
"Astag, kenapa kalian melakukan nya di sini! " kata orang tersebut.
Dengan gerakan cepat Dara pun langsung mendorong dada bidang Alan, sungguh merasa malu yang luar biasa. Jika saja orang lain yang melihat nya sudah pasti Dara di cap sebagai janda gatal.
Untung saja Tony yang melihat nya jadi sedikit aman, hanya saja malu ya tetap malu.
"Ganggu aja lu! " kata Alan sambil menatap tajam ke arah Tony.
"Lagian ngapain juga melakukan nya di sini? " kata Tony.
"Ini tidak ada niat, hanya ada kesempatan! " jawab Alan yang merasa tidak bersalah.
Dara pun tidak bisa berkata apapun, jika saja bisa menghilang sudah pasti dia akan lakukan itu. Malu hanya itu yang di rasakan Dara pada saat ini, dia tidak brani untuk melihat ke arah Tony.
"Ya sudah lanjutkan tapi jangan di sini! banyak CCTV berjalan" kata Tony sambil pergi berlalu meninggalkan Dara dan juga Alan yang masih berada di area parkir.
"Gara-gara kamu sih, jadi malu aku sama pak Tony! " Dara berbicara dengan nada yang judes, tetapi bagi Alan hal itu menambah kecantikan wanita itu.
"Iya aku minta maaf! " ucap Alan sambil menatap lekat wajah Dara.
Setelah beberapa saat mereka pun pergi dari area parkir untuk segera menuju ruang kerja masing-masing, selama di perjalanan menuju ruangan tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Dara sibuk dengan pikiran nya begitu pun dengan Alan, meski saling diam selama perjalanan tetapi sudah cukup membuat Alan sangat bahagia. Bisa berjalan berdampingan bersama sang pujaan hati.
Tidak sedikit pula pasang mata melihat ke arah mereka, tetapi baik Dara maupun Alan selalu bersikap masa bodoh dengan semuanya.
Yang terpenting bagi Dara tidak ada niat sedikit pun untuk mengganggu siapa pun.
Banyak juga yang mencibir Dara tetapi mereka lakukan hanya di belakang, sampai sekarang tidak ada yang berani berkata jelak terhadap Dara jika sedang berhadapan. Bahkan mereka semua selalu berbuat baik jika di hadapan Dara padahal kenyataan nya, mereka selalu bergosip ria saat tidak ada Dara.
Winda sering mendengar dan selalu memberi tahu Dara bahwa mereka semua tidak sebaik yang terlihat. Namun, Dara hanya tersenyum mendengar aduan dari Winda.
Setelah beberapa saat Dara sudah sampai di ruangan nya, dan masuk begitu saja tanpa permisi terlebih dahulu terhadap Alan.
Alan pun yang melihat itu semua hanya mampu tersenyum, di saat Dara sudah menutup pintu ruangan nya.
Alan pun melanjutkan kembali langkah nya untuk segera masuk ke dalam ruangan nya, setelah pintu terbuka Alan melangkah dengan perlahan dan segera menuju kursi kebesaran nya.
Alan pun menjatuhkan tubuh nya di atas kursi, lalu mendongak menatap langit-langit yang ada di ruangan tersebut.
Sungguh sangat miris sekali kisah cinta nya, di saat ada orang lain mencintai nya dengan segenap jiwa dan raga nya. Tetapi dia tidak pernah membalas cinta orang itu, sekarang giliran dirinya mencintai orang lain tapi tak terbalas.
"Seperti ini kah rasanya cinta tak terbalas" kata Alan dalam batin sambil terus menatap langit-langit itu.
Setelah beberapa saat Alan bergulat dengan semua pikiran yang ada, dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu bangkit dari duduknya dan pergi berlalu untuk menuju Wastafel untuk mencuci wajahnya.
Setelah beberapa saat Alan pun telah kembali dengan wajah yang sedikit basah, lalu dia mengelap wajahnya dengan tissue setelah itu Alan pun memulai pekerjaan nya.
*****
Hari pun berlalu begitu cepat, waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor.
Setelah beberapa saat Dara sudah sampai di area parkir, dia pun langsung masuk ke dalam kendaraan lalu duduk di kursi samping pengemudi.
Alan pun mulai melajukan kendaraan nya dengan perlahan, kendaraan pun sudah keluar dari area perkantoran.
Perjalanan yang di tempuh pun sudah cukup lama, sebelum sampai di rumah Dara. Alan pun berhenti sejenak di toko mainan untuk membelikan mainan untuk Farel, meskipun Dara sudah melarang nya tetapi Alan kekeh dengan niat nya membelikan mainan untuk Farel.
Dara pun lebih baik diam dan mengalah sebab berdebat pun tidak ada gunanya.
Setelah selesai membeli mainan untuk Farel, mereka pun masuk kembali ke dalam kendaraan.
Alan melanjutkan kembali perjalanan nya untuk segera sampai di Rumah Dara.
Setelah beberapa saat akhirnya sudah sampai juga di area perumahan yang di tempati Dara, kendaraan pun terparkir di depan pagar sebab rumah Dara tidak di lengkapi dengan garasi.
Kedua nya pun turun dari kendaraan tersebut, lalu Dara membuka pintu pagar untuk segera masuk.
Setelah terbuka Dara pun mengajak Alan untuk segera masuk, setelah sampai di teras Dara mempersilahkan untuk duduk di kursi yang tersedia di sanah.
"Silahkan duduk dulu, saya ambil minum sebentar" kata Dara sambil pergi berlalu menuju dalam, untuk membuatkan minum.
Alan pun duduk di tempat yang sudah tersedia, sambil menunggu Dara keluar dia pun melihat ke sekeliling rumah.
Bangunan yang sudah tua tetapi masih layak untuk di tempati, ini lah salah satu harta peninggalan kedua orang tua Dara.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya Dara keluar dengan membawa satu cangkir kopi,dan Farel juga ikut bersama nya.
Dara meletakkan cangkir kopi di atas meja.
"Silahkan di minum kopinya, maaf hanya ada kopi di rumah ini! " kata Dara sambil menatap ke arah Alan, yang sedari tadi memperhatikan Farel.
"Terimakasih" jawab Alan.
"Farel, salim dulu nak sama om! " perintah Dara terhadap sang anak.
Farel pun mengikuti perintah sang Mama.
"Hai ganteng, om bawa mainan loh untuk mu" kata Alan berbicara dengan nada lembut, dia sangat berharap bahwa Farel bisa menerima kehadirannya.
Alan pun menunjukkan mainan yang tadi di Belinya, tetapi respon Farel tidak sesuai yang di harapan kannya.
"Maaf, om kata Mama nggak boleh nerima apapun dari orang asing" kata Farel sambil menatap wajah sang Mama, jujur di dalam hatinya yang paling dalam dia menginginkan mainan tersebut. Tetapi sang Mama pernah berpesan seperti itu, lagipula Alan baru pertama kali bertemu dengan Farel. jadi wajar jika Farel menganggap nya orang asing.
"Om kan bukan orang asing, teman Mamanya jadi teman Farel juga" kata Alan dengan nada bicara yang lembut.
Di sela perbincangan mereka ada orang datang, kedatangan orang tersebut membuat hati Alan jadi panas.
"Permisi, Eh lagi ada tamu ya? " kata orang tersebut.