisa ngelindungin keluarga kita."
Lara semakin mengeratkan pelukannya. Senja tahu, Lara sedang mati-matian menahan badannya agar tidak bergetar menahan tangis. Ia tahu bagaimana Lara selalu mencoba agar tetap tegar di depannya.
"Jangan pernah menangis. Tolong jangan," ucap Senja pelan.
Keduanya larut dalam keheningan, ditemani dinginnya malam yang membuat siapa pun menggigil, namun tidak untuk mereka.
--------------
"Lara."
Lara mengedrakan pandangannya ke segala arah. Ia hapal suara siapa yang memanggilnya barusan, ia hapal betul siapa si pemilik suara itu.
"Lara."
"Mama!"
Lara berteriak, melihat ke segala arah yang semuanya terlihat gelap. Ia berlari mencari ujung dari ruangan yang membuatnya merasa pengap.
"Bagun sayang."
Suara itu lagi. Suara yang sama seperti yang memanggilnya barusan, tapi tetap saja ia tak menemukan mamanya.
Ia jatuh terduduk, tersandung oleh sebuah foto yang tergeletak pecah. Ia menangis se kencang mungkin, menatap foto yang hancur berserakan.
"Kamu harus tangguh, Lara. Jaga adikmu."
"Selamat tinggal."
"Mama!"
Lara tersentak dari tidurnya. Keringat dingin masih setia menetes dari dahinya dengan badan yang masih bergetar hebat.
"Kenapa seperti nyata?" tanya Lara pada diri sendiri. Ia mengusap kasar peluh didahinya, lalu bangkit untuk mengambil segelas minum yang berada di dekat lemari.
Ia masih ingat jelas bagaimana mimpinya barusan. Mimpinya yang seakan-akan nyata, dengan suara mamanya yang lembut. Dia rindu mamanya yang dulu, mamanya yang lembut sama seperti mimpinya barusan.
"Lara!"
Senja muncul seiring pintu yang terbuka secara paksa dengan nafas Senja terlihat tidak beraturan. Lara menaikkan alis bingung, dilihatnya rambut Senja yang masih basah, menadakan dia baru saja menyelsaikan salat subuhnya.
"Ma-ma-mama .... " ucap Senja pelan.
"Mama? Kenapa?" Senja bersedikap, menyembunyikan rasa paniknya.
"Mama tidak memakan makanan yang Senja antar kan." Senja menelan ludah susah payah. " Dan itu tidak seperti biasanya. Senja takut, Mama ... Mama-"
"Mama kenapa, Senja?" potong Lara cepat.
Senja meremas jarinya sambil terus menunduk. Lara sama paniknya dengan Senja, tapi ia lebih memilih untuk menyembunyikannya.
Lara melangkah fengan tergesa-gesa, membuat Senja menggeser badannya memberi jalan kepada Lara. Tujiannya kali ini adalah tidak lain kamar sang mama. Kamar yang biasanya ia dan Senja hindari, kini jarus dituju dengan segenap keberanian.
"Lara," lirih Senja sambil menarik ujung baju yang Lara kenakan
Senja berbalik, menatap heran Senja. "Lepas, Senja," pinta Lara dengan nada dingin.
Senja menggeleng lemah sembari mengeratkan peganganya di baju Lara. "Senja mohon jangan ke sana."
Lara mendesah lelah melihat tingakh Senja. Perlahan ia melepaskan tangan Senja dari bajunya, lalu memegang pundak adiknya yang tampak ketakutan.
"Senja khawatir sama Mama, kan?" tanya Lara.
Senja menganggu. "Tentu saja."
"Trus kenapa Lara gak boleh ke sana?"
Lara melihat Senja bimbang dengan hatinya. Ia melihat Senja terdiam sambil menatap ke bawah. Lara yang tak mau ambil pusing segera pergi menuju kamar mamanya.
Di lihatnya makanan yang kemarin malam di masak oleh Senja masih tergeletak dengan susu yang mulai mengekuarkan bau tak sedap. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya, perlahan ia mulai menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu kamar mamanya.
Tok tok
"Ma," panggilnya.
Hening. Semuanya hening, tak ada jawaban, tak ada suara barang pecah seperti biasanya yang mamanya lakukan.
"Ma, buka pintunya, Ma!"
Kali ini ketukan Lara berubah menjadi gedoran kuat di pintu kamar. Ia semakin menguatkan gedoran di pintu kamar mamanya seiring tak ada tanda-tanda mamanya yang akan membuka pintu.
"Senja, ambil kunci di lemari depan," teriak Lara. " Cepat!"
Senja tersentak kaget, dengan setangh berlari ia pergi mengambil kunci yang dimaksud Lara, lalu kembali tak lama kemuadian.
"Ini." Senja memberikann beberapa buah kunci kepada Lara dengan tangan gemetar.
"Ayolaaahhh, cepat terbuka," ucap Lara sambil memasukkaan beberapa kunci yang tidak berhasil sama sekali. Tangannya bergetar, sama seperti Senja. Sampai-sampa kunci yang ia pegang sempat terjatuh dari tangannya.
"Senja, jangan menangis!" ucapnya yang sempat melirik Senja saat tunduk mengambil kunci yang terjatuh.
Ceklek
Berhasil. Kali ini kuncinya cocok dengan pintu kamar mama. Dilihatnya Senja yang mendekat ke arahnya dan segera menyerobot masuk ke dalam kamar.
"Mama."
Senja berdiri mematung saat Lara mulai menghampirinya. "Mama kenapa, Senj-"
Suara Lara hilang begitu melihat apa yaang terjadi di kamar mamanya. Keadaan yang tak jauh berbeda dari ruang tamu kemarin tidak membuat ia kaget, akan tetapi ...
"Mama," lirih Senja.
Lara memeluk Senja perlahan, menbawanya kepelukan yang sekiranya mempu membuat Senja nyaman.
"Semuanya akan baik-baik saja, Senja," ucap Senja menenangkan.
"Yah, senuanya akan baik-baik saja," batin Lara pilu.
.
.
.
.
Hai hai haii ....
Yuhuu kambek egeen
Ceritanya gaje:v bodoamat yuhuu
Ketjup ketjup,
Megabite