
Alan dengan perlahan melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang, perjalanan yang di lalui sedikit mengalami kemacetan hingga sampai di rumah sedikit lambat.
Dalam hati Alan rasa takut menyelimuti, takut akan kebenaran yang ada.
Padahal dari rasa takut yang di rasakan Alan, justru itu awal dari kehancuran nya. Tidak ada kejujuran hanya demi rasa takut kehilangan, padahal dari kebohongan bisa menjadi awal dari kehilangan kepercayaan.
Dara tidak bertanya lebih lanjut tetang Alan yang menjadi pendiam, sebab Dara tidak pernah mencari tahu apapun setelah bertanya satu kali tidak ada jawaban yang meyakinkan maka Dara akan membiarkan nya. Dia menunggu waktunya tiba orang itu akan berkata jujur, meski sudah tahu sesuatu akan kebenaran dia diam.
Hari ini Dara bukan tidak curiga dengan perubahan Akan, tetapi lebih memberikan Alan waktu dan bercerita sendiri.
"Mau langsung pulang atau beli sesuatu dulu untuk Farel? " tanya Alan terhadap Dara.
"Pulang saja lah, sudah sore juga lebih baik cepat sampai" jawab Dara
"Baik lah" ucap Alan sambil menginjak gas kendaraan nya dengan kecepatan sedang.
Di perjalanan sangat menyita waktu, sebab menghadapi akhir pekan terkadang warga pada ke tempat liburan hingga mengakibatkan jalan macet. Setelah berjam-jam di perjalanan akhirnya sampai di kediaman Dara, kendaraan berhenti dengan sempurna di depan rumah Dara.
"Mau mampir dulu atau langsung pulang? " tanya Dara terhadap Alan.
"Mampir lah, rada sedikit ngantuk" jawab Alan.
Dara dan Alan turun dari kendaraan dan langsung menuju pintu masuk, setelah berada di depan pintu.
Dara langsung membuka pintu dan mempersilahkan Alan untuk masuk.
"Duduk dulu, ku ambil minum dulu" Dara mempersilahkan Alan untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Alan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, lalu melihat ke atas langit-langit.
Tanpa Alan sadari ternyata Dara memperhatikan nya.
Dara langsung pergi ke dapur untuk membuat kan minum untuk Alan, setelah sampai di dapur ternyata ada Meli.
"Sudah pulang Bu...? " tanya Meli terhadap Dara.
"Baru sampai, ini mau buat minum dulu untuk Mas Alan" jawab Dara sambil mengambil gelas lalu membuat minum untuk Alan.
Minuman sudah siap di sajikan, Dara kembali ke ruang tengah sambil membawa cangkir berisikan kopi.
Setelah sampai di ruang tamu, terlihat Alan memejamkan mata sambil duduk. Dara tidak berani untuk membangun kan Alan, setelah menaruh kopi di atas meja Dara membiarkan Alan untuk tertidur.
Dia segera pergi untuk segera membersihkan diri dari keringat setelah seharian bekerja.
Dara berniat untuk mandi terlebih dahulu dan berganti pakaian, sebab dia juga ada janji sama Winda bahwa mereka akan pergi ke luar dan makan malam bersama.
Dara sibuk dengan ritualnya, hingga menghabiskan waktu cukup lama sampai lupa bahwa ada Alan.
Setelah cukup lama Dara sudah selesai dengan ritualnya, dia keluar dari kamar untuk menuju kamar Farel dan memberi tahu Meli agar bersiap bahwa mereka akan pergi ke luar.
Setelah sampai si luar kamar dia melihat bahwa Alan masih tertidur di atas sofa.
"Astaga... ternyata dia masih di sini" kata Dara dengan raut wajah terkejutnya.
Dara duduk di samping Alan lalu mengguncangkan tubuh Alan.
"Mas... bangun" panggil Dara dengan suara lembutnya, dan suara dan sentuhan nya sudah berhasil membuat Alan untuk bangun.
"Eh, ketiduran ya" jawab Alan sambil mengusap wajah kasar.
"Kopinya dingin tuh" kata Dara.
"Ku minum ya sekarang! " jawab Alan sambil mengambil cangkir kopi lalu meminumnya.
Setelah kopi habis, Alan pamit untuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci wajahnya sebelum pulang.
Setelah beberapa saat Alan sudah keluar dari kamar mandi,dan sudah terlihat lebih segar.
"Aku pulang dulu ya? " pamit Alan terhadap Dara.
"Iya hati-hati jangan ngebut bawa mobilnya" pesan Dara terhadap Alan.
"Iya" jawab Alan singkat, sambil tersenyum dan menatap lekat wajah Dara.
"Aku berangkat sekarang yah"
Alan berjalan perlahan keluar rumah untuk segera menuju ke kendaraan yang akan membawa nya pulang.
Stelah Alan pergi, dia langsung masuk kembali ke dalam rumah dan memberi tahu Meli bahwa mereka akan pergi ke luar.
Setelah bersiap cukup lama, waktu juga sudah semakin malam dan Winda sudah berangkat ke tempat yang mereka tentukan.
"Ma... kita mau pergi ke mana sih? " tanya Farel terhadap sang Mama.
"Kita akan makan di luar di restoran kesukaan Farel, sudah lama kita nggak makan di sana" jawab Dara sambil tersenyum tipis menatap wajah Farel yang du penuhi rasa bahagia, sebab Farel selalu kegirangan kalau di ajak ke luar rumah.
"Ok Ma... itu taxi nya sudah sampai" tunjuk Farel terhadap kendaraan yang sudah berhenti di depan rumah.
Akhirnya mereka bertiga berjalan menuju taxi dan semua sudah berada di dalam kendaraan.
Dengan intruksi dari Dara, sang sopir melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang.
Perjalanan yang di lalu mengalami ke macetan, tetapi selama di perjalanan Farel tidak ada hentinya membuat Dara dan juga Meli tertawa.
Perjalanan yang sangat membutuhkan waktu lama, hingga akhirnya mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju.
Dara langsung turun dari kendaraan dan juga Farel di ikuti oleh Meli.
Mereka bertiga langsung masuk ke dalam restoran sebab Winda sudah menunggu nya di dalam.
Setelah sampai di dalam Dara mencari keberadaan Winda, dan setelah beberapa saat Winda melambaikan tangan nya.
"Maaf telat" kata Dara sambil duduk di samping Farel dan berhadapan dengan Winda.
"Iya nggak apa-apa, ayo Farel mau makan apa? " tanya Winda terhadap Farel.
"Aku mau makan makan kesukaan ku, masa tante lupa sih terus minum nya apa yah? " kata Farel sambil memikirkan minuman yang enak menurut nya.
"Ya sudah tante pesan sekarang yah" kata Winda.
Setelah makanan di pesan mereka menunggu beberapa saat, hingga waktunya makan sudah siap di hidangkan dan mereka sudah siap untuk makan.
*****
Di sisi lain di waktu yang sama.
"Makan dulu, nanti kita bicara setelah makan! " kata Novia terhadap Alan.
"Lagi nggak nafsu makan, apalagi makan seperti itu" jawab Alan dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"jangan melampiaskan semuanya terhadap makanan nggak baik, banyak di luar sana yang kelaparan" kata Novia sambil menyiapkan makanan ke mulutnya, bagi dia mah apapun itu masalah nya makan yang utama.
"Kalian saja yang makan"
"Tanpa di suruh juga aku akan menghabiskan makanan ini" jawab Novia dengan santainya.
Setelah beberapa saat makanan sudah habis tanpa sisa, begitu juga dengan Giska dia menghabiskan semua makanan tanpa sisa hanya Alan yang tidak makan.
"Sudah selesai kan? hal penting apa yang ingin kamu sampaikan" tanya Alan terhadap Novia.
Novia mengambil sebuah kertas dari dalam tasnya lalu menyerah kannya kepada Alan.
"Apa ini? " tanya Alan terhadap Novia.
"Itu adalah surat cerai yang sudah ku persiapkan tinggal kamu tanda tangan, di tanggal yang sama dengan pernikahan kita dan di tanggal ini juga aku melepaskan mu. Tidak ada gunanya kita bertahan dalam ikatan yang tidak ada kepastian, dan aku sudah lelah" kata Novia, dia berbicara dengan lembut bahkan hampir suaranya tidak terdengar oleh Alan.
"Terimakasih atas semua pengertian nya" kata Alan sambil memegang tangan Novia dan menatap lekat wajah wanita itu, untuk pertama kalinya selama mereka menikah Alan menyentuh tangan Novia.
Tanpa Alan sadari ada orang yang memperhatikan nya tidak jauh dari mereka.
"Mas, Alan... " kata orang tersebut, dengan raut wajah terkejut.
Sontak Alan melepaskan tangannya yang sedang memegang tangan Novia.