LARA

LARA
Part 61



Alan sudah sampai di tempat di mana dia akan menjemput sang pujaan hati.


Dia turun dari kendaraan dengan senyuman mengembang di bibirnya, beberapa bulan lalu dia menangis di tempat ini. Sambil menatap kepergian sang pujaan hati, dengan rasa penyesalan dia pulang sambil menangis.


Tetapi hari ini dia datang kembali ke tempat ini di penuhi dengan kebahagiaan, bahwa sebentar lagi akan bertemu dengan sang pujaan hati di tempat ini.


Alan terus berjalan hingga sampai di ruang tunggu, di mana sudah terlihat dari jauh Dara sedang duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


Alan tidak langsung menampakkan wajah nya, dia malah mengambil ponsel nya dari saku celana.


Alan ada niat untuk mengerjai Dara sebentar saja.


"Sayang maaf ya aku nggak bisa jemput, ada meeting mendadak" isi pesan yang di kirim Alan untuk Dara.


Di sisi lain Dara mengambil ponsel nya saat ada notifikasi pesan masuk.


"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau ada pekerjaan penting, kan nggak nungguin dari tadi" Dara membalas pesan yang di kirim Alan.


Dara menyimpan kembali ponsel nya dengan rasa kesal yang ada.


Di sisi lain Alan tersenyum sambil melihat ke arah Dara yang berbicara terhadap Meli dan juga sang Bibi.


"Mel, coba kamu pesan kendaraan online! Mas Alan nggak bisa jemput katanya ada kerjaan mendadak" perintah Dara kepada Meli.


"Lah, ko bisa begitu sih, Bu,kita sudah lama menunggu di sini masa berakhir pulang bersama sopir taxi " jawab Meli kecewa.


"Sudah lah, Mel,memang mas Alan selalu membuat ku seperti ini" jawab Dara kesal.


"Sudah, nggak mungkin juga Alan melakukan ini jika pekerjaan itu nggak penting untuk kemajuan perusahaan" Bi Sami berusaha menenangkan Dara, yang sudah terlihat kesal.


Dara terus menggerutu, dan akhirnya dia mengajak Meli untuk segera keluar dan menuju kendaraan yang sudah di pesan nya.


Di saat mereka akan melangkah kan kakinya, tanpa mereka ketahui darimana datangnya orang tersebut.


"Kenapa wajahnya cemberut seperti itu? " tanya Alan terhadap sang pujaan hatinya.


"Katanya sibuk! ngapain ada di sini" kata Dara dengan nada bicara yang jutek.


"Tadinya nggak mau datang jemput, tetapi setelah di pikir-pikir tidak ada pekerjaan yang lebih penting selain datang ke tempat ini" jawab Alan sambil tersenyum tipis menatap lekat wajah Dara.


"Bukan nya pekerjaan itu lebih penting di atas segalanya" kata Dara, dia masih jutek juga sikap nya terhadap Alan.


"Tidak ada yang lebih penting dan berharga di dunia ini selain kamu, untuk apa semua harta dan jabatan yang ku pegang saat ini jika tanpa kamu di sisi ku" kata Alan sambil menatap lekat wajah Dara dengan penuh cinta, perempuan yang bukan lagi perawan sudah mempunyai anak satu tetapi sudah berhasil mengalihkan dunia seorang Alan.


Seketika Dara tersipu malu mendengar perkataan Alan, dia memalingkan pandangan nya ke arah lain agar tak terlihat wajahnya yang bersemu merah seperti buah tomat yang siap panen.


"Ayok pulang sudah lelah, terlalu lama juga di perjalanan! " ajak Dara, dia berusaha mengalihkan perbincangan antara dirinya dan juga Alan.


Mereka semua keluar dari ruang tunggu dan segera menuju tempat parkir. Di mana Alan sudah memarkirkan kendaraan nya di sana, mereka berjalan beriringan Farel di gendong oleh Alan sebab anak itu tertidur.


Mereka sudah berada di dalam kendaraan, setelah semuanya siap Alan langsung menyala kan mesin kendaraan nya. Dan menginjak gas dengan perlahan, kendaraan dengan perlahan meninggal area tempat itu.


Perjalanan yang lumayan lama untuk di tempuh, selama di perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka.


Semua sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga pada akhirnya Alan berkata.


Seketika Dara melihat ke arah Alan dengan tatapan tajam.


"Kenapa nggak di tabrak saja sekalian" kata Dara.


"Kenapa kamu jadi orang yang jahat" Alan heran dengan perkataan yang terlontar dari bibir Dara.


"Aku nggak jahat, itu hanya ngasih saran! Daripada dia mengusik hidup ku lagi" jawab Dara sambil menatap Alan.


"Dia pingsan, lalu ku bawa ke rumah sakit dan dokter bilang lagi hamil sedangkan Dika tidak mau bertanggung jawab malah mengusirnya" Alan menjelaskan apa yang terjadi dengan Sherly pada saat ini.


"Paling itu semua akal-akalan nya untuk mendekati kamu, dasar nya aja perempuan itu nggak mau melihat ku bahagia" kata Dara sambil cemberut, lalu pandangan nya kembali ke arah luar jendela mobil.


"Kamu cemburu? " tanya Alan.


"Bukan cemburu, hanya saja ko bisa kebetulan seperti itu ya" jawab Dara tanpa melihat ke arah Alan, yang masih fokus ke jalanan.


"Aku bisa pastikan bahwa dia tidak akan pernah mengganggu kamu lagi, dan satu hal yang perlu di ketahui tidak ada seorang pun yang mampu menempati hati ku. Yaitu hanya kamu yang sudah berhasil membuat ku jatuh cinta dan cinta itu hanya untuk mu tidak akan pernah terbagi untuk yang lai, meski aku menolong Sherly itu semua hanya sebagai sifat kemanusiaan menolong orang yang sedang kesusahan" kata Alan, dengan nada bicara yang sangat lembut.


Perkataan Alan sudah mampu membuat hati Dara merasa bersalah, seolah dia menyamakan Alan dengan Dika.


"Aku minta maaf! " kata Dara sambil menatap lekat wajah Alan, dia merasa bersalah.


"Nggak perlu minta maaf, mau marah atau cemburu dan apapun itu. Kamu ada hak untuk itu, aku tidak mau ada yang ku sembunyikan lagi dari kamu. Jika jujur ku membuat kamu marah, aku terima dengan ikhlas tapi nggak akan pernah menyembunyikan apapun dari kamu. Mulai saat ini dan selamanya"


Tanpa terasa perjalanan yang mereka lalui sudah cukup lama, kendaraan sudah memasuki area perumahan milik Dara.


Meskipun Ibunya Alan meminta Dara untuk menginap di sanah terlebih dahulu, dengan alasan rumah nya masih kotor setelah di tinggal beberapa bulan.Tetapi dia menolak nya, lebih baik langsung datang ke rumah sendiri meskipun dalam keadaan kotor.


Padahal tanpa sepengetahuan Dara, rumah itu sudah di bersihkan oleh Alan dengan menyuruh orang.


Agar saat Dara datang ke rumah sudah rapih, tanpa harus capek lagi bersih-bersih.


Kendaraan Alan sudah berhasil tepat di depan rumah milik Dara.


Rasa lega di rasakan oleh nya, setelah beberapa bulan lalu dia meninggalkan rumah ini dengan penuh rasa kecewa.


Saat ini kembali dengan membawa kebahagiaan.


"Kenapa malah bengong? " tanya Alan saat melihat Dara masih mematung sambil menatap rumah itu.


"Nggak apa-apa, hanya saja seperti mimpi kembali lagi ke rumah ini" jawab Dara.


Di saat Alan akan melangkah mengikuti Dara untuk segera masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ponsel nya berdering dan Alan langsung menjawab panggilan tersebut.


"Iya, baiklah akan segera ke sana! " jawab Alan saat berbicara di dalam panggilan tersebut.


Alan langsung meminta ijin terhadap Dara untuk pergi terlebih dahulu, bahwa ada urusan penting yang tidak bisa di tinggal kan.


"Aku pergi dulu ya! " pamit Alan.


"Hati-hati" jawab Dara.