
Satu bulan telah berlalu Dara berada di kampung kampung halaman, semakin hari Farel merasa semakin bahagia berada di sini.Sebab di sini dia memiliki banyak teman dan bebas bermain di depan rumah tanpa ada batas, seperti tinggal di kota.
Semakin hari Dara semakin tidak terlalu fokus terhadap Alan, selama itu juga tidak ada komunikasi diantara keduanya.
Tetapi Dara masih sering menanyakan kabar Alan lewat sahabatnya yaitu Winda, dia belum bisa sepenuhnya melupakan Alan meskipun sudah satu bulan dia pergi dari kota dan tidak bertemu dengan Alan.
Dara sedang berada di depan rumah sambil melihat Farel bermain bersama teman-teman yang ada di kampung ini, terlihat bahagia sekali anak tersebut sesekali dia tertawa terbahak-bahak bersama teman-teman sebayanya.
Dara yang melihat anaknya merasa bahagia dia pun merasakan hal yang sama dengan Farel, di saat darah sedang duduk menikmati pemandangan yang ada di halaman yaitu anaknya.Tiba-tiba ada sepeda motor berhenti tepat di depan rumah sang Bibi, orang tersebut mengenakan helm.
Dara belum bisa mengenali orang tersebut, sebelum orang itu membuka penutup kepalanya.Setelah beberapa saat orang itu membuka penutup kepalanya, dan ternyata orang itu adalah Aep.
Aep turun dari kendaraannya setelah memarkirkannya dengan rapi di halaman rumah, lalu dia berjalan perlahan mendekat ke arah Dara yang sedang duduk di teras.
"Permisi,apa Bu Sani nya ada?"tanya Aep terhadap Dara.
"oh iya, Bibinya lagi di dalam, silakan duduk dulu nanti panggilin!" kata Dara mempersilakan Aep untuk duduk di atas kursi yang tersedia di teras.
"Terimakasih"jawab Aep.
Aep langsung duduk setelah dipersilahkan oleh Dara.
"Tunggu sebentar, saya panggilin dulu bibinya! "kata Dara sambil bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan untuk segera masuk ke dalam rumah.Untuk memanggil sang Bibi yang masih berada di dapur, dia itu selalu ada aja yang dikerjakannya jika lagi ada di rumah pasti tidak lepas dari dapur.
Setelah beberapa saat Dara sudah kembali ke depan dengan sang Bibi.
"Ada perlu apa ya? tanya Bi Sani terhadap Aep,Sebab tidak biasanya Aep datang ke rumah ini.
Mereka bertiga duduk di teras sambil berbincang-bincang, alasannya Aep datang ke rumah ini untuk mengantarkan uang hasil penjualan sayuran punya,Bi Sani.Padahal sebelumnya uang tersebut suka dikasih terhadap suaminya yang masih di ladang, tidak pernah diantarkannya ke rumah.
Entah apa dari tujuan Aep datang ke sini, Dara terlihat biasa saja. Tanpa menghiraukan Aep, dia malah fokus terhadap Farel yang sedang bermain. Dara takut terjadi sesuatu lagi dengan Farel seperti waktu itu, sampai kakinya mengalami cedera. Makanya sekarang, setiap Farel bermain di luar rumah sudah pasti Dara mengawasi nya, atau Meli.
Di saat mereka sedang asik ngobrol tiba-tiba Meli keluar dan langsung berteriak ketika melihat Aep ada di rumah ini.
" Bu, kenapa nggak panggil Meli dari tadi kalau ada abang ganteng di sini"kata Meli sambil mengulurkan tangannya, dia mengajak Aep untuk bersalaman.
"Mel, jangan bikin malu! " kata Dara sambil menatap tajam.
"Bu, ini barang bagus kenapa di anggurin Sayang lah harus di manfaatkan" jawab Meli sambil tersenyum manja ke arah Aep, hal ini membuat Dara kesal terhadap Meli. Dia merasa malu dengan tingkah Meli.
"Meli.... " kata Dara dengan nada bicara, sedikit meninggi.
Perbincangan di antara mereka sudah cukup lama, hingga akhirnya.
Aep berpamitan untuk segera pulang,Aep langsung menuju kendaraan nya terparkir.
"Kamu itu ngomong apa sih Mel... " bentak Dara.
"Aku pengen dapat cowok ganteng seperti dia, nggak apa-apa lah dia bujang lapuk tapi kadar ke gantengan nya masih ok "jawab Meli dengan nada bicara tanpa merasa bersalah sama sekali.
" Serah kamu lah, awas tuh Farel jagain aku mau masuk dulu! "perintah Dara terhadap Meli.
Di saat Dara ingin melangkah kan kakinya,dan Aep juga akan segera pergi dari rumah Bi Sani.
Mereka dikagetkan dengan kedatangan beberapa mobil mewah, yang berhenti tepat di halaman rumah Bi Sani.
Dara yang akan masuk ke dalam rumah, menghentikan langkahnya seketika saat melihat kendaraan mewah itu parkir di depan rumah.
Aep yang akan pergi meninggalkan rumah Bi Sani dia hanya diam sejenak, melihat mobil mewah yang berhenti di halaman.
Dia hanya menatap heran kepada semua mobil yang berhenti, sebab aip juga tidak mengenali orang-orang yang berada di dalam mobil tersebut ketika orang itu sudah turun dari kendaraan.
"Mas Alan..."kata Dara saat melihat orang yang turun dari dalam kendaraan tersebut itu adalah Alan, entah dari mana dia tahu alamat sang Bibi di sini.Setelah Alan menutup kembali pintu kendaraannya,lalu dari mobil yang ada di belakangnya keluar yaitu Winda dan juga Tony.Diikuti dengan kedua orang tua Alan yang membawa beberapa barang seperti orang yang akan melakukan lamaran.
cara yang melihat itu semua tidak bisa berkata apapun, dia hanya mematung di ambang pintu tidak bergerak sedikit pun bahkan tidak berbicara apapun saat melihat Alan berjalan mendekat ke arah rumah. Sedangkan sang bibi yang masih duduk di kursi yang ada di teras dia hanya bengong, sebab dia tidak pernah mengenal Alan atau bertemu sebelumnya.Dia berpikir bahwa mobil dan orang-orang tersebut adalah nyasar.
Farel yang sedang bermain di halaman, dia langsung menyadari bahwa yang datang adalah Alan.
"Om...."panggil farel sambil berlari ke arah Alan langsung memeluknya.
"Anak ganteng "kata Alan sambil membalas pelukan farel,lalu mensejajarkan tubuhnya dengan anak tersebut.
"Kenapa Om lama sekali nggak pernah datang ke sini, aku tuh kangen tahu terus ibu juga suka ngelamun pasti itu mikirin Om "kata farel dengan nada bicara yang polos.
"Om lagi banyak kerjaan dulu, makanya belum sempat datang ke sini titik sekarang kerjaannya sudah beres Om akan menjemput farel untuk kembali lagi ke kota, apa farel mau ikut om ke kota lagi?" kata Alan sambil menatap lekat wajah anak laki-laki tersebut, yang terlihat sangat menggemaskan.
Alan memegang tangan farel lalu berjalan beriringan, untuk segera menuju rumah sang Bibi.
Mereka semua mengucapkan salam terhadap Bi Sani yang terlihat bengong melihat kedatangan mereka semua.
"Maaf pak, Bu mencari siapa ya?" tanya Bi Sani terhadap mereka semua.
"Kami sedang mencari calon menantu kami yang pergi, katanya tinggal di rumah ini! "kata ayahnya Alan.
"Tapi di sini tidak ada anak gadis "jawab Bi Sani.
"Kami tidak sedang mencari anak gadis, tetapi kami sedang mencari calon menantu kami yang tinggal di rumah ini" kata ibunya Alan ikut menimpali.