
Dara berjalan perlahan untuk menuju tempat yang sudah di sediakan, setelah sampai wanita yang mengantar nya menarik kursi lalu mempersilahkan Dara untuk duduk.
Setelah Dara duduk wanita itu langsung pamit untuk pergi meninggalkan Dara, tinggal lah seorang diri di dalam ruangan yang super mewah di lengkapi dengan dekorasi yang sangat indah.
Dara terus memuji keindahan yang ada di ruangan ini, rasa bahagia takut bercampur menjadi satu.
Entah apa tujuan dari semua ini Dara juga tidak mengerti, sebab Alan tidak pernah membicarakan ini sebelum nya.
Dara sudah menunggu beberapa saat tetapi tidak juga ada yang datang, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan mencari tahu kemana semua orang dan kenapa tidak ada orang di sini.
Seketika niat Dara di urungkan,saat melihat seorang lelaki perawakan tinggi dengan berpakaian rapi berjalan mendekat ke arahnya. Dara tidak bisa berkata apapun dia hanya menatap lelaki itu sambil tersenyum, ternyata selama ini Dara hampir melupakan satu hal ternyata Alan itu ganteng dan rebutan para kaum hawa.
Alan berjalan perlahan mendekat ke arah Dara, setelah beberapa saat Alan sudah tiba di tempat di mana Dara sudah duduk dan menunggu nya sangat lama.
"Maaf sudah menunggu lama! " ucap Alan sambil duduk di kursi yang sudah tersedia dan tepat di hadapan Dara.
"Nggak apa-apa" jawab Dara sambil tersenyum manis menatap ke arah Alan, dan senyuman Dara sudah mampu menghilangkan kewarasan Alan.
Alan terus menatap Dara tanpa berkedip, ternyata wanita yang ada di hadapan nya mempunyai kecantikan yang sangat luar biasa.
Dara yang sadar akan tatapan Alan dia langsung grogi dan salah tingkah, dan memalingkan pandangan nya ke arah lain agar Alan tidak mengetahui bahwa dirinya salah tingkah.
"Cincin nya kekecilan nggak? " tanya Alan terhadap Dara.
"Pas... tapi nggak bisa di lepas lagi" jawab Dara sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis nya.
"Bagus dong kalau nggak bisa di buka, itu artinya kita jodoh" ucap Alan sambil menatap lekat wajah Dara, hal itu membuat Dara jadi malu.
"Ini acara apa sih mas...ko nggak ada orang selain kita berdua? " tanya Dara terhadap Alan.
"Ini acara untuk kita berdua, ngapain harus banyak orang! " jawab Alan sambil tersenyum manis, menatap lekat wajah Dara. Alan sungguh tidak puas memandang Dara, wanita yang setiap hari bersama nya.
"Buat apa juga harus mempersiapkan acara seperti ini" kata Dara sambil menatap ke sekeliling, Dia mengamati setiap sudut ruangan yang di dekorasi sangat indah di penuhi bunga-bunga kesukaan Dara.
"Malam ini di tempat ini dan bunga-bunga ini akan menjadi saksi perjalanan cinta kita...mau kah kamu menjadi istri ku dan ibu dari anak-anak ku?" kata Alan dengan nada bicara serius, dia sangat berharap bahwa Dara sudah siap untuk ke arah yang lebih serius.Bagi Alan waktu satu tahun menunggu Dara itu sudah terlalu lama, ini saat nya dia mengajak Dara ke arah pernikahan.
Sebab Alan sudah tidak lagi muda begitu juga Dara, bukan masanya lagi mereka hanya pacaran atau hanya sekedar dekat.
Alan ingin menjadikan Dara wanita satu-satunya yang ada di dalam hidup nya, yang menemani sampai tua menjalin bahtera rumah tangga.
Dara bukan nya menjawab pertanyaan Alan, malah bengong dan cairan bening sudah memenuhi kelopak matanya. Sungguh tidak percaya sedikit pun bahwa dia akan di lamar oleh Alan, laki-laki yang mempunyai seribu pesona untuk perempuan. Bahkan hanya menjentikkan jari perempuan akan datang menghampiri, tetapi kenapa pilihan nya jatuh terhadap janda miskin.
"Kamu kenapa? apa pertanyaan ku menyakiti atau ada yang salah" tanya Alan terhadap Dara sambil memegang tangan nya.
"Lalu apa yang membuat kamu menangis? " tanya Alan sambil mengusap air mata Dara dengan ibu jarinya.
Setelah beberapa saat Dara terdiam dan mulai menetralkan perasaan nya, dia menarik nafas lalu di buang perlahan.
"Mas... apa kamu tidak akan menyesal ingin menjadikan ku istri mu, sedangkan di luar sanah banyak gadis cantik? " tanya Dara terhadap Alan, dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Memang di luar sanah banyak wanita cantik! tetapi bagiku hanya kamu yang cantik di antara mereka yang cantik" jawab Alan.
"Apa keluarga kamu juga menerima aku menjadi bagian dari keluarga nya, sedangkan kita beda kasta aku hanyalah seorang janda miskin" kata Dara sambil memalingkan tatapan nya ke arah lain.
"Mereka tidak mempermasalahkan itu semua, yang terpenting bagi mereka kamu menerima setiap kekurangan ku" ucap Alan dengan nada bicara yang lembut.
"Tapi kenapa bukan mereka yang datang meminta ku untuk menjadi menantunya? " tanya Dara terhadap Alan.
Pertanyaan Dara membuat Alan diam sejenak, dia memikirkan kata yang pas agar tidak salah bicara. Jika salah sedikit saja maka akan fatal semuanya.
"Mereka sudah beberapa minggu pergi ke luar negeri untuk bertemu kerabatnya yang ada di sana, dan ada beberapa bisnis Papa juga yang harus di urus Mama memutuskan untuk ikut bersama nya. Sebab waktunya agak lama" jawab Alan meyakinkan Dara, agar tidak bimbang untuk menetapkan hati memilih nya untuk menjadikan suami.
"Apa mereka masih lama pulang nya? " tanya Dara lagi.
"Mungkin beberapa bulan ke depan, tapi secepatnya akan kembali begitu semuanya sudah selesai" jawab Alan.
"Aku akan menjawab semuanya saat orang tua mu yang meminta ku menjadi menantu nya" kata Dara.
Dan jawaban Dara sudah berhasil membuat Alan jadi tidak karuan,ternyata masih butuh perjuangan banyak untuk membawa Dara ke pelaminan.
"Aku nggak butuh jawaban kamu sekarang, yang penting kamu sudah tahu bahwa semua yang ku ucapkan semuanya serius! dan secepatnya mereka akan datang ke rumah kamu untuk melamar! " kata Alan.
Setelah beberapa saat, pelayanan menyajikan makanan yang telah di pesan oleh Alan. Semua makan yang tersaji itu kesukaan Dara, sengaja Alan lakukan ini semua agar hati Dara bahagia.
"Ya sudah kita makan dulu! " ajak Alan terhadap Dara.
Mereka berdua menikmati makan malam yang sangat romantis itu menurut Alan,entah menurut Dara ini makan malam seperti apa? Baginya ini sangat aneh.
Setelah beberapa saat mereka menyantap makanan yang sudah tersaji, Alan sangat lahap sekali sebab makan di temani sang pujaan hati.
Akhirnya makan malam sudah selesai, mereka berdua masih duduk di tempat semula bahkan rasanya Dara enggan sekali beranjak dari tempat duduk.
Setelah makan rasa ngantuk dan lelah setelah sehari bekerja mulai menguasai Dara.
"Kamu kenapa? " tanya Alan terhadap Dara, yang terlihat sangat lemas.