
Hari ini di mana sidang perceraian Dara dan Dika akan segera berlangsung.
Dara sudah rapih, dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di pengadilan agama. Mungkin kah hari ini awal yang baik untuk kehidupan Dara atau kah sebaliknya.
Semoga saja ini keputusan yang tepat, dan tidak akan ada penyesalan di kemudian hari.
Setelah ini Dara harus benar-benar fokus ke masa depan Farel dan juga dirinya, sebab selama ini dia sudah lupa bagai mana rasanya bahagia.
Hari ini Dara di perbolehkan untuk tidak masuk kantor oleh sang bos, bahkan Alan dan Winda pun akan ikut menyaksikan jalannya persidangan.
"Mel... jaga Farel dengan baik!setelah aku nggak ada di rumah" ucap Dara sambil menyuapi Farel sarapan, mau berangkat ke mana pun dia pasti memenuhi kebutuhan Farel terlebih dahulu.
"Baik Bu... memang pulang nya malam ya? " tanya Meli sambil membereskan piring bekas sarapan.
"Nggak tahu Mel... semoga cepat beres semua urusan nya, dan kita akan segera pergi dari rumah ini! " kata Dara.
"Kita akan pindah ke mana Bu? " tanya Meli.
"Kita akan pindah ke rumah yang dulu, rumah peninggalan nenek nya Farel. Kecil tapi nggak apa-apa yah, yang penting ada tempat untuk kita tinggal! " Dara sambil terus menyuapi Farel.
"Ya nggak apa Bu, asalkan kita tentang. yang membuat kita nyaman itu bukan seberapa mewah rumah itu" jawab Meli, sambil tersenyum tipis ke arah majikan nya itu. Meli berbicara seperti itu karena sudah tahu meskipun tinggal di rumah mewah tetapi Dara tidak mendapatkan kebahagiaan layak nya orang lain.
"Iya, sih... " jawab Dara singkat.
Setelah beberapa saat sarapan pun sudah selesai, Farel di bawa meli kembali ke kamarnya. Dara akan segera pergi ke pengadilan, dia akan di jemput oleh Winda. Sahabat sejati, Winda orang yang paling bahagia saat tahu Dara menggugat cerai Dika.
Dara melangkah dengan perlahan untuk segera menuju pintu keluar tiba-tiba di panggil"Dar... "panggil Dika.
Dara pun menghentikan langkah nya, lalu menoleh ke arah sumber suara.
" Iya... kenapa? "tanya Dara.
" Apa kamu yakin akan melakukan ini? "tanya Dika sambil menatap lekat Wajah Dara.
" Kenapa tidak, aku sudah memberikan kamu kesempatan selama lima tahun dan aku selalu menunggu perlakuan baik mu terhadap ku, tapi apa? tidak ada sedikit pun niat baik dari kamu! "ucap Dara dengan penuh penekanan.
" Apa kamu akan melanggar janji terhadap kedua orang tuamu? "tanya Dika.
" Jika saja mereka tahu perlakuan mu seperti apa terhadap ku, mungkin mereka sudah menjemput ku dari dulu. Aku bisa terimakasih semua perlakuan kasar kamu tapi satu hal yang perlu kamu tahu, saat kamu membawa wanita lain ke kamar ku dan mengusirnya dari sanah. Maka saat itu juga semua yang pernah aku pertahankan sudah hilang, aku selalu berharap akan ada sedikit cinta kamu buat aku meskipun kita nikah di jodohkan tetapi bukan seperti ini juga perlakuan mu terhadap ku"ucap Dara dengan panjang lebar, dia keluarkan semua apa yang ada di hatinya, selama ini dia diam bukan berarti tidak merasakan sakit. Dia bukan orang yang suka menceritakan aib suami terhadap orang lain lalu di maafkan kembali. Dara selama ini diam bukan berarti tidak sakit hati, ini saat nya bagi Dara untuk mengakhiri penderitaannya.
"tapi kan masih bisa di bicarakan baik-baik" kata Dika.
"Sudah terlambat" Jawab Dara sambil pergi berlalu meninggalkan Dika yang masih berdiri di tempat semula.
Penyesalan pun sudah mulai menguasai Dika, setelah ini dia juga bingung harus berbuat apa.
Hal itu yang selalu membuat Dika marah terhadap Dara, Dara yang tidak tahu apa-apa yang menjadi korban keegoisan Dika.
*****
Dara sudah berada di luar rumah, dan mobil mewah pun sudah menunggu nya di luar.
Mereka akan segera menuju ke pengadilan agama, Winda dengan penuh semangat membuka pintu kendaraan nya, dan mempersilahkan nya untuk duduk di kursi depan di samping kemudi.Winda pun segera masuk ke dalam kendaraan, dia pun menyalahkan mesin kendaraan nya lalu menginjak gas dengan perlahan.
Kendaraan yang mereka tumpangi pun perlahan meninggalkan area perumahan.
Winda pun mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, selama di perjalanan pun tidak ada halangan apapun.
Entah mengapa jalanan di pagi ini sangat bersahabat, yang biasanya macet hari ini lancar. jangan kan orang-orang terdekat Dara alam pun mendukung perceraian mereka.
Setelah beberapa saat di perjalanan, akhirnya kendaraan yang di kemudikan Winda pun sudah sampai di area parkiran.
"Ko deg-degan sih" kata Dara
"Tarik nafas lalu buang dengan perlahan!, jangan khawatir semua akan baik-baik saja" kata Winda.
"Semoga lancar ya semuanya" ucap Dara.
"Amin" jawab Winda.
Akhirnya Winda dan Dara pun turun dari kendaraan yang mereka tumpangi.
Mereka sudah berdiri di depan gedung, namun Dara ragu untuk masuk.
"Ayo masuk! nunggu apalagi" kata Winda.
"Apa ini pilihan yang tepat! " ucap Dara.
"Maksud kamu apa ngomong seperti itu? " tanya Winda.
"Nggak,yuk masuk? "ajak Dara terhadap Winda.
Mereka berdua pun akan segera masuk ke dalam pengadilan agam, sebab sebentar lagi sidang putusan akan segera di mulai.
Baru juga mereka akan melangkah tiba-tiba langkahnya terhenti.
" Kenapa kalian masih di sini"kata orang tersebut.