
"Hayu? " Ajak Winda untuk segera menuju pintu masuk.
Dara pun hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Winda, untuk segera masuk ke dalam kafe.
Baru juga berada di depan pintu masuk, Dara di suguhkan dengan pemandangan yang tidak enak untuk di pandang.
Dara dan Winda pun terus berjalan melewati orang tersebut, Dara berusaha tidak perduli dan seolah tidak kenal.
Dara dan Winda duduk tidak jauh dari Sherly dan teman-temannya.
Dara tidak perduli dengan sherly mau jungkir balik pun, tetapi sherly yang selalu membuat ulah dan membuat Dara kesal.
"Dar, kamu mau pesan apa? " tanya Winda terhadap sahabat nya itu,
"Pesan yang sama dengan kamu saja! " jawab Dara sambil memainkan ponsel nya.
"Ya sudah" Kata Winda.
Setelah beberapa saat mereka menunggu pesanan akhirnya datang juga, seperti biasa Winda selalu memesan makanan itu dua porsi.
Jika hanya satu porsi cacing di perut nya masih pada demo. Mereka berdua pun menikmati makan siang dengan lahap dan tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekitar.
Setelah beberapa saat makan siang pun sudah selesai.
Winda dan Dara pun akan segera pergi dari kafe tersebut setelah membayar nya.
Tiba-tiba langkah nya terhenti saat mendengar orang yang memanggil namanya.
"Dara tunggu! " panggil wanita itu, seketika Dara menghentikan langkah nya.
"Ada apa?" tanya Dara dengan wajah malasnya.
"Bukan nya kamu kerja, lalu mengapa kamu ada di sini tanya Sherly.
" Ya suka-suka gua lah mau di mana juga, apa hubungan nya sama lu. Nggak penting amat ngurusin hidup orang, Ayo win kita pergi tidak baik berlama-lama di dekat sampah takut tercemar "ucap Dara sambil menarik tangan Winda untuk segera keluar dari kafe.
" Eh jaga bicara mu! "kata Sherly kesal, kenapa di setiap kali dia ingin menghina Dara malah sendiri nya yang di permalukan.
" Yang mesti di jaga bicaranya itu lu, dan kehormatan lu sebagai wanita pun jangan lupa di jaga! "ucap Dara dengan penuh penekanan sambil menunjuk ke arah wajah Sherly.
Perkataan Dara pun sudah berhasil memancing emosi Sherly, dia pun mengepalkan kedua tangan nya, sambil menggenggam menahan amarah.
Dara pun sudah pergi keluar kafe bersama Winda.
" Dar kenapa nggak kamu jambak aja itu nenek sihir? "tanya Winda terhadap Dara, sungguh dia pun merasakan jengkel sampai ke ubun-ubun saat melihat Sherly. Jiwa nya Winda meronta saat melihat pelakor berkeliaran.
" Buat apa? buang-buang tenaga dan waktu ku saja hanya untuk meladeni si pelakor nggak ada akhlak "Jawab Dara santai.
" Ko aku heran deh sama kamu, apa nggak marah apa sama dia! "kata Winda sambil menatap wajah sahabat nya itu dengan lekat, sungguh wajah yang selalu terlihat cerita tetapi banyak luka yang tersimpan di dalam hatinya. Hanya saja dia pandai menyembunyikan nya, hanya orang-orang tertentu yang memahami bahwa Dara itu menyimpan banyak luka.
" Udah kebas Win, nggak ada rasa lagi dan untuk menangis pun aku sekarang sudah nggak mampu, terlalu banyak luka dan penderitaan yang ku alami jadi lah aku yang seperti ini "Jawab Dara.
Winda pun memeluk Dara tanpa bicara sepatah kata pun
" Eh ini mobil kapan berangkat nya, bisa di marahin pak bos nanti jika telat! "kata Dara.
" Eh iya sampai lupa"Jawab Winda sambil menyalahkan mesin kendaraan nya, lalu menginjak gas dengan perlahan.
Winda dan Dara pun keluar dari kendaraan, mereka akan memulai aktivitas kembali sebagai abdi perusahaan. Di mana keduanya menggantung kan hidup di perusahaan ini, Winda juga bisa bertemu dan berteman baik berkat perusahaan ini.
Keduanya pun sudah masuk ke dalam gedung yang sama tetapi mereka sekarang beda departemen dengan Dara, sekarang Dara tidak lagi satu ruangan dengan nya.
Dara dan Winda pun sudah berpisah, untuk kembali ke ruangan masing-masing.
Dara sudah berada di ruangan nya, tetapi Dara hera siapa yang menyimpan bungkusan makanan di meja nya.
Tapi Dara nggak mau ambil pusing, dia menyingkirkan bungkusan makan tersebut dan akan mulai mengerjakan yang seharusnya di kerja kan.
Waktu bergulir begitu cepat, sesuai dengan ucapan Alan mereka akan bertemu dengan Klien. Meskipun Pak Toni ikut tetap saja Dara juga mesti ikut dengan alasan yang tidak masuk akal menurut Dara, tapi ya mau bagaimana lagi. Dia hanya seorang karyawan yang harus taat dan patuh terhadap perintah sang bos.
Dara menggunakan mobil yang sama dengan Alan tetapi Pak Toni menggunakan kendaraan yang lain,
Mereka sudah siap untuk segera berangkat ke tempat tujuan, meski sedikit risih di hati Dara saat harus menggunakan kendaraan yang sama.
Mereka berdua itu terlihat berbeda jika sedang berdua beda lagi saat di depan orang banyak, Dara lebih berani mengungkapkan rasa tidak suka apa yang di lakukan Alan, tetapi Alan tidak ambil pusing dia mah akan melakukan apa pun asal merasa senang dan bahagia.
Setelah beberapa saat kendaraan yang mereka tumpangi pun sudah sampai di tempat tujuan, Sopir pun membuka pintu untuk sang bos.
Begitu juga dengan Alan dengan cepat dia membuka pintu samping dan mempersilahkan Dara untuk keluar dari dalam kendaraan, hal itu membuat Pak sopir mengerutkan keningnya.
Sejak kapan bos nya itu bersikap manis pada perempuan, bahkan selama dia bekerja bersama Alan belum pernah dia dekat dengan seorang perempuan.
Ini menjadi tanda tanya besar di kepala Pak sopir, tetapi dia berusaha menepis nya.
"Eh, Pak kebalik tidak sepantasnya bapak yang melakukan ini untuk ku" kata Dara sambil menunduk malu.
"Apa terlihat segitu tua nya, sehingga kamu itu terus memanggil saya dengan sebutan bapak" Ucap Alan dengan penuh penekanan.
"Bukan begitu, tapi kan bapak itu atasan saya" jawab Dara.
"Sudah berapa kali saya bilang, jangan pernah panggil saya itu dengan sebutan bapak jika lagi di luar kantor" ucap Alan dengan penuh penekanan.
"Terus saya harus panggil apa dong! " jawab Dara.
"Sayang juga boleh" Ucap Alan tanpa merasa bersalah.
Dara yang mendengar itu hanya mampu mengerutkan kening nya sambil bergumam "Sayank"
"Ikh anehh"ucap Dara sambil bergidik ngerti dengan sebutan itu.
Alan yang melihat Dara seperti orang yang anti dengan hal seperti itu langsung meralat ucapan nya" nggak usah di pikirkan, bisa panggil saya kakak atau pangeran kodok "ucap Alan dengan nada santai nya.
" Pangeran kodok "Dara berusaha mengingat, seperti nya sudah tidak asing dengan sebutan itu, tapi Dara lupa.
" Eh nggak usah panggil pangeran kodok dingin, hanya putri yang boleh memanggil ku itu"ucap Alan.
Setelah beberapa saat mereka berdebat soal panggilan nama, akhirnya mereka berdua masuk setelah Pak Tony juga datang ke tempat yang di tentukan.
Ketiga orang tersebut pun masuk ke dalam kafe, dan menuju tempat yang sudah di pesan.
Setelah semuanya berada di dalam kafe, dan memulai pembicaraan bisnis.